Highlight:

Ketika lidah tertawan kelezatan Pempek Pak Raden di Palembang

LAHIR dan tumbuh besar di Palembang, saya memiliki ikatan emosional kuat dengan kota satu ini. Selalu ada harapan untuk bisa kembali lagi ke sana. Bukan cuma perkara nostalgia nan sentimentil, namun juga karena kangen berat dengan makanan-makanan khasnya yang menggugah selera, terutama pempek.

Sewaktu kecil saya sangat terbiasa dengan teriakan, “Piyoo, piyooo, pempek…” Yang berteriak seorang anak seusia delapan hingga awal belasan tahun, berjalan dengan wadah besar di atas kepala yang dipegangi sebelah tangan. Sepanjang jalan ia berteriak begitu, dan cuma berhenti kalau sedang melayani pembeli.

Eh, ternyata kemudian saya juga jadi penjual pempek seperti itu lho. Ceritanya kondisi ekonomi keluarga tengah morat-marit. Bapak merantau jauh ke Jambi demi mencari penghidupan baru. Sedangkan Ibu berusaha bertahan di Palembang dengan berbagai cara. Salah satunya mengajak kami berjualan pempek!

Yang terlibat dalam ‘proyek’ jualan pempek ini Ibu, saya, dan adik perempuan. Saya kelas IV SD, adik saya kelas I. Adik satu lagi tidak dilibatkan karena masih terlalu kecil.

Kami pun berbagi tugas. Ibu yang membuat pempek, cuka, dan menyiapkan dagangan beserta seluruh peralatannya; saya dan adik perempuan bertugas menjaga dagangan secara bergantian, pagi hingga sore.

Namanya saja anak-anak, karena iseng sembari berjaga saya sering mencemil pempek yang dijual. Apalagi pempek buatan Ibu enak sekali. Sayang kan kalau tidak dinikmati sendiri? Hehehe. Saat Ibu tahu, dengan sabar beliau menasehati, “Kalau dagangannya dimakan sendiri, nanti kita nggak dapat uang buat sangu sekolah.”

Itu pengalaman pertama saya berjualan. Pengalaman yang tak akan pernah terlupakan. Karenanya jangan heran kalau ada bonding kuat sekali antara saya dan pempek, juga tentu saja Palembang. Setiap kali melihat orang berjualan pempek, ingatan saya langsung terlempar ke masa-masa itu.

Kota Pempek

Pempek memang identik dengan Palembang. Kalau kota ini disebut, pasti orang langsung membayangkan pempek. Bersama-sama Jembatan Ampera dan Sungai Musi, pempek boleh dibilang merupakan ikon Palembang.

Sekali pun makanan khas Palembang bukan cuma pempek, tapi oleh-oleh yang dibawa pulang pelancong biasanya ya pempek. Contohnya sewaktu saya “mudik” ke Palembang, Mei tahun lalu. Sepulang dari tur dua hari dua malam atas sponsor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan itu saya diberi satu dus oleh-oleh. Ya, isinya pempek!

Baca juga: Jadi Turis di Kota Kelahiran Sendiri

Padahal selama di sana saya sudah puas sekali disuguhi pempek. Selain pempek jamuan Disparbud, saya juga sempat mencomot beberapa potong pempek di stand makanan daerah dalam acara penutupan International Musi Triboatton 2016. Entah berapa potong, yang jelas saya sampai merasa harus tersenyum sopan pada ayuk-ayuk penjaga stand setiap kali mengambil pempek lagi. πŸ™‚

Selepas acara saya tidak langsung pulang ke Jawa. Saya extend beberapa hari untuk mengunjungi kerabat di Perumahan Bank Sumsel-Babel daerah Kenten Laut. Lalu menyempatkan berziarah ke makam nenek di Lebong Siareng. Di kesempatan ini saya mencicipi beberapa pempek pinggir jalan, termasuk pempek di gang dekat bekas rumah kelahiran saya.

Di Lebong Siareng pempek murah-murah sekali, cuma Rp1.000 sebuah. Walau pun pempek pinggir jalan, tapi rasanya tak kalah dengan pempek bermerek. Pokoknya rasa ikan semua. Kemudian cuko-nya asam-pedasnya super. Pertama kali dicecap lidah rasanya segar, tapi begitu masuk ke kerongkongan pedasnya menyengat.

Di Pemalang, dengan harga yang sama saya cuma bisa dapat pempek rasa tepung dan garam. Cuko-nya pun hambar. Wajar kalau sewaktu di sana saya kalap bukan main sama pempek.

Pempek Pak Raden

Ada banyak pempek ternama di Palembang. Sebut saja Pempek Candy yang paling sering dibawa sebagai oleh-oleh pelancong. Masih ada Pempek EK yang harganya wow, Pempek Beringin yang tercantum di web resmi Pemkot Palembang, Pempek Nony, Pempek Vico, Pempek Saga Sudi Mampir, Pempek Lince, Pempek Leni, Pempek Wawa, dan beberapa nama lainnya.

Saya dan teman-teman blogger yang menghadiri Musi Triboatton 2016 dioleh-olehi Pempek Tince. Namun kalau bicara legenda pempek, hanya satu yang layak disebut: Pempek Pak Raden. Dan beruntung sekali saya sempat diajak mampir ke warung pempek legendaris ini saat berada di Palembang.

Berlokasi di Jl. Radial No. 80A, Pempek Pak Raden dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari Palembang Sport and Convention Center (PSCC) atau Palembang Icon. Tetamu yang menginap di Hotel Arista, Hotel Sanjaya, atau Hotel Azza (Aziza Inn) bisa mencapainya dalam waktu 5-10 menit saja berjalan kaki.

Pempek Pak Raden dikenal sebagai pempek milik orang Palembang asli, yakni Bapak Ahmad Rivai Husein. Menurut cerita dari mulut ke mulut, Pak Ahmad Rivai mulai berjualan pempek dengan menjajakan keliling kampung-kampung. Lalu beliau mencoba membuka warung pempek di daerah Bukit Kecil, kawasan 24 Ilir.

Saya tak tahu kenapa Pak Ahmad menamai warungnya Pempek Pak Raden, bukannya Pempek Pak Ahmad atau Pempek Pak Rivai. Bisa jadi karena di masa beliau merintis usaha, serial Si Unyil tengah booming di TVRI. Seperti kita ketahui bersama, salah satu tokoh penting dalam serial tersebut adalah Pak Raden.

Rupanya usaha Pak Ahmad maju pesat. Bekerja sama dengan kerabat-kerabatnya, beliau kemudian membuka beberapa cabang di seantero Kota Palembang. Setelahnya merambah kota-kota tetangga: Jambi dan Lampung. Sampai eskpansi ke luar pulau. Pulau Jawa.

Kini, kita bisa dengan mudah menemui gerai Pempek Pak Raden di Bandung atau Jakarta. Dengan konsep mirip franchise, rasa pempek dan cuko di gerai-gerai Pak Raden manapun dijamin sama seperti yang ada di Jl. Radial. Untuk menjaga keseragaman rasa, tiap-tiap gerai memakai resep yang sama persis dengan yang di Palembang.

Ikan yang jadi bahan baku pembuatan pempek juga didatangkan langsung dari Palembang dalam bentuk daging giling beku. Demikian pula dengan kerupuk ikan dan gula merah untuk campuran cuko. Malah di sejumlah gerai kebanyakan karyawan berasal dari Palembang.

Wong kito galo biar lemak komunikasinyo. Iyo dak? πŸ˜€

Semua itu dilakukan agar cita rasa pempek dan cuko di gerai-gerai Pempek Pak Raden seragam, tak berbeda sedikit pun. Jadi, mau makan di manapun rasanya ya sama saja. Sama-sama serasa menikmatinya langsung di Palembang.

Makan Siang Menu Pempek?

Saya dan teman-teman blogger Musi Triboatton 2016 diajak ke Pempek Pak Raden saat jam makan siang. What? Makan siang pake pempek? Payo woy, mada’i makan siang be nak pempek nian. Katek yang lain apo? Batin saya waktu itu.

Rupanya saya salah. Sekalipun restoran pempek, Pak Raden menyediakan banyak sekali menu lain. Lalu pelayan pun datang membawa nasi, pindang ikan yang disajikan dengan kompor kecil agar tetap panas, cah kangkung, ikan goreng, lalapan plus sambal tiga macam, bertusuk-tusuk sate, dan aneka macam jus buah segar.

Selesai? Belum. Setelah makanan kami habis, pelayan datang lagi dengan dua piring besar berisi pempek aneka macam. Oke, ini yang ditunggu-tunggu! Tak menunggu lama saya langsung mengambil dua potong pempek, meletakkannya ke dalam mangkok kecil yang telah disiapkan, dan terakhir menyiram cuko.

Yang pertama saya cicipi adalah pempek adaan, pempek kecil-kecil berbentuk bulat tanpa isi. Rasanya? Yummy! Sudah lama sekali saya tidak mencecap pempek yang rasa ikannya semenggigit ini. Juga asam pedas cuko-nya yang tak bisa ditandingi oleh penjual-penjual pempek di Pemalang.

Pempek adaan habis, saya lanjutkan dengan pempek telur. Ini pempek favorit saya sejak kecil. Dulu sewaktu berjualan pempek, pempek inilah yang dibuat Ibu. Untuk menekan harga, Ibu mengakali isian telur dengan menambahkan air. Jadi, 1-2 butir telur dicampur air dan sedikit tepung, lalu dikocok rata.

Tentu saja pempek telur buatan Pak Raden tidak pakai trik begitu. Rasa telurnya sangat otentik, pertanda tanpa campuran apapun. Tak cuma dicocolkan, saya meminum cuko di mangkok. Ngirup cuko, kata orang Palembang. Beginilah cara menikmati pempek ala orang Palembang.

Diselingi mengobrol dengan Ibu Kadisbudpar Sumsel dan asistennya, satu demi satu pempek di piring tandas kami lahap. Dan sepertinya saya yang paling banyak memakannya. Mbak Katerina dan Mbak Relinda hanya mencicipi 1-2 buah lalu kekenyangan.

Melihat ini Mbak Ira, pendamping kami selama di Palembang, mengambil pempek di meja sebelah yang tidak dihabiskan dan diletakkan di meja kami. Oke, kita lanjuuut!

Tentu saja saya tak lupa mengabadikan pempek legendaris ini. Apalagi piring, mangkok, wadah cuko, dan bahkan tempat tusuk giginya bertuliskan “Pempek Pak Raden” semua. Jadi ada bukti kan kalau saya benar-benar makan pempek di Pempek Pak Raden? Hehehe.

Oya, saya pakai kamera handphone murah meriah untuk urusan jepret-menjepret selama di Palembang: ASUS ZenFone C. Jadi, harap maklum kalau hasil jepretannya tidak terlalu bening ya. Yakinlah, meski di sini saya tampilkan dalam foto yang tidak terlaly prima, cita rasa Pempek Pak Raden dijamin menawan lidah.

Setidaknya, itulah yang saya rasakan.

Menulis di GoodNovel dan raih penghasilan ratusan USD!
About Eko Nurhuda (406 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: