Highlight:

Makan enak sepuasnya di restoran pilihan dengan Treats by Traveloka Eats

SETIAP kali saya main ke Jakarta, adik perempuan yang tinggal di kawasan Palmerah selalu mengajak ke Central Park. Lebih-lebih ketika saya datang bersama keluarga. “Anak-anak pasti seneng diajak ke sana. Lihat ikan lucu-lucu, ada taman bagus juga, terus air mancur. Nanti kita foto-foto di jembatan instagramable,” katanya dengan mata berbinar-binar.

Ah, apa ayiknya sih foto-foto di jembatan?” Jawab saya suatu ketika. Bukan apa-apa, saya paling malas pergi ke mal. Apalagi mal di Jakarta yang luasnya seolah tak terhingga. Wong masuk Mal Ciputra di Simpang Lima Semarang saja saya bisa tersasar, apalagi Central Park.

Baca juga: Mie Kopyok Pak Dhuwur, kuliner legendaris Semarang nan menggoda

Alasan lain, saya ke Jakarta hanya transit. Ketika itu saya dan keluarga baru saja balik dari Jambi usai berlebaran bersama orang tua. Adik saya itu juga mudik dan kami semua berlebaran bersama di kampung. Tapi ia balik lebih dulu ke Jakarta karena harus segera masuk kantor.

Karena perjalanan balik estafet–dari Jambi naik pesawat ke Jakarta lalu disambung kereta api ke Pemalang, jadilah saya dan keluarga singgah terlebih dahulu di Jakarta. Biasanya sekalian berwisata di sekitaran ibu kota mumpung masih liburan sekolah, menginap barang 1-2 malam.

Nah, Desember 2018 saya dan keluarga kembali ke Jakarta. Kali ini tujuannya memang hendak ke Jakarta. Bukan lagi transit, tapi memang untuk menghabiskan libur akhir tahun. Ceritanya menjenguk keponakan yang lahir beberapa bulan sebelumnya.


Ibu saya juga tengah berada di Jakarta saat itu, menunggui keponakan tersebut. Kemudian adik laki-laki yang kuliah di Bogor turut bergabung. Jadilah reuni keluarga yang nyaris komplit, minus Bapak yang tak bisa ikut dan satu adik lagi yang baru saja dipindah-tugas ke Pagar Alam.

“Makan di mana kita malam ini?” Adik perempuan saya bertanya selepas kami mengunjungi Ancol dan Monas. Saat membanding-bandingkan satu restoran dengan restoran lain yang pernah dikunjungi, adik saya tiba-tiba ingat Central Park.

“Kita ke Central Park aja yuk! Kan Kakak belum pernah ke sana,” serunya. Lalu keluarlah kalimat-kalimat “rayuan” andalan yang biasa ia keluarkan setiap kali mengajak ke tempat tersebut. “Anak-anak pasti seneng diajak ke sana. Lihat ikan lucu-lucu, ada taman bagus juga, terus air mancur. Nanti kita foto-foto di jembatan instagramable.”

Sesuai dugaan, sepasang mata kedua anak saya langsung berbinar mendengar ucapan tantenya. Apa boleh buat. Kali ini saya tak bisa mengelak lagi. Kami pun meluncur menuju kawasan Central Park.

Batal Makan di Central Park

Jembatan instagramable yang dimaksud adik saya adalah Eco Skywalk @ Central Park Mall. Ada pula yang menyebutnya sebagai Jembatan Neo Soho, karena bentangan besi sepanjang 250 meter ini menghubungkan Mal Neo Soho dengan Mal Central Park.

Waktu terbaik untuk berkunjung kemari adalah pada malam hari, karena jembatan akan tampak indah oleh lampu-lampu cantik yang berpendar menghiasi badan jembatan. Selain foto-foto dengan latar belakang gedung-gedung apartemen menjulang ataupun bangunan mal–tergantung angle foto, sekedar ngadem di area terbuka jembatan juga sangat menyenangkan.

Sayang, hari itu angin Desember nan kencang terus-menerus berhembus di Jakarta. Rombongan kami yang membawa dua bayi pada akhirnya hanya melihat-lihat ikan koi di kolam depan Pizza e Birra, kemudian sebentar memutari Tribeca Park. Di sela-sela itu sesekali mengambil swafoto.

Kami lantas masuk ke dalam mal, menghindari hembusan angin. Bayi-bayi juga kompak minta susu.

Makan bersama orang tua dan adik-adik seperti ini semakin jadi momen langka semenjak saya berkeluarga dan menetap di Jawa.

Hari menjelang magrib, perut saya mulai mengeluarkan suara berkeruyuk. Seharusnya kami sudah duduk manis di salah satu dari tiga restoran incaran yang ada di sana. Namun, dua anggota rombongan yang diutus untuk mencari dan memesan tempat pulang dengan tangan hampa.

“Tempatnya penuh semua. Kalau mau nunggu ada meja kosong nggak apa-apa sih, tapi nggak tahu berapa lama,” kata adik saya. “Semua” di sini maksudnya tiga restoran yang kami rencanakan saat berangkat.

Saya langsung mengingat tanggal. Ini malam tahun baru! Lalu kami semua teringat ketika pertama tiba harus menghabiskan nyaris satu jam hanya untuk naik-turun lantai mencari lokasi parkir. Penuh semua!

Kami juga sebelumnya tidak dapat masuk Monas karena seluruh area parkir mobil penuh. Seperti dapat dilihat dokumentasinya pada video di kanal YouTube anak saya di bawah, kawasan Monas sesak oleh mobil dan manusia. Lalu lintas di keempat ruas Jl. Medan Merdeka tampak padat merayap.

Kami lantas berunding singkat. Hari semakin gelap, anak-anak terlihat mulai kelelahan bercampur mengantuk. Ditambah lagi rasa lapar yang kian bertambah-tambah.

Mempertimbangkan kemungkinan macet jelang perayaan malam tahun baru, adik saya mengusulkan untuk makan di sekitaran Palmerah saja. Dengan demikian kami dapat sekalian jalan pulang ke rumah. Kami yang tidak terlalu paham Jakarta mengangguk setuju.

Begitulah. Meski batal makan bersama di Central Park, setidaknya adik saya akhirnya berhasil mengajak saya “lihat ikan lucu-lucu, ada taman bagus juga, terus air mancur.” Anak-anak pun terlihat sangat senang.


Momen Penuh Kehangatan

Angka di layar smartphone saya menunjukkan pukul sembilan lewat ketika kami sampai di Pizza Hut Kemanggisan, tempat yang dipilih dalam perjalanan. Restoran yang dikelola PT Sarimelati Kencana, Tbk. tersebut tak terlalu ramai pengunjung malam itu. Masih tersisa beberapa meja kosong yang oleh staf restoran segera digabung menjadi satu meja panjang.

Saya tak ingat memesan apa saja malam itu. Namun yang jelas saya keluar dari Pizza Hut dalam keadaan sangat kenyang. Maklum saja, anak-anak yang kalap memesan ini-itu karena terlalu lapar–juga tergiur foto makanan dan minuman di buku menu, ujung-ujungnya hanya makan sedikit-sedikit.

Dari sekian menu pilihannya, hanya seporsi New Orleans Chicken Wings yang disantap habis sendirian oleh putera sulung saya. Sedangkan adiknya lebih suka makan es krim Banana Split dan salad buah. Jadilah saya dan istri, juga tante dan om-omnya, yang menghabiskan makanan lain. Sisa yang tak termakan kami minta bungkus untuk dibawa pulang.

Acara makan malam bersama di Pizza Hut Kemanggisan jelang pergantian tahun 2018 ke 2019 itu berjalan hangat dan menyenangkan. Kami kembali ke tempat tinggal adik dengan hati riang. Keesokan paginya, tepat di hari pertama tahun 2019, saya dan keluarga kembali ke Pemalang.

Baca juga: Wisata hemat di Jakarta berkat saudara dan car rental Traveloka

“Nanti ke sini lagi ya, kita makan-makan lagi,” ujar adik saya kepada keponakan-keponakannya sewaktu kami berpamitan.

Tentu saja itu ajakan yang bakal saya penuhi suatu saat nanti. Kami adik-beradik sejak kecil memang sangat doyan makan. Di keluarga hanya Bapak yang nafsu makannya tidak sebesar kami. Karenanya momen kumpul-kumpul selalu dilengkapi dengan makan bersama. Entah itu di restoran, maupun sekedar di rumah.

Sembari makan bersama, kami bercerita tentang apa saja yang menarik dijadikan bahan obrolan. Suasana akrab nan hangat yang selalu saya rindukan semenjak tinggal jauh dari orang tua dan terpencar dari adik-adik.

Menu Steak 21 Buffet di Central Park

Daftar menu Steak 21 Buffet di Central Park. Gambar: Screenshot laman steak21.id.

Klik untuk baca lanjutannya >> Masih Penasaran Central Park

Beri tip untuk blog ini
About Eko Nurhuda (375 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

22 Comments on Makan enak sepuasnya di restoran pilihan dengan Treats by Traveloka Eats

  1. Saya belum pernah sih cobain fitur Traveloka Treats, tapi kalau urusan harga khusus untuk tempat makan, siapa yang menolak ya.
    Eniwei, CP itu memang gak ada matinya. Terakhir ke sana, nunggu Grab aja sampai 1 jam πŸ™‚ saking padatnya untuk masuk ke dalam.

    Suka

    • Hahaha, can relate soal itu. Orang nyari parkir aja muter-muternya bisa hampir sejam, naik-turun lantai nggak ada yang kosong. Cuma belum pernah ke sana pas low season, biar bisa bandingin harusnya nyobain ke sana pas nggak musim rame.

      Suka

  2. Salah satu hal yang saya suka dari Traveloka Eats, selain ngasih banyak promo menarik juga ngasih kita rekomendasi tempat makan, ngopi, dan nongkrong yang asik dan menarik. Fitur terbaru ini sangat berguna untuk menghemat pengeluaran saat ingin mencicipi berbagai macam kuliner mewah hihihi.

    Suka

  3. Ngemall ke Central Park itu bisa sekalian ‘tawaf’ ke mall yang bersebelahan. Pegel-pegel deh kaki dan mata ngider-nya πŸ˜€ .
    Tapi, kalau setelah itu makan enak di Steak 21, tenaganya bakal kembali pulih. Apalagi kalau melalui Treats by Traveloka Eats ya.
    Keren Bung Eko.

    Suka

  4. Mantaps nih.
    Dicobain ah nanti kalo pas berkunjung ke rumah anak di Bogor.
    Nuhun infonya Mas.

    Salam,

    Suka

  5. wuaaa ngiler om. Steak aku paling suka steak sapi
    apalagi yang manggangnya pas gitu. Bisa makan banyak nih aku
    jadi ngiler pengen makan steak. Eh … malem-malem gini nyari di mana hiks

    Suka

  6. wah aplikasi ini memang praktis ya, keren banget! πŸ˜€

    Suka

  7. Makan apa saja enak ya Mas kalau ada traktiran dari Traveloka Eats. Bikin hemat dan hepi kalau gini, apalagi makannya bareng keluarga. Ya makin hangat dan kenyang πŸ™‚ Promonya menggiurkan.

    Suka

  8. Eh..samaan, aku juga ga suka di mall. Sering bingung arah klo udah di dlm ha..ha.

    Btw, enak ya ada traveloka eat ini. Bisa berburu promo dan diskon

    Suka

  9. Penasaran nyobain Treats by Traveloka Eats ini, tapi gak ada Bengkulu di pilihan kotanya. Mesti nunggu ke Jakarta dulu.

    Suka

    • Pas main ke Jakarta memang mau nggak mau, baru deh bisa nyobain. Atau mari berdoa saja semoga layanan Treats segera menyebar ke kota-kota lain. Paling nggak yang udah masuk Traveloka Eats deh.

      Suka

  10. Padahal kalau tahun 2018 saya masih suka bolak balik ke tempat tinggal di Tomang, sekitar beberapa ratus meter dari Central Park. Bisa ketemuan kita. Sayang baru tahu sekarang ya…
    Semoga kesampaian ke Steak 21 central park nya. Beneran makanannya enak banget deh hehehe

    Salam
    Okti Li

    Suka

    • Adik saya di Palmerah, Teh. Nggak terlalu jauhlah ya dari Central Park. Setiap kali saya ke tempat dia pasti diajak ke sana, atau MTA, ya pokoknya sekitaran situlah. Saya kalo nggak diajak makan ya ogah, hahaha.

      Suka

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: