Highlight:

12 Buku yang akan saya baca tahun ini

Baca satu buku satu bulan

KETIKA menuliskan “membaca satu buku sebulan” sebagai salah satu butir Resolusi 2020, saya langsung teringat tumpukan buku lawas di dalam lemari. Banyak sekali dari buku koleksi saya tersebut yang belum juga dibaca hingga hari ini. Padahal sebagian buku bahkan sudah menghuni lemari tersebut sejak saya masih bujang semasa di Jogja. Wew!

Maklumlah, di Jogja kerap diadakan pameran buku. Pun, di Jogja banyak sekali penerbit. Sehingga setiap pameran bisa dipastikan bertebaran buku-buku yang bagi saya sangat menarik, namun dihargai murah sekali karena terbitan lama. Beberapa buku saya beli cuma seharga Rp10.000, padahal tebal sekali dan isinya bagus. Sempat dapat terjemahan Made to Stick hanya seharga Rp15.000. Ini harta karun buat saya!

Mungkin itu sebabnya semasa di Jogja saya sempat mengidap tsundoku, istilah Jepang bagi orang-orang yang suka sekali membeli buku namun tidak membacanya. Orang Barat mengistilahkan perilaku semacam ini dengan kata bibliomania.

Pada saat membeli tentu saja saya niatkan untuk membacanya. “Ah, masa iya membaca buku segini aja nggak bisa sih?” selalu begitu batin saya tiap kali memborong buku di pameran-pameran semasa di Jogja. Apalagi saya hanya membeli buku-buku dengan tema favorit: biografi, sejarah, motivasional.

Nyatanya, di Jogja pameran buku bisa berlangsung tiap 2-3 bulan sekali. Total dalam setahun bisa sampai 5-6 kali. Belum semua buku yang dibeli di pameran sebelumnya habis dibaca, sudah masuk lagi buku-buku baru hasil membeli di pameran berikutnya. Lama-lama jadi menumpuk.

Ketika kemudian pindah ke Pemalang, buku-buku tersebut saya boyong sebagian. Sebagian kecil yang memang saya kurang berminat (kenapa dulu dibeli ya?), saya hibahkan ke teman. Lalu, ada pula beberapa kardus yang saya kirim ke sebuah perpustakaan umum yang dikelola teman. Tersisa judul-judul yang menurut saya tak cuma bagus buat saya, tapi juga anak-anak saya kelak.

Karenanya, untuk menepati resolusi membaca satu buku sebulan saya akan memulainya dari stok buku yang ada terlebih dahulu. Meski banyak berisi buku terbitan lama, namun isinya adalah jenis tema yang tak lekang oleh waktu. Evergreen. Dibaca kapan saja enak. Buku biografi, kumpulan feature hasil ekspedisi, serta kebanyakan buku-buku sejarah.

Cukup kesulitan saya menyortir mana 12 buku yang akan terlebih dahulu dibaca tahun ini. Setelah menimbang bahwa saya sudah terhitung lama tak lagi membaca buku secara serius, maka saya pilih beberapa judul yang menurut saya isinya tak terlalu berat. Sebagai pemanasan ceritanya.

Sempat beberapa kali menukar satu buku dengan buku lain, pada akhirnya saya mantapkan hati untuk memilih buku-buku berikut. Inilah dia 12 buku yang akan saya baca sepanjang 2020:

12 buku tahun 2020

Carok; Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura

Ini koleksi lama saya yang dibeli semasa masih di Jogja. Saya masih bujang ketika membeli buku ini. Dari catatan di halaman pertama buku–kebiasaan saya selalu menuliskan tanggal dan lokasi pembelian plus harga, buku karya Dr. A. Latief Wiyata ini sudah berada di lemari buku sejak 12 Maret 2009. Hampir 11 tahun!

Sebetulnya saya sudah membaca sebagian sih, namun tidak urut alias loncar-loncat. Saya hanya intip daftar isi lalu membaca bagian-bagian yang menurut saya menarik. Utamanya cerita-cerita kasus carok yang menjadi objek penelitian penulis.

Carok; Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura pertama kali diterbitkan oleh Penerbit LKiS, Yogyakarta. Cetakan pertama pada Maret 2002. Buku ini diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. Huub de Jonge, dosen senior pada Radboud University Nijmegen, Belanda, yang meraih gelar PhD-nya pada 1984 dengan sebuah disertasi mengenai komersialisasi dan islamisasi Madura.

Eka Sari Lorena; Ayo Lawan Kemacetan

Bis mania pasti kenal nama satu ini. Yap! Eka Sari Lorena adalah bos besar Lorena Group. Bus-bus antar kota antar provinsi (AKAP) bermerek Lorena miliknya dapat dengan mudah dilihat di jalan tol Trans Jawa, juga jalan-jalan utama di Sumatera.

Buku ini ditulis oleh Haryo Damardono, jurnalis Kompas yang sejak November 2018 menjabat sebagai Deputy Managing Editor. Diterbitkan perdana oleh Penerbit Buku Kompas pada September 2013.

Sama halnya Carok, buku ini juga sudah saya baca sedikit. Entah sampai halaman berapa saya lupa, karena sudah lama sekali saya meninggalkannya. Tahun ini, buku yang mengangkat kiprah salah satu pebisnis wanita tangguh Indonesia ini musti selesai saya baca.

Ekspedisi Bengawan Solo

Ini koleksi baru dalam lemari buku saya. Dibeli sekitar tahun 2018, atau paling lama 2017. Merupakan satu set lepas yang terdiri atas empat judul, yang sayangnya baru saya dapatkan tiga. Satu lagi masih terus saya incar di sejumlah marketplace.

Sesuai namanya, Ekspedisi Bengawan Solo merupakan kumpulan feature hasil liputan Tim Ekspedisi Kompas yang sebelumnya dipublikasikan di koran. Ekspedisi ini coba menangkap masalah-masalah yang terjadi di sepanjang Bengawan Solo, termasuk peristiwa-peristiwa penting yang terjadi berkaitan dengan sungai terpanjang di Pulau Jawa ini, serta mengungkap sedikit sejarahnya.

Buku ini betul-betul memenuhi kriteria buku favorit saya. Penulisnya adalah jurnalis, merupakan hasil liputan langsung, disampaikan sebagai feature yang lepas namun saling berkait satu sama lain, dan kaya foto.

Ekspedisi Ciliwung

Buku sejenis Ekspedisi Bengawan Solo, dan merupakan bagian dari set lepas Laporan Jurnalistik Kompas. Saya beli buku ini di Bukapalak bersama-sama buku sebelumnya, juga buku Ekspedisi Tanah Papua. Saya kepincut harga murah yang ditawarkan salah satu pelapak. Untunglah bukunya asli.

Jika saya tertarik pada buku Ekspedisi Bengawan Solo karena merasa punya ikatan pada sungai tersebut sebagai penduduk Jawa Tengah, maka Ekspedisi Ciliwung saya beli karena ini membahas sungai yang turut mewarnai sejarah bangsa ini.

Ciliwung adalah sungai purba yang banyak disebut dalam naskah-naskah kuna. Mempelajari sejarah Jawa, khususnya Tatar Sunda dan kemudian Batavia di era kolonialisme, akan dengan mudah kita temukan kisah mengenai Kali Ciliwung. Di masa modern, tiap musim hujan telinga kita bakal akrab dengan nama sungai ini.

Ekspedisi Tanah Papua

Buku ketiga yang saya beli berbarengan dengan dua judul seri Laporan Jurnalistik Kompas lainnya. Yang membuat tertarik membeli buku ini tentu saja wilayah yang menjadi topik bahasan: Papua. Siapa sih yang tidak terpesona pada bumi paling timur di Nusantara ini?

Tanah Papua hingga saat ini masih jadi destinasi idaman saya, dan belum kunjung bisa didatangi. Saya semakin tertarik pada Papua ketika mengetahui kaitan sejarahnya dengan Kesultanan Tidore, sebuah kesultanan adat yang bahkan lebih saya pahami ketimbang kesultanan-kesultanan di Jawa.

Buku ini membahas segala potensi yang ada di Papua, serta peran masyarakat dalam membangun daerah kelahirannya, juga menyinggung sedikit peran para pendatang. Yang terakhir ini menjadi relevan dibaca saat ini karena belakangan Papua coba dipecah oleh sentimen penduduk asli vs pendatang.

Jalur Gaza; Tanah Terjanji, Intifada, dan Pembersihan Etnis

Sebuah buku lawas yang belum juga belum saya baca habis hingga saat ini. Saya sudah mengincar buku karya Trias Kuncahyono ini sejak usai membaca bukunya yang lain: Jerusalem; Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir.

Saya sempat mencari buku ini di toko buku langganan semasa di Jogja, tapi kehabisan stok. Sempat melupakannya beberapa tahun, saya kembali melakukan pencarian di Bukalapak dan dapat. Sayang, yang saya beli rupanya buku cacat. Saya lalu mencari lagi dan mendapat buku yang lebih bagus.

Nah, yang sudah saya baca sebagian buku yang cacat itu. Namun baru dapat beberapa bab lantas saya tinggalkan begitu saja. Kali ini saya mau baca yang terakhir dibeli, yang kondisinya masih bagus, bahkan masih tersegel plastik. Mana tahu jadi lebih semangat membacanya, hehehe.

Jelajah Musi; Eksotika Sungai di Ujung Senja

Satu lagi buku dalam seri Laporan Jurnalistik Kompas, saya beli karena Sungai Musi adalah sungai masa kecil saya. Sebagai seorang kelahiran Palembang, tentu saja saya sangat akrab dengan sungai ini. Saya bahkan masih mengingat jelas keriuhan lomba bidar yang saat saya kecil selalu diadakan setiap Agustus.

Sama halnya buku-buku seri Laporan Jurnalistik Kompas lainnya, saya sebetulnya sudah membaca beberapa tulisan dalam buku ini yang judulnya menarik perhatian. Saya juga sudah menonton habis video liputan yang menjadi bonus buku.

Sekilas membaca daftar isi, buku ini begitu dalam membedah Sungai Musi. Dari hulu ke hilir, mulai dari sejarah masa lalu hingga dinamika kekinian. Dari kehidupan masyarakat di pesisir sungai, hingga orang-orang yang mengeksploitasi dasar sungai.

M. Natsir; Dakwah dan Pemikirannya

Salah satu koleksi lama yang saya beli setelah menikah. Pada halaman judul buku tertera tanggal 8 Agustus 2009, namun lokasinya tertera Pemalang. Mungkin ini buku saya beli ketika ada pameran di alun-alun Pemalang, yang seingat saya memang berlangsung tak lama setelah kami menikah.

Buku karya Dr. Thohir Luth ini diterbitkan oleh Penerbit Gema Insani Press, dan merupakan cetakan lawas: Januari 1999. Saya tidak mengerti kenapa buku tentang salah satu tokoh penting bangsa ini bisa sebegitu lama tidak laku di pasaran.

Alasan saya membeli buku ini karena M. Natsir merupakan salah satu sosok yang idealismenya saya panuti. Beliau salah satu sosok dalam sejarah yang begitu teguh dan kukuh memperjuangkan Islam sebagai ideologi negara. Perjuangan beliau tentu saja banyak rintangan, dan inilah yang ingin saya pelajari dari beliau.

Menulis Sosok secara Inspiratif, Menarik, dan Unik

Seorang mantan jurnalis senior Jawa Tengah yang bermukim di Solo, suatu ketika pernah menyamakan kemampuan menulis saya dengannya. “Kita ini sama-sama penyulam,” ujarnya ketika itu, mengistilahkan kemampuan kami dalam menulis sebagai kegiatan menyulam.

Istilah ini beliau pakai untuk merujuk kemampuan kami merangkai sebuah tulisan berdasarkan referensi-referensi lain yang sudah ada. Kemampuan seperti ini sangat pas untuk menulis feature, termasuk salah satunya menuliskan sosok. Karena itulah saya langsung membeli buku karya Pepih Nugraha ini begitu menjumpainya di Bukalapak.

Apakah saya ingin menulis sosok? Dalam skala kecil sudah, beberapa sosok inspiratif ataupun sekedar menarik pernah saya tuliskan di Harian Jogja sebagai hasil liputan. Satu sosok yang saya sesali karena tidak dapat bertemu adalah Didik Nini Thowok. Padahal saya sudah mendapat penugasan dari redaktur ketika itu.

Di blog ini pun terdapat beberapa tulisan mengenai sosok yang saya nilai inspiratif, atau sekedar menarik. Misalnya sosok Eni Kusuma, yang ketika itu masih berstatus TKW namun begitu produkti menulis. Ada pula sosok Wak Doyok, selebritas Malaysia keturunan Jawa.

Saya ingin melatih kemampuan dalam menuliskan sosok, itu sebab saya beli buku ini. Ada satu sosok yang sangat ingin saya tuliskan kisah kehidupannya ke dalam bentuk buku. Semoga saja niat ini terkabul.

Ny. Lie Tjian Tjoen; Mendahului Sang Waktu

Nama asing? Tidak masalah. Ny. Lie Tjian Tjoen sendiri memang tidak ingin sosok dirinya ditulis, beliau tidak ingin dianggap sombong atau membesar-besarkan dirinya sendiri. Beliau lebih suka berkarya dalam diam. Padahal, apa yang telah beliau lakukan memang merupakan sebuah karya besar.

Ny. Lie Tjian Tjoen merupakan pendiri Panti Asuhan Hati Suci, yang mula-mulai beliau dirikan dengan nama Roemah Piatoe Ati Soetji pada tahun 1914. Misinya adalah menyelamatkan perempuan-perempuan etnis Tionghoa yang didatangkan ke Batavia sebagai pelacur.

Dalam perkembangannya, Ny. Lie Tjian Tjoen juga menyelamatkan bayi-bayi yang dibuang serta anak-anak terlantar. Ia menjadi sebuah panti asuhan yang berdiri secara merdeka, dan bertahan dari generasi ke generasi.

Buku karya A. Bobby Pr. ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada 2014 sebagai peringatan 100 tahun berdirinya Panti Asuhan Hati Suci.

PK Ojong; Hidup Sederhana, Berpikir Mulia

Nah, kalau yang satu ini pasti bukan nama asing. Ya, dialah sang co-founder Kompas. Yang mungkin belum banyak diketahui, akronim PK pada namanya adalah singkatan dari Petrus Kanisius. Buku ini ditulis oleh Helen Ishwara, diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada 2014.

Saya beli buku ini di Bukalapak pada Februari 2018, masa-masa di mana saya begitu rajin mengumpulkan biografi tokoh-tokoh nasional. Begitu melihat buku ini, saya tak mau pikir panjang dan langsung membeli. Padahal harganya lumayan sih, harga termurah setelah saya set filter harga di Bukalapak adalah Rp45.000.

Sebagai orang yang pernah belajar serta sebentar menekuni dunia jurnalistik, jelas saya punya alasan untuk tertarik pada sosok PK Ojong. Terlebih penulisnya Helen Ishwara, salah satu nama jaminan mutu untuk tema-tema seperti ini.

Pulau Run; Magnet Rempah-Rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan

Saya akui, saya memang begitu tergila-gila pada Maluku. Sebuah daerah yang begitu erat kaitannya dengan sejarah kolonialisme asing di bumi Nusantara. Kegilaan ini bertambah sejak saya menginjakkan kaki ke Ternate, Tidore, lalu menyusul Halmahera.

Buku karya Giles Milton ini merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, judul aslinya Nathaniel’s Nutmeg; Or the True and Incredible Adventures of the Spice Trader Who Changed the Course of History yang pertama kali diterbitkan pada Maret 1999. Edisi bahasa Indonesia yang saya beli ini merupakan terbitan Penerbit Alvabet, cetakan pertama Juni 2015.

Pulau Run adalah sebuah pulau kecil yang tak akan terlihat pada Google Maps, kecuali kita memperbesar peta tersebut beberapa kali. Panjang pulau ini 3 km, dan lebarnya 1 km. Namun, pulau ini sempat jadi rebutan bangsa-bangsa Barat nan serakah.

Inggris kemudian berhasil menguasai Pulau Run, sementara Kepulauan Banda secara keseluruhan dikuasai Belanda. Setelah berkali-kali berselisih, kedua kerajaan akhirnya sepakat melakukan pertukaran wilayah jajahan. Belanda dengan rela melepas Pulau Manhattan di benua Amerika demi mendapatkan Run.

Saya sempat mengintip bab pertama buku ini, dan saya yakin ini buku yang menarik dibaca.

*****

Itulah dia 12 buku yang akan saya baca sepanjang 2020 ini. Susunan di atas hanya berdasarkan abjad, tidak menunjukkan daftar awal-akhir alias mana buku yang dibaca terlebih dahulu dan seterusnya. Karenanya saya bebas membaca yang mana saja terlebih dahulu dari ke-12 judul tersebut.

Enaknya Januari ini baca yang mana ya?

Beri tip untuk blog ini
About Eko Nurhuda (375 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

10 Comments on 12 Buku yang akan saya baca tahun ini

  1. Buku-buku yang keren. Rasanya saya punya buku Pulau Run itu. Lanjutkan proyek membacanya bung.

    Suka

  2. Aduh mas aku aja buku beli dari tahun 2017-2019 masih segelan belum sempat menyentuh huhu. Sekarang distraksi terbesar ada di gawai. Dulu bisa baca sebulan 2 buku, sekarang setahun 1 buku saja belum tentu huhu.

    Suka

    • Sama! Makanya aku sejak pertengahan tahun kemarin uninstal Facebook dari hape. Instagram gak mungkin ikutan di-uninstal karena aku pake buat cari recehan, sedangkan Twitter satu-satunya medsos yang bikin nyaman. Tapi, lumayanlah, seenggaknya sampai pertengahan bulan ini sudah habis satu buku. Buku tipis sih, hihihi.

      Suka

  3. Aku juga belakangan jarang beli buku sih. Selain karena rak bukunya enggak muat, rasa-rasanya kok belum ada buku yang cukup memikat untuk dibeli. Giliran menarik, eh, pas dana ga ada, hehe. Akhire beli buku bekas di marketplace deh. Itu pun baru dicicip-cicip aja, banyak yang belum. Coba tar kutulis juga ah kalau luang hehe.

    Suka

  4. Gagah sekali, Mas Eko, daftarmu ini. Sudah berapa persen yang terbaca dari judul buku jatah bulan ini? Sudah pertengahan loh hehe. Kenapa tidak tiga buku per bulan? Saya yakin Mas Eko mampu kok.

    Suka

    • Aduh, belum apa-apa sudah dipuji Pak Editor. Well, tanpa bermaksud semakin melambungkan diri, kuakui reading speed-ku di atas rata-rata, Mas. Cuma kali ini rasanya ingin membaca itu betul-betul dinikmati, jadi pelan-pelan saja. Toh, ini baru pemanasan. Sudah lamaaa banget nggak baca buku secara serius.

      Btw, rata-rata buku-buku dalam daftar ini sudah pernah kuintip sedikit-sedikit, Mas. Tapi kali ini harus tuntas habis. Sudah pertengahan bulan? Maka kupilih yang paling tipis bulan ini. Hihihi.

      Suka

      • Yang penting sudah punya list, Mas. Sudah langkah bagus itu. Aku juga ada sih beberapa buku yang kayak gitu: pernah dibaca beberapa halaman atau bab, lalu terhenti entah karena apa. Jadi pengin mengintip lagi. Sebagian ada yang kupasang di Goodreads jadi suka diingatkan utang baca. 😄

        Suka

1 Trackback / Pingback

  1. Cara simpel menjaga kesehatan mental di tengah pandemi COVID-19 – bungeko.com

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: