Highlight:

“Saya kalah 10 juta gara-gara kamu, Mas!”

Hidetoshi Nakata, Alex, dan Shinji Ono

ADA satu momen pada 19 Juni 2002 yang sampai saat ini masih begitu membekas di ingatan saya. Momen di mana sebuah ucapan penuh sesal tertuju pada saya, dari orang yang bahkan tidak saya ketahui namanya. Ucapan berusia 18 tahun yang saya jadikan judul tulisan ini.

Bulan Juni di tahun genap seperti ini seharusnya menjadi waktu bagi penggemar sepak bola sedunia untuk berpesta. Disuguhi tontonan berkelas dari pemain-pemain terbaik dunia dalam ajang kalau tidak Piala Dunia ya Piala Eropa.

Ya, seharusnya saat ini pandemen si kulit bundar sudah asyik memelototi partai demi partai Euro 2020. Sayang, wabah Covid-19 membuat perhelatan yang disebut-sebut sebagai piala dunia mini tersebut harus ditunda sampai tahun depan. Dari seharusnya sudah mulai pada 12 Juni 2020 lalu, tapi dijadwal ulang menjadi 11 Juni 2021.

Saya berharap wabah Covid-19 dapat segera berlalu, atau setidaknya dapat diantisipasi dengan lebih baik, sehingga Piala Dunia 2022 tidak ikut-ikutan ditunda.

Ngomong-ngomong Piala Dunia, saya ingin menceritakan sebuah kejadian yang lantas berujung keluarnya ucapan seperti pada judul posting ini. Ucapan yang sangat membekas di ingatan saya. Entah kapan saya bisa melupakan kejadian dan ucapan tersebut. Atau malah tidak akan pernah? Entahlah.

Ketika itu saya tengah bekerja sebagai tenaga paruh waktu (posisi bellboy) di sebuah hotel bintang empat di Solo. Piala Dunia 2002 baru saja memasuki babak knock out. Banyak sekali kejutan yang terjadi. Di antara yang melegenda adalah kalahnya Prancis dari Senegal di partai pembuka, lalu betapa perkasanya Korea Selatan yang lolos ke fase gugur sebagai juara Grup D.

Baca juga: Ada Apa dengan Cinta? dan kenangan di Kota Solo

Senol Gunes dan timnas Turki

Secara mengejutkan Senol Gunes sukses membawa Turki menempati peringkat ketiga Piala Dunia 2002.

Saya tentu saja mengikuti tiap pertandingan, meski pada sebagian besar kesempatan harus curi-curi menonton tivi di lobi sambil membuka-tutup pintu serta menyapa tamu. Atau hanya menonton beberapa puluh bahkan belas menit terakhir karena mendapat shift di jam sibuk.

Lalu datanglah seorang tamu yang dari penampilannya saya terka seorang pebisnis muda. Hotel tempat saya bekerja-paruh-waktu ketika itu memang dikenal sebagai tempat transit pebisnis dari Surabaya, Jakarta, juga Pekalongan dan Semarang. Beberapa menteri dan artis pernah pula menginap di sana, tapi yang dominan adalah pebisnis.

Begitu tamu tersebut turun dari mobil, saya menyapa sembari memberi senyum, lalu sigap menurunkan barang bawaannya dari bagasi. Sembari menunggu sang tamu check in, saya berdiri di samping troli barang, mencuri-curi tonton pertandingan yang tengah ditayangkan ulang di televisi.

Rupanya saya keasyikan menonton bola, sampai-sampai tidak tahu kalau tamu tadi sudah selesai check in dan bersiap ke kamar. Saya tergeragap kaget bercampur malu ketika tamu tersebut memanggil saya, diiringi gerak tubuh yang mengisyaratkan bahwa ia telah selesai check in dan ingin naik.

Dari momen singkat itu tamu tersebut tahu saya suka sepakbola. Dalam perjalanan dari lobi ke kamar, kami pun mengobrol seputar Piala Dunia yang tengah berlangsung.

“Mas, nanti Jepang vs Turki kira-kira mana yang menang?” tanya si tamu kemudian.

Saya tak ragu-ragu menjawab,” Rasanya Jepang bakal menang, Pak. Walaupun mungkin cuma dengan skor tipis, 1-0.” Kira-kira begitu jawaban saya.

Hidetoshi Nakata AC Parma

Nakata Hidetoshi, bintang timnas Jepang yang ketika itu tengah berkilau di Eropa bersama AC Parma.

Dasar jawaban saya waktu itu adalah penampilan Jepang yang lebih menjanjikan di fase grup. Dari 3 pertandingan di Grup H, Jepang tak terkalahkan dan mengoleksi poin 7 untuk menjadi pemuncak grup. Empat poin di antaranya dipetik Jepang dari Belgia dan Rusia, yang pada saat pengundian grup masuk dalam Pot B.

Rusia adalah juara Grup 1 di babak prakualifikasi zona Eropa, sedangkan Belgia runner up Grup 6 dan menang meyakinkan melawan Rep. Ceska di babak play-off. Menurut saya keduanya bukanlah lawan enteng, sehingga sungguh spesial Jepang dapat mengambil poin.

Adapun Turki, tim yang saat pengundian masuk Pot B ini bahkan hanya mampu bermain imbang melawan Kosta Rika (Pot D), peserta asal zona CONCACAF yang secara tradisional didominasi Amerika Serikat dan Meksiko. Kelolosan Turki ditentukan pada partai terakhir melawan China, yang sebelum bertanding sudah dipastikan tersingkir.

Dari jajaran pemain, Jepang ketika itu diperkuat bintang-bintang muda yang tengah jadi bahan perbincangan di Eropa. Ada Ono Shinji (Feyenoord), Inamoto Junichi (Arsenal), Kawaguchi Yoshikatsu (Portsmouth), dan si legendaris Nakata Hidetoshi (AC Parma). Lalu pelatihnya adalah Phillippe Troussier, orang Prancis yang dua tahun sebelumnya mengantar Jepang menjuarai Piala Asia 2000.

Turki? Banyak sih pemainnya yang merumput di liga-liga top Eropa, di antaranya Okan Buruk dan Emre Belozoglu yang kala itu memperkuat salah satu tim idola saya: Inter Milan. Tapi pemain-pemain Turki yang merumput di luar negeri tak terlalu menonjol di klub masing-masing. Sosok pelatihnya, Senol Gunes, pun tak begitu meyakinkan. Kiprahnya bersama Turki adalah debut baginya melatih timnas.

Jangan lupa satu faktor lain: Jepang adalah tuan rumah bersama Korea Selatan. Pertandingan melawan Turki dihelat di Miyagi Stadium, sebuah stadion berkapasitas 49.133 penonton yang terletak di kota Rifu, Prefektur Miyagi.

Berdasarkan analisa itulah saya lebih menjagokan Jepang ketimbang Turki.

Jepang vs Turki di Piala Dunia 2002

Gol Umit Davala pada menit ke-12 menghentikan langkah Jepang di Piala Dunia 2002.

“Yakin Jepang menang, Mas?” Sang tamu coba menegaskan. Kami sudah sampai di depan pintu kamarnya.

“Kalau saya sih menjagokan Jepang, Pak,” jawab saya sembari membukakan pintu kamar.

Bagi saya, jawaban saya ini mempunyai dasar kuat. Setidaknya sependek apa-apa yang saya ketahui. Yang tidak saya sangka-sangka, ternyata jawaban tersebut ditelan bulat-bulat oleh tamu tadi. Begitu masuk kamar, ia merogoh kantong. Dari sana dikeluarkannya handphone, yang kalau saya tak salah lihat Nokia Communicator, dan menelepon seseorang.

“Gue pasang Jepang ya, 10 juta,” ucapnya di telepon.

Tentu saja saya kaget, tertegun dibuatnya. Saya pikir tadi kami hanya ngobrol biasa sebagai sesama penggemar bola. Rupanya dia minta semacam petunjuk untuk pasang taruhan. Saya lalu teringat, saat kami mengobrol tadi ia bahkan tak kenal seorang pun pemain Turki maupun Jepang.

Sebagaimana kita ketahui bersama, pertandingan Jepang vs Turki berlangsung sangat sengit. Tapi Jepang sudah kecolongan satu gol pada menit ke-12. Kiper Seigo Narazaki melakukan kesalahan positioning ketika Ergun Penbe mengambil sepak pojok di sisi kiri pertahanan Jepang. Akibatnya, Umit Davala yang juga luput dari kawalan bek Jepang dapat dengan mudah menceploskan bola ke gawang kosong dengan sundulannya.

Jepang tak pernah bisa membalas hingga pertandingan usai. Turki melaju ke babak 8 besar. Tamu saya tadi kehilangan Rp 10 juta.

Pagi-pagi, saat saya menyapanya di lobi ketika ia hendak check out, tamu tersebut menggeleng-gelengkan kepala dan berkata, “Jepang kalah, Mas. Saya kalah 10 juta nih gara-gara kamu.”

Saya tak bisa berkata apa-apa. Tapi ucapan yang saya dengar pada 19 Juni 2002 tersebut tak akan pernah bisa saya lupakan. Ya, 18 tahun lalu. Kalau ada bayi perempuan lahir di hari tersebut, saat ini bayi tersebut sudah menjadi seorang gadis.

Ketika kemudian memberanikan diri nyemplung ke dunia investasi saham, setelah niat tersebut tertahan-tahan selama bertahun-tahun, saya jadikan pengalaman pribadi nan membekas ini sebagai sebuah pelajaran berharga. Sangat berharga sekali.

JANGAN TELAN MENTAH-MENTAH ANALISA ORANG LAIN.
ALWAYS DO YOUR OWN RESEARCH!

Semoga bermanfaat.

Beri tip untuk blog ini
About Eko Nurhuda (379 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

2 Comments on “Saya kalah 10 juta gara-gara kamu, Mas!”

  1. Apes bener tamunya karena mendengarkan prediksi orang lain, hahahaha…Saya juga pernah ngalami ini, tapi taruhannya cuma cepek.

    Suka

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: