Highlight:

Food combining untuk puasa lebih sehat

menu-food-combining

TAK terasa Ramadan 1440 Hijriah sudah berjalan 10 hari. Itu artinya sudah sepertiga dari bulan suci ini yang kita lampaui. Masih ada 20 hari lagi untuk dijalani. Masih semangat atau malah sudah mulai merasa lemas?

Puasa itu bikin sehat, begitu kata banyak penelitian. Namun jika kita tak mengatur pola dan menu makan dengan baik, yakni menu makanan sehat nan bergizi, puasa malah bisa mendatangkan penyakit lho! Termasuk dalam gejalanya adalah merasa lemas.

Kunci puasa sehat adalah mengatur pola dan menu makanan. Satu pola hidup sehat yang bisa diterapkan selama berpuasa adalah food combining. Sesuai namanya, food combining adalah sebuah cara untuk mengatur dan mengkombinasikan makanan serta pola makan demi tubuh yang lebih sehat.

Food combining merupakan sebuah disiplin yang didasarkan pada ritme kerja organ pencernaan. Dengan demikian, menerapkan pola makan ala food combining bisa dibilang merupakan hal wajib bagi Muslim yang tengah berpuasa.

Dalam dunia kesehatan, tubuh mempunyai ritme alami tertentu yang mengatur kinerja seluruh organ secara serasi. Ritme ini biasa disebut sebagai siklus sikardian.

Ritme ini adalah sesuatu hal yang pasti pada setiap manusia – juga makhluk hidup lainnya, sehingga melawan ritme ini sama dengan merusak tubuh karena kinerja organ menjadi terganggu. Tak ada pilihan lain kecuali mengatur pola hidup mengikuti ritme ini agar tubuh senantiasa sehat.

Sebagai contoh, ritme sikardian mempelajari bahwa malam adalah waktunya beristirahat untuk tidur. Rupanya, organ-organ pencernaan tengah bekerja keras mengolah makanan dan minuman yang kita makan pada saat ini. Kerja ini membutuhkan energi sangat besar.

Kupat glabed kuliner Tegal

Makanan dengan santan kental seperti ini sangat tidak dianjurkan dikonsumsi saat bulan puasa. Hindari ya.

Itu sebabnya kita merasa mengantuk saat malam dan disarankan untuk tidur pada saat ini. Tetap terjaga pada saat organ tubuh tengah bekerja keras mengolah makanan bakal membuat tubuh menjadi kelelahan sehingga rentan terhadap kerusakan. Akibatnya, si pemilik tubuh merasakan sakit atau setidaknya rasa tidak enak badan.

Nah, food combining mengatur pola makan mengikuti ritme sikardian ini. Karena malam adalah waktunya sistem pencernaan mengolah makanan, maka pelaku food combining sangat tidak dianjurkan makan di malam hari. Demikian dijelaskan oleh praktisi food combining Erikar Lebang dalam bukunya Food Combining Itu Gampang (Qanita, 2013).

Makan sewaktu organ tengah bekerja mengolah makanan berarti memberi pekerjaan dobel. Itu sangat memberatkan. Waktu terbaik untuk makan malam adalah sebelum pukul 19.00 WIB, dan usahakan makan paling lambat dua jam sebelum pergi tidur.

Lalu, ketika bangun di pagi hari, fungsi pencernaan tengah menjalankan tugasnya membuang sisa-sisa hasil pengolahan makanan yang dilakukan pada malam hari. Ini sebabnya, waktu alami untuk buang air besar adalah pagi hari usai bangun tidur.

Saat seperti ini tidak disarankan untuk mengonsumsi makanan berat. Sebab makan besar pada waktu ini dapat menyebabkan terganggunya kerja organ-organ pencernaan yang tengah membuang sisa-sisa makanan keluar dari tubuh.

Makanan yang dianjurkan pada saat ini adalah makanan ringan. Namun bukan berarti camilan, melainkan makanan yang ringan dicerna tubuh serta memiliki kandungan gizi lengkap serta memadai.

Buah matang adalah pilihan tepat. Sangat dianjurkan untuk makan buah sebagai menu sarapan dan tidak memakan makanan berat hingga setidaknya pukul 11.00, waktu di mana seluruh proses pembuangan sisa-sisa makanan selesai dilakukan.

food combining paleo

FOTO: The Paleo Mama

Menerapkan food combining saat berpuasa

Sekarang, bagaimana cara menerapkan food combining dalam berpuasa? Kita tahu, ritme sikardian berlawanan dengan waktu berpuasa. Siang kita tidak boleh mengonsumsi apapun hingga matahari terbenam, sedangkan malam hari diperbolehkan makan hingga sebelum Subuh.

Bagaimana menyiasatinya?

Berita baiknya, ritme sikardian tidak berpatokan pada jam tertentu. Patokannya adalah siklus tubuh dan ritme ini bisa berubah menyesuaikan siklus tubuh. Jadi, pada saat berpuasa ritme sikardian bakal bergeser. Untuk mudahnya, tinggal andaikan saja malam di bulan Ramadhan sebagai siang di waktu bulan-bulan lainnya.

Dengan demikian, saat sahur adalah seperti jam makan malam di saat tidak berpuasa. Saat ini kita boleh makan sepuasnya – tentu dengan mengindahkan aturan mengenai kombinasi karbohidrat, protein hewani dan protein nabati. Lalu sepanjang siang tidak makan apapun

Pada saat berbuka sama seperti sarapan pagi, sehingga menurut food combining makanan terbaik adalah makanan ringan yang tidak memberatkan kerja organ pencernaan.

Seperti dikutip dari buku Food Combining di Bulan Ramadan karya Erikar Lebang (Kompas, 2013), buah-buahan adalah pilihan tepat untuk berbuka puasa. Buah matang pohon yang mengandung banyak air serta manis rasanya yang paling disarankan.

Ingat kalimat andalan iklan-iklan di televisi yang mengatakan “berbukalah dengan yang manis-manis”, bukan? Kampanye ini ada benarnya lho. Yang tidak tepat adalah mengasosiasikan “yang manis-manis” tadi dengan aneka minuman manis. Ya, maklum sajalah, mereka kan berjualan sirup.

Berbuka puasa dengan yang manis-manis secara ilmiah sangat dianjurkan. Dengan syarat, manisnya ini bukan karena gula melainkan manis alami. Itu artinya kita dianjurkan mengonsumsi buah-buahan matang nan manis.



Kaitkan pula dengan kebiasaan Rasul yang mengonsumsi kurma terlebih dahulu saat berbuka. Di padang pasir setandus Jazirah Arab, kurma adalah buah-buahan yang paling banyak ditemukan. Kurma yang matang di pohon rasanya manis dan mengandung air meski tak terlalu banyak. Jadi, tidak bermaksud memaksakan sunnah jika menyebut anjuran Rasul memakan kurma saat berbuka esensinya adalah memakan buah yang manis.

Jika Rasul memakan buah kurma – notabene merupakan buah lokal Arab, maka kita di Indonesia dapat memakan buah lokal setempat. Mangga, semangka, melon, rambutan atau jeruk bagus dikonsumsi saat berbuka puasa. Juga buah-buahan impor seperti pir, anggur, atau buah naga.

Kunyah pelan-pelan agar buah tercampur dengan air liur sebagai komponen penting dalam proses pencernaan. Kita bisa mengonsumsi buah hingga kenyang, namun tentu saja dianjurkan untuk secukupnya saja. Bersegeralah menunaikan salat Magrib karena waktunya sempit. Setelah itu, lanjutkan makan buah hingga tiba saat salat tarawih.

Jika saat tidak berpuasa kita dianjurkan baru makan makanan berat setelah pukul 11.00, maka saat berpuasa makanan berat bisa dikonsumsi setelah salat tarawih usai. Jangan lupa aturan padu-padan karbohidrat, protein hewani dan protein nabati ya?

Terakhir, jangan lupa untuk makan besar (nasi plus lauk-pauknya) paling lambat dua jam sebelum berangkat tidur. Jadi, kalau kamu biasa berangkat tidur pada pukul 23.00 malam, kamu masih boleh makan setidaknya hingga pukul 21.00 malam.

Semoga bermanfaat!

Beri tip untuk blog ini
About Eko Nurhuda (370 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

1 Trackback / Pingback

  1. Tips mencegah sakit setelah Lebaran – bungeko.com

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: