Highlight:

Semalam di Makassar bersama RedDoorz Plus near Pantai Losari

BILA penyanyi lawas Alfian Harahap punya tembang Semalam di Cianjur, maka saya menyimpan kenangan semalam di Makassar. Sama halnya Alfian yang ingin kembali ke Cianjur menjumpai sang kekasih hati, saya pun berkeinginan kembali ke Makassar karena merasa belum puas menjelajahinya.

Well, tentu saja setelah pandemi COVID-19 berakhir.

Ternate diguyur hujan deras sore itu. Saya dan adik hanya bisa berdiam diri di kamar penginapan. Rencana berburu sunset di Pantai Kastela berada di ambang kegagalan. Sembari harap-harap cemas menanti hujan reda, kami berdua melihat-lihat jadwal penerbangan untuk keesokan harinya. Kami harus menyudahi tur Maluku Utara, kembali ke Pulau Jawa.

Saat mengecek jadwal penerbangan, rupanya baik rute Ternate-Jakarta (tujuan adik saya) maupun Ternate-Semarang (tujuan saya) musti transit di Makassar. Apapun maskapainya.

Kami tiba-tiba saja berubah pikiran. Kenapa tidak sekalian saja singgah di Makassar? Apalagi saya dan adik sama-sama belum pernah sekali pun mendaratkan kaki ke Pulau Sulawesi.

Maka, kami pun berbagi tugas. Adik mencari penginapan murah meriah di kantong-kantong wisata Kota Makassar. Sedangkan saya memesan penerbangan Ternate-Ujungpandang paling pagi untuk esok.

Dipikir-pikir, memang sayang juga ya kalau cuma transit di Bandara Sultan Hasanuddin. Toh, ada banyak tempat menarik yang dapat dikunjungi di Makassar.

Adik saya penasaran dengan kawasan Pantai Losari, terutama kuliner-kuliner khasnya. Sedangkan saya ingin sekali menapak tilas pembuangan Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam.

Awalnya kami hanya ingin melakukan trip singkat, datang pagi dan langsung pulang di sore hari. Ada beberapa jadwal penerbangan yang dapat mendukung rencana ini. Tapi, dipikir-pikir lagi kok sepertinya bakal kurang puas ya.

Terlebih kami sama penasaran seperti apa suasana malam di Makassar. Kalau dapat penginapan yang cocok, kami lebih senang menginap meski hanya semalam.

Dapat tarif promosi

“Kak, ini hotel di dekat Pantai Losari, semalam cuma Rp99.000,” celetuk adik saya setelah beberapa saat memelototi sebuah aplikasi pemesanan hotel di gawainya.

“Apa itu?” tanya saya, sembari mengernyitkan kening. Tentu saja heran kok ada hotel di pusat wisata Makassar dengan tarif semurah itu.

RedDoorz,” jawab adik saya singkat.

Sambil berkata begitu adik saya angkat tangannya yang memegang gawai. Menunjukkan hotel yang dimaksud. Rupanya sejak tadi adik saya mencari penginapan menggunakan aplikasi RedDoorz.

Saya sudah mendengar soal RedDoorz sebelumnya. Juga menonton video ulasan tentang beberapa hotelnya di YouTube. Tapi belum pernah sekali pun menginap di propertinya.

Satu-satunya yang saya ingat dari RedDoorz, jaringan hotel ini menawarkan pengalaman menginap nan nyaman dengan tarif terjangkau. Sebuah kombinasi yang sangat saya sukai.

Rupanya ketika itu RedDoorz tengah menggelar promosi. Saya lupa apa persisnya ketentuan promosi tersebut. Tapi  yang jelas kami bisa mendapatkan tarif Rp99.000 semalam tepat pada tanggal yang kami rencanakan. Perfecto!

“Ya sudah, bungkus!” kata saya tanpa pikir panjang.

Jadilah kami memutuskan menginap semalam di Makassar. Hotel yang ditunjukkan adik saya tadi berlokasi di kawasan Sawerigading. Melihat di Google Map, hotel tersebut hanya berjarak sepelemparan batu dari Losari.

Oya, nama hotelnya di aplikasi RedDoorz adalah RedDoorz Plus near Pantai Losari. Sedangkan nama asli propertinya adalah Hotel Artha Kencana.

reddoorz-plus-near-pantai-losari

Sulawesi, kami datang!

Keesokan paginya, kami pun terbang meninggalkan Ternate dengan penerbangan paling pagi. Sempat ada drama barang tertinggal, yang memaksa kami balik lagi ke penginapan. Untunglah penerbangan tersebut molor agak lama.

Langit cerah hari itu. Kami yang duduk di dekat jendela pesawat tak puas-puas menikmati pemandangan di bawah. Kalau melihat rute penerbangan, seharusnya kami melintasi perairan Taliabu-Banggai serta Taman Nasional Wakatobi.

Atau bisa jadi saya sudah menjepret salah satu dari Pulau Wangiwangi, Kaledupa, Tomea, atau Binongko? Entahlah.

Kemudian daratan Sulawesi menghiasi horison. Secara keseluruhan terlihat hijau, dengan beberapa petak sawah di antara deretan perumahan dan kerapatan pepohonan. Ada pula bukit-bukit entah apa namanya.

Area perkotaaan dengan rumah-rumah dan bangunan lebih rapat terlihat saat pesawat mendekati bandara. Itulah dia Kota Makassar. Kami harus melayang di atasnya terlebih dahulu karena bandara terletak di Maros.

Penerbangan selama sekitar 1 jam 45 menit itu ditutup dengan kedatangan kami di Bandara Sultan Hasanuddin. Ini kali kedua saya menginjakkan kaki di bandara terbesar di kawasan timur Indonesia ini. Kali pertama pada April 2017.

Tak banyak yang berubah. Masih sama-sama megah, bersih, dan mengesankan. Sayang, kami harus segera meninggalkan bangunan kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan tersebut.

Tak ada bagasi yang perlu diambil, jadi kami langsung saja keluar dari terminal kedatangan. Sebuah bus DAMRI telah menunggu di depan. Tanpa banyak kata kami langsung masuk. Kembali menempuh perjalanan selama sekitar setengah jam.

Kesan pertama saya terhadap Makassar, penduduknya baik-baik dan ramah. Kami tidak tahu rute DAMRI itu, jadi kami bertanya ke sesama penumpang di kanan-kiri. Semuanya memberi bantuan dengan senang hati.

Pengemudi DAMRI bahkan kemudian menurunkan kami di titik paling dekat menuju hotel tujuan. Dari tempat kami diturunkan tinggal jalan kaki beberapa belas menit. Dan sampailah kami di RedDoorz Plus near Pantai Losari.

Pengalaman pertama yang ingin diulang

Hotel yang bakal kami inapi berupa sebuah bangunan berwarna kuning dan biru. Tinggi menjulang 4 lantai ke atas. Lobinya luas, dengan beberapa meja-kursi dan sejumlah sofa. Rak koran terletak di sudut meja resepsionis nan panjang.

Ketika kami tengah check in, sudut mata saya melihat pintu lift. Wah, ini sih bukan hotel kaleng-kaleng! Batin saya takjub. Bagi saya, keberadaan lift menandakan pengelola hotel mementingkan kenyamanan tamu.

Saat itu saya tidak tahu apakah hotel begitu merupakan standarnya RedDoorz. Saya baru menemukan jawabannya sekitar setahun berselang, ketika berlibur ke Jakarta-Bogor bersama anak-anak dan istri. Di mana saya menginap di RedDorz Plus near GBK Senayan, sebuah hotel luas dengan empat lantai di bilangan Palmerah Barat.

Dari situ saya jadi tahu bahwa RedDoorz menetapkan standar tinggi. Hotel-hotel dalam jaringannya harus memiliki kamar dengan luas minimal tertentu. Lalu yang juga saya perhatikan, propertinya rata-rata memiliki ruang parkir yang luas untuk mobil.

RedDoorz sendiri menetapkan garansi layanan yang terdiri atas enam fitur. Semuanya dijamin ada di setiap kamar, yakni: (1) tempat tidur dengan linen bersih, (2) air mineral gratis, (3) koneksi wifi gratis, (4) televisi satelit, (5) kamar mandi bersih, dan (6) perlengkapan mandi nan lengkap.

Satu lagi yang membuat RedDoorz semakin menarik adalah pilihan Bayar di Hotel. Dengan fitur ini kita dapat memesan hotel pilihan di mana pembayarannya dilakukan nanti pada saat check in. Metode pembayarannya pun tidak harus tunai. Ada berbagai metode pembayaran yang dapat kita pilih.

Menginap di RedDoorz Plus near Pantai Losari ini menjadi kombinasi dua pengalaman pertama bagi saya. Yakni, pertama kali ke Makassar dan pertama kali merasakan akomodasi di bawah bendera RedDoorz.

Terima kasih, RedDoorz. Keinginan saya untuk melongok Fort Rotterdam pun terwujud sudah.

Baca juga: Liburan impian setelah pandemi Covid-19 berakhir: Keliling Lampung!

Catatan: Artikel ini diikut-sertakan dalam RedDoorz Blog Competition 2021
Menulis di GoodNovel dan raih penghasilan ratusan USD!
About Eko Nurhuda (406 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

6 Comments on Semalam di Makassar bersama RedDoorz Plus near Pantai Losari

  1. RedDorz memang andalan, teman setia perjalanan yang kantongnya pas-pasan, hehe. Aku penginnya ke Padang dan sekitarnya deh, nginap di RedDoorz juga tentunya.

    Suka

  2. Baca ini jadi pengen ke Makasar. Belum sempat explore kota ini karena harus melanjutlan perjalanan darat menuju Tana Toraja. Tahun 2000 kalo gak salah. Blom berkecimpung di dunia literasi.

    BTW. Semoga menang lombanya ya Ko.

    Disukai oleh 1 orang

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: