Highlight:

Kisah skuter matik Kymco Free-Ex 15 tahun mengaspal nyaris tanpa cela

Kymco Free-Ex

AWALNYA saya memandang rendah skuter matik satu ini. Bodinya terlalu lebar–padahal mesinnya hanya 100cc, warnanya oranye yang membuat saya mirip petugas Pos setiap kali mengendarainya, dan mereknya Kymco! Saya punya kesan buruk terhadap motor China. Tapi, rupanya kali itu saya salah. Kymco Free-Ex satu ini sudah mengaspal sejak 2005 dan nyaris tanpa cela selama 15 tahun dipakai.

Meski mereknya sama-sama Kymco, tapi punya saya ini berbeda dengan Kymco keluaran PT Smart Motor Indonesia. Kymco Free-Ex merupakan varian yang dipasarkan semasa merek sepeda motor asal Taiwan ini masih dipegang oleh PT Kymco Lippo Motor Indonesia. Iya, Kymco yang disebut-sebut sebagai pionir skuter matik di Indonesia.

Saat ini rasanya bolehlah saya mengklaim sebagai satu-satunya pemakai aktif Kymco di Pemalang, apalagi kalau lebih spesifik lagi: pemakai Kymco lawas. Bisa jadi malah se-eks Karesidenan Tegal/Karesidenan Pekalongan, mungkin. Maklum saja, di sini kebanyakan lebih tertarik motor Jepang, utamanya yang tengah booming semodel Yamaha NMAX.

Selama memakai Kymco Free-Ex oranye ini saya baru sekali berjumpa dengan sesama pemilik Kymco lawas. Itupun saat bertemu ia tidak sedang mempergunakan Kymco-nya. Rusak, begitu alasannya. Dan ia lebih memilih mengambil sepeda motor Jepang baru ketimbang memperbaiki Kymco tersebut.

Harga Sak Karepe

Sepeda motor Kymco Free-Ex yang saat ini saya pakai dibeli pada medio 2005. Jadi, sebentar lagi usianya 15 tahun. Bodi dan mesin masih asli, hanya set ring-piston yang baru saja diganti September 2019 lalu karena kecerobohan saya sendiri: sering terlambat mengganti oli. Oh, juga ban luar-dalam yang memakai ban Vespa, serta aki yang karena ketika diganti kesulitan mencari aki kering disubtitusi dengan aki basah.

Awalnya Kymco ini milik kakak ipar. Ketika Yamaha Mio booming di tahun 2010-an, kakak ipar ingin ganti tunggangan sehingga Kymco tersebut ditawarkan ke saya. Mungkin karena dianggap motor Cina, jadi kakak menawarkan ke saya dengan harga “sak karepe wis“. Semau saya.

Spion bulat Kymco Free-Ex

Salah satu bagian ikonik Kymco Free-Ex adalah spion bulatnya ini.

Saya sempat ragu menerima tawaran ini. Pasalnya, seorang teman di Jogja pernah punya sepeda motor buatan Cina, dan itu nggak ada bagus-bagusnya sama sekali. Mesin kasar, tenaga nggak ada, pas dikendarai pun berisik sekali seolah-olah onderdilnya mau copot. Saya masih ingat merek sepeda motor tersebut, tapi nggak perlulah disebut.

Alasan lain, PT Kymco Lippo Motor Indonesia selaku ATPM Kymco tersandung kasus ketika itu. Perusahaan tersebut bahkan dipailitkan oleh karyawannya sendiri. Efeknya, dealer resmi juga bengkel resmi Kymco (KYSS) di daerah-daerah banyak yang tutup. Termasuk di Pemalang, Tegal, dan Pekalongan.

Membeli sepeda motor yang tidak punya dealer dan bengkel resmi bukanlah pilihan bijak menurut saya. Bagaimana kalau sepeda motor ini rewel? Bagaimana kalau harus mengganti onderdil? Dan sederet pertanyaan lain melintas di kepala.

Tapi di sisi lain tawaran kakak ipar ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Bayangkan, beli sepeda motor dengan harga terserah saya! Mana kedua bannya baru diganti luar-dalam pula. Dan saya tahu persis sepeda motor ini jarang sekali dipakai bepergian jauh, apalagi sampai keluar kota, serta rutin diganti oli secara tertib. Artinya, mesinnya dijamin masih bagus.

Lalu saya juga tengah butuh sepeda motor karena Honda Astrea Grand saya harus ditinggalkan di Jogja, dan belakangan dibeli seorang teman kos. Selama di Pemalang saya berganti-ganti meminjam sepeda motor adik ipar yang tidak terpakai, serta terkadang Kymco ini, jika bepergian jauh-jauh.

Jadi, beli apa tidak nih? Saya mencari jawabannya dengan googling. Mencari tahu Kymco itu perusahaan seperti apa dan apa saja produk yang pernah dihasilkan, juga terutama kualitas produk-produk tersebut.

Kymco office

Bukan Merek Abal-Abal

Ketika saya ketikkan “Kymco” di kotak pencarian Google, nama yang pertama muncul adalah Kwang Yang Motor Co, Ltd. (Chinese: 光陽工業; pinyin: Guāng Yáng Gōng Yè), sebuah perusahaan asal Taiwan yang singkatan namanya–KYM Co–jadi merek sepeda motor ini.

Fix, ini produk Cina!” Pikir saya ketika itu, dengan nada negatif.

Saya terus mencari dan mencari referensi di Google. Lalu dibuat kaget ketika tahu bahwa ternyata Kymco ini dikenal luas di Eropa dan Amerika sebagai produsen skuter berkualitas. Perusahaan ini juga memproduksi beberapa motor bermesin besar.

Fakta lain yang tak kalah bikin takjub, Kymco ternyata adalah “sempalan” Honda. Kwang Yang Motor dulunya merupakan pemasok komponen sepeda motor bagi Honda. Perusahaan ini lantas membuat skuter sendiri pada tahun 1970, dan mulai memasarkan produk-produknya dengan merek Kymco pada 1992.

Berita ini membuat saya berpikir, kalau selama ini saya percaya Honda adalah sepeda motor berkualitas, maka Kymco yang diproduksi oleh perusahaan yang pernah membuat komponen untuk Honda tentunya adalah juga sepeda motor bagus. Masuk akal, bukan?

Saya lalu membaca-baca berbagai referensi lain, dan kemudian menemukan satu berita yang jadi trigger bagi saya untuk yakin mengkuisisi Kymco Free-Ex milik kakak ipar. Berita apa? Berita tentang dipakainya mesin buatan Kymco oleh BMW untuk sepeda motor G450 X Enduro.

Dari situ saya menemukan fakta menarik lain, yakni bahwa Kymco ini ternyata sangat “mesra” dengan BMW. Komponen penting beberapa produk BMW adalah buatan Kymco. Di antaranya komponen untuk mobil listrik BMW i3, juga sepeda motor BMW C600 Sport dan BMW C850GT.

Bukan cuma BMW dan sebelumnya Honda yang mempercayai pembuatan komponen produk mereka pada Kymco. Akhir 2013, Kawasaki mengumumkan bahwa skuter big matic terbaru mereka J300 dibuat bersama-sama dengan Kymco. Pandemen otomotif bahkan menyebut varian ini sebagai Kawasaki J300 Kymco, sebab menurut beberapa referensi tipe tersebut dibangun berdasarkan Kymco Downtown 300i.

Pendek kata, saya salah besar sudah sempat meremehkan Kymco. Ini bukan merek dan perusahaan abal-abal. Kualitasnya sudah teruji dan diakui. Kalau tidak, bagaimana bisa Kymco menjadi pabrikan skuter terbesar di Taiwan dan terbesar kelima di dunia pada era 2000-an.

Kymco Free-Ex oranye

Mesin Luar Biasa Bandel

Tak kenal maka tak sayang. Pepatah ini cocok sekali menggambarkan penilaian saya terhadap Kymco. Setelah mengetahui lebih banyak mengenai Kymco dan Kwang Yang Motor, saya langsung jadi penggemar merek satu ini. Sekembali ke rumah–waktu itu saya menumpang online di warnet, saya ceritakan temuan ini ke istri dan kami sepakat mengiyakan tawaran kakak ipar.

Sebuah keputusan yang hingga hari ini saya syukuri. Selain soal harga yang sak karepe tadi, saya dapat merasakan sendiri Kymco adalah merek bagus. Tidak seperti motor China milik teman saya di Jogja dulu. Mesinnya halus, tarikannya oke, diajak jalan keluar kota tidak rewel, konsumsi bensin terhitung standar, dan perawatannya juga tidak aneh-aneh.

Soal perawatan, sepanjang saya pakai dalam 7-8 tahun terakhir hanya perlu ganti oli secara berkala. Lalu tiap 2–3 bulan sekali dikontrol total seluruh mesin dan kelistrikannya. Itu saja sudah. Sungguh perawatan yang simpel dan hemat. Terlebih kalau bisa ganti oli sendiri, seperti yang kerap saya lakukan.

Selama ini hanya sekali saja Kymco Free-Ex ini dibongkar mesinnya. Itupun, seperti sudah saya bocorkan di atas, karena kelalaian saya yang sering telat ganti oli sejak medio 2018. Puncaknya ketika saya tidak ganti oli selama tiga bulan berturut-turut, karena merasa tidak terlalu sering memakainya. Ring-nya kemudian patah, pistonnya juga ikut bermasalah, sehingga harus diganti.

Tapi ya hanya itu. Begitu saya ganti dengan set ring-piston baru yang dibeli di Bukalapak, langsung jalan lagi deh.

Sejak membeli Kymco Free-Ex ini, saya sudah memakainya untuk keliling Pemalang-Pekalongan-Tegal sewaktu masih aktif sebagai relawan alias kurir Sedekah Rombongan. Kalau cuma ke Kota Pekalongan atau Kota Tegal kota sih sering, tidak terhitung. Masuk ke berbagai daerah pelosok jauh dari keramaian di Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Tegal, juga tentu saja Pemalang, saya selalu mengandalkan si Kymco oranye ini.

Baca juga: Indra Destriawan, Inspirasi dari Pelosok Batang

Kymco Free-Ex Eko Nurhuda

Bersiap berangkat ke masjid bersama Kymco Free-Ex kesayangan.

Pernah sekali waktu di penghujung tahun 2013 saya bawa skuter ini touring Pemalang-Jogja-Solo PP. Sama sekali tidak ada masalah. Hanya sedikit kesulitan menanjak ketika melewati satu tikungan naik nan memutar dalam jalur Limpung-Bawang. Itu pun lebih karena saya yang tak paham jalur sehingga telat mengambil ancang-ancang.

Sebelum saya bawa touring ke Jogja-Solo, oleh kakak ipar yang lain sepeda motor ini pernah pula dibawa ke Jakarta PP. Tapi, ah, apalah artinya Pemalang-Jakarta PP ataupun Pemalang-Solo PP kalau Kymco pernah memecahkan rekor MURI dengan touring Jakarta-Bali-Jakarta non stop selama 150 jam pada 2005?

Mengaspal selama 15 tahun dan hanya sekali bongkar mesin, itupun lebih disebabkan kelalaian pengguna yaitu saya, tanpa ragu saya memberi kesaksian bahwa mesin Kymco sungguh berkualitas. Mesinnya bandel!

Perawatan Cukup Ganti Oli

Dengan mesin sebandel itu Kymco Free-Ex ini tidak butuh perawatan macam-macam. Saya hanya perlu ganti oli secara berkala dengan disiplin. Hitungannya bukan setiap bulan sekali ya, tapi setiap telah menempuh jarak beberapa ribu kilometer.

Umumnya pabrikan sepeda motor menganjurkan pengguna untuk ganti oli setiap 2.500–3.000 km. Namun saya biasanya sudah mengganti oli di Kymco kesayangan ini jika mesinnya mulai berbau tidak sedap, lalu keluar asap tipis dari knalpot. Karena saya sudah jarang bepergian jauh tahun-tahun belakangan ini, jadwal ganti oli biasanya tiap 2-3 bulan sekali.

Karena saya bisa ganti oli sendiri, biaya perawatan Kymco Free-Ex ini praktis hanya harga oli. Selama ini saya pakai satu merek oli yang terakhir beli, bulan lalu, harganya Rp36.000. Jadi, biaya perawatan tiap 2-3 bulan selalu di bawah Rp50.000. Dalam setahun paling banyak Rp200.000. Murah sekali, bukan?

Oya, karena ini motor keluaran lama, maka pajak tahunannya juga sangat murah. Kebetulan sekali Sabtu (18/01/2020) lalu baru saja dibayar pajak untuk tahun 2019, dan hanya dikenai tarif total Rp72.500. Rinciannya, Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) Rp37.500 dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) Rp35.000.

Harga pasaran Kymco Free-Ex

Salah satu laman penjualan Kymco Free-Ex di OLX Indonesia.

Dari besarnya pajak yang ditagihkan ini, bisa dihitung berapa Kymco Free-Ex saya ini dihargai oleh negara. Besaran PKB adalah 1,5% dari nilai kendaraan bermotor. Dengan demikian, jika PKB yang ditagih adalah Rp37.500, sepeda motor Kymco Free-Ex saat ini dihargai senilai (Rp37.500/1,5%) = Rp2.500.000.

Tapi itu bukan harga pasaran lho. Di situs jual-beli kendaraan online, Kymco Free-Ex bisa dihargai 2-3 kali lipatnya. Contohnya di OLX, di mana satu penjual asal Bandung menawarkan varian yang persis punya saya ini seharga Rp6.500.000. Kendaraan ini sudah tergolong sepeda motor retro yang tak kalah banyak penggemarnya.

Bagaimana dengan konsumsi bahan bakar? Menurut saya sih standar, meski sedikit di atas rata-rata tapi cenderung tidak boros. Untuk perjalanan Pemalang-Jogja-Solo PP (plus mampir ke kampung sablon di Kecamatan Wedi, Klaten; dan ke Kesesi, Kab. Pekalongan), motor ini empat kali diisi full tank. Yakni saat berangkat di Pekalongan dan Temanggung, lalu sekali diisi di pom bensin pinggir jalan lintas Jogja-Solo, dan saat pulang diisi di kawasan Tempel-Sleman.

Kapasitas tangki bensin 4 liter lebih sedikit, jadi katakanlah empat kali isi full tank itu 4 x 4,25 lt. Totalnya 17 lt. Oya, itu saya tidak hanya jalan PP ya. Total saya touring selama 4 hari, sehingga juga sempat berputar-putar Jogja, putar-putar Solo, dan di Wedi juga diajak ke beberapa tempat oleh tuan rumah.

Adapun kini, ketika setiap hari hanya saya pakai untuk dua kali ke masjid tiap Dzuhur dan Ashar (masing-masing sekali pergi-pulang sekitar 1km), mengantar anak ke tempat mengaji (PP sekitar 2km), ditambah beberapa hari sekali ke pasar dan Indomaret (setiap perjalanan berkisar 1-2 km PP), konsumsi bensinnya kurang dari seliter sepekan.

Itulah dia kisah tunggangan saya selama di Pemalang, si oranye nan bandel Kymco Free-Ex. Ini bukan tulisan bersponsor ya. Saya tidak mendapatkan bayaran atau hadiah apapun dari pemegang merek untuk menulis posting ini. Kisah ini murni testimoni saya sebagai pengguna Kymco Free EX.

Semoga bermanfaat.

Catatan: Di bawah ini salah satu video di kanal YouTube saya di mana saya tampil mengendarai Kymco Free-Ex.

About Eko Nurhuda (359 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

11 Comments on Kisah skuter matik Kymco Free-Ex 15 tahun mengaspal nyaris tanpa cela

  1. saya ada juga kymco free ex 2005 (SG20 RA), warna biru, jarang dipake, kilometer masih belasan ribu.. haha..

    kelebihan lainnya :
    – deknya muat galon..
    betul-betul muat galon air.

    – ada sandarannya, lumayan kalo punggung lagi pegel bisa bersandar.

    ada juga satu kekurangannya, lampu kurang terang, reflektornya sekitar bohlam jadi hitam kena panas lampu bohlam.
    solusinya ganti LED projektor. hehe

    Suka

    • Nah, iya ini bener banget hahaha. Paling terbantu kalau mau bawa-bawa barang besar, karena baik dek kaki maupun bagasi super lega. Terus sandaran yang sebetulnya jok belakang itu membantu banget waktu bepergian jauh.

      Warna biru ya? Penasaran kaya apa bentuknya.

      Suka

  2. wuih iya ya, kayak petugas kantor pos, hahaha…
    keren sih motornya, bisa awet 15 tahun.
    aku ada motor revo, mulai 2010.
    bertahan 10 tahun aja aku kagum loh
    apalagi yang 15 tahun
    awet bener dah

    Suka

    • Cuma emang harus tahan bully, utamanya di lampur merah. Soalnya jadi pusat tatapan aneh orang-orang. Kalo yang ngerti motor pasti nanya, kaya salah satu petugas pom bensin langganan yang tahu banget ini matic pertama di Indonesia. Yang lainnya sih malah ngira ini motor baterai, hehehe.

      Suka

  3. Mantap. Kumplit sekali testimoninya. Diajuin buat jadi endorse juga lolos ini 🙂

    Suka

  4. duh suka banget sama warna oren, menarik 😀

    Suka

  5. Aku ingat temen kosku punya motor pabrikan Cina juga, mereknya SupraZ waktu berjayanya Honda Supra X dan variannya. Memang murah karena ayahnya beli dari royalti buku, 6 jutaan saja dapat baru. Bandel di awal tapi ga bisa bohong. Mesinnya kasar, ga kuat nanjak.

    Kalau Kymco, ada teman kantor asal Jepara yang pakai juga. Sayang, mungkin lantaran perawatan yang jabrah, pemakainya cewek, jadilah cepat rusak. Beruntung Bung Eko dapat Kymco yang bermutu. Mantab, 15 tahun!

    Suka

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: