Highlight:

Hal yang paling saya syukuri di tahun 2019

Hal yang paling disyukuri di tahun 2019

SAYA jarang-jarang buka notifikasi Instagram. Tapi, Sabtu (21/12/2019) lalu, entah kenapa saya tergerak untuk “melanggar” kebiasaan tersebut ketika push notification di layar iPhone 5s yang saya pegang menunjukkan sebaris kalimat “amirsilangit mention you in a comment:” dan seterusnya.

Rupa-rupanya Mas Amir Mahmud, blogger langganan juara lomba blog asal Kebumen, tengah mengikuti giveaway Instagram yang diadakan sesama blogger lainnya: Mas Dedy Darmawan. Salah satu syarat mengikutinya adalah memberi komentar mengenai “hal yang paling disyukuri di tahun 2019”, lalu men-tag lima orang teman. Saya salah satu yang di-tag oleh Mas Amir.

Sebagai bentuk dukungan, saya beri komentar tersebut love. Saya juga memberi komentar dan menyemangati Mas Amir. Awalnya, sama sekali tidak terpikir oleh saya untuk turut meramaikan giveaway tersebut. Tapi, setelah membaca-baca komentar peserta lain, serta melihat kok hadiah-hadiahnya lumayan menggiurkan, saya pun coba membagikan satu hal yang tengah saya alami.

Satu hal yang tidak saya harapkan terjadi, saya belum siap menghadapinya. Tapi, itu tetap terjadi sehingga saya harus menerimanya. Alih-alih terus meratap, saya segera putar otak mencari solusi bagi problem tersebut.

Ya, 2019 merupakan tahun berat bagi saya, yang itu ujungnya juga berefek pada keluarga: anak dan istri. Hal yang berkaitan dengan sumber pendapatan, sehingga membuat kami semua harus mengencangkan ikat pinggang seketat mungkin.

Agar tak terkesan mendramatisir, ringkasnya dapat saya katakan bahwa penghasilan bulanan rata-rata saya di tahun ini jauh menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Saya kehilangan sumber penghasilan utama di tahun ini.

Penyebabnya? Satu kanal YouTube yang jadi andalan selama tahun-tahun belakangan performanya menurun. Kanal tersebut agaknya begitu dahsyat terkena dampak dari berbagai aturan baru yang dikeluarkan YouTube sejak akhir 2017. Ditambah satu faktor lain dari pihak saya sendiri yang tidak dapat dibeberkan di sini.

Giveaway @tarotdarma

Giveaway Mas Dedy Darmawan di Instagram yang membuat saya membagikan pengalaman terbaik di 2019, yang lantas dikembangkan menjadi posting ini.

Tenang saja, kami masih bisa makan tiga kali sehari kok. Bukan sembarang makan, anak-anak masih bisa menyantap daging ayam beberapa hari sekali. Atau beli Thai tea kesukaan mereka. Anak kedua saya juga masih bisa beli burger favoritnya. Lalu kami juga masih bisa berenang di waterpark langganan, meski tidak serutin sebelumnya.

Oya, istri saya juga masih bisa ikut arisan mingguan.

Hanya saja, harus diakui bahwa penurunan pendapatan ini sangat berpengaruh besar pada rencana jangka pendek kami. Kami baru saja memulai proyek pembangunan rumah, dan apa yang terjadi tepat setelah kami merampungkan tahap pertama sungguh mengacaukan semua rencana.

Lalu, dalam tempo tiga tahun ke depan anak sulung masuk SMP, yang setahun setelahnya disusul anak kedua. Meski masuk SMP di Pemalang terhitung murah meriah, tetap saja itu musti dipersiapkan mulai dari sekarang. Better prepare than sorry, bukan?

Bersyukur, alih-alih meratap

Ini bukan hal mudah di tengah menurunnya pendapatan yang tengah kami alami. Kami berada dalam survival mode, sehingga hanya mengutamakan kebutuhan-kebutuhan primer saja. Selebihnya, nanti dulu deh. Contohnya, saya sudah lama tidak ngemil kacang garing favorit yang biasa saya beli di Indomaret. Mending uangnya untuk jajan anak-anak saja.

Sebagai suami tentu saja ini membuat saya sedih, juga sempat agak panik, cenderung desperate. Melihat istri yang harus lebih cermat dalam mengatur uang belanja amatlah menyiksa saya. Tapi, alih-alih meratap saya kemudian lantas melihat ini sebagai peluang untuk bersyukur.

Ya, saya kemudian mensyukuri hilangnya sumber pendapatan utama ini.

Kok bisa? Momen ini semacam peringatan dini bagi saya, bagi kami, sekaligus kesempatan untuk memperbaiki diri. Dan selanjutnya mempersiapkan yang lebih baik lagi mulai tahun 2020 ini. Kami harus segera memperbaiki kondisi ini, atau masa depan anak-anak bisa jadi terancam.

Seperti yang kemudian saya ceritakan di unggahan giveaway Mas Dedy Darma, ada setidaknya tiga hal yang membuat saya harus mensyukuri kondisi tidak ideal ini. Yaitu:

Celengan ayam

Kebutuhan itu dapat diukur, tapi keinginan sungguh tidak terbatas.

1. Lebih hati-hati dan teliti lagi dalam mengatur keuangan

Kami sebetulnya termasuk keluarga yang sangat irit, kalau tidak mau dibilang pelit, dalam membelanjakan uang. Kami jarang sekali berbelanja pakaian, bahkan rasanya hanya beberapa kali saja dalam setahun. Itupun sekali belanja paling banyak sejutaan, untuk dua-tiga orang (saya paling jarang beli pakaian).

Makan di luar? Di luar rumah sih sering. Misalnya di teras, atau halaman belakang. Hahaha. Kalau di restoran atau warung makan, bisa dihitung dengan jari. Kami hanya keluar makan bersama kalau ada momen tertentu atau ada tamu jauh, misalnya keluarga dari luar kota. Itupun sekali makan habisnya paling banyak Rp 400-500 ribu.

Maklumlah ya, di sini apa-apa masih murah. Cuma justru di situlah jebakannya. Karena merasa murah, biasanya jadi tak ada beban untuk terus-terusan jajan. Eh, begitu dihitung totalannya sebulan kok lumayan juga ya habisnya.

Karenanya, untuk hal-hal yang tidak terlalu mendesak akan langsung dicoret tanpa ampun. Hanya kebutuhan primer yang didahulukan. Lalu jika anggaran masih memungkinkan, bolehlah disisihkan untuk hal-hal sekunder dengan besaran yang fix. Tidak boleh lebih dari yang sudah dijatah.

Keputusan ini kami ambil setelah membaca-baca ulang catatan keuangan selama setahun ke belakang. Jika hanya menghitung kebutuhan-kebutuhan yang memang harus dibayarkan, ternyata kami hanya perlu mengeluarkan dana 60% dari pengeluaran bulanan. Artinya, kalaupun dihilangkan dan kami stop, maka pernak-pernik yang mencapai 40% dari pengeluaran bulanan itu sama sekali tidak mempengaruhi hidup kami.

Dan itulah yang kemudian kami lakukan: memisahkan mana yang betul-betul kebutuhan dan mana yang masih bercampur keinginan. Berikutnya, yang masuk anggaran hanyalah yang benar-benar kebutuhan. Terdengar ekstrem, tapi itu demi kebaikan kami juga.

Koin receh

Jangan terlalu bergantung pada satu sumber penghasilan saja.

2. Mencari sumber penghasilan lain

Di momen inilah saya mengiyakan kata bijak yang sudah lama sekali saya tahu, “don’t put all your eggs in one basket.” Ini biasa digunakan untuk merujuk pada investasi, jangan tanam semua uang di satu instrumen. Tapi, saya rasa apa yang saya alami bisa dikaitkan dengan ungkapan ini.

Sejak satu kanal YouTube memberikan hasil yang luar biasa setiap bulan, saya seolah terlena. Saya hanya fokus di YouTube dan mengabaikan lainnya, terutama sejak memasuki 2019. Blog jarang diurus, ikut lomba juga tidak, menulis artikel untuk media massa dan naskah buku bahkan sudah lama sekali berhenti.

Saya menggantungkan pendapatan pada satu-satunya sumber: kanal YouTube tersebut. Maklum saja, yang dihasilkan dalam sebulan bisa 2-3 bahkan di waktu-waktu tertentu 4-5 kali lipat dari kebutuhan bulanan kami. Saya merasa aman, karena penghasilan sebulan cukup untuk hidup selama tiga-empat bulan.

Qadarullah, begitu memasuki 2019 pemasukan secara perlahan semakin berkurang drastis. Bahkan sampai kemudian tidak cair sama sekali. Lama-lama kami makan uang tabungan. Dan itu sangat mengganggu rencana-rencana kami ke depan.

Mau tidak mau saya harus mencari sumber pendapatan lain. Masih di dunia internet dan bersifat freelance tentu saja. Dan, bukan sebuah kebetulan rasanya jika saya langsung mendapat satu sumber penghasilan tambahan. Nilainya pun sangat lumayan untuk jam kerja yang terhitung sangat singkat. Alhamdulillah.

Lainnya, saya jadi kembali melirik blog pribadi yang setahun belakangan seolah tak terurus ini. Meski sepanjang 2019 terus mendapatkan sponsored post dan content placement, tapi hasilnya belum seberapa. Maklumlah, saya termasuk pilih-pilih job. Ada tema dan produk/jasa tertentu yang tidak lagi saya mau menuliskannya di blog ini.

Insya Allah, per Januari 2020 ini saya akan kembali rajin mengikuti lomba blog, setelah lama sekali absen. Tapi, sama halnya konten bersponsor, saya masih membatasi diri untuk tidak ikut jika tema yang dilombakan maupun badan/lembaga penyelenggaranya termasuk kategori saya hindari.

Saya juga berkomitmen lebih rajin posting artikel baru secara berkala. Maunya sih one day one post, tapi saya penganut quality over quantity. Jadi, kita lihat nanti bagaimana jadinya. Yang jelas, ini blog akan lebih kaya konten per 2020 nanti.

Sisanya, saya masih akan berkecimpung di YouTube. Platform satu ini masih menawarkan potensi yang terlalu sayang dilewatkan. Karenanya saya akan lebih serius lagi mengurus kanal-kanal YouTube yang sudah ada. Terutama yang sudah monetized, bukan hanya yang penghasilannya besar. Selama ini saya terlalu fokus ke satu kanal, yang lain seolah terabaikan sehingga hasilnya tidak maksimal.

makan bareng anak yatim Pekalongan Peduli

Kapan saat saya akan mengangkat profil sahabat saya ini. Darinya saya belajar, hidup bermanfaat jauh lebih membahagiakan ketimbang hidup berkecukupan.

3. Bahagia tidak melulu soal uang dan materi

Ini terkesan sebagai utopia dalam dunia yang kian serba materialistis seperti sekarang. Namun, percayalah, sesungguhnya kita sama sekali tidak membutuhkan uang dan materi untuk mencapai kebahagiaan. Coba tanyakan saja pada orang-orang di pedesaan nun jauh dari “peradaban”. Di kaki-kaki gunung di Jawa Tengah, di pedalaman Banten. Yang mereka perlukan hanyalah alam dan kasih Tuhan.

Betul sekali, apa-apa harus ditebus dengan uang kini. Ini menjadi kian nyata ketika kita tinggal di perkotaan, yang nyaris semua kebutuhan hidup harus dibayar dengan sejumlah uang. Tapi yang banyak terjadi sebetulnya adalah orang-orang yang begitu terbelenggu, begitu terobsesi pada uang.

Contoh kecil. Coba iseng hitung, berapa sih kebutuhan kita sebetulnya tiap bulan? Kebutuhan lho ya, hal-hal yang mau tidak mau harus dipenuhi agar kita dapat tetap hidup sehat. Jangan kaget jika ternyata jumlahnya ternyata hanya separuh dari yang biasa dihabiskan dalam sebulan. Sisanya adalah keinginan-keinginan.

Sayangnya, banyak sekali orang di masa sekarang yang merasa hidupnya tak cukup lagi hanya dengan makan, minum, sekolah, bekerja. Ada “kebutuhan-kebutuhan” lain yang bagi mereka sama penting, bahkan mungkin lebih penting, dari kebutuhan pokok riil sebagai makhluk hidup tersebut.

Salah satu “kebutuhan” palsu yang kini begitu diagungkan adalah gengsi, status sosial. Dan ini bisa berbentuk apa saja: pakaian, gawai, kendaraan, hingga status media sosial. Berlomba-lomba terlihat hebat dalam hal-hal yang sebetulnya semu dan cenderung menjebak. Makin parah lagi ketika itu semua dilakukan di atas kepalsuan.

Pernah baca cuitan seorang pengguna Twitter yang menceritakan temannya berhutang Rp 10 juta untuk jalan-jalan? Teman si pemilik akun Twitter tersebut datang malam-malam, dan saat ditanya beralasan: mumpung ada promo dan harus malam itu juga dibayar tiketnya.

Tidakkah orang tersebut bisa membedakan antara keingian dan kebutuhan? Atau, jalan-jalan sudah menjadi sebuah kebutuhan baginya, sampai-sampai ketika tak ada uang pun merasa perlu berhutang agar tetap dapat jalan-jalan? Tidak masuk akal.

Pernah pula saya jalan bareng seorang selebgram ke suatu tempat. Ketika itu di tangannya tergenggam iPhone seri terbaru. Tentu saja kami semua menggodanya karena harga gawai tersebut bagi kami sungguh mahal. Di luar dugaan ia kemudian dengan jujur mengakui, “Gue nyicil ini gaes!”

Saya tidak dapat membayangkan kebahagiaan seperti apa yang didapat orang-orang semacam ini. Bagaimana mungkin merasa bahagia hanya karena status medsos berisi foto-foto liburan, tapi tiketnya hasil berhutang. Di mana letak kebahagiaan memiliki iPhone seri terbaru, tapi dalam hati sadar betul sebetulnya tidak mampu membelinya sehingga harus mencicil berbulan-bulan.

Bagi saya, kebahagiaan itu datangnya dari hati, dari kemampuan dan kemauan kita untuk mensyukuri apapun yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Dalam kaitannya dengan penghasilan dan pengeluaran, ini prinsip saya: belilah apa-apa yang memang dibutuhkan, dan belilah jika memang mampu membelinya.

Itu saja.

Beri tip untuk blog ini
About Eko Nurhuda (375 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

4 Comments on Hal yang paling saya syukuri di tahun 2019

  1. Ayo singsingkan lengan baju, Mas. Aku juga berjuang terus nih. Sempat terpikir untuk kerja kantoran karena hasil ngeblog atau freelance timbul tenggelam. Namun apa daya, kondisi badan dan usia ga mengizinkan. Jangan lupa cari “luck booster” kita, Mas biar rezeki makin brudul brudul 🙂

    Suka

4 Trackbacks / Pingbacks

  1. Resolusi 2020: baca satu buku sebulan, tulis 10 posting sebulan, dan berat badan turun 30kg – bungeko.com
  2. Menyusun program penurunan berat badan dengan SehatQ.com – bungeko.com
  3. Cara simpel menjaga kesehatan mental di tengah pandemi COVID-19 – bungeko.com
  4. Dapatkah kita bertahan hidup dengan uang Rp500.000 sebulan? – bungeko.com

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: