Highlight:

Terpesona Private Beach di Bali Shangrila Beach Club, Candidasa

Kamarnya legaaaa sekali. Itu masih ditambah balkon menghadap laut.

HARI sudah beranjak malam ketika bus pariwisata yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti. Di sebuah jalanan yang tak bisa dikatakan ramai. Batang-batang tinggi pohon kelapa terlihat menjulang di beberapa tempat dalam keremangan. Jam digital di bagian depan bus menunjukkan pukul delapan malam WITA.

Saya sekeluarga beserta rombongan Tur Cokelat Bali atas sponsor PT Frisian Flag Indonesia tengah menuju ke hotel waktu itu. Dari briefing book yang dibagikan saat di Bandara Soekarno-Hatta, saya tahu nama hotelnya Bali Shangrila Beach Club (kini jadi Bali Santai Beach Club?)

Pak Made tour guide kami mengumumkan kalau jalan menuju ke hotel sempit, tak cukup dilalui bus. Jadi kami harus turun dan berganti kendaraan shuttle hotel yang sedang menuju ke tempat kami berada.

Beberapa menit menunggu Pak Made mempersilakan rombongan keluarga dengan anak-anak untuk turun terlebih dahulu. Saya, istri, dan anak-anak beranjak dari jok. Pindah ke sebuah minibus yang stand by beberapa langkah di depan bus. Ikut bersama kami keluarga Mas Jimmy Nugraha asal Tangerang yang juga bersama dua anak

Begitu kami semua masuk, minibus melaju membelah kegelapan malam. Saya tak tahu arah, kanan-kiri gelap. Seingat saya tak banyak lampu penerangan di sepanjang jalan. Anak-anak duduk sembari melihat keluar melalui kaca minibus, penuh penasaran.

Jalan beberapa menit tampaklah jejeran lampu putih di atas sebuah tembok beton. Agaknya kami sudah mulai memasuki kawasan hotel. Ketika kemudian minibus berhenti dan kami turun, saya masih tidak melihat bangunan hotel. Hanya pelataran parkir, beberapa mobil, dan semacam pintu gerbang dengan lampu-lampu berpendar di dalamnya.

Ke “pintu gerbang” itulah kami menuju. Begitu melewatinya barulah suasana hotel saya rasakan. Sebuah resepsionis yang hanya berupa ruangan kecil, satu meja besar dari kayu, dan restoran semi outdoor dengan lampu temaram di seberang.

Tak ada lobi. Atau konsep lobinya memang seperti itu? Serupa teras depan rumah tanpa banyak kursi. Seingat saya hanya ada dua kursi selain meja kayu besar yang ada di sana.

Sembari menunggu Pak Rahmat (tour leader Smailing Tour) mengambilkan kunci untuk kami, saya mengamati sekitar. Terdengar suara kecipak air, juga deburan ombak dekat sekali. Saya berdiri hanya sekitar 100 meter dari bibir pantai. Tapi malam yang pekat membuat mata ini tidak berhasil melihat laut. Hitam.

Sederhana di Luar, Super Mewah di Dalam

Tengah asyik mengamati sekeliling, Pak Rahmat memanggil saya. Dua kunci diulurkan yang langsung saya sambut dengan tangan kanan. Meski belum sampai ke kamar, tapi saya bisa menebak kami bakal dapat bagian connecting room.

“Ikut mas itu, Pak,” kata Pak Rahmat sembari menunjuk seorang staf hotel yang berdiri di sebelah koper-koper kami. “Selamat istirahat ya.”

Saya cuma membalas dengan senyuman. Staf hotel membawa kami ke sebuah lorong kecil di dekat pintu masuk. Rupanya kamar kami terletak di lantai atas. Kamar nomor 21 dan 22. Connecting room.

Berbeda dengan Hotel Grand Ixora Kuta Resort tempat kami menginap di malam pertama, dari luar Hotel Bali Shangrila Beach Club terlihat biasa saja. Bahkan bangunannya terkesan tua dengan desain sederhana. Sama sekali tak tampak kesan mewah, padahal ini hotel bintang tiga.

Tapi kesan itu langsung buyar begitu kami masuk ke dalam kamar. Berulang kali kata “wow” keluar dari mulut saya dan istri. Maklumlah, sekalipun pernah setengah tahun jadi bellboy Novotel, saya jarang-jarang menginap di hotel mewah. Paling mentok kelas melati kalau bayar sendiri.

Yang pertama kami buka kamar Superior. Wah, luasnya nggak kepalang tanggung! Selain double bed ada kursi kayu, seperangkat meja rias, sofa dan meja sedang, rak tivi, lemari, dan kitchen set lengkap dengan washtafel di sudut.

Legaaaa sekali. Itu masih ditambah balkon menghadap laut.

Didorong rasa penasaran saya buka kamar satu lagi. Dan saya sukses dibuat bengong. Ukurannya jauh lebih besar dari kamar sebelah, terdiri dari tiga ruangan plus tiga balkon. Salah satu balkon berukuran sangat lebar.

Begitu masuk dari pintu kita langsung disambut semacam ruang tamu. Ada satu sofa panjang di depan rak tivi layar datar, seperangkat sofa di pojok lain, serta kitchen set di sudut.

Ketika saya buka lemari kayu di bawah washtafel isinya sendok, garpu, pisau, dan ada pula frying pan. Kemudian lemari di atasnya berisi piring, mangkuk, dan gelas aneka ukuran. Saya lihat juga ada lap, kemungkinan untuk mengeringkan atau mengelap piring sebelum digunakan.

Komplit!

Kamar tidur tak kalah luasnya. Sebuah double bed ukuran raja (king size) berseprei putih dengan aksen kain merah jadi sentral. Di kanan-kirinya terdapat lampu meja. Di satu sisi terletak sebuah rak kayu, ada pula lemari, dan set meja rias.

Yang istimewa, kamar ini memiliki dua balkon di dua sisinya: menghadap laut dan menghadap area parkir hotel. Sekedar duduk-duduk santai sembari mengobrol terasa asyik sekali di sini. Suasana pedesaan dikuatkan dengan kokok ayam jago yang terdengar jelas dari dalam kamar.

Berendam di Bathtub

Nah, bagian paling serunya di sini. Satu ruangan tersisa ternyata kamar mandi. Tak terbayangkan ruangan selebar itu hanya untuk kamar mandi. Di dalamnya ada kloset jongkok, washtafel dengan kaca lebar, dan bathtub. Barang terakhir ini yang bikin agenda tidur kami molor hingga larut.

Anak-anak sebenarnya sudah mengantuk sejak tiba di hotel. Namun begitu melihat kamar luas, nurani petualang mereka muncul. Jalan ke sana-sini, lihat sana-sini, menyentuh ini-itu. Sampailah mereka tahu bathtub di kamar mandi tadi.

“Ini untuk apa?” tanya Damar, anak sulung saya, polos. Maklum, seumur hidupnya belum pernah melihat bathtub.

“Ini bathtub, Nak. Untuk berendam kaya di kolam renang,” jawab saya sesederhana mungkin.

Eh, rupanya jawaban saya menimbulkan ketertarikan mereka. Malam itu juga, waktu itu kira-kira jam setengah sembilan malam, mereka minta mandi berendam air hangat. Alamak!

Tapi kami memang belum mandi sore. Jadi, saya turuti kemauan anak-anak. Sembari meminta mereka melucuti pakaian, saya isi bathtub dengan air dingin disusul air panas. Belum lagi isinya penuh, anak-anak sudah masuk ke bathtub. Asyik bermain-main air yang mancur dari shower dan kran.

Begitu bathtub berisi setengah, mereka sibuk bermain air. Saling ciprat. Kecipak-kecipuk nggak karuan, sampai basah semua lantai kamar mandi. Susah payah ibunya membujuk mereka untuk mentas karena sudah hampir jam 10 malam.

Oya, kamar mandi nan luas ini punya dua pintu. Satu pintu terhubung ke kamar, satunya lagi ke living room. Yang agak saya sayangkan, lokasi bathtub di kamar kami malam itu dekat pintu ke living room. Kalau main air harus hati-hati agar lantai ruang sebelah tak ikut basah.

Private Beach nan Cantik

Sesuai namanya, Hotel Bali Shangrila Beach Club terletak tepat di pinggir pantai. Entah apa nama pantainya saya lupa bertanya. Yang jelas itu kawasan private, besar kemungkinan eksklusif bagi tetamu hotel saja.

Pantainya berpasir putih, dengan air bening sekali. Di bibir pantai berjejer perahu-perahu kayu bermotor. Dari hasil googling saya tahu kita bisa menyewa kapal-kapal tersebut untuk berlayar ke tengah laut.

Tak jauh dari pantai terdapat sebuah pulau karang besar. Lagi-lagi saya tak tahu namanya dan lupa menanyakan pada staf hotel. Tapi tak ada tanda-tanda kehidupan di pulau tersebut. Agak jauh dari sana berceceran beberapa pulau kecil, juga terbentuk dari batu karang.

Pagi hari setelah mandi kami turun ke bawah untuk sarapan. Karena malas naik-turun bolak-balik, kami bawa koper-koper dan tas ke bawah agar bisa sekalian check out.

Restoran semi outdoor di seberang resepsionis bernuansa kayu. Bagian yang menghadap resepsionis tidak berdinding sama sekali. Sedangkan bagian-bagian lain berdinding tembok setinggi setengah badan. Jadi, tetamu dapat menyantap sarapannya sembari memandangi laut.

Tepat di sebelah restoran ada kolam renang.

Sajian makanannya tak banyak. Menu lokal terdiri dari nasi goreng dan mi goreng, dengan tambahan irisan tomat dan sayur-sayuran mentah. Kalau mau kita bisa meminta omelet. Untuk lidah bule, restoran menyediakan roti tawar dengan aneka macam selai juga butter.

Bergeser ke meja minuman, tersedia jus jeruk yang menurut saya rasanya juara, termos besar berisi air panas untuk membuat teh atau kopi, serta deretan kotak-kotak susu. Saya pikir susu-susu ini disiapkan untuk tamu yang biasa sarapan dengan sereal.

Beres sarapan saya dan anak-anak turun ke pantai. Sepi sekali. Saat itu tak ada satupun tamu yang terlihat di pantai selain saya dan Damar. Lalu istri dan Diandra menyusul. Kami foto-foto, saya merekam video ala kadarnya. Belum puas sebenarnya, tapi Pak Rahmat sudah memanggil-manggil.

Well, semalam di Hotel Bali Shangrila Beach Club sangat mengesankan bagi kami. Sampai sekarang pun anak-anak masih ingat betul bagaimana serunya mereka bermain-main air di bathtub.

Andai nanti ada kesempatan kembali kemari, saya bakal puas-puas berenang di kolam dan berlari-larian di pantai. Anak-anak sepertinya bakal berlama-lama berendam di bathtub. Semoga saja.

Ingin menginap di Hotel Bali Shangrila Beach Club?
Dapatkan tawaran menarik dari Booking.com di sini!

Bali Shangrila Beach Club

Dusun Samuh, Kecamatan Candidasa
Kab. Karangasem, Bali
Telepon: (0363) 41829

Foto-Foto:
Semua foto dengan watermark “BUNGEKO.COM” adalah dokumentasi pribadi, dijepret dengan Canon Powershot SX610 HS. Foto-foto lain diambil dari web http://www.balisantaibeachclub.com dan Booking.com.

Iklan

About Eko Nurhuda (355 Articles)
A happy father of two. Blogging and making video for fun. Love food, music, and sometime football #YNWA

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: