Highlight:

Mengenal empat kuadran artikel blog

Jangan Ngaku Blogger Kalau Nggak Bisa Nulis Buku!

BERUNTUNG sekali saya mendapatkan buku yang berjudul Jangan Ngaku Blogger Kalau Nggak Bisa Nulis Buku! langsung dari penulisnya, yaitu bung Eko Nurhuda di Pemalang. Buku yang diberi endorsement oleh beberapa blogger yang namanya tak asing lagi, seperti Pak Mars (marsudiyanto.net), Pak Sawali (sawali.info), dan Duto Sri Cahyono (omkicau.com).

Walau masih didistribusikan dengan cara self-publishing, namun draf yang sempat dikirim penulis via email membuat saya yakin bahwa nantinya buku ini bakal menggegerkan blogosphere Indonesia. Sekaligus, saya juga sedikit menyesal, karena tak sempat mengabulkan tawaran penulis untuk ikut mengirimkan endorsement. Kalau iya, kan blog saya bisa makin terkenal. *mulai ngelantur* 😀

Tapi it’s ok, karena ternyata nama saya juga ikut tercantum di halaman ‘ucapan terima kasih’ bersama deretan blogger-blogger lain, seperti Iskandaria (kafegue.com) dan Jimmy Sun (jimmysun.net), dan itu cukup membuat saya terharu biru. *_*

Mengenal Kuadran Penilaian Penerbit

Oke, sebelum saya me-review keseluruhan isi buku di artikel tersendiri, pada posting kali ini saya hanya ingin sharing tentang bagaimana penerbit memberi label atau kategori pada jenis-jenis naskah dari penulis. Atau kalau di dalam buku ini disebut dengan Kuadran Penilaian Penerbit.

Berikut skematiknya:

Kuadran penilaian naskah buku

Naskah yang masuk di Kuadran 1, bagi penerbit adalah jenis naskah primadona. Selain memiliki standar mutu yang tinggi, tema tulisan pun sedang hot di pasaran. Jadi tak ada alasan lagi bagi penerbit untuk tidak segera membukukan naskah tersebut. Istilah lain yang umum disematkan bagi naskah jenis ini adalah naskah ‘lampu hijau’, alias pasti menguntungkan.

Untuk naskah yang masuk di Kuadran 2, ada beberapa penerbit yang tak mau ambil risiko karena alasan citra/branding. Meski topik naskah pasti meledak di pasaran, namun beberapa penerbit tersebut tak mau ‘mengorbankan nama’ hanya untuk mengejar keuntungan.

Namun demikian ada pula juga penerbit yang berani meng-gol-kan naskah berlabel ‘lampu kuning’ ini. Tentunya dengan catatan, asalkan mutunya nggak ancur-ancur banget.

Bagaimana nasib naskah di Kuadran 3? Buku ini menulis:

Ini biasa terjadi dalam dunia perbukuan Indonesia, dimana buku yang (dianggap) bermutu tinggi tidak diminati pasar.

Jadi, sebagai solusi ada beberapa penerbit yang masih mau menerbitkan naskah begini, asalkan masih tersedia dana khusus yang memang disisihkan untuk biaya penerbitan naskah demikian. Jika dana itu kurang, penerbit akan mengajak penulis atau pihak ketiga untuk membantu biaya penerbitan (co-publishing).

Dan naskah di Kuadran 4 sepertinya tak perlu lagi diperjelas. Daripada penerbit menanggung malu dengan mutu tulisan yang jelek plus kerugian yang akan diderita, lebih baik naskah seperti ini ditolak mentah-mentah saja.

FOTO: claraavilac.com

FOTO: claraavilac.com

Lalu, Apa Itu Kuadran Artikel Blog?

Saya rasa masih ada relevansi untuk memberikan sebuah penilaian bagi artikel-artikel blog. Jika itu diterapkan seperti halnya skema di atas, maka kira-kira hasilnya sebagai berikut:

Artikel Blog di Kuadran 1

Artikel jenis ini mutunya sangat bagus, ditulis secara skematis, lengkap, bermanfaat dan dapat dipahami oleh pembacanya. Jadi, bisa dimaklumi jika artikel di kuadran ini sering menjadi rujukan bagi artikel-artikel blog lain. Juga mendapat respon yang tidak sedikit, baik lewat kotak komentar maupun via sharing di jejaring sosial.

Begitu pun di mata mesin pencari, artikel jenis ini mendapat tempat yang memiliki peluang terbesar untuk dilihat karena memiliki struktur SEO yang mumpuni. Kalau dalam bahasa blogging, artikel di kuadran ini disebut dengan artikel pilar.

Artikel Blog di Kuadran 2

Meski ditulis dengan bahasa seadanya, artikel-artikel yang berada di kuadran 2 masih mampu meraup traffic yang lumayan. Dengan gaya penulisan yang cenderung personal, penulisnya masih dapat mengisi ‘ruang-ruang’ yang dapat dimaksimalkan untuk ‘memaksa’ mesin pencari untuk ikut juga melirik artikel tersebut.

Faktor promosi juga berpengaruh di sini, dimana penyebaran link-link lewat blogwalking, forum maupun direktori blog dijadikan senjata ampuh untuk ikut mendongkrak kepopuleran artikel.

Artikel Blog di Kuadran 3

Ini mungkin yang dinamakan dengan artikel idealis, yaitu jenis artikel yang hanya bisa dipahami dan bermanfaat untuk kalangan tertentu. Walau ditulis dengan sangat teliti dan lewat proses research yang panjang, namun tak mendapat respon positif, alias cenderung tenggelam di lautan blogosphere.

Artikel Blog di Kuadran 4

Saya tak berani banyak berkomentar. Tapi pada kesempatan ini saya ingin mengimbau pada blogger-blogger semua agar memproduksi artikel yang jauh sejauh-jauhnya dari kuadran ini. Setuju?

Jadi, di Kuadran Manakah Sebaiknya Posisi Artikel Blog Kita?

Idealnya sih, semua artikel yang ditulis di blog kita masuk di Kuadran 1. Tapi – yah – dari pengalaman pribadi, saya sendiri tak selalu bisa menghasilkan artikel-artikel jenis ini secara konsisten. Ada beberapa yang masih berputar-putar di kuadran 2, esoknya posting artikel yang ternyata berada di kuadran 3, malah – kalau menengok ke belakang – mungkin sangat sering menulis artikel kuadran 4. *hehe*

Kalau Anda sendiri, kira-kira dimana posisi rata-rata artikel blog Anda jika diplot di uraian Kuadran Artikel Blog di atas? Share, please. 😀

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan oleh Bung Dendy Darin pada 25 Februari 2012. Dipublikasikan ulang di bungeko.com atas seijin beliau. Baca versi aslinya di sini: Mengenal Kuadran Artikel Blog – Dimanakah Posisi Artikel Blog Anda?

Beri tip untuk blog ini
About Bung Eko (40 Articles)
Let's blog with happiness :)

8 Comments on Mengenal empat kuadran artikel blog

  1. Jadi ingat materi DA Mbak Vicky kemarin di Instastories. Ya memang dilematis kadang artikel bagus tapi sepi pembaca dan begitu juga sebaliknya untuk kasus penulis lain. Mutu dan dan laku memang sinergi langka yang saya pun mau 🙂

    Suka

    • Materi yang salah satu screenshot-nya adalah tulisan … wkwkwkwk

      Ngomong-ngomong soal DA. Sebetulnya backlink nyebar kemana-mana juga nggak efektif sih kalau nggak ada relevansinya. Blog wisata punya backlink di situs buku segede Goodreads, nilainya nggak akan sebesar blog wisata punya backlink di blog wisata lain meski cuma blog nggak terkenal. Karena DA itu kan A-nya authority, jadi kuncinya di relevansi.

      Suka

  2. Saya ketinggalan nih dari dunia perbukuan. Ngaku saja sudah lama sekali saya tidak pernah lagi beli buku,padahal dulu mah suka beli buku dan lumayan juga sampai punya semacam home library…Tujuan awalnya nyusun buku di rak khusus ini – yang saya anggap sbg home library itu – sebagai upaya saja agar anak2 rajin membaca.

    Tentang buku karya Mas Eko ini, saya belum baca isinya, tapi 1 hal “judulnya provokatif, manas-manasin” dan “memaksa” kepada setiap blogger untuk bisa menghasilkan buku…ah, benar-benar deh Mas Eko ini provokator tulen…hehehe
    Seperti kalimat ini, “orang lain baru memikirkannya, aku sudah sampai disana”. Begitulah kira-kira Mas Eko menurut saya. Lah, saya belum bisa bikin buku koq, tapi keukeuh ngaku sebagai blogger…

    Sukses selalu Mas.

    Salam dari saya di Sukabumi,

    Disukai oleh 1 orang

    • Wah, saya jadi tersanjung ini, Pak. Hahaha.
      Buku ini sebetulnya jawaban dari pertanyaan teman-teman pembaca blog saya (dulu saya ngeblog di ekonurhuda.com yang kini nama domainnya dikuasai orang lain–my bad) ketika buku-buku saya terbit di awal tahun 2010. Pertanyaan yang kemudian jadi konten di bab-bab awal, bahwa blogger itu kan sebetulnya penulis juga to, sama halnya penulis buku. Jadi, modal besarnya sudah ada. Selebihnya sih teknis penerbitan buku sama insight saja.

      Monggo, Pak, boleh dipesan bukunya. Hehehe.

      Disukai oleh 1 orang

      • Yang saya sampaikan bukan pujian, tapi kenyataan apa yang terjadi dengan karis tulis menulis yang Mas Eko sudah capai. Tentunya tidak seluruh blogger berhasil menjadi penulis buku.

        Kapan-kapan saya pesan bukunya Mas. Sementara, sukses selalu dan Lanjutkan!

        Salam dari saya di Sukabumi.

        Suka

1 Trackback / Pingback

  1. 5 Kebiasaan blogger sukses versi saya (yang belum sukses) – bungeko.com

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: