Highlight:

Pengalaman beli buku di BookDepository – Harga murah, gratis ongkir pula

Pengalaman pertama beli buku online di BookDepository.com

MEMBELI buku secara online sudah menjadi hal lumrah saat ini. Selain membeli lewat marketplace, sejumlah toko buku ternama juga menyediakan layanan daring. Tak cuma dalam negeri, kita bahkan dapat dengan mudah beli buku online dari luar negeri. Berikut saya ingin menceritakan pengalaman beli buku di BookDepository.

Tulisan ini sebetulnya saya buat lebih dari setahun lalu, ketika buku pertama yang saya pesan dari BookDepository sampai ke rumah. Dapat dilacak dari alamat URL gambar di atas yang menunjukkan tahun 2019 dan bulan 04 alias April. Namun, karena satu dan lain hal tidak kunjung saya rampungkan. Setelah mangkrak sekian lama, saya pikir bakal ada manfaatnya untuk membagikan cerita ini.

Semuanya berawal dari pencarian saya pada buku-buku investasi saham. Beberapa judul buku yang banyak direkomendasikan rupanya belum ada versi Indonesia-nya. Ketika saya cari di marketplace lokal, aduh kok harganya kebangetan. Giliran ada yang murah, di kolom deskripsi terdapat kode-kode keras kalau yang dijual buku bajakan.

Baca juga: 12 Buku yang akan saya baca tahun ini

Maka pencarian saya pun berlanjut ke BookDepository. Saya sudah lama mengetahui tentang toko buku online yang masih satu grup dengan Amazon ini. Tapi selama itu pula saya tak pernah berbelanja di sana karena terhalang cara pembayaran.

Pakai PayPal nggak bisa, sedangkan kartu debit yang saya punya tak ada satupun yang mendukung pembayaran online. Kartu kredit? Wah, saya nggak pernah berani bikin kartu begini. Dulu pernah punya kartu kredit virtual untuk keperluan verifikasi PayPal, tapi ya sekedar untuk itu.

Ketika mencari-cari buku investasi saham tahun lalu, saya sudah punya akun Jenius. Dan kartu virtualnya sudah berulang-kali saya pakai berbelanja di AliExpress. Saya jadi berpikir, kalau untuk AliExpress bisa maka seharusnya di BookDepository juga bisa.

Berniat coba-coba, saya kemudian mencari buku yang menurut saya menarik dibeli. Tapi, syarat utamanya adalah harganya murah. Murah yang saya maksud di sini adalah banderolnya rendah tapi bukunya berhalaman tebal. Maklum saja, saya hanya menyiapkan budget sebesar Rp100.000 untuk proyek percobaanini.

beli buku di BookDepository

Eh, ternyata ada dong buku seharga di bawah Rp100.000. Judulnya The Five People You Meet In Heaven karya Mitch Albom. Sebetulnya harga aslinya Rp167.474, namun karena sedang ada diskon harganya dipangkas menjadi Rp98.174. Lumayan banget kan dapat potongan Rp69.300.

Meski tak setebal yang diharapkan, hanya 240 halaman, tapi judul bukut tersebut juga deskripsinya sangat menarik minat saya. Begitulah, buku itu pun saya beli. Pembayaran menggunakan Jenius lancar tanpa hambatan. Pesanan saya pun langsung masuk dalam daftar Dispatch alias dalam proses pengiriman.

Tanggal 13 Maret 2019 buku tersebut dikirim dari Inggris, tak lebih tak kurang dari sebulan berselang paketnya sudah sampai ke rumah. Terhitung cepat untuk ukuran paket ekonomi, terlebih kita dibebaskan sama sekali dari ongkos kirim. Ini sih daya tarik penting dari BookDepository.

Setelahnya saya jadi ketagihan deh membeli buku di BookDepository. Selain buku-buku untuk saya sendiri, saya merasa anak-anak perlu diperkenalkan dengan bahasa Inggris sejak dini. Dan di BookDepository pilihannya sangat lengkap sekali. Semua jenis buku, semua tema dan kategori, lengkap di sini.

Baca juga: Resolusi 2020: baca satu buku sebulan, tulis 10 posting sebulan, dan berat badan turun 30kg

Plus-Minus

Dari pengalaman berbelanja buku di BookDepository selama ini, tentu saja terdapat plus-minus yang saya temukan. Apa saja? Berikut beberapa di antaranya.

Plus

  • Gratis ongkos kirim! Seperti tadi saya bilang, ini merupakan daya tarik utama BookDepository. Tidak seperti saudara tuanya, Amazon, yang ongkos kirimnya bikin garuk-garuk kepala, di BookDepository semua pembelian gratis ongkos kirim. Mantap nggak tuh?
  • Poin ini bisa diperdebatkan, tapi bagi saya harga buku-buku di BookDepository sangat murah sekali. Saya bilang murah karena, sebagai contoh, saya pernah membeli buku setebal 720 halaman hanya seharga Rp117.472. Dan itu sudah gratis ongkos kirim dari Inggris. Ketika saya hendak membeli novel Nagabumi I karya Seno Gumira Ajidarma yang setebal 828 halaman, harga termurah yang tersedia di marketplace adalah Rp161.900. Belum termasuk ongkos kirim.
  • Pilihan genre dan pilihan temanya lengkap. Saya tak cuma menemukan buku-buku tentang investasi saham yang awalnya dicari, tapi juga begitu banyak buku sejarah yang langsung deh masuk wishlist. Dari genre fiksi, karya-karya klasik seperti gubahan Ernest Hemingway, Leo Tolstoy, bahkan Wu Cheng’en tersedia. Suka manga? Di sini pilihannya berlimpah ruah.
  • Pengemasan paketnya sangat baik. Yang biasa belanja online dari luar negeri tentunya tahu seperti apa standar paketnya. Meski hanya berupa kardus atau plastik, tapi sangat kuat dan aman. Buku sampai di tujuan dalam kondisi prima.
  • Sering sekali menggelar promo dan diskon harga. Buku yang kita masukkan ke wishlist, misalnya, bisa tiba-tiba saja harganya jadi berkurang jauh karena diberi potongan harga. Tujuannya apalagi kalau bukan dapat segera kita beli.
  • Waktu pengirimannya terhitung cepat. Pada saat kita membuka halaman sebuah buku, pada sebelah kanan di bawah harga terdapat waktu estimasi kapan buku kita terima jika memesan saat ini. Estimasi tersebut terbilang tepat, atau tidak meleset terlalu jauh.

BookDepository homepage

Minus

Satu-satunya hal minus dari BookDepository menurut saya adalah metode pembayarannya. Mereka hanya menerima pembayaran menggunakan kartu kredit/debit. Saya paling malas pakai kartu kredit, sedangkan kartu debit yang dikeluarkan bank-bank di Indonesia kebanyakan tidak mendukung pembayaran online.

Entah kenapa mereka tidak menggunakan PayPal atau Skrill dan lainnya. Bisa jadi karena potongan yang dikenakan layanan-layanan tersebut terhitung lumayan. Sementara BookDepository menerapkan perhitungan begitu ketat dan menghindari biaya-biaya printilan sehingga dapat terus memberikan harga murah dan layanan gratis ongkos kirim pada pelanggan.

Untunglah sekarang sudah ada Jenius, dengan pilihan kartu debit virtual yang sangat dapat diandalkan untuk berbelanja secara daring. Tak semua toko online didukung sih, tapi bagi saya sepanjang bisa dipakai di BookDepository (juga AliExpress) sudah cukup.

Oya, kalau ada yang bertanya kenapa BookDepository bisa memberikan layanan gratis ongkir, ada banyak referensi yang membahas tentang ini di internet. Ada yang mengatakan produk buku mendapat perlakuan istimewa dari Universal Postal Union, sehingga tarifnya lebih murah.

Setahu saya layanan pos luar negeri memang murah-murah sih. Semasa masih aktif jual-beli uang koleksi di eBay, saya selalu dibuat iri pada penjual dari Eropa-Amerika Serikat yang dapat menggratiskan ongkos kirim pada pembeli mereka. Memang pengirimannya lama, rata-rata 20-30 hari, dan ketika paketnya datang pada amplop bakal berderet-deret prangko memenuhi amplop.

Sedangkan saya jika ingin mengirim pesanan ke luar negeri, oleh petugas Pos Indonesia selalu ditawari EMS. Dulu sempat saya pakai layanan RLN, tapi kemudian petugas loket bilang sudah tidak berlaku lagi. Sejak itu saya berhenti berjualan di eBay. Eh, ternyata kemudian saya tahu dari relasi di Jakarta dan Surabaya kalau layanan RLN itu sebenarnya masih ada.

Balik lagi ke ongkos kirim gratisnya BookDepository, ada pula yang mengatakan sebetulnya ongkos kirim sudah termasuk dalam harga buku. Jadi, sistem canggih yang dimiliki situs ini akan secara otomatis menghitung biaya ongkos kirim berdasarkan lokasi kita. Harga buku yang ditampilkan akan disesuaikan sedemikian rupa.

Apapun itu, bagi saya keberadaan BookDepository sangat membantu sekali untuk mendapatkan buku-buku resmi dalam bahasa aslinya dengan harga terjangkau.

Semoga bermanfaat.

Beri tip untuk blog ini
About Eko Nurhuda (386 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

2 Comments on Pengalaman beli buku di BookDepository – Harga murah, gratis ongkir pula

  1. Aku entah sejak kapan jadi member di BookDepository, tapi sayang belum satu pun buku yang kubeli. Pas ada promo harga, langsung bongkar pasang isi keranjang, gitu aja sampe Voldermort pindah ke Griffindor. Ya, problem utama sih soal biaya karena belum jadi kebutuhan mendesak banget. Aku setuju memang kelebihan BD ini free ongkir yang jelas jadi daya tarik tersendiri terutama buat aku yang itung-itung pembelian apa saja. Sebagai contoh, Mas, aku kemarin dapat voucher dari Amazon 5 dolar, lalu cari buku dapatlah yang pas harga dan judulnya. Pas mau chek-out, alamak, ongkirnya jauh melebihi harga buku bekas itu. Ya sudah nunggu tambah dulu deh vocernya, haha.

    Koleksi BD juga terbilang lengkap, semua genre ada dan harganya sih kulihat kompetitif. Sering kulihat harga e-book di Google Book aja ternyata mahal-mahal juga loh padahal versi digital. Sayang ya waktu pengiriman cukup lama, entahlah mungkin sebab aku ga sering beli buku/produk dari luar negeri. Baru sekali beli buku Haruki dari Amazon dan bener kata Mas Eko, standar pengemasan sangat rapi. Puas deh!

    Poin ongkos kirim kita juga jadi perhatianku. Pernah aku mau kirim surat dan barang ke temanku di Belgia, pas tanya ongkir di mobil pos, ulala, sungguh bikin meringis. Aku kadang ya mikir kok bisa negara asing tuh (di)mudah(kan) berkirim paket atau sekadar kartu pos. Istriku pernah menang giveaway lomba buku dari Srilanka, nah itu paket dikirim pakai perangko berderet, haha. Bodo amat, tapi nyampe dan malah lucu sih, Bisa koleksi perangko luar. Kenapa kita enggak bisa ya kek gitu ya?

    Terakhir soal perburuan buku di BD, di marketplace juga, toss dulu, Mas! Aku ya nek cari kebanyakan ngukur harga dan ketebalan, biar awet gitu, sekalian ga mubazir ongkirnya. Ibarat tuku makanan, golek yang akeh tur murah haha…Jadi laper nih, belum sarapan! Jadi ingat juga ada beberapa buku lama yang belum tuntas kubaca. Salam grombyang!

    Suka

    • Haha, pengennya buku tuh harganya murah tapi tebalnya kaya cor-coran jalan. Tapi memang sih, entah kenapa berkirim surat/dokumen/barang ke luar negeri nggak ramah banget buat orang Indonesia. Dulu pernah daganganku satu album uang luar negeri sak album-albumnya laku dibeli orang Spanyol. Pas sampai di kantor pos, duh, kok ongkos kirimnya malah lebih tinggi dari harga koleksi uang lama sak albumnya itu.

      Btw, wishlist di BD masih banyak banget, tapi ya samalah problem kita. Persis kaya kalimat di sticker yang pernah aku terima pas beli buku entah kapan tahun, yang ternyata plesetan kutipan Frank Zappa: So many books, so little money.

      Disukai oleh 1 orang

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: