Iklan
Highlight:

Wisata Sejarah Jogja, Saksi Bisu Perjuangan Bangsa Indonesia

Monumen Serangan Umum 1 Maret

Monumen Serangan Umum 1 Maret di Titik Nol Kilometer, Yogyakarta. FOTO: Wikipedia

SIAPA tak kenal Yogyakarta alias Jogja. Sekalipun belum pernah berkunjung ke sana, tapi setidaknya kita telah mengenal namanya. Tak heran, sebab daerah istimewa bernama asli Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat ini merupakan destinasi wisata populer di Indonesia selain Bali dan Lombok. Terlebih dengan kemunculan sejumlah destinasi digital di provinsi tersebut belakangan ini.

Bali dan Jogja sempat menjadi dua destinasi tak terpisahkan dalam paket-paket wisata yang ditawarkan agen wisata. Saat masih menjadi tour guide di Candi Prambanan, saya sering bertemu turis-turis Eropa maupun Jepang yang mengawali tur dari Bali. Biasanya mereka mengambil penerbangan paling pagi dari Denpasar. Setelah melakukan city tour, dengan Candi Prambanan-Kraton-Candi Borobudur sebagai tiga serangkai destinasi utama, mereka langsung kembali ke Bali sore harinya.

Di tataran domestik, Jogja boleh dibilang merupakan tujuan wisata terpopuler di kalangan pelajar. Bus-bus pariwisata berisi rombongan pelajar tengah terparkir di dekat Gedung Bank Indonesia Yogyakarta, dulu merupakan pemandangan yang biasa saya lihat kalau tengah berburu buku di Shopping Center. Sejak Taman Parkir Abubakar Ali dibangun, pemandangan tersebut berpindah ke sisi utara Jl. Malioboro.

Jogja memang sangat terkenal akan pariwisatanya. Namun, agaknya tak banyak yang tahu kalau di sini juga kaya cerita sejarah. Salah satunya, Jogja pernah menjadi ibukota Republik Indonesia sejak 4 Januari 1946. Ketika itu situasi Jakarta dirasa tidak lagi aman bagi petinggi negara. Sri Sultan Hamengku Buwono IX menawarkan Presiden dan Wakil Presiden berkantor di Jogja, yang lantas disetujui.

Status ibukota negara kian kukuh ketika Republik Indonesia Serikat (RIS) dibentuk usai Konferensi Meja Bundar. Sesuai isi Perjanjian Renville, wilayah RI hanya tinggal Sumatera, Jawa Tengah, dan Jogja sebagai ibukota. Selebihnya menjadi negara-negara terpisah yang lantas bernaung dalam satu federasi bernama RIS.

Sejarah Jogja sendiri jauh lebih panjang dari itu. Mundur 300 tahun dari proklamasi RI, ada Sultan Agung Hanyokrokusumo penguasa Kesultanan Mataram yang sempat mengurung Batavia untuk mengusir VOC pada 1628 dan 1629. Hingga akhir hayatnya pada 1645, hanya Batavia satu-satunya wilayah di Pulau Jawa yang tak dapat ditaklukkan.

Cerita tentang sejarah Jogja bisa sangat panjang sekali. Karena itu, kalau kamu berniat berlibur ke Jogja sebaiknya kunjungi obyek-obyek yang menjadi saksi bisu perjuangan bangsa. Sebagai referensi, berikut ini beberapa tempat wisata sejarah di Jogja:

Kotagede, Jogja

Bangunan peninggalan era Mataram di salah satu sudut Kotagede. FOTO: Wikimedia Common

1. Kotagede

Dari sinilah sejarah Jogja dimulai. Kotagede merupakan tempat di mana Kesultanan Mataram didirikan pada 1575, sekaligus ibukota pertamanya. Secara harafiah Kotagede berarti “kota besar”, menunjukkan statusnya sebagai kota pusat pemerintahan Kesultanan Mataram.

Ada pula yang mengaitkan nama Kotagede dengan sosok Ki Ageng Pemanahan, pendiri trah Mataram. “Ageng” adalah bahasa jawa halus (kromo) dari “gede”, keduanya berarti “besar”. Selain itu, Ki Ageng Pemanahan juga dikenal dengan nama Ki Gede Mataram.

Tanah di mana Kotagede berdiri awalnya sebuah hutan lebat bernama Alas Mentaok. Sultan Hadiwijaya dari Pajang menghadiahkan hutan ini kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai imbal jasa atas bantuan memadamkan perlawanan Arya Penangsang. Mataram yang didirikan oleh Danang Sutawijaya (Panembahan Senopati) putera Ki Ageng Pemanahan kemudian menjadi vasal Pajang.

Pada perkembangannya Mataram berkembang menjadi negara berdaulat, dan Pajang berbalik menjadi vasal. Kekuasaan Mataram terus meluas ke timur Jawa hingga Gresik di utara dan Pasuruan di selatan, ke barat hingga Cirebon di utara dan Kerajaan Galuh di selatan.

Panembahan Senopati wafat pada 1601 dan dimakamkan dalam kompleks makam raja-raja Mataram di dekat Masjid Kotagede. Pemakaman dan masjid ini menjadi dua dari sedikit sekali bangunan kuno era Panembahan Senopati yang masih bertahan di Kotagede. Kamu juga dapat melihat secuil sisa tembok kota Mataram di beberapa bagian.

Sedangkan pasar yang terletak tepat di tengah-tengah area Kotagede usianya nyaris setengah milenium. Pasar ini diperkirakan sudah ada sejak Ki Ageng Pemanahan membangun pemukiman. Salah satu rujukannya, Panembahan Senopati juga dikenal sebagai Ngabehi Loring Pasar karena tinggal di utara pasar.

Selain bangunan peninggalan Mataram yang hanya sedikit, kita juga dapat dengan mudah menjumpai gedung-gedung bergaya indisch yang dibagun pada masa kolonial Belanda. Ada pula rumah-rumah joglo nan artistik, salah satunya berusia lebih dari 250 tahun.

Kini Kotagede terkenal sebagai sentra kerajinan perak, salah satu oleh-oleh wajib kalau kamu datang ke Jogja. Usaha kerajinan perak bertaburan mulai dari pengrajin rumahan dengan harga yang masih dapat ditawar, hingga galeri megah dengan harga pas.

kantor pos besar Jogja

Gedung Kantor Pos Besar Jogja, salah satu bangunan bersejarah di kawasan Titik Nol Kilometer. FOTO: Flickr

2. Titik Nol Kilometer

Sebagai salah satu kota penting di masa Hindia Belanda, Jogja memiliki banyak bangunan kuno yang sebagian masih dipergunakan. Cobalah datang ke kawasan Nol Kilometer, sekilas pandang saja kamu bakal tahu ada beberapa bangunan era kolonial berdiri kokoh mengelilingi perempatan.

Bangunan paling mencolok adalah Benteng Vredeburg. Dibangun mula-mula pada 1760, Vredeburg menjadi bangunan Belanda tertua di Jogja. Penduduk lokal menyebutna sebagai Loji Gede atau Loji Besar. Di masa itu, Vredeburg tak ubahnya kota di dalam kota. Terdapat tak kurang dari 500 serdadu yang berdiam di dalamnya.

Tepat di sebelah timur Vredeburg terdapat bekas kawasan pemukiman Belanda. Di masa lalu dikenal sebagai Loji Kecil. Lokasinya membentang dari kompleks Taman Pintar, Taman Budaya, hingga perempatan Gondomanan. Satu bangunan era kolonial yang tersisa di area ini adalah eks Gedung Societet Militair yang sekarang menjadi gedung pertunjukan.

Di hadapan Vredeburg, di seberang Jl. Margomulyo (dulu Jl. Jend. A. Yani), ada satu bangunan era kolonial lain. Kita mengenalnya sebagai Gedung Agung, salah satu istana kepresidenan. Di masa lalu, warga Jogja menyebut gedung tersebut sebagai Loji Kebon. Kata “kebon” yang berarti kebun sepertinya merujuk pada betapa luasnya tanah yang mengelilingi bangunan ini, yakni 43.585 m2.

Berpindah ke sisi selatan jalan, ada gedung Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Yogyakarta di pojok pertemuan Jl. KH Ahmad Dahlan dan Jl. Pangurakan (dulu Jl. Trikora). Di masa Hindia Belanda bangunan ini sempat menjadi kantor perusahaan asuransi, lalu di jaman Jepang difungsikan sebagai kantor radio Hoso Kyoku, dan diteruskan oleh republiken yang menjadikannya sebagai kantor RRI.

gedung BNI Jogja

Gedung BNI cabang Yogyakarta dilihat dari pedestrian di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret. FOTO: Flickr

Oya, sekalipun kini merupakan kantor cabang, tapi inilah tempat kelahiran sekaligus pusat kegiatan BNI di masa lalu. Saat didirikan oleh Margono Djojohadikusumo pada 5 Juli 1946, BNI dimaksudkan sebagai bank sentral yang mencetak mata uang negara dan mengatur kebijakan moneter nasional.

BNI mulai menjalankan fungsinya dengan mencetak Oeang Republik Indonesia (ORI). Namun selepas KMB status bank sentral dikembalikan kepada De Javasche Bank, eks bank sentral era Hindia Belanda. Baru pada 1953 pemerintah menasionalisasi De Javasche Bank yang kini bersulih nama menjadi Bank Indonesia.

Di seberang BNI terdapat Kantor Pos Besar. Sejak awal dibangun pada 1910, bangunan ini telah berfungsi sebagai kantor pos. Di masa Hindia Belanda, nama gedung ini adalah Post, Telegraaf en Telefoon Kantoor alias Kantor Pos, Telegraf dan Telepon.

Bergeser ke sebelahnya lagi terdapat gedung Bank Indonesia Cabang Yogyakarta. Seperti sudah disinggung, BI dulunya adalah De Javasche Bank bentukan Belanda. Jadi, kantornya yang terletak di sebelah Kantor Pos Besar Jogja ini di masa lalu merupakan kantor De Javasche Bank cabang Jogja.

rumah kuno di Kotabaru, Jogja

Salah satu rumah bergaya indisch di kawasan Kotabaru, Jogja. FOTO: majalahlaras.com

3. Kotabaru

Seiring majunya industri gula dan perkebunan di Jawa, jumlah orang Eropa yang datang ke Jogja semakin banyak. Akibatnya, kawasan Loji Kecil tak lagi mampung menampung warga baru. Karenanya pemerintah kolonial Hindia Belanda, dengan seijin Kraton Yogyakarta tentu saja, kemudian membangun kawasan pemukiman baru di timur laut kota.

Pemukiman yang dikonsep sebagai sebuah garden city tersebut mulai dibangun pada 1917. Awalnya dinamai Nieuwe Wijk, secara harafiah berarti Distrik Baru. Dari nama ini kemudian menjadi Kotabaru yang sekadang kita kenal. Perancangnya adalah arsitek kenamaan Thomas Karsten.

Wilayah Nieuwe Wijk membentang dari sisi timur Kali Code di sebelah barat, hingga Rumah Sakit Bethesda (dulu RS Petronella) di timur. Sedangkan di sisi utara berbatasan dengan Gramedia saat ini, di selatan mentok hingga Lempuyangan.

Pemukiman Nieuwe Wijk dirancang senyaman mungkin agar penghuninya betah. Rumah-rumah dibangun tanpa pagar, dengan jalan lebar dan sejumlah boulevard di beberapa bagian. Selain perumahan juga dibangun rumah ibadah, sekolah, rumah sakit, dan kompleks olahraga yang kini kita kenal sebagai Kridosono.

Sebagian besar gedung-gedung tersebut masih berfungsi hingga kini. Di antaranya SMA Negeri 3 Yogyakarta yang merupakan gedung eks Algemeene Middelbare School (AMS), atau SMA Bopkri I yang dulunya adalah Christelijke MULO School. Gereja Kotabaru juga merupakan bangunan era kolonial yang masih bertahan.

Setelah proklamasi, Kotabaru mencatatkan satu peristiwa bersejarah. Pada 7 Oktober 1945, pemuda Jogja terlibat baku tembak dengan tentara Jepang yang menewaskan 21 pejuang dan 27 serdadu Jepang. Markas Jepang berhasil direbut, dan seluruh senjatanya dirampas.

Peristiwa Serbuan Kotabaru ini dikenang dengan sebuah monumen di Jl. Atmo Sukarto. Atmo Sukarto sendiri merupakan salah satu korban di pihak pemuda dalam peristiwa tersebut. Untuk mengenang keberanian mereka, nama-nama pemuda yang gugur diabadikan sebagai nama jalan di Kotabaru.

Museum Sasmitaloka Jenderal Besar Soedirman

Museum Sasmitaloka di Yogyakarta. FOTO: Wikipedia

4. Museum-museum

Tidak lengkap rasanya menapak-tilas sejarah perjuangan bangsa tanpa mengunjungi museum. Di Jogja sendiri ada banyak sekali museum yang mengabadikan sejarah tersebut. Berikut beberapa di antaranya:

Museum Dharma Wiratama

Terletak di Jl. Jend. Sudirman No. 75, museum ini pernah dijadikan Markas Komando Resirem pada 1950-1980. Setelah itu gedung Dharma Wiratama difungsikan sebagai museum umum. Di sini kamu dapat melihat koleksi-koleksi bersejarah yang berkaitan dengan TNI Angkatan Darat. Daftar koleksinya antara lain tank Stuart MK I, beberapa pucuk pistol, dan senjata lain.

Museum Sasmitaloka

Museum yang terletak di Jl. Bintaran Wetan No. 3 ini merupakan tempat kita mengenang sosok Jenderal Besar Soedirman. Gedung museum adalah tempat tinggal sang Panglima TNI saat berdinas di Jogja. Ingat kembali, saat itu Jogja merupakan ibukota Republik Indonesia..

Rumah ini difungsikan sebagai museum sejak 30 agustus 1982. Koleksinya berjumlah 599 buah, terdiri dari aneka senjata termasuk keris, perabot rumah tangga, kendaraan, pakaian, hingga tandu yang pasti pernah kita lihat dalam buku sejarah. Keseluruhan koleksi dipamerkan dalam 14 ruang pameran.

Museum Perjuangan

Awalnya tempat ini direncanakan sebagai Museum Setengah Abad Kebangkitan Nasional. Pembahasan pembangunannya dilakukan pada Mei 1958, dalam acara peringatan 50 tahun berdirinya Boedi Oetomo sebagai tonggak kebangkitan nasional Indonesia. Pada perkembangannya, nama yang disahkan adalah Museum Perjuangan.

Berlokasi di Jl. Kol. Sugiyono No. 24, Museum Perjuangan dibangun di atas tanah milik Kraton atas persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Tak jauh dari museum ini terdapat nDalem Brontokusuman, kediaman salah satu pembesar keraton.

Pemasangan patok lokasi gedung dilakukan pada 17 Agustus 1959 oleh Sri Sultan HB IX. Namun peletakan batu pertama oleh Sri Paku Alam VIII sebagai awal proses pembangunan baru terlaksana pada 5 Oktober 1959. Museum diresmikan dan dibuka untuk umum pada 17 November 1961.

*****

Itulah beberapa tujuan wisata sejarah Jogja yang dapat kamu kunjungi. Kamu dapat memanfaatkan jaringan bus TransJogja untuk mencapai masing-masing lokasi. Namun, akan lebih baik menyewa mobil saja agar kamu dapat lebih leluasa dan nyaman berkeliling Jogja. Terlebih kalau kamu datang dengan banyak teman atau keluarga.

cara kerja dan kelebihan Omocars

Sekarang ada cara baru untuk menyewa mobil, yakni melalui Omocars Jogja. Ini layanan sewa mobil lepas kunci, jadi kamu bisa menyetir sendiri mobilnya. Lebih bebas lagi, bukan? Mobil juga jadi dapat lebih maksimal menampung penumpang.

Terobosan lain dari Omocars adalah mobil yang kita sewa akan diantarkan langsung ke lokasi kamu. Jadi kamu tidak perlu repot-repot mencari tempat penyewaan mobil saat tiba di Jogja. Mobil akan diantar ke stasiun atau bandara begitu kamu turun dari kereta atau pesawat. Kurang apa coba?

Lalu, bagaimana cara sewa mobil di Omocars? Mudah sekali kok. Kamu bisa langsung sewa di sini!

Semoga bermanfaat.

Iklan
About bungeko.com (32 Articles)
Let's blog with happiness :)

2 Comments on Wisata Sejarah Jogja, Saksi Bisu Perjuangan Bangsa Indonesia

  1. Jogja emang salah satu kota yang selalu menarik. Berkali-kali balik ke sana dan ngga bosen-bosen. Banyak hal yang masih bisa di eksplor di sana.

    Salam kenal mas.

    Cheers,
    Ogie

    Suka

    • Terima kasih untuk kunjungannya, Mas.
      Benar sekali, Jogja semakin ke sini justru semakin memesona. Jaman saya masih tinggal di sana, destinasi wisata mentok di Kraton, Prambanan, Kaliurang, Parangtritis, dan tentu saja Borobudur yang sebenarnya punya Magelang. Dulu saya dan sejumlah teman pernah touring di sepanjang pantai selatan (Sepanjang, Ngerehenah, terus ke timur hingga perbatasan Pacitan), masih sangat sepi sekali. Sekarang sudah banyak yang menjadi destinasi baru.

      Suka

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: