Highlight:

Tips mengembangkan usaha bagi pelaku UMKM

WABAH Covid-19 benar-benar menghantam pelaku usaha kecil dan menengah. Pembatasan mobilitas dan aktivitas warga selama dua tahun belakangan membuat para pelaku UMKM terpukul. Bahkan tidak sedikit yang sampai terpaksa gulung tikar.

Syukurlah, pandemi sudah mulai mereda. Pemerintah terus menggalakkan vaksinasi booster sebagai langkah pamungkas agar Indonesia terbebas dari virus. Tindakan ini dilakukan supaya roda kehidupan masyarakat kembali berputar seperti sediakala.

Kembalinya kehidupan normal seperti sebelum pandemi adalah kabar baik yang terus dinanti–nantikan oleh para pelaku UMKM. Sebab pergerakan warga berarti sumber pemasukan bagi mereka.

Menurut data yang dikeluarkan Kementerian Koperasi dan UKM per November 2020, ada total 67 juta pelaku UMKM di Indonesia. Semoga saja jumlah ini tidak susut banyak sekalipun dua tahun terakhir digebuk pandemi.

Alih-alih, masa-masa pemulihan seperti sekarang dapat dijadikan sebagai momentum bagus untuk lebih berkembang lagi. Dari sebelumnya ‘hanya’ selevel UMKM, mana tahu kelak dapat tumbuh menjadi perusahaan skala nasional.

Memang bukan sebuah pekerjaan mudah. Ada banyak aspek yang harus dipenuhi dan secara hati-hati dipertahankan, bahkan ditingkatkan, agar pengembangan bisnis berjalan sesuai rencana. Untuk itu dibutuhkan strategi bisnis yang tepat agar usaha dapat naik kelas seiring menghilangnya wabah.

Saya mungkin bukan seorang saudagar, apalagi konglomerat. Namun saya punya pengalaman meningkatkan usaha dari omset hanya jutaan menjadi puluhan juta sebulan.

Baca juga: Cara saya hasilkan omset belasan juta rupiah bermodal blog gratisan + nama domain

Menariknya, itu saya lakukan dari kamar kos berukuran 2×4 meter, dengan hanya bermodalkan sebuah blog gratis dan koneksi internet. Pengalaman inilah yang hendak saya bagi di sini. Cukup tiga tips saja dari saya.

Blog uanglama.com Juni 2009

1. Promosi Digital

Tips pertama dari saya adalah gencarkan promosi. Namun jangan salah, promosi bukan melulu berarti iklan. Dengan demikian menggencarkan promosi tidak sama dengan memasang iklan sebanyak-banyaknya.

Saya justru menyarankan promosi secara digital di dunia maya. Menurut istilah kekinian, namanya digital marketing alias pemasaran digital. Sebuah ungkapan yang baru saya tahu beberapa tahun terakhir, tetapi ternyata sudah saya praktikkan pada belasan tahun lalu ketika mengelola sebuah toko online.

Kembali ke tahun 2008, ketika saya pertama kali mengenal dunia numismatik. Dari awalnya hanya untuk keperluan liputan sewaktu magang di Harian Jogja, akhirnya saya ikut nyemplung menjadi kolekdol alias pedagang uang lama.

Waktu itu saya tidak mengenal istilah digital marketing atau pemasaran digital. Jangankan praktik, teorinya saja saya tidak tahu. Yang saya tahu hanyalah saya harus membuat sebuah situs untuk memperkenalkan dunia numismatik secara lebih luas, yang ujung-ujungnya berjualan.

Saya kemudian membangun uanglama.com, sebuah blog gratisan di Blogger. Agar blog itu populer sehingga pengunjungnya banyak, saya mengisinya dengan sebanyak mungkin artikel demi menarik perhatian mesin pencari. Utamanya Google.

Rupanya apa yang saya lakukan waktu itu adalah cara ampuh untuk memasarkan barang secara online. Terbukti, usaha saya semakin berkembang seiring berlalunya waktu. Dari awalnya hanya membukukan transaksi ratusan ribu rupiah sebulan, hingga kemudian dapat mencatatkan jutaan rupiah hanya dari satu transaksi.

Kini, cara itu banyak dipakai oleh perusahaan-perusahaan besar. Selain membuat blog sendiri, banyak brand ternama menggaet blogger untuk membantu membangun brand awareness atau branding, maupun sekedar menambah backlink berkualitas untuk web perusahaan.

Inilah yang saya sarankan bagi para pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha. Kita harus memanfaatkan media digital semaksimal mungkin untuk mengembangkan usaha. Khususnya media sosial yang memang tengah menjadi tren.

Tidak harus membuat situs blog seperti saya dulu. Cukup manfaatkan saja Instagram dan Facebook, dua media sosial yang paling banyak digunakan saat ini. Sebagai pelengkap, daftarkan lapak usaha di Google Business sehingga muncul di Google Maps.

Instagram dapat difungsikan sebagai galeri foto. Bagi yang berjualan makanan bisa memajang foto-foto menu, bagi yang berjualan pakaian bisa sebagai etalase produk yang tersedia.

Sementara itu Facebook dapat dimaksimalkan sebagai sarana komunikasi dengan baik konsumen maupun masih calon konsumen. Foto-foto dapat diunggah sekaligus dari Instagram ke Facebook, jadi tidak perlu dua kali kerja untuk melakukan promosi.

Paket mahar Rp12

2. Terus Berinovasi

Tidak perlu membayangkan yang aneh-aneh ketika membaca kata ‘inovasi’. Istilah yang lebih pasaran adalah pembaharuan atau pembaruan. Jadi, kita dituntut untuk selalu menghadirkan hal-hal baru demi memenuhi kebutuhan konsumen. Baik itu pelayanan, sajian produk, dan lain-lain.

Misalnya di awal-awal merebaknya marketplace dulu. Inovasi bisa dilakukan sesederhana menghadirkan produk-produk kita di marketplace. Ini akan sangat membantu pelanggan, juga membantu kita sebagai penjual. Terlebih jika toko online kita masih serba manual, tidak seperti di marketplace yang semuanya otomatis.

Dulu, saya menjual uang lama secara satuan. Per lembar kalau itu uang kertas, per keping kalau itu uang koin. Bagi yang butuh dalam jumlah besar bisa membelinya dalam satuan gepok (isi 100 lembar) atau rol (isi 20 keping).

Lama-lama saya perhatikan, para pembeli saya kebanyakan para calon pengantin. Mereka mencari uang lama untuk mahar. Umum dilakukan mereka-mereka yang menjadikan tanggal pernikahan sebagai nominal mahar uang.

Misalnya ada yang menikah pada tanggal 14 Februari 2022. Mempelai laki-laki menyiapkan mahar uang senilai Rp140.222 atau Rp1.4022.022. Mana-mana pun yang dipilih, si mempelai bakal membutuhkan pecahan Rp22 dan itu pastilah uang lama.

Saya lantas berinovasi, alias coba-coba sebenarnya, dengan menyediakan paket-paket uang lama senilai sesuai tahun saat itu. Gambar di atas adalah contoh Paket Rp12 yang saya buat di tahun 2012.

Ide ini saya awali di tahun 2009, dengan membuat Paket Rp9. Variasi Paket Rp9 ini macam-macam. Ada yang 9 keping/lembar Rp1, ada yang campuran selembar/sekeping Rp5 ditambah empat lembar/keping Rp1. Ada yang koin semua, ada yang kertas semua, ada pula campuran koin dan kertas.

Ternyata inovasi sederhana begini mendapat sambutan luas. Sejak paket tersebut diluncurkan, setiap tahun yang laris terjual malah paket-paket begitu. Bahkan para seniman perangkai mahar hias yang jadi langganan lebih memilih beli paket begini banyak-banyak ketimbang menyetok satuan.

Jadi, teruslah berinovasi. Amati perilaku konsumen, lalu olah hasil pengamatan itu untuk menghadirkan sesuatu yang baru demi memuaskan mereka.

Uang Rp500.000

3. Menggulung Uang

Saran terakhir ini dilatari pengalaman pahit yang menjadi pangkal kegagalan saya. Sebuah kesalahan elementer yang membuat usaha jual-beli uang lama saya lantas gulung tikar setelah sempat menikmati masa-masa jaya.

Waktu itu saya terlena dengan omset yang berhasil diraih. Saya sudah merasa puas sehingga malah melirik peluang usaha lain. Akibatnya, usaha uang lama mandeg padahal masih jauh dari mencapai puncak, sementara peluang usaha lain yang dijajaki malah gagal dimaksimalkan.

Ujung-ujungnya malah jadi rugi dua kali. Baik rugi waktu maupun rugi modal. Padahal seharusnya saya dulu cukup menggulung uang di usaha yang sudah berjalan. Usaha yang sudah jelas-jelas ada pembeli dan ada pelanggannya.

Apa daya, saya kurang bijak dalam mengelola keuangan yang berakhir dengan kesalahan serius. Kesalahan saya itu berakibat pada kacaunya aliran kas.

Ketika stok menipis, saya tidak dapat membeli barang banyak-banyak seperti biasa demi mendapatkan harga murah. Belinya eceran sehingga margin tipis. Keuntungan bersih pun ikut menyusut karenanya.

Lama-lama saya tidak bisa menyetok produk lagi. Kas tidak lagi cukup karena sangat banyak tersedot untuk menjajal peluang usaha baru yang berujung kegagalan pula. Lengkaplah sudah derita pada waktu itu.

Kenapa tidak mencari pinjaman sebagai modal usaha?

Sudah pernah saya coba, tetapi hasilnya nihil. Saya bahkan sempat kepikiran maju ke bank, tepatnya mengajukan pinjaman kredit usaha di salah satu bank BUMN. Namun rupanya tidak semudah itu prosesnya. Ada serangkaian prosedur dan persyaratan yang tidak ramah bagi saya yang hanyalah pelaku UMKM tanpa aset.

Pak Wisnu

Kendala Pendanaan bagi UMKM

Rupanya hal sama masih berlaku di masa kini. Jauh sebelum wabah melanda para pelaku UMKM terhitung sulit mendapatkan pinjaman modal. Hal ini dipengaruhi beberapa hal, mulai dari perkara administratif hingga soal keterbatasan informasi.

Kendala pada aspek laporan keuangan, misalnya, di mana tak semua pebisnis level UMKM dapat menyusun laporan keuangan yang rapi. Padahal lembaga-lembaga pembiayaan, terutama perbankan, menjadikan laporan keuangan sebagai bahan penilaian sebelum mengucurkan dana pinjaman.

Masalah lainnya adalah tidak semua UMKM mempunyai agunan untuk dijaminkan demi cairnya pinjaman. Apa yang mau diagunkan kalau yang dipunyai seorang pedagang pecel lele hanya gerobak untuk berjualan, misalnya.

Seperti saya dulu hanya pula rak plastik dan toples-toples bekas wadah sosis untuk menyimpan stok barang. Plus, perlengkapan packing paket seperti gunting, cutter, staples, tape dispenser, serta barang-barang remeh lain yang bagi lembaga pembiayaan manapun jelas tidak berharga sama sekali untuk dijadikan sebagai agunan.

Satu faktor lagi yang tidak kalah berperan adalah keterbatasan akses informasi ke perbankan maupun sumber-sumber pendanaan lainnya. Dari total 67 juta pelaku UMKM di Indonesia, menurut data yang dikeluarkan Kementerian Koperasi dan UKM, baru 16% yang memiliki akses ke platform keuangan digital.

Angka 16% itu jumlahnya tidak sampai 11 juta. Data per November 2020 ini semoga saja sudah bertambah jumlahnya saat ini.

Pasalnya, sungguh sangat disayangkan jika di tengah berkembangnya financial technology dan merebaknya sumber-sumber permodalan platform keuangan digital dengan berbagai kemudahan yang diberikan bagi para pelaku UMKM, mereka yang menjadi target justru tidak dapat menikmati itu semua.

Solusi Pendanaan UMKM

Salah satu kemudahan yang ditawarkan berkat kemajuan financial technology adalah prosedur pengajuan yang lebih simpel dan praktis karena semuanya berbasis daring. Persyaratan yang diminta oleh pemberi pinjaman pun tidak terlalu panjang daftarnya.

Keseluruhan proses pengajuan online juga tergolong lebih cepat, jika dibandingkan dengan mengajukan pinjaman ke bank atau lembaga keuangan lain. Tambahan lagi, tentu saja suasananya tidak seformal ketika kita mengajukan pinjaman secara konvensional.

Ambil contoh di Modalku, sebuah platform pendanaan digital berbasis teknologi finansial yang berkomitmen serius dalam membantu UMKM Indonesia. Modalku beroperasi dalam bentuk peer-to-peer lending, di mana mereka menghubungkan UMKM berpotensi dengan pendana.

Modalku masuk ke Indonesia di bawah bendera PT Modalku Indonesia Makmur. Perusahaan ini mulanya berdiri di Singapura dengan nama Funding Asia Group. Mereka juga merambah pasar Malaysia, Thailand, dan Vietnam dengan nama Funding Societies.

Sejak awal berdiri, Modalku mendapat suntikan modal dari beberapa perusahaan pendanaan global ternama. Sebut saja Softbank Group, LINE Ventures, Sequoia India, Venture Capitalist Qualgro, Alpha JWC Ventures, juga Golden Gate Ventures.

Pendek kata, dengan nama-nama besar sebagai penyuntik dana, kekuatan serta kredibilitas Modalku tidak perlu diragukan lagi. Terlebih kiprah Modalku di dunia peer-to-peer lending sudah berlangsung sejak enam tahun lalu.

Para pelaku UMKM yang membutuhkan modal usaha dapat mempertimbangkan Modalku sebagai solusi pendanaan. Skema peer-to-peer (P2P) yang ditawarkan Modalku memungkinkan para pencari modal dengan pemilik dana.

Jika dianalogikan sebagai e-commerce, P2P tak ubahnya marketplace di mana pencari dan penyedia jasa atau produk bertemu. Bedanya, di P2P yang dipertemukan bukan penjual dengan pembeli, tetapi para pengusaha yang tengah mencari modal dan pemberi modal. Pelaku UMKM dan investor.

Tanpa Agunan

Di platform P2P seperti Modalku, pelaku UMKM pada dasarnya mengajukan pinjaman pada orang-orang awam sesama pengguna P2P tersebut. Dari sinilah lahir istilah “peer-to-peer”. Dari orang ke orang.

Analogi yang mendekati adalah ketika kita melempar satu gagasan bisnis ke grup alumni SMA, lalu meminta teman-teman yang tertarik pada ide tersebut untuk membantu permodalan. Setelah usaha kita berjalan dan menghasilkan keuntungan, teman-teman yang memberikan pinjaman akan mendapatkan bagi hasil.

Berbeda dengan lembaga keuangan resmi seperti bank dan lainnya, proses untuk mendapatkan pendanaan online di P2P Lending seperti Modalku tidaklah kompleks bin rumit. Cenderung sangat mudah sekali malahan.

Satu yang pastinya bakal membuat tercengang, Modalku menawarkan pendanaan online tanpa agunan. Tak sekadar menggiurkan, ini benar-benar penawaran yang sangat membantu sekali.

Saya jadi berandai-andai. Jika dulu sudah ada layanan seperti Modalku, mungkin saja usaha jual-beli saya masih bisa diselamatkan.

Cuma ya, sudahlah. Semua itu sudah terjadi dan biarlah tinggal sebagai kenangan sekaligus pengalaman berharga. Jangan sampai saya mengulangi kesalahan pada masa lalu ketika mengeksekusi rencana usaha yang sekarang tengah saya godog.

Kamu punya rencana usaha apa? Kenapa belum diwujudkan juga? Kalau kendalanya adalah modal, coba deh unduh aplikasi Modalku untuk melihat-lihat peluang pendanaan yang bisa kamu dapat. Semoga bermanfaat!

About Eko Nurhuda (409 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: