Iklan
Highlight:

Menebar manfaat dengan YouTube dan ASUS VivoBook Ultra A412DA

ASUS VivoBook Ultra A412DA

SUATU hari di awal 2018, Mas Abud Furqon karib saya di Pekalongan Peduli datang ke rumah. Wajahnya lesu, matanya menyiratkan kegalauan. Saya segera membatin, pasti ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai rencana. Benar saja, salah satu “proyek amal” kami tengah bermasalah.

November 2017, kami dengan nama Pekalongan Peduli merencanakan bedah rumah salah satu keluarga dhuafa di Kec. Petarukan, Pemalang. Sebelumnya Mas Furqon telah melakukan serangkaian survei, dan memutuskan rumah keluarga tersebut layak dibedah. Saya mengiyakan dan rencana pun kami susun.

Hitung punya hitung, kami butuh anggaran Rp 10 juta kurang sedikit. Kami beruntung karena rumah yang akan dibedah tidak memerlukan banyak perombakan. Pondasi batunya masih oke, hanya dinding dan atapnya yang butuh direhab. Serta mempercantik kamar tidur dan dapur. Kami ajak si empunya rumah berunding, menyepakati bagian mana saja yang musti ditangani dan material apa yang sebaiknya digunakan sesuai budget.

Kami pun merogoh kantong, mengedarkan proposal bantuan ke sana-sini. Alhmdulillah, dana terkumpul meski kurang sedikit dari yang dianggarkan. Dengan optimis Mas Furqon mengeksekusi proyek tersebut.

Bedah rumah rumah berjalan lancar sesuai rencana. Meleset beberapa hari dari target sih, tapi kami anggap masih bisa ditoleransi. Hanya saja rupanya pengeluaran kami membengkak jauh melebihi anggaran. Dengan kata lain, kami musti nombok dan itu tidak bisa dibilang sedikit.

Mas Furqon lantas berkisah masih ada tunggakan beberapa juta di toko material. Ia menyebut ada biaya tambahan yang tak masuk anggaran, yakni ongkos tukang. Awalnya Mas Furqon optimis tetangga kanan-kiri keluarga yang rumahnya kami bedah mau bergotong royong hingga selesai. Nyatanya hanya sehari saja warga sekitar mau membantu. Hari kedua dan berikutnya kami musti membayar empat orang agar renovasi terus berjalan.

Satu orang dibayar Rp100.000/hari, maka untuk keempatnya ada anggaran tambahan sebesar Rp400.000 sehari. Ditambah lagi waktu pengerjaan molor beberapa hari dari target semula yang hanya 7-10 hari. Setelah kelimpungan ke sana-sini menebar proposal lagi, tambahan dana yang didapat rupanya tak seberapa. Beruntung sekali pemilik toko material berbaik hati memberi kelonggaran.

Tanggungan ini baru dapat diselesaikan beberapa bulan setelahnya, dengan pembayaran yang dicicil sebanyak 4-5 kali belum termasuk kunjungan-kunjungan sela demi meminta tambahan tempo. Sebuah pengalaman yang lantas membuat agenda bedah rumah berikutnya kami tunda entah sampai kapan.

khitan massal Pekalongan Peduli

Membuat sumber pendanaan mandiri

Menggalang dana melalui proposal masih jadi andalan utama Pekalongan Peduli setiap menggelar kegiatan. Sebagian sukses mendapat dana penuh, sebagian lagi musti kami tombok, ada pula yang terpaksa dibatalkan karena dana yang terkumpul tak sesuai harapan. Contohnya event Jambore Anak Yatim III yang sedianya digelar usai Ramadan tahun lalu.

Dari mulanya dirancang usai Ramadan (Juni 2018), lalu dijadwal ulang pada Muharam (September 2018), acara akhirnya baru bisa terselenggara pada pergantian tahun. Itu pun karena jumlah peserta dikurangi, dan Pekalongan Peduli mendapat bantuan tempat meski “hanya” berupa lapangan terbuka.

Dua momen tersebut lantas membuat saya berpikir. Tidak bisa selamanya aksi-aksi kami digerakkan dengan mengandalkan kemurahan hati donatur semata. Kami musti punya cara lain untuk menghasilkan dana, lebih baik lagi jika dapat mandiri. Sehingga tidak bergantung pada siapapun juga apapun ketika menggerakkan sebuah program.

Saya seorang content creator di YouTube, selama beberapa tahun terakhir menghidupi keluarga dengan penghasilan dari YouTube. Hal ini membuat satu ide terbersit: membuat channel YouTube khusus yang seluruh penghasilannya menjadi sumber pendanaan Pekalongan Peduli. Saya rasa ini ide bagus.

Konsepnya sederhana saja. Channel khusus ini akan saya isi video-video bertema sosial, sesuai dengan jalur gerakan Pekalongan Peduli. Saya telah memiliki beberapa rancangan video sebagai konten, dan saya yakin tayangan semacam itu memikat banyak pemirsa.

Banyak penonton artinya banyak tayangan iklan, dan itu linier dengan jumlah pendapatan. Semakin banyak penonton tentunya semakin baik karena itu berarti meningkatnya pendapatan. Dengan kata lain, kami punya kas tiap bulan untuk menjalankan program-program rutin tanpa harus menyebar proposal lagi.


Dari pengalaman selama ini, hanya butuh secara total kisaran 2-3 juta tayangan sebulan agar sebuah channel menghasilkan pendapatan rutin minimal Rp 5 juta. Tidak banyak memang. Tapi setidaknya ini lebih dari cukup untuk mendanai aksi bagi-bagi nasi gratis yang kami adakan setiap Sabtu malam. Bahkan rasanya masih ada kelebihan yang dapat dibelikan kursi roda bagi orang-orang seperti Bu Luruh (video di atas).

Seiring meningkatnya jumlah penonton dan pelanggan (subscriber), penghasilan lebih banyak dapat diterima di masa mendatang. Selain dari program kemitraan YouTube, kami berpeluang mendapat sponsorship dengan pihak ketiga. Bisa jadi rumah makan yang pernah kami jadikan tempat Makan Bareng Anak Yatim beberapa bulan lalu tertarik jadi sponsor. Atau rumah sakit langganan, atau merek semen yang kami pakai dalam bedah rumah. Lumayan, bukan?

Apakah metode ini akan berhasil? Coba lihat channel MrBeast. Sekelompok pemuda yang menggawangi channel tersebut memakai konsep serupa. Mereka membuat video viral, menghasilkan pendapatan dari iklan dan brand deals, lalu uangnya dibagikan ke orang-orang yang menurut mereka layak dibantu–waitress, tunawisma, rumah singgah.

Aksi mereka saat membagi-bagikan uang dan donasi direkam, kemudian diolah menjadi video YouTube. Video-video tersebut lantas viral lagi, memberikan pendapatan lagi, dan ketika cair dibagi-bagikan lagi. Begitu seterusnya sehingga tercipta satu lingkaran unik.

Saya menyebutnya sebagai lingkaran kebaikan. Laman resmi YouTube mengelompokkan kanal semacam ini dalam YouTube Social Impact. Selaras dengan kampanye Creators for Change yang terus digalakkan demi mewujudkan YouTube sebagai media penebar manfaat positif bagi kemanusiaan. MrBeast telah berhasil menjalankan konsep itu. Saya yakin sekali Pekalongan Peduli pun dapat menduplikasinya.

Kelak, antara optimis dan berharap, saya bayangkan Pekalongan Peduli tak perlu lagi mengedarkan proposal untuk melakukan khitan massal atau pengobatan gratis (anggaran berkisar Rp 2-3 juta) tiap bulan, bedah rumah (Rp 10-15 juta) setiap beberapa bulan, maupun mempertahankan program tahunan Jambore Anak Yatim yang pada event terakhir menghabiskan dana sebesar Rp 25 juta.

makan bareng anak yatim Pekalongan Peduli

Butuh perangkat mumpuni

Saya diskusikan kemungkinan ini dengan Mas Furqon dan ia tidak kesulitan untuk menyetujuinya. Saya pun segera menyulap satu channel yang lama dianggurkan untuk keperluan ini.

Saya sudah punya kamera DSLR yang tentunya bakal sangat dibutuhkan dalam pembuatan video. Saya juga memegang satu smartphone merek ternama yang kualitas gambarnya sangat oke sebagai perangkat tambahan. Ada pula satu boom microphone plus beberapa lavalier mic agar kualitas audio lebih jernih.

Jadi, untuk urusan pengambilan gambar menurut saya sudah tidak ada masalah. Masalahnya adalah, demi meng-handle tugas mulia ini saya butuh laptop lebih baik. Selama ini saya mengedit video menggunakan laptop berprosesor AMD A10 dengan RAM 4GB. Terhitung pas-pasan menurut standar program editing video yang saya gunakan.

Kartu grafisnya juga tak terlalu bagus. Membuat laptop seringkali macet-macet ketika mem-preview video yang tengah saya edit. Efek lain yang tak kalah mengganggu, proses render/export video tidak dapat dilakukan dengan cepat karena spefisikasi semenjana ini.

Akibat turunannya adalah saya tidak dapat memproduksi video dengan cepat. Ini tentu bakal menghambat saya yang kelak musti menangani beberapa channel. Satu yang telah berjalan sebagai sumber nafkah keluarga selama ini, satu channel pribadi sebagai personal branding, dan channel khusus yang direncanakan sebagai sumber pendanaan Pekalongan Peduli.

Khusus channel yang disebut terakhir, di awal-awal saya musti sering mengunggah video baru sesering mungkin. Ini mutlak dilakukan demi menggenjot jumlah pelanggan (subscriber) dan watch time yang dipersyaratkan ketika mendaftar YouTube Partner Program. Itu artinya, saya wajib membuat sebanyak mungkin video agar kanal ini cepat berkembang sebelum dapat penghasilan rutin bulanan.

Kendalanya adalah, lagi-lagi, saya butuh perangkat yang jauh lebih baik dari yang sekarang ada guna mendukung rencana ini.

AMD Ryzen 7 3700U

FOTO: digitaltrends.com

Upgrade ke AMD Ryzen

Saya jadi berandai-andai punya laptop super. Laptop dengan prosesor AMD generasi terbaru, RAM selega mungkin, kartu grafis mutakhir, serta ruang penyimpanan berbasis SSD. Amboi, sudah terbayang betapa cepatnya mengedit video demi video memakai laptop serupa itu.

Eh, kok ya kebetulan sekali belum lama ini ASUS merilis seri laptop terbarunya: ASUS VivoBook Ultra A412DA. Semua yang saya inginkan ada di laptop keren ini!

Prosesor AMD® Ryzen™ 7 3700U

Prosesor mumpuni sangat dibutuhkan aplikasi video editing. Yang sering saya alami saat ini adalah leletnya proses pratayang dan render video. Preview untuk memeriksa susunan papan cerita suka putus-putus. Terlebih kalau ada footage yang saya percepat/perlambat, atau ditambah efek tertentu.

ASUS VivoBook Ultra A412 diotaki prosesor AMD® Ryzen™ 7 3700U, prosesor generasi terbaru dari AMD yang sudah jadi buah bibir di kalangan gamer sejak isu kemunculannya bocor di forum-forum.

Kecepatan bawaannya memang hanya 2,3GHz, tapi ini dapat di-boost hingga 4GHz. Asal tahu saja, Ryzen™ 7 3700U dibekali 4 CPU cores, 8 threads, dan 10 GPU threads. Hmm, sudah terbayang bagaimana asyiknya dipakai mengolah video. Yang jelas sih bakal sangat menghemat waktu. Wus, wus, wus!

Oya, huruf “U” pada seri prosesor ini merupakan singkatan dari “ultra low power”. Artinya, tak hanya kencang ketika sedang menjalankan program, AMD® Ryzen™ 7 3700U juga sangat hemat daya. Tambah irit lagi sebab prosesor ini bekerja lebih efisien berkat dukungan fitur power-saving pintar AMD SenseMI.

ASUS VivoBook Ultra A412DA storage

Ruang penyimpanan ganda

Tepat seperti yang saya idam-idamkan, tipe VivoBook satu ini dibekali dua tipe storage sekaligus. ASUS membenamkan Solid State Drive (SSD) berkapasitas 516GB ditambah Hard Disk Drive (HDD) berkapasitas 1TB. Paduan keduanya membuat laptop jadi kencang sekaligus lega.

SSD digunakan sebagai Drive C:, di mana sistem operasi berada dan semua program terinstal di dalamnya. Dengan demikian perangkat tidak butuh waktu booting lama. Dipadu prosesor Ryzen nan mumpuni, kinerja komputasi laptop secara keseluruhan bakal sangat mengesankan sekali.

Sementara itu HDD 1TB berfungsi sebagai Drive D: tempat kita menyimpan dokumen. Ruang sebesar ini bakal sangat lega sekali sekalipun untuk menyimpan berkas video yang ukurannya sangat besar-besar.

Satu kata: cocok!

ASUS VivoBook Ultra A412DA

Si Ringan yang warna-warni

Kapasitas ruang penyimpanan yang besar ini berkebalikan dengan bobot laptop. ASUS VivoBook Ultra A412DA hanya memiliki berat 1,5kg. Ringan sekali. Sangat cocok dibawa bepergian ketika kelak saya mendokumentasikan kegiatan-kegiatan Pekalongan Peduli.

Sebagai perbandingan, laptop yang saya pakai sebelumnya memiliki bobot lebih dari 2kg. Sungguh bikin serba salah setiap kali hendak bepergian. Kalau tidak dibawa saya bakal butuh, tapi dibawa kok bikin pundak pegal-pegal karena bobotnya yang mantap itu.

Alhasil, sekali pun akhirnya dibawa saya biasa meninggalkan laptop tersebut di penginapan. Barulah pada malam hari setelah selesai berkegiatan saya membukanya untuk menggarap video atau menulis laporan acara.

Berbeda dengan ASUS VivoBook Ultra A412DA yang tipis dan ringan. Saya tidak akan keberatan, literally, membawanya saat bepergian ke mana-mana. Ditambah lagi pilihan warnanya amat beragam: perak (Transparent Silver), abu-abu (Slate Grey), biru (Peacock Blue), dan oranye (Coral Crush).

Kalau boleh memilih sih, saya mengincar yang varian oranye sebagai warna favorit saya. Semoga rejeki. Amin.

ASUS VivoBook Ultra A412DA connectivity ports

Port konektivitas lengkap

Sebagaimana kita tahu, rekaman-rekaman yang jadi bahan baku video diambil menggunakan kamera maupun smartphone. Sebelum dapat diolah dengan program video editing kita musti memindahkannya terlebih dahulu ke laptop.

Nah, ASUS VivoBook Ultra A412DA dilengkapi berbagai port sebagai alat koneksi dengan beragam perangkat tersebut. Di sisi kiri terdapat tiga port: masing-masing sebuah colokan USB 2.0, USB-C 3.1, dan HDMI. Ditambah satu port untuk headset dan satu colokan power supply.

Sementara di sisi sebelahnya lagi terdapat satu slot buat card reader, sehingga kita dapat dengan mudah memindahkan file dari kartu memori kamera atau smartphone, dan satu port USB 3.0. Ini semua rasanya sudah lebih dari cukup untuk keperluan memindah data.

Tak cuma itu, ASUS VivoBook Ultra juga dilengkapi fitur pengaman ganda. Di sisi kanan laptop terdapat satu slot keamanan agar laptop dapat “dikunci” seperti yang biasa kita lihat dalam pameran-pameran. Lalu terdapat pula sensor sidik jari di area touchpad yang membuat sistem operasi dalam laptop hanya dapat di-unlock menggunakan sidik jari pemilik.

Windows Hello

Dilengkapi Windows 10 asli

Mempunyai laptop bagus saja tidak bagus. Kita juga wajib melengkapinya dengan sistem operasi terbaik. Berita gembiranya, setiap perangkat ASUS VivoBook Ultra A412DA telah dipasang operating system Windows 10. Versi asli tentu saja. GRATIS!

Ini berarti kamu tidak perlu lagi membeli Windows 10. Begitu VivoBook Ultra sampai di rumah, langsung nyalakan, instal sebentar, dan laptop ini pun siap digunakan untuk berkarya. Lumayan sekali lho, kita jadi berhemat Rp 2,6 juta sesuai banderol resmi di website Microsoft.

Karena sudah pre-installed Windows 10, kita dapat merasakan fitur Windows Hello. Bagi yang belum tahu, Windows Hello memungkinkan kita sebagai pemilik laptop untuk log in ke dalam sistem hanya dengan sidik jari maupun pengenalan wajah (face recognition).

Microsoft mengklaim, Windows Hello membantu kita log in ke dalam sistem tiga kali lebih cepat ketimbang menggunakan kata sandi. Cukup tempelkan jari ke bidang fingerprint reader yang ada di sudut touchpad, atau hadapkan wajah ke kamera untuk dikenali oleh sistem.

Dengan demikian, ada empat cara log in yang dapat dilakukan di ASUS VivoBook Ultra A412DA. Dua yang pertama adalah cara lama, yakni menggunakan password atau PIN. Lalu dua berikutnya cara terbaru, yaitu fingerprint dan face recognition dengan fitur Windows Hello.

Oya, saya sendiri sempat bersikap norak sewaktu pertama kali mencobai fitur ini di laptop ASUS ZenBook UX331UAL kiriman Mbak Katerina S. Lihat sendiri deh betapa katroknya saya dalam video di bawah ini.


Spesifikasi Asus VivoBook Ultra A412DA

CPU AMD® Ryzen™ 7 3700U Processor
Sistem Operasi Windows 10
RAM 4 GB DDR4 2400MHz SDRAM Onboard memory, 1 x SO-DIMM socket for expansion, up to 12 GB SDRAM
Penyimpanan 512GB PCIe® Gen3 x2 SSD
1TB 5400 rpm SATA HDD
Tampilan 14.0″ (16:9) LED-backlit FHD (1920×1080) 60Hz Anti-Glare IPS-level Panel with 45% NTSC with wide 178° viewing angles
Grafis Integrated Radeon™ RX 540X
Input/Output 1 x COMBO audio jack
1 x Type-A USB 2.0
1 x Type-A USB 3.1 (Gen 1)
1 x Type-C USB 3.0 (USB 3.1 Gen 1/Gen 2)
1 x HDMI
Kamera VGA Web Camera
Konektivitas Integrated Wi-Fi 5 (802.11 ac (2×2))
Bluetooth® 4.2
Audio Built-in Stereo 1 W Speakers And Array Microphone, ASUS SonicMaster Technology

Support Windows 10 Cortana with Voice, Harman kardon

Baterai 2 -Cell 37 Wh Battery
Sumber daya Plug type :ø4 (mm)
Output: 19 V DC, 2.37 A, 45 W
Input: 100 -240 V AC, 50/60 Hz universal
Dimensi 322 x 212 x 19.9 mm (WxDxH)
Bobot 1,5kg dengan baterai
Warna Transparent Silver (perak)
Slate Grey (abu-abu)
Peacock Blue (biru)
Coral Crush (oranye)
Sertifikat UL, CE Marking Compliance, FCC Compliance, BSMI, CCC, CB, Energy Star
Garansi 1 tahun garansi global

Jambore Anak Yatim IV

Lingkaran kebaikan bagi sesama

Sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat bagi sesama, demikian ujar-ujar bijak dalam Islam mengatakan. Lalu ada pula kalimat bijak lain yang berbunyi, “Hari ini haruslah lebih baik dari kemarin, dan hari esok haruslah lebih baik dari hari ini.”

Meski masih dalam skala kecil, Pekalongan Peduli terus berupaya untuk mempraktikkan hal tersebut: memberi manfaat bagi sesama. Setidaknya bagi orang-orang di sekitar kami, warga masyarakat yang membutuhkan di wilayah eks Karesidenan Pekalongan.

Dalam usianya yang menjelang tahun kedelapan, organisasi kecil ini telah beberapa kali “sukses” menggelar acara sosial skala besar. Besar menurut ukuran kami tentu saja.

Mulai dari tanam mangrove yang dihadiri relawan se-Jawa di tahun 2013, beberapa kali khitan massal, beberapa kali pengobatan gratis, bantuan logistik untuk korban banjir Pekalongan, bantuan tenaga relawan untuk bencana di Banjarnegara, makan bersama anak yatim, bagi-bagi nasi bungkus tiap Sabtu malam, dan yang sejauh ini selalu memakan anggaran paling besar adalah Jambore Anak Yatim.

Alhamdulillah, sejauh ini telah tiga kali Jambore Anak Yatim yang berhasil diselenggarakan. Meski dalam perjalanannya para pengurus, utamanya Mas Furqon, harus pontang-panting mengumpulkan donasi. Tahun ini, direncanakan bakal digelar Jambore Anak Yatim IV pada 6-8 September 2019. Ditargetkan pesertanya sebanyak 100 anak yatim dari enam kabupaten/kota se-eks Karesidenan Pekalongan.

Kalau kamu menebak acara ini mengandalkan proposal, ya, benar sekali. Hingga penyelenggaraan kali ini memang masih mengandalkan proposal karena kekuatan kantong kami yang tidak mencukupi. Beruntung sekali pengurus Masjid Asy Syuhada berkenan memberi tempat. Lalu ada pula beberapa komunitas yang siap membantu di Hari H nanti.

Ke depan, impian saya adalah menjadikan Pekalongan Peduli sebagai organisasi yang mandiri secara finansial. Setidaknya kami dapat menyelenggarakan khitan massal, pengobatan gratis, atau berbagi nasi setiap pekan tanpa harus menyebar proposal ke sana-sini. Tanpa harus nombok ketika saat pelaksanaan dana yang terkumpul tidak mencukupi.

Untuk tujuan itulah saya merancang apa yang saya sebut sebagai lingkaran kebaikan ini. Sebuah sumber pendanaan rutin berupa channel YouTube. Di mana kelak Pekalongan Peduli tak lagi menjadi pengumpul donasi, tapi justru mampu berbagi dari kantongnya sendiri.

Bukankah tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?

Semoga semesta mendukung. Amin.

Iklan
About Eko Nurhuda (352 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

7 Comments on Menebar manfaat dengan YouTube dan ASUS VivoBook Ultra A412DA

  1. Laptop ASUS memang memiliki banyak keunggulan ya. Kalau aku suka laptop ASUS yang warna merah (Coral Crush) karena terlihat cerah dan ceria. Btw, salam kenal ya, Kak.

    Suka

    • Hai, Mbak. Salam kenal kembali.
      Jujur saja saya lebih akrab dengan pesaingnya sih, yakni Acer. Ini tulisan untuk lomba, tapi ditulis berdasarkan keinginan riil saya yang belum terwujud juga. Sayangnya belum rejeki. Terima kasih ya sudah mampir.

      Suka

  2. Kayak apa rasanya punya memori internal segede 1 tera? Wkwkw. cocok nih buat aku, prosesor AMD memang jago, Mas. Aku juga pakai yg quad core, warna vivobook ini unyu ya. Semoga aja niat baik Mas Eko terkabul dan mendapat kemudahan lewat laptop keren ini ya.

    Suka

  3. Bang Eko, saya terharu melihat usaha abang dkk dalam membantu sesama dengan melakukan penggalangan dana dan menyebarkan kebaikan via Youtube. Karena Yutup adalah platform yang dipilih, otomatis kudu upload video banyak” biar bisa daftar Adsense. Sementara dengan APU A10 dan RAM 4GB itu tergolong spesifikasi minimum dan paling mentok untuk editing dan rendering video. Cocok deh bang milih Vivobook Ultra A412DA yang udah pake Ryzen, RAM 8GB dan pake SSD, rendering video lebih cepat dan import video juga jadi singkat karena pake SSD.

    Semoga bang, yang abang lakuin selama ini dibalas oleh Tuhan, dan jangan menyerah buat memberikan kebaikan buat sesama.

    Btw bang, kalau boleh koreksi, Vivobook Ultra A412DA itu hanya ada dua varian dan itu cuma pake prosesor Ryzen 3 3200U dan Ryzen 5 3500U, dan kartu grafisnya Vega 3 dan Vega 8.

    Boleh dong kunjungan balik ke bit.ly/ulasanvivobooka412da

    Disukai oleh 1 orang

    • Nah, ini sempat bikin bingung banget lho pas garap tulisan ini. Soalnya di web resmi ASUS yang dicantumkan oleh penyelenggara lomba, yaitu Mbak Dian, kok malah menuju ke tipe Vivobook 14? Pakenya Ryzen 7 3700U bukan Ryzen 3 dan Ryzen 5 seperti yang disebutkan di awal tulisan pengumuman lomba. Yang bener yang mana nih?

      Sempat bingung banget kuatir salah nulis produk, tapi kok referensi yang dikasih itu? Ya wislah, kutulis sesuai link yang diberikan penyelenggara lomba saja.

      Suka

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: