Highlight:

Dicium rapat-rapat, di paha direnggangkan

plakat salah ejaan

EITS, jangan berpikir negatif dulu membaca judul tulisan ini. Sekilas memang kesannya seperti mengarah ke “suasana ranjang”, tapi yakinlah bahwa apa yang akan saya sampaikan sangat jauh sekali dari “bayangan-bayangan menggairahkan” tersebut. Jadi, silakan dibaca sampai habis dulu ya.

Kalimat yang saya jadikan judul di atas adalah sebuah rumus rahasia berusia entah berapa puluh tahun. Saya mendapatkannya saat duduk di bangku kelas II SMP. Adalah Ibu N. Pohan, guru Bahasa Indonesia saya waktu itu, yang memberikannya saat mengajar di kelas. Entah apakah teman-teman lain mengingatnya, tapi rumus ini begitu lekat dalam ingatan saya.

Saya ketika itu merupakan siswa SLTP Negeri V Mestong. Setelah beberapa kali berganti nama seturut pemekaran kabupaten dan kecamatan, kini nama sekolah tersebut SMP Negeri 14 Muaro Jambi. Sewaktu saya “mudik” belum lama ini, bangunan SMP tersebut masih seperti saat saya masih bersekolah di sana.

Bangunannya berdiri kokoh di tapal batas desa Talang Bukit dan Talang Datar, dua desa yang dulunya merupakan satu Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) di Sungai Bahar, Muaro Jambi. Saat melihat pagar depan SMP, jadi teringat dulu saya bersama bapak dan seorang tetangga mengerjakannya dengan giat.

Ibu N. Pohan hingga saat ini masih menjadi guru favorit saya. Tentu saja tanpa bermaksud mengabaikan jasa-jasa para guru termasuk dosen yang pernah mengajar saya selama ini. Gaya mengajar beliau asyik, santai, dan tergolong nyeleneh.

Satu contoh, di saat guru-guru lain senang merampas novel atau pun cerita silat yang kami bawa ke sekolah secara diam-diam, Ibu N. Pohan justru menjadikan cersil Wiro Sableng sebagai contoh dan bahan diskusi dalam mata pelajarannya.

Ibu guru satu ini pula yang memberi motivasi pada saya untuk menyeriusi dunia kepenulisan. Beliau menceritakan kehidupan penulis-penulis ternama dan apa saja yang bisa saya raih dengan mengembangkan skill menulis. Tak pernah bosan beliau meminta saya mengirimkan tulisan ke majalah dinding sekolah. Ketika tulisan saya tayang, beliau terlihat begitu asyik membacanya di waktu istirahat.

SMP Negeri 14 Muaro Jambi

Menanamkan impian sebagai penulis adalah sebuah saran out of the box, mengingat kami sebagai penghuni desa transmigrasi di mana mata pencaharian utama adalah berkebun.

Cita-cita kebanyakan kami ketika itu adalah membantu orang tua bekerja di kebun kelapa sawit. Bagi yang tidak punya kebun, angan-angan itu bergeser menjadi buruh panen. Ada juga yang ingin menjadi sopir truk pengangkut sawit dari kebun ke pabrik.

Pendek kata, menjadi penulis merupakan cita-cita yang begitu jauh di awang-awang bagi kebanyakan kami yang hanya mengenal dodos, egrek, ganco, dan sorong untuk mencari nafkah. Bukan pena, mesin tik, apatah lagi komputer. Tapi, rupanya ke arah yang disarankan Ibu N. Pohan itulah jalan hidup membawa saya.

Rumus Saru

Baiklah, kembali ke rumus tadi saja supaya tidak semakin melebar. Rumus apa? Rumus tentang pemakaian kata “di” yang baik dan benar sesuai aturan EBI. Sebuah rumus yang membuat kami satu kelas tertawa gelak-gelak, beberapa sambil memerah pipinya, saat pertama kali mendengarnya.

Dicium rapat-rapat, di paha direnggangkan.

Kesannya kok nyeleneh bin saru, tapi justru ke-nyeleneh-an dan ke-saru-annya itulah yang membuat saya tetap mengingat lekat rumus sederhana tapi penting ini. Karena saya lulus SMP tahun 1997, maka rumus tersebut sudah lebih dari 20 tahun lamanya tetap lengket dalam kepala. Rumus inilah yang menjadi rambu-rambu saat saya kebingungan menggunakan “di” apakah ditempel atau dipisah.

Kalimat pendek ini asyik karena nyerempet-nyerempet ke arah “ehem-ehem”. Hahaha. Lalu juga simpel tapi sekaligus jelas sekali membedakan kerancuan pemakaian “di” yang biasa kita jumpai.

Saat membaca-baca tulisan rekan-rekan blogger, baik di blog masing-masing ataupun platform lain, seringkali saya menjumpai artikel yang secara kaidah tata bahasa alias EBI tidak tepat. Kesalahan lebih banyak biasa saya jumpai di novel-novel dalam platform webnovel seperti NovelToon, Novelme, dll.

Juga, masih ingat kan sewaktu akun medsos Kemendikbud mengoreksi tulisan di poster-poster demonstran beberapa waktu lalu? Tuh, sekelas mahasiswa saja masih suka salah-salah kok. Padahal pelajaran Bahasa Indonesia itu sudah dipelajari sejak kapan coba?

Satu kesalahan umum yang biasa dijumpai adalah pemakaian “di” yang masih salah kaprah alias tak sesuai dengan fungsinya. Nah, dengan rumus sederhana yang diberikan guru SMP saya ini, saya yakin rekan-rekan sekalian bakal dengan mudah mengingat bagaimana sih si “di” ini seharusnya digunakan.

banner salah ejaan

Dua Jenis Penggunaan “Di”

Secara simpel dapat dibedakan bahwa “di” mempunyai dua fungsi: (1) sebagai kata depan alias preposisi, (2) sebagai imbuhan, awalan, alias prefiks.

Sebagai kata depan, “di” menunjukkan (atau digunakan bersama dengan penunjuk) waktu, tempat, atau kata benda. Contohnya, “Budi berdoa dengan khusyuk di makam ayahnya.”Atau, “Budi menabur bunga di atas makam ayahnya.”

Sedangkan “di” sebagai imbuhan menunjukkan (atau digunakan sebelum) kata kerja, biasanya untuk membentuk kata pasif. Contohnya, “Rambutan manis itu dimakan Budi dengan lahap.” Atau, “Bunga-bunga aneka warna itu ditabur ke atas makam oleh Budi.”

Nah, perbedaan fungsi ini membedakan cara penulisan “di” menjadi dua macam pula. Sebagai kata depan, “di” wajib ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Contohnya, “di sini” dan bukannya “disini”. Atau “di rumah”, bukannya “dirumah”.

Sebaliknya, “di” sebagai imbuhan harus ditulis menyatu dengan kata yang mengikutinya. Contohnya “ditulis”, bukan “di tulis”. Atau “dijual”, bukan “di jual”.

Masih bingung?

Kalau begitu ingat-ingat saja rumus ini: Dicium rapat-rapat, di paha direnggangkan. “Dicium”, bukan “di cium”. Dan “di paha”, bukan “dipaha”.

“Cium” adalah kata kerja, “di” di depannya berfungsi sebagai prefiks sehingga penulisannya disambung jadi satu. Dicium. Sementara “paha” adalah benda yang menunjukkan tempat sehingga “di” di depannya berfungsi sebagai preposisi. Dengan demikian penulisannya pun musti dipisah. Di paha.

Bagaimana, masih berpikiran negatif setelah membaca habis artikel ini?

Semoga bermanfaat.

Beri tip untuk blog ini
About Eko Nurhuda (386 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

2 Comments on Dicium rapat-rapat, di paha direnggangkan

  1. wah gambarnya mendukung sih pak untuk berpikiran “17+” 😀

    Suka

  2. Alhamdulillah yaa, saya masih memperhatikan penulisan kata 'di' dalam postingan blog maupun tiap kali SMS… Tapi kok judulnya terkesan mesum gitu yaa Bung??

    Suka

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: