Highlight:

Belajar investasi saham di Sekolah Pasar Modal IDX Semarang

yuk nabung saham

TEMA investasi saham semakin ramai dibicarakan belakangan ini. Terlebih semenjak kehadiran platform analisis saham sekaligus forum pasar modal Stockbit pada 2013. Disusul kemudian kampanye Yuk Nabung Saham yang digemakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai 2015. Di internet sendiri ramai bermunculan situs dan blog bertema saham, demikian pula kanal YouTube.

Saya sendiri sudah berkenalan dengan dunia saham sejak masih bermukim di Jogja. Saya lupa tepatnya tahun berapa, namun saat itu satuan lot masih terdiri atas 500 lembar saham. Lalu untuk bertransaksi, membeli atau menjual saham, kita selaku investor masih harus datang langsung ke kantor atau menelepon sekuritas.

Sayangnya, kala itu saya sebatas berkenalan saja dengan dunia saham. Sama sekali belum muncul ketertarikan pada instrumen satu ini. Informasi yang tak mudah diakses membuat saya tak punya gambaran jelas mengenai investasi saham. Ditambah lagi kesan salah bahwa saham hanya cocok untuk orang kaya, atau setidaknya yang uangnya berlebih.

Kesan tersebut tidak dapat disalahkan. Sebab, ingat, masa itu jumlah lot masih terdiri atas 500 lembar saham. Lalu rerata perusahaan sekuritas memberi persyaratan dana setoran pertama sebesar minimal tertentu. Bagi saya yang ketika itu masih berstatus mahasiswa 100%, angka-angka tersebut lumayan memberatkan. Ditambah sulitnya mencari informasi mengenai suatu emiten, dunia saham bagaikan rimba raya nan menakutkan.

Begitulah. Saya pun lebih senang membiarkan uang mengendap di rekening bank. Paling keren sih menempatkannya ke tabungan rutin berjangka, misalnya BNI Tapenas. Juga menabung emas meski jumlahnya untuk modal nikah saja sudah habis. Hingga kemudian usia bertambah tua, dan saya menyadari bahwa seberapa pun yang saya tabung tak akan kuasa melawan tingkat inflasi.

Baca juga: Benarkah rajin menabung pangkal kaya?

Berbeda jika misalnya saya investasikan tabungan tersebut ke saham. Sebagai gambaran, harga saham Sido Muncul (SIDO) hanya Rp500/lembar atau Rp50.000/lot pada periode 18-31 Agustus 2017. Kini, saat saya menulis posting ini pada 23 Agustus 2019–tepat dua tahun berselang, harganya sudah menjadi Rp1.200 selembar.

saham Sido Muncul

Pergerakan harga saham Sido Muncul dalam dua tahun terakhir. GAMBAR: Screenshot indopremier.com

Andai saya menyisihkan uang sebesar Rp1.000.000 untuk membeli 20 lot saham SIDO dua tahun lalu, hari ini nilai uang tersebut menjadi Rp2.400.000. Berkembang lebih dari 2x lipat! Coba simpan uang sejuta di bank selama dua tahun. Yang ada uang kita justru terus berkurang digerogoti biaya admin bulanan.

Saya jadi bersemangat lagi belajar investasi saham. Thanks to Stockbit, kanal-kanal bertema saham di YouTube, juga blog-blog milik para investor dan trader, sedikit demi sedikit saya semakin memahami seluk-beluk dunia saham. Termasuk menyingkirkan anggapan salah bahwa saham hanya untuk orang-orang yang uangnya lebih-lebih.

Tinggal action dong ya?

Tunggu dulu. Sebelum benar-benar terjun ke dunia saham, saya merasa perlu menempuh satu hal lagi: ikut Sekolah Pasar Modal (SPM) yang diadakan oleh BEI. Karenanya saya senang sekali ketika mengetahui bahwa kantor cabang IDX Jawa Tengah 1 di Semarang mempunyai jadwal SPM rutin setiap Rabu.

Tanpa pikir panjang saya segera mendaftarkan diri.

Nyemarang lagi

Maka, suatu Subuh pada pertengahan bulan ini saya sudah ada di Stasiun Pemalang. Menaiki kereta api Kaligung paling pagi, saya berangkat menuju ke Semarang. Perjalanan yang penuh kantuk. Sebab malam sebelumnya saya baru pergi tidur lewat tengah malam.

Pukul tujuh lebih sedikit rangkaian kereta api sampai di Stasiun Semarangponcol. SPM diagendakan dimulai pukul 08.00 WIB. Ada waktu nyaris satu jam bagi saya untuk menuju ke kantor IDX Jawa Tengah 1 yang berlokasi di Jl. HM Thamrin. Jadi, mari kita jalan kaki saja sembari menikmati suasana Semarang di pagi hari.

Baca juga: Mie Kopyok Pak Dhuwur, kuliner legendaris Semarang nan menggoda

Menurut Google Maps, jarak yang terbentang antara Stasiun Semarangoncol dan kantor BEI Semarang, atau nama kerennya Indonesia Stock Exchange Representative Semarang, adalah 1,7 kilometer. Perkiraan waktu tempuh 22 menit. Namun karena terlalu asyik menikmati suasana sekitar, saya baru tiba di tujuan lima menit sebelum pukul 08.00 WIB.

kantor IDX Semarang

Seperti biasa, agenda sedikit molor dari jadwal. Tapi itu rupanya karena kantor IDX Semarang kedatangan tamu istimewa. Sekelompok dosen wanita dari sebuah universitas swasta di Semarang turut menjadi peserta SPM bersama kami. Diantar langsung oleh Kepala Perwakilan BEI Semarang, Bapak Fanny Rifqi El Fud, ibu-ibu tersebut masuk ke ruangan.

Pak Fanny kemudian memberi kata sambutan, sekaligus memberi pengantar mengenai dunia pasar modal dan pada khususnya investasi saham. Beliau memberi penekanan pada anggapan umum bahwa investasi saham itu risikonya tinggi. Lebih banyak orang yang rugi, atau istilahnya boncos, ketimbang yang untung (cuan).

“Investasi saham itu jadi high risk kalau tidak dibarengi dengan kompetensi yang cukup,” demikian simpul Pak Fanny. Ia mencontohkan banyaknya investor pemula yang terjun tanpa pengetahuan dan analisa mendalam mengenai suatu emiten. Hanya bermodal keberanian ditambah “kata teman.”

“Niat dan tabiatnya harus selaras,” tambah Pak Fanny. Kalau berniat jadi investor (investasi jangka panjang), maka jangan pernah tergiur menjual saham dalam portofolio ketika nilainya naik. Demikian sebaliknya. Jika niatnya ingin trading saham (mengambil keuntungan jangka pendek dari pergerakan harga saham), harus berani melakukan cutloss ketika nilainya merosot.

Seisi kelas bertepuk tangan ketika Pak Fanny menyudahi uraiannya dan berpamitan keluar.

peserta SPM Semarang

Sejarah pasar modal dunia

Kelas kemudian diambil oleh Mas Akhmad Nuranyanto, yang oleh seisi kantor dipanggil Mas Ian. Secara ringkas dijabarkan mengenai pasar modal dan bagaimana kita sebagai masayarakat dapat turut menikmati keuntungan dari aktivitas di dalamnya.

Caranya? Tentu saja dengan membeli produk-produk yang tersedia di pasar modal. Selain saham, pasar modal juga menyediakan instrumen investasi keuangan lain berupa reksadana dan obligasi. Kesemuanya dapat dibeli masyarakat yang telah mendaftarkan diri melalui perusahaan sekuritas sebagai broker jual-beli.

Meski pasar modal tak cuma berisi saham, tapi kelas hari itu dominan (bahkan cenderung hanya) membahas tentang saham dan segala seluk-beluknya. Termasuk menyinggung sedikit mengenai sejarah pasar modal dunia. Sebagaimana kita ketahui, potensi di wilayah yang kini bernama Republik Indonesia inilah salah satu pencetus lahirnya pasar modal pertama di dunia.

Adalah Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), yang oleh leluhur kita disebut kompeni, perusahaan terbuka pertama di dunia. Diinisiasi oleh bangsawan Belanda bernama Johan van Oldenbarnevelt, VOC dibentuk dengan menggabungkan sekitar setengah lusin perusahaan dagang Belanda pada 20 Maret 1602.

Penggabungan, atau memakai istilah kiwari merger, ini sebagai respon atas terbentuknya East India Company (EIC) milik Inggris. Belanda tak mau kalah saing dalam peta perdagangan dunia. Terlebih mereka telah sukses mencapai tempat asal rempah-rempah, komoditas paling berharga masa itu.

Didahului oleh ekspedisi Frederick de Houtman yang mendarat di Banten pada 1595, bangsa Belanda kemudian menemukan jalan menuju Maluku lewat ekspedisi Jacob van Neck empat tahun berselang. Melihat peluang besar ini, Van Oldenbarnevelt mengusulkan skema penggalangan dana bagi modal operasi awal VOC.

Van Oldenbarnevelt menawarkan konsep kepemilikan bersama. Siapa saja boleh urun modal dengan nilai berapa pun semampunya. Untuk menandai penyertaan modal ini diterbitkan warkat khusus senilai tertentu tiap lembarnya. Inilah saham pertama di dunia, sekaligus menjadikan Amsterdam sebagai pionir pasar modal dunia.

konsep dasar saham

Mas Ian menutup uraian panjangnya dengan sebuah tips berharga bagi siapa pun yang tertarik berinvestasi saham. Yaitu:

  • Berinvestasilah menggunakan uang dingin, alias dana yang tidak akan terpakai dalam waktu dekat. Jangan berinvestasi dengan uang kebutuhan bulanan, apalagi sampai berhutang.
  • Pahami produk investasi dengan baik sebelum menanamkan uang. Banyak investor gagal karena tidak tahu-menahu produk yang diambil, hanya percaya pada janji-janji imbal hasil manis yang ternyata bodong.
  • Diversifikasi aset (dana investasi) dalam banyak instrumen investasi demi meminimalisir risiko. Jangan cemplungkan seluruhnya di saham, tapi juga ambil reksadana, obligasi, serta tentu saja tetap menabung. Saham pun jangan hanya satu perusahaan atau satu sektor, tapi pilih beberapa sesuai kemampuan dana yang dianggarkan.
  • Kenali perusahaan sekuritas sebelum memutuskan mendaftarkan diri. Cari tahu berapa angka minimal setoran pertama yang dipersyaratkan, berapa fee jual-beli, serta tak kalah penting adalah biaya-biaya lain semisal rekening dormant, penarikan dana, dll.
  • Disarankan untuk berinvestasi dalam jangka panjang. Sebab, menurut statistik, keuntungan maksimal hanya dapat diraih dengan investasi dalam waktu lama. Tentu saja dengan didahului memilih perusahaan yang sehat dan menguntungkan.

Analisis fundamental dan teknikal

Poin terakhir tips Mas Ian di atas hanya berlaku jika kita memilih perusahaan yang tepat. Jika tidak, yang terjadi justru kebalikannya: uang kita berkurang bahkan bisa sampai habis. Ini mungkin terjadi jika harga saham yang dibeli semakin turun. Perusahaan juga dapat didepak dari bursa (delisting) sehingga saham yang kita punya jadi tak bernilai karena tidak bisa dijual lagi.

Menurut data BEI, per Juli 2019 terdapat 649 emiten alias perusahaan terbuka yang dapat kita miliki sahamnya di pasar modal. Perusahaan-perusahaan tersebut terbagi dalam sembilan sektor utama dan beberapa subsektor. Pilihannya banyak. Sangat banyak sekali.

Bagi orang Jawa Tengah, ada beberapa perusahaan asal propinsi ini yang terdaftar di bursa efek. Sido Muncul sudah saya sebutkan di atas. Lalu ada pula perusahaan farmasi PT Phapros (PEHA). Memilih perusahaan yang dekat dengan domisili seperti ini akan memudahkan andaikata kita ingin menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).

Selain keduanya, ada pula emiten lain yang membuka pabrik di Jawa Tengah. Misalnya PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk. (CPIN) yang punya titik-titik operasi di Brebes, Demak, hingga Salatiga. Demikian pula PT Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. (JPFA) dengan pabrik-pabriknya di sejumlah kabupaten.

Namun demikian domisili perusahaan saja tidak cukup sebagai pertimbangan dalam memilih saham. Mas Ian menekankan, sebagai calon investor kita dituntut sangat teliti dalam menganalisa agar tidak salah pilih. Sebagai investor, tentu saja kita berharap uang yang kita tanam terus tumbuh dan berkembang.

Untuk memilih perusahaan bagus ini dibutuhkan seni tersendiri. Kita selaku investor wajib melakukan analisa fundamental sehingga mengetahui kondisi sebuah perusahaan, apakah layak dibeli sahamnya atau tidak. Lalu setelah menemukan perusahaan yang baik, kita juga musti paham kapan waktu yang tepat untuk melakukan pembelian lewat analisis teknikal.

Materi-materi analisis ini disampaikan oleh Branch Manager NH Korindo–salah satu perusahaan sekuritas rekanan BEI, Anugrah Widipratama, pada Level 2 usai istirahat makan siang. Sesi yang sebetulnya jadi tujuan utama saya ke Semarang.

makan siang SPM Semarang

Oya, Sekolah Pasar Modal terbagi atas tiga level: 1, 2, dan lanjutan (advanced). Kita dapat memilih mau mengikuti level mana saja. Bagi yang belum pernah berinvestasi saham seperti saya, dianjurkan memulai dari Level 1 terlebih dahulu. Tapi karena jauh-jauh datang dari Pemalang, saya sekalian saja mengambil Level 2.

SPM dapat diikuti tanpa biaya. Gratis! Malah kita sebagai peserta mendapat jatah snack yang dibagikan saat registrasi, lalu makan siang saat jeda antara sesi Level 1 dan Level 2. Dalam sambutannya Pak Fanny juga membuka lebar-lebar pintu perpustakaan IDX Semarang untuk dibaca-baca bukunya secara cuma-cuma.

Kembali ke materi. Mas Widi menjelaskan empat poin fundamental yang harus diamati oleh seorang investor dari sebuah emiten. Pertama, rasio keuangan yang ditunjukkan dengan angka Price to Earning Ratio (PER), Price to Book Value (PBV), serta Earning Per Share (EPS).

Angka PER dan PBV menunjukkan valuasi perusahaan oleh pasar. Semakin rendah angka PER dan PBV, semakin rendah pula apresiasi pasar terhadap emiten tersebut. Ini bisa berarti baik, juga bisa berarti buruk. Jika laporan keuangan menunjukkan perusahaan ini sehat dan menguntungkan, menemukan saham dengan PER dan PBV kecil, sementara EPS-nya besar, ibarat menemukan harta karun.

Poin kedua, kekayaan perusahaan. Hal ini dapat dilihat dengan membaca laporan keuangan. Secara berkala setiap emiten merilis laporan keuangan tiap triwulan dan semester. Kita dapat mengunduhnya di laman resmi tiap-tiap perusahaan maupun di laman IDX.

Cek seberapa besar aset dan modal yang dimiliki perusahaan, serta apakah nilai keduanya selalu bertambah atau berkurang. Lihat pula jumlah hutang, seberapa besar persentasenya terhadap ekuitas perusahaan. Idealnya, sebuah perusahaan yang sehat memiliki jumlah total hutang lebih kecil dari aset maupun modal.

Ketiga, arus kas. Ibarat anatomi tubuh, arus kas sebuah perusahaan adalah aliran darah dalam tubuh kita. Jika darah tidak mengalir secara lancar bolak-balik ke jantung, kita akan jatuh sakit dan kemungkinan besar meninggal dunia akibat gagal jantung.

Demikian pula dengan perusahaan. Apabila kasnya tidak lancar dapatlah disebut sebagai perusahaan sakit. Meski mungkin tak sampai gulung tikar, berinvestasi di perusahaan semacam ini ibarat membakar uang. Alih-alih berkembang, bisa-bisa harga sahamnya justru merosot. Sayang duitnya.



Keempat, pertumbuhan. Sebagai investor kita tentu ingin mendapat keuntungan dari perusahaan yang sahamnya dibeli, bukan? Maka, cermati apakah perusahaan tersebut secara konsisten mengalami pertumbuhan baik angka penjualan maupun laba usaha, yang akan selaras dengan nilai EPS.

Untuk mengetahui pertumbuhan ini, kita musti rajin-rajin membaca laporan keuangan. Tak cuma laporan periode kini, tapi sangat disarankan melihat pula laporan-laporan tahun sebelumnya. Setidaknya di lima tahun terakhir sehingga kita mendapat gambaran pertumbuhan dalam jangka menengah.

Sementara untuk bahasan analisa teknikal, jujur saja saya masih belum dapat menangkap sebagian besar uraian Mas Widi. Mungkin itu sebabnya saya salah masuk ketika pertama kali membeli saham beberapa waktu lalu. Dihitung-hitung berdasarkan nilai buku per saham (BVPS), harga saat itu sudah termasuk murah. Eh, ternyata masih turun lagi hingga 25 poin.

Tak apalah, hitung-hitung belajar. Toh, saya meniatkan membeli saham tersebut sebagai tabungan. Jangka panjang, setidaknya hingga pembagian dividen tahun depan. Jadi, naik-turun harga tiap hari tak jadi masalah. Malah kebetulan dapat diskon harga to?

Sekolah Pasar Modal hari itu ditutup dengan sesi pembukaan akun di NH Korindo. Saya sebetulnya sudah mendaftar di Sinarmas Sekuritas melalui Stockbit. Tapi karena setelah dua pekan lebih belum dapat kabar apa-apa, saya ikut mendaftar di NH Korindo. Apalagi sebagai siswa SPM kami mendapat keringanan setoran perdana, cukup Rp100.000 saja. Lumayan.

Semoga bermanfaat!

About Eko Nurhuda (353 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: