Highlight:

Saham pertama yang memberi tiga pelajaran penting pada saya

Papan chart harga saham

Kesalahan 3: Terlalu Buru-Buru Cutloss

Begitu berkesimpulan kalau sebaiknya memperbesar modal yang ada terlebih dahulu ketimbang berburu dividen, tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk menjual rugi (cutloss) seluruh saham CEKA yang ada di portofolio. Saya jual bertahap dan merugi total sekitar 11,72% waktu itu.

Kenapa langsung cutloss? Agar dananya dapat segera saya putar untuk mengejar capital gain di saham lain. Sekali lagi, modal saya pas-pasan. Hanya uang itulah yang bisa saya pakai, kalau tidak segera dijual ya saya nggak bisa ambil langkah lain. Tak apa-apalah rugi 11,72%.

Kecil ya cuma 11,72%? Tapi bagi saya itu angka yang sangat lumayan. Karena tak ada pilihan lain–meski sebetulnya ada, yakni tidak melakukan apa-apa; sudahlah apa boleh buat. Awalnya saya santai saja. Anggap saja 11,72% uang yang hilang itu sebagai biaya ikut seminar saham. Ilmunya akan terus terpakai sepanjang hayat.

Eh, di kemudian hari harus saya akui kalau cutloss ini merupakan sebuah kesalahan. Sebab, menjual saham di harga yang sama seperti saat kita membelinya saja sudah merupakan sebuah kerugian. Ingat, ada fee dan pajak yang harus dibayar setiap kali kita membeli dan menjual saham.

Andai saja saya tahan (hold) saham-saham tersebut hingga beberapa bulan ke depan, katakanlah hingga awal Januari 2020 ini, sudah terbayang berapa potensi keuntungan (floating profit) yang saya dapatkan dari selisih harga.

Harga saham CEKA ketika terakhir kali saya cutlost adalah Rp1.460. Sedangkan harga rata-rata (average price) saya ketika itu Rp1.523. Januari lalu, harganya sempat bertahan lama di angka Rp1.640. Andai saya jual saat itu, ada selisih Rp116 di sana. Per lot (100 lembar saham) keuntungannya Rp11.600. Kalikan sekian lot, jumlahnya bisa lebih besar dari potensi dividen didapat.

Jujur saja, setiap kali melihat pergerakan harga CEKA belakangan ini saya menyesal dalam hati. Berkali-kali saya berguman, “Ah, andai saja …” Cukup bersabar beberapa bulan saja, tren bearish berganti dengan tren kenaikan harga (bullish). Dan ini merupakan hal lumrah dalam investasi saham.

Pergerakan harga saham Wilmar Cahaya Indonesia

Terlebih jika ditarik lebih panjang, pergerakan saham CEKA cenderung selalu naik dari tahun ke tahun. Ini tipe perusahaan yang terus bertumbuh, serta masih dihargai terlalu murah oleh pasar. Karenanya harga sahamnya suatu saat akan mengikuti fundamental perusahaan, yang itu artinya akan terus naik.

Keputusan saya untuk buru-buru cutloss pada akhirnya harus diakui sebagai sebuah kesalahan. Meski pada saat itu saya punya alasan di balik langkah tersebut, yakni agar uangnya dapat saya belikan saham lain yang cepat mengasilkan keuntungan dari capital gain.

Memang kemudian saya mendapat return 103% dari saham lain yang tengah bagus performanya. Sayang, uang hasil penjualan CEKA tadi tidak seluruhnya saya belikan saham tersebut. Melainkan saya pecah ke dua saham lain, dengan porsi 40-40-20. Nah, yang dua ini (total 60% dari modal) masih floating loss sampai sekarang.

Dihitung-hitung secara umum sih kinerja portofolio saya masih untung. Enam bulan pertama di bursa, saya membukukan profit sekitar 29% dari total modal disetor ke RDN. Awal yang bagus untuk seorang pemula, saya rasa. Sebab, banyak trader senior di Stockbit yang berkata, “Pemula saham itu nggak rugi aja sudah bagus banget.

Namun, tetap saja saya menyayangkan aksi cutloss CEKA tersebut dan mengakuinya sebagai sebuah kesalahan. Kalaupun mau dijual, mustinya saya tunggu hingga harganya naik. Setelah saya jual harganya sempat menyentuh harga Rp1.700 lho. Betul-betul bikin sebal.

Lagi-lagi, ini soal kemampuan analisa teknikal saya yang kurang bagus. Saya beli CEKA saat harganya menuju turun, lalu menjualnya ketika memasuki fase datar (sideway) untuk kemudian naik. Yang benar adalah kebalikannya: beli saat harganya turun, dan jual ketika harganya naik. Atau setidaknya beli ketika harganya tinggi, dan jual saat harganya lebih tinggi lagi.

Satu hal lagi yang membuat saya tambah menyesal, laporan keuangan kuartal ketiga semakin mengukuhkan baiknya catatan laba PT Wilmar Cahaya Indonesia, Tbk. Total net income dalam tiga kuartal tahun 2019 melebihi laba bersih full year 2018. Luar biasa!

Bagaimana bisa saham perusahaan menjanjikan begini saya lepas? Saya hanya bisa merutuki diri sendiri setelahnya.

Lesson learned number 3: Naik-turun harga adalah hal biasa dalam dunia saham. Karenanya, jangan buru-buru jual rugi saham yang harganya tengah menurun. Kalau ada dana lebih, justru jadikan momen itu untuk menambah jumlah saham agar mendapat average price lebih rendah sekaligus dividen yield lebih tinggi.

*****

Itulah dia saham pertama saya sebagai seorang investor ritel. Satu saham yang mengajarkan tiga pelajaran penting, dan tentunya bakal saya pegang erat sebagai pedoman dalam mengarungi kerasnya bursa efek.

Semoga tulisan setengah curhat ini juga bermanfaat bagi kalian yang membaca.

Beri tip untuk blog ini
About Eko Nurhuda (368 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

15 Comments on Saham pertama yang memberi tiga pelajaran penting pada saya

  1. Kalau kata adek sepupu saya, Pilih yang jelas-jelas, kak. Tidak masalah dapatnya sedikit, tapi aman. ahahahhaha.
    Saya sendiri belum sama saekali ikutan beli

    Suka

    • Iya, Mas. Bener juga itu. Dulu sempat mikir, ambil untung 1-2% itu apa ya kerasa. Tapi ternyata 1-2% sehari, dikali 20 hari bursa sebulan, dikali 240 hari bursa setahun, ya gede juga. Apalagi kalau modal dan profit terus digulung.

      Suka

  2. Oh ini toh katanya aktivitas yang pernah Mas Eko sebut menguntungkan walau waktunya pendek. Keren ih mainannya sekarang, aku mah roaming haha.
    Benar dengar investasi saham pas acara financial planning dari Kominfo, tapi sebatas tahu aja. Di buku Millionaire Mind juga disebut sih ada tukang pos yang sukses dengan investasi saham.

    Suka

    • Wuih, baca buku Millionaire Mind ya, Mas? Udah ada terjemahannya belum sih itu? Aku udah lama masukin itu buku ke wishlist di BookDepository, tapi belum juga bisa eksekusi beli hehehe.

      Btw, buat freelancer kaya kita, kayanya perlu punya pengaman buat masa-masa tak terduga atau sesudah kita nggak bisa lagi berkarya/dapat job, Mas. Tadinya kupikir tabungan saja udah cukup, tapi kan bakal kalah sama inflasi to. Kalau diinvestasikan ke dalam saham, insya Allah uangnya berkembang biak. Beranak dan bercucu.

      Suka

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Pengalaman buka rekening saham Sinarmas Sekuritas lewat Stockbit – bungeko.com
  2. Belajar investasi saham di Sekolah Pasar Modal IDX Semarang – bungeko.com

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: