Highlight:

Sekelumit kenangan bersama Duto Sri Cahyono

Bertahun-tahun Tak Kontak

Saya kemudian menikah dan pindah ke Pemalang. Intensitas komunikasi dengan Mas Duto jadi jauh berkurang. Saya juga tidak lagi memperhatikan Omkicau.com. Namun ketika Wapemred koran incaran saya tadi memberi keputusan dan menawarkan bergabung sebagai wartawan, yang pertama kali saya ingat malah pesan Mas Duto.

Pada momen itulah terkonfirmasi informasi yang dulu saya dengar dari para senior. Juga yang pernah disinggung Mas Duto. Wapemred tersebut menyebut pula soal gaji dalam tawarannya, dan jumlahnya bikin saya mengerutkan kening. Hitung singkat saja saya tahu gaji itu akan pas-pasan saja untuk bayar kos, makan-minum, beli pulsa, dan bensin.

Saya sudah menikah saat itu, beberapa bulan di muka bakal jadi seorang ayah. Gaji sebesar itu tidak akan cukup menafkahi keluarga kecil kami. Maka dengan halus saya tolak tawaran berharga tersebut. Saya pun dengan rela melupakan impian menjadi wartawan media bonafid.

Tapi saya juga tidak kunjung mengikuti saran Mas Duto untuk membangun media online sendiri, hal yang kelak sempat saya sesali. Alih-alih, ketika itu saya memilih menekuni satu peluang yang saya dapat selepas meliput komunitas numismatik Jogja. Peluang jual-beli uang lama. Lalu lahirlah uanglama.com.

Sebetulnya ini bisa dipadukan dengan apa yang Mas Duto sarankan, dan jika itu dilakukan mungkin saat ini saya sudah mempunyai satu situs authoritative tentang numismatik, tentang uang lama. Tapi saya malah lebih condong pada kegiatan berdagangnya, lebih memanfaatkan blog yang saya bangun sebagai toko online.

Baca juga: Cara saya hasilkan omset belasan juta rupiah bermodal blog gratisan + nama domain

Pilihan yang sama sekali tidak salah sebetulnya, saya harus membela diri tentu saja. Toh, kemudian uanglama.com berkembang dari hanya beromset di bawah Rp500.000 per bulan, menjadi dapat menyisihkan infak setidaknya Rp500.000 setiap pekan untuk Sedekah Rombongan. Namun, saya sepakat jika ada yang mengatakan potensi situs ini bisa lebih besar jika saya membentuknya sebagai sebuah media authoritative di bidang numismatik.

Disebabkan salah kelola stok barang, dipadu kurang bijaknya saya dalam mengelola keuangan, omset uanglama.com semakin lama semakin menurun. Terlebih saya gagap mengikuti perkembangan dunia e-commerce yang memunculkan banyak marketplace.

Toko online saya lantas hidup segan, tapi mati tak mau. Masih beroperasi, tapi pembelinya bisa dihitung dengan jari. Sampai pada akhirnya tidak ada transaksi sama sekali. Berbanding terbalik dengan Omkicau.com yang justru semakin berkibar dengan produk BirdVit-nya.

Di masa-masa itulah tiba-tiba saja Mas Duto mampir ke Pemalang. Begitu mendadak, tahu-tahu mengabari sudah ada di lokasi yang hanya berjarak 1,5 km dari rumah. Bersama isteri, seorang anak lelaki, dan sopir, ia berkata ingin singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Cirebon.

Ketika kemudian mendengarnya bercerita lagi, saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Omkicau.com bukan lagi media online, bukan sekedar situs rujukan para hobiis burung, tapi sudah menjadi sebuah merek ternama. Turunannya adalah aneka produk dengan brand BirdVit, macam-macam vitamin burung.

Penghasilan Omkicau tak lagi dari uang saku dari kolektor kaya ibukota yang minta tolong dibelikan vitamin atau sangkar burung pada Mas Duto. Selain dari iklan, awalnya WordAds dan kemudian Google AdSense, penghasilan terbesarnya justru dari penjualan BirdVit. Ketika singgah ke Pemalang, Mas Duto tengah melakukan safari mengunjungi para agen BirdVit di Pantura.

Lagi-lagi Mas Duto menjabarkan gagasannya. Meski sudah terhitung sangat sukses dengan Omkicau, rupanya ia masih punya banyak impian untuk diwujudkan. Beberapa yang saya ingat adalah portal agrobisnis, yang dijabarkannya dengan sangat detil langkah-langkah teknis beserta segala potensinya.

Chat dengan Mas Duto di FB Messenger

Tak cuma WA, SMS, atau telepon, kami juga sering ngobrol via Facebook Messenger seperti ini.

Uluran Tangan Tanpa Putus

Setelah pertemuan itu intensitas komunikasi kami kembali meningkat. Terutama karena saya mengiyakan ajakannya untuk terlibat pada proyek portal berita online Banyumas yang ia rintis bersama seorang teman kuliah. Ajakan yang membuat saya melawat ke Purwokerto dan kemudian ikut ke Solo, ke kediaman Mas Duto.

Di Solo, lagi-lagi obrolan mengenai media online mandiri beserta segala potensinya jadi tema utama. Saya jadi saksi betapa sibuknya aktivitas di rumah Mas Duto, di mana para karyawan menyiapkan paket-paket pesanan setiap hari. Paling sibuk adalah ketika tiba waktunya paket-paket bulanan untuk para agen dikirimkan.

Ajakan bergabung ke proyek portal berita online Banyumas itu saya terima karena memang sedang tidak punya pemasukan lagi. Toko online saya benar-benar mati kemudian. Saya tengah mencoba mulai ngeblog lagi, berusaha mengais-kais rejeki dari sponsored post. Mana tabungan kian menipis, anak mulai masuk TK pula.

Tapi saya tidak lama di portal berita lokal Banyumas tersebut. Mas Duto lantas mengoper saya ke bawah supervisinya langsung, ketika ia merintis apa yang kemudian saya sebut sebagai superblog, yakni Simomot.com.

Saya jadi saksi betapa blog itu hanya memiliki trafik puluhan ribu sebulan pada awal-awalnya. Lalu meningkat sedikit jadi ratusan ribu. Sampai kemudian tangan ajaib Mas Duto membuat tingkat kunjungannya melesat tajam menjadi jutaan. Ketika saya sowan lagi ke Solo di tahun 2015, ia menunjukkan trafik kunjungan Simomot bahkan melampaui banyak situs beken nasional.

Dari segi penghasilan, Simomot juga berkembang luar biasa. Dua bulan pertama penghasilannya dari WordAds hanya beberapa sen per hari. Tapi pada bulan ketiga sudah melampaui batas minimal penarikan, yakni $100. Bulan-bulan berikutnya semakin besar dan terus membesar. Saya tak lagi sendirian mengisi kontennya, tapi sudah ada beberapa orang lagi.

Kesuksesan Simomot yang di depan mata saya ini yang lantas membuat saya mengubah haluan iniLiverpool.com. Ini blog fanbase Liverpool FC yang saya buat di Blogger. Awalnya buat senang-senang saja. Tapi melihat cepatnya perkembangan Simomot, saya jadi tertarik mencoba peruntungan dengan iniLiverpool.

Hasilnya? Lumayanlah, meski tentu saja tak sebesar Simomot apalagi Omkicau. Saya kemudian minta izin meninggalkan Simomot. Saya ingin fokus pada blog sendiri, bungeko.com ini, juga iniLiverpool. Kami pun kembali jarang menjalin kontak.

Status Facebook bungeko

Status Facebook yang saya tulis ketika diajak Mas Duto wedangan di satu hik terkenal di Solo.

Mungkin saya memang tidak berbakat. Langkah saya menduplikasi Simomot dan Omkicau dengan membangun iniLiverpool gagal total. Ketika kemudian badai suspend massal menimpa para mitra WordAds, diikuti turunnya nilai iklan dalam program tersebut, situs fanbase Liverpool FC itu pun mati segan hidup tak mau. Persis uanglama.com sebelumnya.

Saya yang masih punya optimisme minta ijin Mas Duto untuk sowan ke Solo, atau lebih tepatnya Sukoharjo. Ia dengan senang hati mengijinkan. Maka saya pun naik kereta api ke Solo. Menginap dua malam, diajak ngangkring di hik terkenal di Laweyan, dan pulang membawa segudang wejangan berharga.

“Kalau diteruskan jadi semacam situs berita, ya siap-siap saja mati. Kalah sama detikSport, Goal.com, Bola.net, dll. yang punya sumber daya jauh lebih besar,” ujarnya ketika itu mengenai iniLiverpool, lagi-lagi saya parafrase. Ia melanjutkan, kalau saya masih berniat terus lanjut, maka cara yang sebaiknya ditempuh adalah membuat konten-konten unik yang tidak dipunyai kanal-kanal besar tersebut. Perbanyak konten abadi berupa feature atau setidak-tidaknya soft news, jangan hard news.

Saya kembali dari Solo dengan tekad terus mencoba. Tapi tak sampai setahun berselang saya menyerah. Situs fanbase Liverpool FC itu saya biarkan terlantar. Sampai akhirnya, ketika saya benar-benar butuh uang, saya tawarkan ke Mas Duto untuk dibeli. Pikir saya, ia lebih punya sumber daya untuk mengembangkan blog tersebut.

Tanpa banyak tanya Mas Duto membayar iniLiverpool. Saya tidak menyebut harga, ia yang menawarkan jumlah yang kemudian ditransfer ke rekening BCA saya. Diiringi janji dari saya, kelak ketika keadaan keuangan memungkinkan saya tebus balik.

Janji yang ternyata tak pernah bisa saya tepati. Awal tahun ini sebenarnya kami sudah mencapai kata sepakat mengenai buyback iniLiverpool. Saya cukup membayar separuh dari harga pembeliannya dulu, bahkan saya diperbolehkan mencicil. Tapi, hal di luar perhitungan terjadi pada saya, membuat transaksi tersebut dengan terpaksa ditunda.


Kembali kami tidak kontak selama dua-tiga bulan. Medio Juli 2020, tiba-tiba saja Mas Duto mengirim chat WA, memberi ucapan selamat ketika Liverpool FC dipastikan menjadi juara Liga Inggris. Saya membalasnya sembari menertawai betapa lamanya klub idola tersebut puasa gelar liga domestik.

Saya sama sekali tak menyangka jika itu komunikasi terakhir kami. Selasa, 22 Desember 2020, ketika membuka notifikasi Facebook yang masuk ke email, yang pertama kali ditampilkan adalah status tersebut: Mas Duto meninggal dunia pada 21 Desember 2020.

Setumpuk rasa sesal segera menggunung di dada. Saya menyesal sekali tidak segera tilik ke Solo begitu mendengar kabar almarhum terkena gagal ginjal. Juga sangat menyesal tidak segera mengirim ucapan selamat ketika almarhum mengunggah foto bayi di status WA-nya beberapa pekan sebelumnya. Saya yakin itu cucu pertamanya, anak Mbak Olla yang pernikahannya saya hadiri.

Saya sangat mengagumi dan menghormati almarhum, begitu kagum dan hormatnya sampai-sampai seringkali ada rasa sungkan dan khawatir mengganggu atau membuat tidak berkenan setiap kali ingin memulai chat/WA dengannya. Terlebih setelah almarhum diharuskan cuci darah seperti belakangan.

Ditambah lagi, saya sedang merasa tidak enak hati karena janji menebus balik iniLiverpool belum bisa saya tepati. Saya pikir sebaiknya saya menjauh dulu darinya, dan jangan kontak sebelum dapat menunaikan janji itu. Tapi, sekali lagi, agaknya kali ini pun saya salah.

Selamat jalan, Mas. Wejangan dan petuahmu akan selalu saya ingat.

Petualangan Pendekar Kayangan
About Eko Nurhuda (393 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

<span>%d</span> blogger menyukai ini: