Highlight:

Cara saya hasilkan omset belasan juta rupiah bermodal blog gratisan + nama domain

Cara saya hasilkan omset belasan juta rupiah bermodal blog gratisan + nama domain

PERNAH dengar istilah blogstore? Wajar kalau belum. Searching di Google sekalipun nggak akan ketemu definisi dari kata ini, maupun artikel yang membahas mengenai hal tersebut. Pendek kata, ini istilah yang masih tergolong asing. Namun, berkat sebuah blogstore yang dibuat dengan blog gratisan + nama Domain murah, saya (pernah) meraup omset belasan juta rupiah sebulan.

Saya pertama kali mendengar istilah ini dari seorang kawan sesama blogger. Mundur jauh ke tahun 2008 saat kami masih sering berkirim SMS dan chat membahas berbagai hal seputar dunia online. Dalam satu kesempatan ia mencetuskan istilah blogstore, yang ia jelaskan secara ringkas sebagai, “toko online tapi pakai blog.”

Masa itu belum banyak yang mengalih-fungsikan blog sebagai toko online. Lalu sejumlah layanan shopping cart melakukan inovasi, sehingga dapat dipasang di blog berbasis WordPress. Diikuti dengan pengembang theme menyediakan tema-tema online shop. Mulailah bermunculan situs-situs jualan yang aslinya merupakan blog berbasis WordPress.

Medio 2009, saya tertarik berjualan uang lama secara online. Ketertarikan ini berawal dari seringnya saya nongkrong di Pasar Klithikan, Yogyakarta, untuk keperluan liputan di koran lokal tempat saya magang. Cerita seorang pedagang senior di sana membuat saya ingin mencicipi manisnya profit dari bisnis uang kadaluwarsa ini.

Sampeyan ambil sama saya Rp7.500 selembar, nanti dijual Rp10.000 kan sudah untung Rp2.500 selembar. Wis lumayan iku,” kata Pak Wishnu Murti, nama pedagang tersebut.

“Orang nggak mungkin cuma beli selembar. Untuk mahar paling sedikit belinya 3-4 lembar. Dapat untung Rp10.000 sekali transaksi, dikali sekian transaksi per hari, lumayan lho,” tambah Pak Wishnu lagi.

Saya mengangguk setuju. Di ambang kelulusan kuliah, meski dapat tawaran bergabung dari koran tempat saya magang, tak ada salahnya kalau saya juga berdagang. Toh, bisa berdagang online. Dan perkenalan dengan Pak Wishnu seolah memperlebar kesempatan tersebut.

Kesempatan ini harus diambil!

Pak Wishnu masuk koran Keddaulatan Rakyat

Pak Wishnu Murti sebagai narasumber di salah satu liputan Kedaulatan Rakyat. Beliau pula narasumber saya ketika meliput tentang numismatik 10 tahun lalu, serta yang kemudian “menceburkan” saya ke dunia numismatik. FOTO: Facebook/Wishnu Murti

Modal Blog Gratis

Kembali ke kos di kawasan Jl. Kusumanegara, saya langsung merancang apa yang selanjutnya harus dilakukan untuk mengeksekusi rencana berjualan uang lama. Saya ambil kertas kosong dan pena, lalu mulai mencoret-coret. Dimulai dengan apa yang saya butuhkan sebagai modal awal, kemudian apa langkah pertama untuk mengawali usaha ini.

Sejak awal saya sudah berniat untuk berjualan secara online. Karenanya saya musti membangun toko online. Lihat sana-sini, jasa pembuatan toko online yang sangat sederhana dibanderol lebih dari Rp1.000.000. Itu hanya toko online untuk memajang barang, dengan ini-itu yang serba dibatasi, fitur andalannya hanya update stok otomatis. Pembeli masih harus mengontak kita lewat telepon/SMS untuk memesan.

Kalau mau yang full otomatis di mana seluruh transaksi pembelian ditangani sistem, biaya pembuatannya bikin kepala cenut-cenut. Kalau mau sih uangnya ada. Tapi saya pikir-pikir lagi, ketimbang untuk buat web begitu mending uangnya dipakai kulakan barang.

Mau membuat toko online berbasis blog WordPress, saya juga dibuat mundur teratur oleh harga theme, harga shopping cart, serta biaya hosting bulanannya. Apalagi saat itu saya awam sekali dengan WordPress dan seluk-beluk hosting.

Apa akal? Saya lantas teringat Blogspot. Bertahun-tahun saya akrab dengan platform blog satu ini. Bagaimana kalau coba membuat toko online menggunakan engine ini saja? Karena saya paham betul Blogger.com, yang perlu saya pikirkan selanjutnya hanyalah nama domain, template, serta konten berupa artikel dan foto.

Setelah googling sana-sini, rupanya sudah ada yang memanfaatkan Blogspot sebagai landing page untuk berjualan. Sejumlah perancang blog malah menjajakan template-nya seharga mulai Rp350.000. Meski tak bisa dibilang murah untuk ukuran saat itu, namun harga tersebut masih wajar. Tapi lagi-lagi saya tidak tertarik.

Saya tidak berminat membuat landing page. Saya ingin membuat blog seperti pada umumnya blog. Bedanya, saya sediakan satu halaman khusus untuk memajang foto-foto dagangan. Jadi konsepnya adalah blog dengan konten artikel-artikel seputar uang lama dan numismatik, kemudian kalau ada yang tertarik membeli tinggal klik halaman berisi daftar barang yang disediakan.

Blog uanglama.com Juni 2009

Tampilan blog uanglama.com di bulan pertamanya, 28 Juni 2009. Screen capture diambil dari WebArchive.org.

Bukan tanpa alasan saya menginginkan konsep tersebut. Dari beberapa teman saya belajar banyak tentang search engine optimization (SEO), atau menurut saya lebih tepat disebut Google Optimization (GO). Pintu masuk pengunjung adalah mesin pencari, Google, jadi saya harus bisa menempatkan blog di halaman awal Google.

Google suka sekali dengan blog atau situs yang kaya artikel. Untuk itulah saya musti membuat blog yang search engine friendly, dan terus memperbaharuinya dengan artikel-artikel baru secara teratur. Karena saya menulis tentang uang lama dan numismatik, tentunya pengunjung yang datang ke blog adalah orang-orang yang membutuhkan atau memiliki minat pada uang lama.

Nah, pengunjung-pengunjung inilah calon pembeli potensial saya. Semakin banyak pengunjung, maknanya saya memiliki semakin banyak calon pembeli. Konsep ini sama seperti yang dipakai oleh mal-mal di kota-kota besar. Tarik pengunjung dengan berbagai fitur dan fasilitas, bikin mereka betah, serta sediakan apa-apa saja yang sekiranya mereka butuhkan.

Nama Domain sebagai Merek

Oke, kemudian saya pun membuat sebuah blog baru di Blogger.com. Gratis. Agar terkesan serius dan dapat dipercaya, saya membeli nama domain .com. Selain itu, tujuan tak kalah penting dari pembelian top level domain (TLD) tersebut adalah sebagai senjata utama dalam memenangkan pertarungan di mesin pencari. Di Google.

Kalau saya bisa membeli nama domain dengan kata kunci yang sesuai dengan tema artikel-artikel dalam blog, serta produk-produk yang saya tawarkan, insya Allah blogstore yang saya rintis berjalan sesuai harapan.

Satu hal lagi, nama domain tersebut sekaligus sebagai merek bisnis. Saya ingin ketika orang bertanya-tanya, “Cari uang lama buat mahar atau koleksi di mana ya?” Maka mereka akan langsung teringat blogstore saya. Karenanya nama domain tadi harus spesifik menjelaskan apa yang saya jual.

Cari punya cari, saya beruntung sekali mendapatkan nama domain uanglama.com. Benar-benar rejeki nomplok. Jadi klop sudah. Blognya tentang uang lama, jualannya uang lama, nama domain yang cocok tentu saja uanglama.com. Ini sekaligus keyword penting untuk bertarung di Google.

Hanya dalam beberapa puluh menit blogstore itu pun jadi. Lalu beberapa jam kemudian nama domain uanglama.com sudah terintegrasi dengan baik ke blog tersebut. Langkah terakhir yang harus saya lakukan adalah mengisinya dengan tulisan, foto-foto, dan tentu saja daftar barang dagangan.

Tumpukan amplop siap kirim

Tumpukan amplop berisi pesanan uang lama, siap dikirim melalui JNE. FOTO: Dok. pribadi

Singkat cerita, saya mulai berjualan uang lama dengan sebuah blog gratis yang diberi nama domain .com. Modal uang yang saya keluarkan hanya sebesar Rp95.000 untuk membeli nama domain. Selebihnya akses internet yang sudah dibayar bulanan, serta tenaga dan waktu untuk menyiapkan blog tersebut.

Untuk barang dagangan, Pak Wishnu berbaik hati membantu saya. Sebenarnya ya sekaligus membantu beliau juga sih. Saling menguntungkanlah. Saya dipersilakan mengambil barang-barang dari beliau dengan sistem konsinyasi, dibayar kalau sudah laku. Artinya, saya menyetok barang dengan modal kepercayaan saja.

Sesampainya di kos, uang-uang lama yang saya bawa dari lapak Pak Wishnu di Pasar Klithikan saya foto satu-satu. Depan-belakang, atau istilah numismatisnya observe dan reverse. Kemudian saya catat baik-baik ciri-ciri fisik serta deskripsi masing-masing uang, untuk selanjutnya diunggah di blog.

Saya buat satu posting khusus untuk masing-masing uang. Misalnya koin Rp1 tahun 1970 yang merupakan dagangan terlaris. Posting tersebut berisi foto depan-belakang, lalu beberapa paragraf tentang ciri-ciri fisiknya, deskripsi singkat, serta tentu saja tautan ke halaman produk.

Saya juga menulis beberapa artikel bertema numismatik untuk menaikkan posisi blog di Google. Beruntung saya punya bahan berlimpah sekali untuk menulis banyak artikel. Selain hasil wawancara dengan Pak Wishnu dan beberapa kolektor lokal Jogja, saya menyimpan print out referensi berbahasa Inggris yang didapat dari internet.

Semua itu saya olah menjadi bermacam-macam tulisan terkait uang lama dan numismatik. Ada tulisan tentang profil kolektor (misalnya profil Bapak Soegiarto, Rajanya Koin Kuno), seputar grading uang lama, tips membeli uang lama, seri tulisan tentang Banknote of the Year, dan masih banyak lagi.

Satu tulisan favorit saya adalah mengenai profesi perancang uang alias delinavit–satu profesi yang tak banyak diketahui, yang dapat dibaca pada artikel Mengenal Perancang Uang. Istilah terkininya adalah banknote engraver.

Daftar kiriman pesanan uang lama

Saya memperlakukan usaha ini dengan sangat serius. Semua pesanan yang sudah terkirim saya catat dengan rapi seperti ini. FOTO: Dok. pribadi

Omset Belasan-Puluhan Juta

Sebagaimana dapat diintip pada laman Web Archive, uanglama.com sudah online sejak awal Juni 2009. Nama domainnya sendiri saya daftarkan pada 3 Juni 2009. Saya ingat betul, pembeli pertamanya adalah seorang calon pengantin di Kalimantan. Ia mencari uang Rp9 untuk mahar.

Nilai transaksi pertama itu tak sampai Rp50.000, dengan marjin sekitar Rp30.000. Sedangkan nett profit-nya kisaran Rp15.000. Sangat lumayan sebagai permulaan. Sebagai perbandingan, di tahun tersebut saya masih bisa membeli nasi sayur lauk telur goreng atau ikan ukuran sedang seharga Rp2.000.

Lalu order demi order berdatangan. Semua pembeli tersebut masuk ke blogstore saya lewat Google. Rata-rata mencari uang mahar, tapi tak sedikit pula yang mencari uang-uang mistis untuk pesugihan. Sebagian kecil lainnya adalah kolektor yang memburu uang-uang berkelas. Jenis terakhir ini memang jarang mampir, tapi sekali ada yang belanja bisa mendatangkan transaksi jutaan rupiah.

Transaksi besar pertama saya dibukukan tak sampai sebulan berselang. Seorang kolektor pemula di Jakarta membeli sejumlah uang lama dengan total pembelian sejuta rupiah lebih sedikit. Yang menarik, pernah saya melayani transaksi senilai Rp 8 juta di mana sebagian besar uang lama yang dibeli bukan punya saya, tapi saya carikan ke Pak Wishnu serta beberapa rekan kolektor lain.

Semenjak itu bisnis jual-beli uang lama saya semakin berkembang. Dari sekedar penasaran ingin mencoba, saya lantas tenggelam dalam keasyikan berburu uang lama untuk diperdagangkan. Dari awalnya hanya bermodal barang konsinyasi dari Pak Wishnu, saya punya satu lemari kecil khusus untuk menyimpan stok dagangan.

Saya masih terus mengambil barang di Pak Wishnu, namun juga membuka jaringan dengan pedagang/kolektor lain di Klaten, Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Malang demi menjamin ketersediaan stok. Sebab terkadang saya sudah terlanjur menerima pesanan, tapi saat mengambil barangnya di lapak Pak Wishnu ternyata stok kosong.

Paket mahar Rp12

Salah satu inovasi saya, menawarkan paket-paket uang mahar berbagai kombinasi nominal sesuai angka tahun. FOTO: Screenshot laman WebArchive

Melihat tren, saya membuat inovasi sederhana: menyediakan paket-paket uang lama dengan nominal sesuai tahun. Karena waktu itu tahun 2009, saya membuat Paket Rp9 atau Paket 9 Rupiah dengan bermacam-macam kreasi. Ada yang berupa sekeping koin Rp10 dan Rp5 ditambah dua keping Rp2, ada pula versi kertas berisi Rp10, Rp5 dan empat lembar Rp1. Paket yang lain berisi Rp10 dan sembilan lembar Rp1.

Paket-paket tersebut terus saya lanjutkan pada tahun-tahun berikutnya. Tahun 2010 saya sediakan Paket Rp10, tahun 2011 saya sediakan Paket Rp11, dan seterusnya. Pada perkembangannya, paket-paket seperti ini yang mendominasi penjualan. Malah di tahun-tahun setelahnya saya semakin jarang melayani pembelian uang koleksi.

Tahun demi tahun berjalan, saya berusaha konsisten meng-update lapak dagangan tersebut dengan konten-konten baru. Tujuannya tentu saja agar tetap “diingat” Google. Terkadang saya isi dengan tulisan-tulisan ringan, lalu lain saat membahas sejarah uang tertentu. Sumber tulisannya mulai dari hasil obrolan dengan sesama pedagang, sampai artikel di web-web numismatik asing.

Ini bukanlah bisnis besar. Nyatanya saya belum bisa naik haji. Namun omset rata-rata yang dibukukan setiap bulan berkisar Rp 7-10 juta rupiah. Dari angka itu saya bisa mendapat nett profit antara Rp 3-4 juta rupiah. Jumlah yang banyak untuk ukuran Pemalang, tempat saya menetap setelah meninggalkan Jogja pada medio 2010. Puncaknya, uanglama.com pernah membukukan omset sebesar Rp 20 juta lebih selama beberapa bulan di awal 2013.

Bagian paling menariknya, saya masih menggunakan blog gratis di Blogspot saat mencapai angka penjualan sebesar itu. Sungguh tak terbayangkan sebelumnya jika blog sederhana yang modal pembuatannya hanyalah nama domain seharga Rp95.000, bisa mendatangkan omset hingga belasan-puluhan juta.

top level domain

Berkembang berkat Nama Domain

Dari cerita panjang lebar ini, satu saja yang dapat digarisbawahi: meski bermodal cekak, serta memanfaatkan blog gratisan sebagai platform berjualan, usaha saya tetap dapat berkembang berkat memakai nama domain. Lebih tepatnya lagi, memilih nama domain yang sesuai.

Sebegitu berpengaruhnya kah nama domain?

Tentu saja! Ingat, orang mencari informasi melalui mesin pencari dan utamanya Google. Sistem algoritma Google menampilkan suatu situs di halaman hasil pencarian berdasarkan kata kunci yang cocok dengan isi blog tersebut. Nah, kata kunci pada nama domain memiliki nilai berlipat-lipat.

Itu sebabnya ketika mencari nama domain untuk blogstore uang lama yang saya ceritakan di sini, saya menyiapkan beberapa opsi yang kesemuanya mengandung kata kunci “uang lama”. Pilihan pertama dan utama tentu saja uanglama.com. Lalu pilihan berikutnya adalah jualuanglama.com, tokouanglama.com, maharuanglama.com, dan beberapa lainnya yang sudah saya lupa.

Beruntung sekali saat itu nama domain uanglama.com masih tersedia. Tanpa pikir panjang langsung saja saya amankan. Inilah yang kemudian menjadi semacam jimat saya dalam mengembangkan usaha jual-beli uang lama.

Apakah harus .com? Tidak juga. Hanya saja ini ekstensi paling tua, sehingga menjadi yang paling dikenal oleh pengguna internet di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri masih banyak yang berpandangan kalau situs itu sudah pasti .com. Mereka sulit mengingat ekstensi lain, sebab tidak familiar.

Baca juga: Keunggulan menggunakan Top Level Domain .net/.com sebagai identitas blog

Keuntungan lain, karena paling banyak digunakan dan target pasarnya sudah cenderung memasuki fase sunset, harga nama domain .com lebih terjangkau. Ambil contoh harga domain di Rumahweb.com yang dibanderol Rp125.000/tahun. Bagi 12 bulan, itu artinya kita hanya perlu membayar Rp10.416,66 setiap bulan.

Amat. Sangat. Murah. Sekali.

Populer dan harga terjangkau, itu kombinasi yang tidak dapat ditolak. Kuncinya tinggal pintar-pintar kita dalam memilih nama domain yang cocok dengan tema blog, situs, maupun toko online. Selanjutnya, rajin-rajinlah memperbarui blog/situs tersebut dengan konten-konten baru secara berkala agar selalu dalam pantauan robot Google.


Sedikit tips dari saya bagi teman-teman semua yang ingin berjualan online:

(1) Buat sebuah blog yang berisi tulisan-tulisan terkait produk yang dijual. Kalau produknya ada banyak macam? Tentunya kesemua produk tersebut ada kaitannya, bukan? Misalnya kamu berjualan hijab, khimar, gamis, tunik, ciput, maka itu semua dapat dicakup dalam satu tema besar: pakaian muslimah atau baju muslimah.

(2) Cari dan beli nama top level domain (diutamakan .com dan .net) yang mengandung kata kunci sesuai produkmu. Misalkan kamu ingin menembak kata kunci “baju muslimah”, maka nama domainmu musti mengandung frasa tersebut. Variannya bisa bajumuslimah.com, tokobajumuslimah.com, bajumuslimahmurah.com, dll.

(3) Update blog dengan konten baru secara berkala. Idealnya sehari satu tulisan, tapi sekali sepekan juga tidak jadi masalah. Yang terpenting teruslah menerbitkan konten baru tanpa pernah absen sekalipun.

(4) Kalau dulu saya harus memodifikasi blog menjadi toko online, sekarang ada banyak sekali marketplace yang dapat dimanfaatkan untuk berjualan. Lebih praktis dan serba otomatis pula. Jadi, strateginya adalah: jadikan blog sebagai penarik calon pembeli, lalu alirkan trafik pengunjung tersebut ke marketplace-mu.

(5) Tentu saja kamu juga boleh membuat satu halaman khusus di blog yang memajang seluruh produk, atau dibagi-bagi menjadi beberapa halaman berdasarkan kategori, lalu cantumkan kontak. Ini akan lebih menyita waktumu karena proses transaksi berlangsung secara tradisional, tapi interaksi personal dengan pembeli itu sebuah pengalaman yang tak ternilai. Layak dicoba.

Sangat mudah sekali, bukan? Dari kelima poin tersebut, nama domain menjadi kunci penting dalam keberhasilan memenangkan persaingan di halaman hasil pencarian. Karenanya, jeli-jelilah dalam memilih nama domain.

Semoga bermanfaat!

Catatan: Karena satu alasan, saya berhenti total berjualan uang lama pada medio 2016. Tapi uanglama.com tetap ada kok. Sementara ini saya mengubahnya menjadi blog numismatik. Target ke depan, saya ingin menjadikannya sebagai katalog online uang lama Indonesia. Sebuah pekerjaan besar yang saya harapkan rampung di akhir 2020. Minta doa dan dukungannya ya.

Beri tip untuk blog ini
About Eko Nurhuda (361 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

4 Comments on Cara saya hasilkan omset belasan juta rupiah bermodal blog gratisan + nama domain

  1. Wah, ternyata menjanjikan keuntungan bisnis jualan uang lama ya Mas. Kenapa tidak digarap lagi? Memang sekarang era serbadigital, jualan apa saja wajib punya website atau blog yang berbayar agar tampak profesional dan hasilnya bisa diukur. Jadi bloger aja bisa kaya raya, padahal cuma berbekal domain dan hosting. Aku jadi pengin beli domain lagi buat monetize di blog satu lagi. Bismillah, semoga terwujud! Sukses terus, Mas Eko!

    Suka

1 Trackback / Pingback

  1. Bisnis online makin berkembang dengan payment gateway Indonesia – bungeko.com

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: