Highlight:

Hadiah Liburan Bareng Cucu untuk Ibunda Tercinta

Saya ingin merancang tur yang cocok untuk anak-anak, sekaligus dapat dinikmati Ibu.

Saya bersama Ibu, istri dan anak-anak, pulang dari mengunjungi Tugu Monumen Nasional, Jakarta

Saya bersama Ibu, istri dan anak-anak, pulang dari mengunjungi Tugu Monumen Nasional, Jakarta

ADA satu kepercayaan umum dalam masyarakat kita bahwa kakek-nenek lebih sayang cucu ketimbang anaknya sendiri. Saya tidak bisa tidak percaya dengan ini. Pasalnya, tiap kali menelepon Bapak atau Ibu nun jauh di Jambi, yang pertama kali beliau berdua tanyakan adalah anak-anak saya.

Sebaliknya, kalau Bapak atau Ibu yang menelepon saya atau istri, setelah telepon kami angkat yang pertama kali beliau berdua tanyakan kabar cucu-cucunya. Anak-anak saya.

Ini lumrah. Menurut ilmu psikologi, orang tua seringkali merasa perlu “memperbaiki” kekurangan mereka saat mengasuh anak-anaknya di masa kecil. Caranya dengan memperlihatkan kasih sayang berlimpah bagi cucu-cucunya.

Begitu pula dengan Ibu. Beliau seolah merasa harus memberikan perhatian, cinta, kasih, dan kepedulian yang lebih pada anak-anak saya ketimbang yang pernah diberikannya untuk saya di masa lalu.

Hal ini tentu saja membuat saya senang. Saya bahagia karena anak-anak saya disayangi oleh keluarga besarnya. Sekalipun kasih sayang itu hanya bisa ditunjukkan dengan menelepon secara berkala karena jarak sejauh 1.200 km memisahkan Ibu dari cucu-cucunya.

Untuk menjaga ikatan emosional anak-anak dengan kakek-neneknya, saya seringkali menunjukkan foto-foto sewaktu mereka berlibur ke Jambi. Ada foto saat mereka masih bayi digendong Ibu atau Bapak, ada pula foto ketika mereka ikut hujan-hujanan di kebun sawit bersama Kakek-Nenek yang tengah mengawasi panen.

Kali lain saya menceritakan pengalaman masa kecil, tentu saja dengan Bapak-Ibu ada di dalamnya. Saya sesuaikan cerita tersebut dengan kondisi anak-anak. Misalnya ketika mereka baru masuk sekolah, saya ceritakan bagaimana dulu Ibu mengantar saya yang baru berusia 5,5 tahun pergi sekolah untuk pertama kali.

Saya ceritakan pula saya pernah gelisah di kelas karena Ibu tidak nampak di halaman sekolah. Persis seperti anak-anak saat mereka celingak-celinguk mencari saya atau ibunya di hari-hari pertama masuk TK. Tentu saya selipkan nasihat-nasihat ringan dalam cerita tersebut.

like_mother_like_son

Like Mother Like Son. Maksudnya, ibu dan anak badannya sama-sama gede, hehehe…

Sosok Paling Disayang

Anak-anak biasanya tertidur setelah mendengar cerita saya. Saya memang bercerita jelang mereka tidur. Sebaliknya, sehabis menceritakan pengalaman masa kecil saya jadi terkenang-kenang akan Ibu. Sosok yang sejak dulu paling pertama merasa khawatir luar biasa tiap kali saya berada dalam kesulitan atau masalah.

Kalau diminta menyebut satu orang yang paling saya sayangi di dunia ini, maka orang itu adalah Ibu. Saya harus meminta maaf pada istri, tapi Ibu-lah wanita yang paling saya cintai sampai kapanpun.

Saya memang tidak ingat lagi masa-masa Ibu menimang saya, mengajari saya berjalan, menyuapi makan. Tapi saya tidak akan pernah lupa bagaimana Ibu, di tengah kelelahannya seharian mengurus tiga anak sendirian, dengan senang hati mengipasi saya dan adik-adik sebelum tidur.

Kini, setiap mengantar anak-anak pergi tidur saya mengipasi mereka dengan kain. Tepat seperti yang dilakukan Ibu dulu. Sembari melakukan itu saya pun terbawa kembali ke masa kecil, teringat saya yang terlelap di bawah hembusan angin dari kain yang dikibas-kibaskan Ibu.

Juga masih jelas dalam ingatan bagaimana Ibu dengan telaten menghibur dan mengurusi saya yang kesakitan usai disunat. Waktu itu ada masalah dengan jahitan sunat saya, sehingga bekas irisannya menjadi luka yang tak kunjung sembuh selama berhari-hari. Selama itu pulalah saya hanya bisa duduk di kursi menahan sakit. Siapa lagi yang repot mengurus ini-itu untuk saya kalau bukan Ibu.

Di antara empat anak Ibu, tiga di antaranya lahir dan tumbuh besar di Palembang, hanya saya yang ingat bagaimana dulu Ibu pernah jadi tukang cuci keliling. Ya, itu beliau lakukan demi kami. Agar saya dan adik-adik tetap bisa sekolah, tetap bisa membeli jajan kesukaan kami.

Lulus SMA di tahun 2000, saya pamit pada Ibu untuk melanjutkan pendidikan ke Jogja. Saya memilih sebuah pendidikan pariwisata nongelar selama dua tahun. Ibu mengijinkan dan terlihat tak menyimpan perasaan apa-apa. Saya bahkan berpikir Ibu pasti bangga karena di tengah kesulitan perekonomian dapat menyekolahkan saya hingga jauh ke Tanah Jawa.

Namun saat mencukur rambut saya sehari sebelum keberangkatan ke Jogja, Ibu tak mampu menahan tangis. Beliau sedih karena kembali harus terpisah dengan putera sulungnya. Jadilah kami sesenggukan berdua.

foto keluarga di Plaju, 1988

Saya (kiri) berfoto bersama Ibu dan adik-adik di Palembang, Mei 1988. Ibu masih langsing πŸ™‚

Selalu Jauh Ibu

Saya dan Ibu memang lebih sering terpisah. Masa-masa kebersamaan kami dalam satu rumah hanya sampai saya kelas VI SD. Masa-masa paling penuh kenangan tentu saja saat kami tinggal di Palembang.

Lalu kesulitan finansial memaksa Ibu memboyong kami ke Batumarta, sebuah daerah transmigrasi 4-5 jam perjalanan darat dari Palembang. Kami pindah ke sana saat saya naik kelas V SD.

Dua tahun di Batumarta, untuk pertama kalinya saya harus berpisah dengan Ibu karena selulus SD dititipkan ke rumah Pakde. SMP tempat saya melanjutkan sekolah lebih dekat dengan rumah Pakde. Jadi, Ibu dan juga Pakde memutuskan saya lebih baik menumpang sementara di sana.

Baru beberapa bulan saya masuk SMP, Ibu pindah ke Jambi mengikuti Bapak yang sudah merantau ke sana sejak 1990. Kami pun terpisah lebih jauh lagi. Untuk setahun berikutnya saya dan Ibu terpisah sejauh 400 km.

Kami kembali menyatu ketika saya naik kelas. Ibu membawa saya ke Jambi, ke rumah yang hingga kini beliau tempati bersama Bapak. Tapi kami hanya dua tahun tinggal serumah. Lulus SMP saya melanjutkan ke SMA yang hanya ada di ibukota kabupaten.

Juli 1997, bersamaan dengan dimulainya tahun ajaran baru, saya meninggalkan rumah dan indekos di Muara Bulian. Sebuah kota kecil yang merupakan ibukota Kabupaten Batanghari.

Jarak Muara Bulian sebenarnya hanya sekitar 20 km dari rumah. Namun kondisi jalan yang buruk, sebagian besar masih berupa tanah becek, membuat perjalanan ke sana membutuhkan waktu paling cepat 30 menit. Belum lagi minimnya angkutan umum menuju ke sana, sehingga indekos adalah pilihan paling ideal.

Ibu bikin kue bareng anak-anak

Anak-anak “membantu” neneknya membuat kue lebaran sewaktu saya sekeluarga mudik ke Jambi, medio 2014.

Saya tidak menyangka kalau itu sekaligus awal perpisahan saya dengan Ibu. Seemenjak itu saya tidak pernah lagi tinggal di rumah. Selepas SMA saya merantau lebih jauh lagi ke Jogja, dan setelah menikah menetap di Pemalang. Saya tak pernah kembali ke Jambi selain untuk mudik lebaran.

Kalau mau dirinci, dari 34 tahun usia saya saat ini hanya 13,5 tahun yang dihabiskan serumah dengan Ibu. Sisa 20 tahun lainya saya tinggal jauh dari rumah: di Muara Bulian (3 tahun), Jogja (10 tahun), dan Pemalang (menginjak 7 tahun).

Jauh dari Cucu

Mungkin karena sudah lama terpisah, saya merasa tak ada yang salah dengan kondisi ini. Toh, saya pergi untuk sekolah dan mencari penghidupan. Bukankah orang tua juga yang bakal merasa bangga kalau anak-anaknya mapan dan sukses?

Rupanya kondisi berjauhan begini membuat Ibu tidak nyaman. Terlebih saat kedua anak saya lahir di tahun 2010 dan 2011. Sebagai anak sulung, anak-anak saya merupakan cucu-cucu pertama Ibu. Sayangnya, cucu yang hanya dua itu tinggal sangat jauh dari neneknya.

Di telepon, Ibu sering mengungkapkan harapannya agar saya kembali sehingga beliau dapat ikut mengasuh cucu-cucunya. Ibu adalah sosok yang suka anak-anak. Jangankan cucu sendiri, cucu tetangga pun beliau mau ikut mengasuh. Membelikan ini-itu, menyuapi, dan lain-lain.

Adalah sebuah hal naluriah seorang nenek ingin dekat dengan cucunya. Sebagai anak saya sebenarnya ingin sekali mewujudkan harapan Ibu tersebut. Namun, kondisi tidak memungkinkan saya melakukan itu. Aliran listrik yang masih tak menentu serta tidak adanya jaringan internet membuat saya berpikir panjang untuk pindah ke Jambi.

Ibu dan anak-anak panen sawit

Ibu bersama anak-anak di antara tandan sawit yang baru dipanen di Sungai Bahar, Jambi, medio 2014.

Diam-diam saya merasa bersalah. Saya ingin membalas “dosa” ini dengan sebuah hadiah istimewa untuk Ibu. Saya tahu ini tidak ada apa-apanya dibanding begitu besarnya keinginan Ibu tinggal dekat cucu-cucunya. Namun setidaknya saya bisa membuat Ibu bahagia meski hanya sebentar.

Apa yang akan saya lakukan? Tidak muluk sebenarnya. Saya ingin mengajak Ibu berlibur bersama cucu-cucunya. Menghabiskan 3-4 hari bersama-sama dalam kesenangan dan keseruan di tempat yang sama sekali baru.

Ibu terakhir kali berlibur bersama cucu-cucunya pada Agustus 2014. Waktu itu sepulang dari Jambi kami mampir dua hari di Jakarta, di rumah adik saya di kawasan Palmerah. Ibu ikut mengantar sampai Jakarta, dan kami bersama-sama pergi ke Monas naik Transjakarta.

Kami bertemu lagi sebentar saat kondangan di Nganjuk pada November 2016. Selepas acara Ibu mengajak cucu-cucunya ke Kediri, mengunjungi Goa Selomangleng, Gumul, dan bermain-main di playground Kediri Mall. Tapi ini tidak bisa disebut liburan, sebab tujuan utamanya kondangan.

Liburan Bareng Cucu

Jadi, saya ingin mengajak ibu dan anak-anak berlibur ke suatu tempat. Memberi waktu pada nenek dan cucu untuk berbagi kebahagiaan dalam kebersamaan selama beberapa hari di tempat tak biasa.

Ke mana? Destinasi yang saya pilih Bali. Alasannya, Ibu lahir dan besar di perbatasan Situbondo-Banyuwangi yang hanya sepelemparan batu dari Pulau Bali. Ibu sempat bercerita sewaktu remaja pernah iseng menyeberang Selat Bali. Naik feri dari Pelabuhan Ketapang, Ibu dan kawan-kawannya duduk-duduk di sekitaran Gilimanuk, lalu balik lagi.

Ibu di Wonorejo

Ibu di kampung halamannya, Wonorejo, Kec. Pasir Putih, Situbondo. Foto diambil 30 Juni 2009.

“Ibu dulu sering nyeberang ke Bali, tapi cuma sampai Gilimanuk terus balik lagi,” demikian cerita Ibu pada saya via telepon akhir tahun lalu. Ketika itu saya kabari Ibu kalau kami sekeluarga mendapat hadiah liburan ke Bali dari sebuah produsen susu.

Oke, Bu, nanti saya bawa Ibu liburan ke Bali. Bukan cuma sampai Gilimanuk, tapi Ibu akan mengunjungi tempat-tempat wisata terkenal di sana. Sembari berlibur kita sambung silaturahmi dengan beberapa saudara Ibu asal Banyuwangi yang tinggal di Denpasar, di Kuta.

Bagi anak-anak sendiri Bali adalah tempat penuh kenangan. Selama 5 hari 4 malam di bulan November 2016 mereka diajak berkeliling dari Kuta hingga Lovina ketika mengikuti Tur Cokelat Bali. Sangat mengesankan sekali. Namun karena tur tersebut tidak dirancang khusus untuk anak-anak, saya ingin mengajak mereka ke sana lagi.

Saya ingin merancang tur yang cocok untuk anak-anak, sekaligus dapat dinikmati manula seperti Ibu. Dengan bantuan laman kategori voucher taman hiburan di Elevenia, saya sudah menandai beberapa spot menarik di Bali.

Untuk mempermudah pencarian saya mengetikkan “Bali” pada kolom yang tersedia pada laman tersebut. Dari sekian banyak tawaran yang muncul, saya paling tertarik pada 5 tempat berikut:

1. Dolphin Watching at Lovina

Ibu belum pernah ke Lovina, dan belum pernah melihat lumba-lumba di laut lepas. Jadi, Ibu harus merasakan pengalaman berkesan ini setidaknya sekali dalam hidupnya. Di Elevenia, tersedia voucher Dolphin Watching at Lovina seharga Rp247.000. Setahu saya ini lebih murah dari yang ditawarkan beberapa hotel setempat.

Saya sekeluarga memang pernah melihat lumba-lumba di Lovina. Tapi siapa sih yang tidak ingin kembali merasakan keseruan berburu lumba-lumba ini? Apalagi saat mengikuti Tur Cokelat Bali kami hanya menginap semalam di Lovina, dan sudah meninggalkan Singaraja pada pukul 10.00 WITA. Sebentar sekali.

Kami ingin tinggal lebih lama di Lovina. Setelah melihat lumba-lumba di lepas pantai, kami ingin bermain-main pasir dan air laut di pantai. Juga puas-puas berenang di kolam renang hotel sembari menunggu sunset.

2. Bali Sea Walker

Masih petualangan seru di laut, dan sama-sama melihat ikan di habitat aslinya, tapi kali ini kita diajak menyelam ke dalamnya. Bali Sea Walker menjadi pilihan berikutnya karena saya yakin anak-anak bakal menyukainya. Ini akan jadi pengalaman berkesan bagi mereka.

Demikian pula bagi Ibu. Terlahir sebagai anak pesisir, sejak kecil Ibu sangat akrab dengan laut. Namun karena kakek saya seorang petani, bukan pelaut, Ibu tidak pernah nyemplung ke laut. Paling sekedar bermain-main di pantai yang terletak sekitar satu kilometer dari rumah Simbah.

Di Elevenia ada promo tiket Bali Sea Walker seharga Rp318.000, jauh lebih murah dari tarif aslinya yang sebesar Rp450.000. Syaratnya minimal membeli dua. Karena rombongan saya nanti ada lima orang, syarat ini terpenuhi.

3. Bali Safari & Marine Park

Sewaktu menghadiri wisuda omnya di Jogja tahun 2014, anak-anak saya ajak ke Kebun Binatang Gembiraloka. Namun mungkin karena masih terlalu kecil, Damar 4 tahun dan Diandra 3 tahun, mereka malah ketakutan. Jadi, saya ingin mengulanginya di Bali dengan mengunjungi Bali Safari & Marine Park.

Jika di Gembiraloka mereka hanya melihat gajah, orangutan, dan burung-burung dalam sangkar, di Bali Safari & Marine Park anak-anak dapat merasakan pengalaman lebih seru. Di sini pengunjung diajak naik mobil berjeruji besi dan mengelilingi kandang-kandang hewan buas.

Saya tahu pasti ada rasa takut saat harimau naik ke atas mobil yang kita tumpangi. Tapi pengalaman ini membuat anak-anak berinteraksi lebih dekat dengan satwa buas tersebut. Membuat mereka lebih mengenal sesama ciptaan Allah.

4. Kemenuh Butterfly Park

Anak-anak mana yang tidak suka kupu-kupu. Hewan lucu ini bahkan diabadikan dalam sebuah lagu anak. Damar dan Diandra sudah sejak kecil hapal lagu ini, diajari ibunya.

Dengan mengajak mereka ke Kemenuh Butterfly Park, anak-anak dapat mengenal secara langsung aneka ragam kupu-kupu. Jika biasanya di halaman rumah mereka hanya melihat kupu-kupu bersayap hitam-putih, di sini ada banyak warna yang pastinya bakal membuat mereka terkagum-kagum.

Laman Mokado Fun Event di Elevenia menawarkan tiket masuk Kemenuh Butterfly Park dengan harga mulai dari Rp28.000 untuk anak-anak, dan Rp47.500 untuk dewasa. Tinggal memikirkan biaya transportasi ke sana.

5. Bali Bird Park

Masih dari dunia binatang, tujuan terakhir yang ada dalam daftar adalah Bali Bird Park. Kebun binatang khusus marga burung.

Anak-anak sudah punya buku tentang aneka burung. Dari sana mereka mengenal berbagai macam burung yang ada di Indonesia. Akan lebih berkesan jika mereka dapat melihat burung-burung tersebut secara langsung.

Saya dapat mempersiapkan kunjungan ke tempat ini sejak jauh-jauh hari secara daring. Di Elevenia terdapat sejumlah tawaran tiket masuk Bali Bird Park dengan diskon hingga 18%. Ini sangat membantu penghematan budget πŸ™‚

*****

Sebentar, sebentar. Ini sebenarnya liburan untuk Ibu atau anak-anak sih?

Melihat daftar tujuannya, tentu yang jadi pertimbangan utama anak-anak. Kira-kira mereka bakal nyaman dan senang tidak mengunjunginya. Sebab berwisata dengan anak yang harus diprioritaskan adalah si anak. Yang dewasa dapat dengan mudah menyesuaikan diri.

Demikian pula dengan liburan yang saya rancang untuk Ibu ini. Karena judulnya liburan nenek bersama cucu, maka kesenangan beliau adalah ketika melihat tingkah cucu-cucunya selama berlibur bersama. Saya yakin Ibu sudah sangat senang sekali bisa jalan-jalan dengan dua cucunya.

Saya masih ingat betul bagaimana ekspresi bahagia Ibu sewaktu melihat anak-anak berlarian di pelataran Monas tiga tahun lalu. Melihat antusiasme kedua bocah cilik itu ketika diajak berkeliling bus tingkat gratis, juga di dalam Transjakarta.

Saya ingin melihat ekspresi itu lagi di wajah Ibu.

Posting ini diikut-sertakan dalam lomba blog Cerita Hepi Elevenia.

Foto-Foto:
Foto-foto yang tidak dicantumkan keterangan sumber di bawahnya adalah dokumentasi pribadi.

Iklan

About Eko Nurhuda (360 Articles)
A happy father of two. Blogging and making video for fun. Love food, music, and sometime football #YNWA

8 Comments on Hadiah Liburan Bareng Cucu untuk Ibunda Tercinta

  1. Amin, amin, aminnn…

  2. Amin. amin. Ini udah impian lama, soalnya kalo ke Bali bisa sekalian mampir ke kampung halaman Ibu di perbatasan Situbondo-Banyuwangi sana.

  3. Makasih, Mas. Insya Allah nanti lebaran saya mudik, ta sampein salamnya untuk beliau secara langsung πŸ™‚

  4. Iya, bener banget tuh, Mbak. Hehehehe.
    Tapi ya maklumlah, kita yang gede udah bukan masanya lagi diperhatikan seperti dulu to. Jadi, biarlah kakek-nenek berintim-intim ria dengan cucu-cucunya πŸ™‚

  5. Kalau harus berjauhan dari ibu tercinta, oh sungguh berat dan beruraian air mata. Dulu sewaktu mondok pun sangat sedih saat haruss kembali berpisah untuk sekolah jauh. Bisa dibayangkan apalagi anak sulung. Sudah selayaknya ibunda mendapat kado berupa liburan keren dari ananda tercinta ya, apalagi bisa beli lewat elevenia. Semoga terkabul ya Mas niatnya membahagiakan ibu. semoga sukses

  6. Semoga kesampaian ya Mas bawa ibu liburan bersama ke Bali. Ibuku juga paling senang kok liburan bareng semua cucunya.

  7. Salam buat Ibu ya Mas, semoga keinginan untuk mengajak Ibu liburan bersama cucu2nya bisa terwujud, aamiin.

  8. Senangnyaaa quality time bersama keluarga besarke bali mas 😁 sepakat banget mas kalau ayah ibuk akan lebih sayang ke cucu drpda anaknya hehehe. . Soalnya skrng ayah ibuk selalu semangat ceritain cucu (anak dr kakak syaa) dan semangat banget pengen nengok ke garut. . Jd alasan ibuk saya buat sehat kembali gtu ceritanya. The power of cucu wkwkwk. .

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: