Iklan
Highlight:

Serunya Jelajah Sejarah di Maluku Utara

Cari inspirasi liburan? Saya dan teman-teman blogger yang pernah ke Tidore menuliskan pengalaman serta kesan-kesan kami dalam satu buku antologi. Dijamin seru! Pesan bukunya di sini ya.

Jelajah sejarah di Maluku Utara

BANGSA yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Kalimat ini rasanya tidak asing lagi bagi kita. Adalah Ir. Soekarno, sang Bung Besar proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, yang mengucapkan deretan kata-kata tersebut.

Dalam pidato kenegaraan terakhirnya sebagai presiden, 17 Agustus 1966, Bung Karno menekankan betul tentang pentingnya bangsa Indonesia mempelajari sejarahnya sendiri. Putra Sang Fajar memberi judul pidato tersebut Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah, yang kemudian lebih popular dengan akronimnya: Jas Merah.

Coba simak satu penggalannya berikut.

“Adalah benar bahwa hari ini dan esok diwarnai oleh masa lalu, dengan belajar dari sejarah kita akan dapat memilih warna masa depan sesuai dengan selera kita, karenanya tidak ada satupun bangsa yang besar tanpa menghargai sejarah.”

Catat baik-baik bagian ini, “…tidak ada satupun bangsa yang besar tanpa menghargai sejarah.” Dari sinilah kemudian muncul kalimat sakti, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa-jasa para pahlawan.”

Didorong oleh semangat Jas Merah, dalam waktu-waktu belakangan saya begitu bersemangat mengunjungi Maluku Utara. Pelajaran Sejarah sendiri sudah jadi favorit saya sejak duduk di bangku kelas satu SMP. Saya bahkan pernah mendapat nilai 10 dalam ujian Sejarah di kelas tiga SMP.

Dari tiga perjalanan pada April 2017, Agustus 2017, dan Maret 2018, saya berkesimpulan Maluku Utara adalah tempat paling tepat untuk mempelajari sejarah bangsa dan negara. Malah rasanya tidak berlebihan kalau saya sebut, karena wilayah inilah bangsa-bangsa asing berdatangan ke Nusantara dan pada gilirannya orang-orang Eropa nan tamak menancapkan kuku-kuku kolonialisme.

Banyak peristiwa besar berskala internasional terjadi di kawasan ini. Sejak jaman kesultanan-kesultanan, selama Perang Dunia I dan II, hingga masa revolusi fisik setelah kemerdekaan. Dalam konfrontasi pembebasan Irian Barat pada kurun 1961-1964, misalnya, kawasan Maluku Utara memainkan peranan sangat penting. Terlebih karena Papua selama ratusan tahun terakhir merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore.

Demi memuluskan penyatuan Irian Barat ke Republik Indonesia, Presiden Soekarno melakukan pendekatan khusus kepada Sultan Zainal Abidin Syah. Gayung bersambut. Sultan merelakan Papua, bersama-sama wilayah Kesultanan Tidore lain yang belum termasuk, menjadi bagian RI. Bung Karno pun membentuk Provinsi Perjuangan Irian Barat yang berpusat di Soasio, ibu kota Tidore, dan mengangkat Sultan sebagai Gubernur.

Kabar gembiranya, beberapa pelaku dan saksi sejarah peristiwa ini masih hidup. Dan saya begitu beruntung dapat menjumpai beberapa di antaranya, sehingga berkesempatan mendengar langsung pengalaman dan kenangan pribadi mereka.

Nenek Salma, Kakek Idris Jusuf, Nenek Bujuna Samdi

Dari kiri: Nenek Salma Dano Hasan, pemilik Penginapan Seroja di Tidore; Kakek Idris Jusuf, eks wartawan di Ternate; Nenek Bujuna Samdi di Weda. Ketiganya merupakan saksi dan pelaku sejarah Perang Trikora dalam rangka pembebasan Irian Barat. FOTO: Eko Nurhuda/bungeko.com

Nenek Salma Sang Penari

Kalau datang ke Tidore, cobalah bermalam di Penginapan Seroja yang ada di Kampung Soajawa, Soasio. Bukan cuma karena lokasinya yang berdekatan dengan spot-spot wisata unggulan, juga kolam air lautnya yang bikin betah, tapi Nenek Salma Dano Hasan pemilik penginapan ini menyimpan kisah-kisah menakjubkan.

Saya tak sempat mengobrol banyak dengan Nenek Salma pada kunjungan pertama ke Tidore, April 2017. Rangkaian prosesi Festival Tidore 2017 begitu melelahkan, sehingga sekembalinya di penginapan saya hanya bisa mandi dan kemudian istirahat agar esoknya kembali segar.

Sampai kemudian berpamitan karena harus menyeberang ke Ternate dan pulang, saya hanya bisa mengobrol basa-basi sebentar di halaman penginapan lalu foto bersama.

Barulah pada kesempatan kedua, Agustus 2017, saya menyempatkan waktu khusus untuk menemui beliau. Selepas mengikuti upacara 18 Agustus 2017 di Mareku (Baca juga: Kado Kecil untuk Nenek Amina), lalu makan siang dan ikut salat Jumat di Sigi Kolano (masjid Kesultanan), saya pun mendatangi Nenek Salma di Seroja.

Nenek Ama, demikian beliau biasa dipanggil, menyambut saya dengan senang hati. Kondisi kesehatan beliau sebenarnya sedang tidak baik waktu itu, tapi kami bisa mengobrol hingga nyaris magrib. Tiga baterai kamera yang saya bawa sampai habis semua untuk merekam apa-apa yang Nenek Ama ceritakan.

Mula-mula saya pancing obrolan dengan menanyakan sosok Sultan Zainal Abidin Syah. Keluarga Nenek Ama masih ada kaitan darah dengan almarhum, jadi beliau dapat bercerita dengan sangat lancar. Ingatannya masih tajam. Hanya saja bicaranya sesekali terbata-bata, tidak lancar.

“Orangnya gagah sekali, tampan.” Nenek Ama membuka cerita. Ketika menyebut “gagah sekali” kedua tangannya mengacungkan jempol ke depan dada. Tampak sekali beliau amat bangga dengan sosok almarhum.

Menurut Nenek Ama, Sultan Zainal Abidin Syah naik tahta Kesultanan Tidore setelah dinobatkan di rumahnya. Ya, rumah yang sejak 2001 beliau sulap jadi Penginapan Seroja.

Penginapan Seroja, Tidore

Penginapan Seroja yang terletak di Kampung Soajawa, Soasio, ini awalnya rumah kediaman orang tua Nenek Salma yang kemudian diwarisinya. Sejak 2001, rumah tersebut disulapnya menjadi penginapan. Siapa sangka rumah ini menyimpan sejarah besar Tidore, sebagai tempat dinobatkannya Sultan Zainal Abidin Syah. FOTO: Eko Nurhuda/bungeko.com

“Siapa yang melantik beliau, Nek?” tanya saya dengan antusias.

“Ya, bobato-lah,” tukas Nenek Ama cepat. Bobato adalah satu perangkat adat Kesultanan Tidore.

“Kenapa dilantik di rumah ini?” Rasa ingin tahu saya begitu besar.

Nenek Ama diam sejenak. Beliau tampaknya berat mengatakan ini. “Dulu kan tidak ada Kedaton, dihancurkan sewaktu jaman Belanda,” ujarnya kemudian. Pandangan matanya menerawang ke langit-langit ruangan.

Kadato Kie atau istana Kesultanan Tidore memang sempat dibumi-hanguskan setelah Sultan Achmad Kawiyuddin (1894-1906) mangkat. Ini membuat Kesultanan Tidore seolah menghilang dari muka bumi. Tanpa sultan, tanpa istana. Beruntung beberapa pusaka berhasil diselamatkan, termasuk mahkota suci, sehingga keberlanjutan kesultanan masih dapat diupayakan.

Setelah lowong selama 41 tahun, posisi Sultan Tidore kembali diaktifkan dengan naiknya Sultan Zainal Abidin Syah pada 1947–beberapa sumber menyebut tahun berbeda. Lalu di masa Komando Mandala pembebasan Irian Barat, mengingat Papua sejak lama merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore, Presiden Soekarno melantik Sultan Zainal sebagai Gubernur Provinsi Perjuangan Irian Barat yang beribu kota di Soasio.

Nenek Ama juga punya cerita terkait hal tersebut. Menurut beliau, demi meraih dukungan rakyat Tidore Bung Karno beberapa kali datang langsung ke Soasio. Yang paling diingat Nenek Ama adalah kedatangan pertama Sang Proklamator pada 18 Juli 1954.

“Waktu itu Ibu masih SR (Sekolah Rakyat, setingkat SD), kira-kira usia 12 tahun,” kata Nenek Ama mengenang pertemuannya dengan Bung Karno. Meski saya terus memanggilnya “nenek”, namun Nenek Ana menyebut dirinya sendiri dengan “ibu.”

Diceritakan Nenek Ama, Bung Karno datang ke Tidore menumpang KRI Gadjah Mada. Ini kapal perang paling hebat pada masanya. Kapal legojangkar di perairan dangkal sekitar Dermaga Kesultanan, lalu Bung Karno dan Ibu Fatmawati dibawa ke Soasio menggunakan perahu kora-kora.

KRI Gadjah Mada

Inilah wujud KRI Gadjah Mada, kapal perang tercanggir milik TNI AL di awal kemerdekaan, yang menurut cerita Nenek Ama membawa Presiden Soekarno ke Tidore pada 18 Juli 1954. FOTO: indomiliter.com

Sebelum dibawa turun ke daratan, Bung Karno dan rombongan terlebih dahulu disambut dengan tari-tarian di atas KRI Gadjah Mada. Sejumlah gadis-gadis Tidore mendapat kehormatan untuk tampil di hadapan Presiden. Salah satu di antara gadis-gadis beruntung tersebut adalah Nenek Ama.

“Bagaimana perasaan Nenek waktu itu? Sempat gugupkah?” tanya saya.

Nenek Ama tertawa lebar. “Ibu berani-beranikan diri. Yang penting menari saja,” sahutnya sembari mengulum senyum. Lalu beliau melanjutkan, “Presiden Soekarno itu orangnya ganteng sekali, kulitnya bersih. Fatmawati juga cantik sekali.”

Saya jadi penasaran seberapa dekat jarak Nenek Ama dengan kedua sosok agung tersebut. Beliau menggambarkan, memang jaraknya tidak terlalu dekat dengan Bung Karno maupun Ibu Fatmawati, tapi juga tidak jauh. Kira-kira dua-tiga meter.

Begitu Presiden Soekarno mendarat di Soasio, Nenek Ama melanjutkan, yang pertama kali diteriakkannya adalah pekik “Merdeka!” Bung Besar meminta rakyat menyahuti teriakannya. Lalu Ibu Fatmawati menjadi dirigen, dengan kedua tangannya yang gemulai memimpin rakyat Tidore menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Dokumentasi kunjungan Presiden Soekarno ke Tidore ini masih tersimpan dalam bentuk video maupun foto-foto di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Namun Nenek Ama tidak menyimpan dokumentasi apapun saat menari di hadapan Bung Karno, 64 tahun lalu.

Beliau menyarankan saya ke museum di lantai bawah Kadato Tidore, atau ke Perpustakaan Daerah Kota Tidore Kepulauan. “Mana tahu ada,” kata beliau. Tapi saya tidak ambil pusing. Dapat mendengarkan cerita beliau selama berjam-jam saja saya sudah senang sekali.

Taman Fagogoru, Weda

Taman Fagogoru di tengah kota Weda, Halmahera Tengah. Tempat ini jadi saksi bisu kedatangan Ir. Soekarno saat memobilisasi massa dalam Perang Mandala Pembebasan Irian Barat. Inset: foto tugu pada Oktober 1954. FOTO: Eko Nurhuda/bungeko.com

Nenek Bujuna nan Baik Hati

Seorang Mayor Jenderal datang ke sebuah kota kecil di timur Indonesia, lalu meminta tumpangan untuk menginap barang beberapa malam kepada camat setempat. Jawaban yang didapat, “Maaf, tidak ada tempat menginap untuk Anda di rumah ini.”

Camat tersebut rupanya tidak tahu siapa tamunya dan memilih tidak mempercayainya. Beruntung seorang ibu muda berbaik hati menawarkan rumahnya sebagai tempat menginap sang Mayor Jenderal. Ibu muda tersebut adalah Bujuna Samdi, warga Desa Were di Weda yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Halmahera Tengah.

Lalu, siapakah Mayor Jenderal tadi? Beliau Soeharto, perwira tinggi Angkatan Darat yang tengah moncer karier militernya. Ketika datang ke Weda, Mayjen Soeharto berposisi sebagai Panglima Komando Mandala yang misi utamanya membebaskan Irian Barat dari cengkeraman Belanda.

Kedatangan Mayjen Soeharto ke Weda bukan tanpa alasan. Secara administratif, Weda yang merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Tidore masuk dalam wilayah Provinsi Perjuangan Irian Barat bentukan Presiden Soekarno. Selain Weda, daerah-daerah Kesultanan Tidore lainnya yang masuk dalam Irian Barat adalah Oba, Maba, Patani, dan Wasile.

Dari segi strategi militer, Weda adalah kota transit yang strategis menuju Irian Barat. Ada banyak kapal dari Ternate menuju Weda. Lalu dari Weda, Mayjen Soeharto tinggal berlayar selama 12 jam menuju Pulau Gebe. Pulau ini merupakan basis utama Pasukan Gerilya sebelum diterjunkan ke daratan Papua.

Jumat (30/3/2018) siang itu saya dan Mbak Evy Priliana Susanti diantar Ibu Tantry, istri mantan Wakil Bupati Halmahera Tengah, mendatangi rumah Nenek Bujuna Samdi. Kami disambut oleh menantu lelaki si Nenek, sebelum akhirnya Nenek Bujuna keluar menemui kami di ruang tamu.

Begitu suasana memungkinkan, saya langsung melontarkan pertanyaan pada Nenek Bujuna. Tentunya sembari mengarahkan kamera ke arah beliau, bersiap merekam apapun yang nanti menjadi jawaban.

Rumah Nenek Bujuna Samdi, tempat menginap Panglima Komando Mandala

Di rumah inilah Nenek Bujuna Samdi memberi tumpangan pada Mayjen Soeharto, Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Beberapa barang yang pernah dipakai alm. Pak Harto masih disimpan baik oleh Nenek Bujuna. FOTO: Eko Nurhuda/bungeko.com

“Kenapa Nenek bersedia menampung Pak Harto?” tanya saya. Bu Tantry menerjemahkan pertanyaan saya ke dalam bahasa Melayu dialek Papua Barat bercampur Tidore agar si Nenek mengerti.

“Saya kasihan saja. Dorang datang jauh-jauh tapi tarada yang kase tempat menginap,” jawab beliau.

“Nenek tahu tidak kalau beliau itu Panglima Komando Mandala?” tanya saya lagi.

“Tidak tahu. Torang kasihan saja karena Pak Camat tara kase dorang menginap, jadi torang kase inap di sini,” kata beliau.

Nenek Bujuna lalu menunjukkan kamar di mana Pak Harto dulu menginap. Letaknya paling depan, bentuknya masih sama seperti puluhan tahun lalu, hanya saja isi kamar telah berubah karena kini ditempati salah seorang cucu Nenek.

Koil besi tempat Pak Harto tidur masih ada disimpan, tapi sudah patah-patah,” menantu Nenek Bujuna menerangkan saat saya melongok kamar bersejarah tersebut. Koil yang dimaksud adalah ranjang, tempat tidur.

Nenek Bujuna masih mengingat jelas kebiasaan sehari-hari Pak Harto sewaktu menginap di rumahnya. Beliau juga ingat menu apa saja yang paling sering dimasak untuk Pak Harto. Lalu tiba-tiba Nenek tertawa geli sewaktu menceritakan Pak Harto musti keluar agak jauh ke arah rawa-rawa untuk mandi dan buang air besar.

Menantu lelaki Nenek Bujuna kemudian masuk ke dalam, keluar lagi membawa sebuah teko keramik yang retak-retak.

Sungkem pada Nenek Bujuna Samdi

Sebagai orang Jawa, saya tak pernah melewatkan sesi sungkeman seperti ini saat berpamitan pada orang tua. Utamanya pada Nenek Bujuna Samdi yang merupakan saksi sejarah Perang Mandala. Tampak di meja teko keramik tempat minum Pak Harto. FOTO: Januar Cahya AM/bungeko.com

“Ini teko tempat minum Pak Harto. Dulu sempat pecah, tapi oleh Nenek disusun ulang jadi begini,” jelasnya.

Teko diletakkan hati-hati di atas meja. Saya dan Mbak Evy bergegas mengambil kamera dan menjepret benda bersejarah tersebut. Setelah menggunakan kamera, ganti kamera ponsel yang beraksi.

Selain Pak Harto, banyak tokoh-tokoh nasional lain yang mendatangi Weda pada masa-masa itu. Menantu Nenek Bujuna menyebut nama Bung Hatta dan Bung Tomo, juga Sultan Zainal Abidin Syah selaku penguasa lokal.

Tak ketinggalan Presiden Soekarno bersama Ibu Fatmawati yang datang ke Weda pada 1 Agustus 1957. Sambutan yang diberikan warga masyarakat Weda terhadap Bung Karno begitu meriah. Bung Karno juga sempat meletakkan karangan bunga di tugu tengah-tengah kota yang tahun lalu direnovasi menjadi Taman Fagogoru.

Sayang, rumah tempat menginap Bung Karno dan isteri sudah dirubuhkan, berganti bangunan mes pegawai. Taman Fagogoru pun kondisinya memprihatinkan. Sangat tidak mencerminkan bahwa di tempat tersebut pernah berdiri satu sosok agung pendiri bangsa, sang Proklamator.

Ketika saya melongok taman tersebut dari dekat tampak rumput tinggi, kotoran kambing di mana-mana, sampah berserakan termasuk beberapa botol minuman keras, sedangkan tulisan “TAMAN FAGOGORU” hanya tersisa beberapa huruf saja.

Menyedihkan.

Foto bareng keluarga Kakek Is

Saya, Bams Conoras, dan adik, berfoto bersama keluarga Kakek Is. Tampak putera keenam M. Yusbadril dan seorang menantu di belakang Nenek Laila Badar. FOTO: M. Yusbadril, digunakan dengan izin.

Kakek Is Sang Jurnalis

Perjuangan pembebasan Irian Barat tak melulu melibatkan personil militer. Pemerintah memandang perlu adanya petugas-petugas penerangan untuk mengedukasi rakyat Papua kenapa mereka harus menentang Belanda dan bergabung dengan Republik Indonesia.

Untuk tugas mulia tersebut direkrutlah sejumlah wartawan mengikuti Pasukan Gerilya yang diterjunkan ke Papua. Salah satunya adalah Idris Jusuf, seorang wartawan kelahiran Soasio yang sempat membidani beberapa surat kabar lokal di Tidore dan Ternate.

Kakek Is, demikian beliau biasa dipanggil, tanpa ragu mendaftarkan diri pada komandan militer di Soasio agar dikirim ke Papua. Beliau sampai menghadap R. Pamudji yang ketika itu merupakan Wakil Gubernur Provinsi Perjuangan Irian Barat demi memuluskan niat.

Tak menunggu lama, Idris muda mendapat surat perintah ke Papua. Beliau dimasukkan dalam Pasukan Gerilya 500 di bawah komando eks kombatan PRRI/Permesta, J. Komontoy. Maka, berlayarlah beliau dari Ternate menuju Pulau Gebe. Setelah singgah beberapa saat, beliau dan anggota PG 500 lainnya dikirm ke Pulau Waigeo dengan kapal motor.

Sebagai anggota PG 500, Kakek Is ikut berhadap-hadapan dengan tentara Belanda. Ia sempat merasakan dihujani bom oleh kapal perang Belanda, terancam di bawah pesawat patroli musuh, atau tidur di alam terbuka dalam kondisi hujan lebat. Semua pengalaman tersebut beliau abadikan dalam buku berjudul Melintasi Tapal Batas (PT Pradana Expose Media, 2016).

Saya mendapat buku tersebut usai berbincang-bincang dengan Nenek Ama di Seroja, Agustus 2017. Dari Nenek Ama pula saya tahu Kakek Is kini bermukim di Ternate. Dengan bantuan Ci Anita Gathmir di Jakarta, saya mendapat alamat menuju rumah Kakek Is dan berniat menyambanginya sebelum kembali ke Jawa.

Sayang, karena kontak yang diberikan tidak kunung dapat dihubungi, saya tidak berhasil menemui Kakek Is. Saya baru berhasil menemukan rumahnya pada percobaan kedua, 2 April 2018 lalu. Semua berkat bantuan (lagi-lagi) Ci Anita, Bams Conoras, dan seorang temannya yang tinggal satu kelurahan dengan Kakek Is.

Sungkem pada Kakek Is

Saat berpamitan, saya pun sungkem pada Kakek Idris Jusuf. Doakan kami dapat berjumpa lagi nanti. Amin. FOTO: Januar Cahya AM/bungeko.com

Kakek Is sebenarnya juga sedang tidak fit sore itu. Namun beliau menguatkan diri berjalan menuju depan gang menjemput kami. Saya terharu. Bams langsung mencium tangan beliau sembari memuji, “Tete dulu waktu muda pasti gagah sekali.” Kakek Is hanya tersenyum.

Sesampainya di rumah, isteri Kakek Is mempersilahkan kami duduk. Laila Badar namanya, seorang wanita keturunan Arab yang diceritakan dalam buku Melintasi Tapal Batas. Malam sebelum pergi ke Pulau Gebe, Idris muda mendayung kora-kora menuju Ternate untuk berpamitan pada Laila.

“Nenek tidak sedih ka waktu itu? Tidak takut Tete ditembak Belanda?” Bams tak kuasa menahan rasa ingin tahunya.

Nenek Laila mengulum senyum di atas kursi rodanya. Sambil memandangi kami satu-satu beliau menjawab, “Tidak takut. Saya percaya saja dia pasti kembali.”

Sempat diselingi salat magrib, obrolan kami berlanjut hingga pukul sembilan malam. Macam-macam kami tanyakan pada Kakek Is dan Nenek Laila. Mulai dari pengalaman Kakek Is selama menjadi anggota PG 500 di Waigeo, sampai urusan asmara di masa muda. Khusus yang terakhir Bams paling banyak bertanya.

Di atas meja dihidangkan teh manis dan aneka jajanan khas Tidore-Ternate. Ada kue asida, lalampa yang mirip lemper di Jawa, dan roti coe alias roti kukus. Tapi kami lebih tertarik menanggap cerita Kakek Is.

Pada akhirnya waktu jualah yang membatasi kami. Pukul sembilan malam tepat, Bams mewakili kami pamit pulang dalam bahasa Tidore. Sembari melangkah ke sepeda motor, dalam hati saya berjanji suatu saat bakal kembali lagi ke rumah ini.

*****

Bandara Sultan Babullah Ternate

Bandara Sultan Babullah Ternate, gerbang masuk utama menuju Maluku Utara. Tampak arakan awan kelabu menutupi Gunung Gamalama yang berada tepat di belakang gedung terminal. FOTO: Eko Nurhuda/bungeko.com

MALUKU Utara masih menyimpan banyak lagi kisah-kisah menarik seperti di atas. Beberapa sosok pelaku dan saksi sejarah juga masih banyak yang bisa dikorek ceritanya. Namun, perjalanan ke sana sungguh tidak mudah mengingat jaraknya yang memang sangat jauh dari Jawa.

Dari Jakarta saja kita musti terbang selama 3 jam 50 menit menuju Ternate. Nyaris empat jam lamanya! Mengintip peta, Jakarta terletak pada koordinat latitude -6.2146 dan longitude 106.8451. Sedangkan koordinat Ternate pada (0.7907, 127.3842). Jika ditarik garis lurus antara kedua kota, terbentang jarak sejauh 2.409 km.

Angka itu hampir setara dengan jarak Lisbon di Portugal dengan Tirana di Albania. Atau kalau di Amerika Serikat kurang-lebih sama dengan jarak San Francisco di California dengan Kansas City di Missouri.

Jika garis lurusnya ditarik ke atas, maka posisi Jakarta sejajar dengan Ho Chi Min City di Vietnam dan Ternate segaris dengan Seoul di Korea Selatan. Dan itu jauh sekali, saudara-saudara.

Masih belum dapat membayangkan? Tarik garis lurus dari Sabang sebagai titik nol kilometer Indonesia ke Pelabuhan Bakauheni di Lampung Selatan, maka kita “hanya” akan mendapat angka 1.742 km. Jadi, jarak Jakarta-Ternate 700 km lebih jauh dari panjang Pulau Sumatera dari utara ke selatan!

Jarak yang jauh itu berimbas pada mahalnya biaya perjalanan. Moda paling cepat tentu pesawat, dan itu harga tiketnya wow. Tiket Pesawat sekali berangkat ke Ternate bisa untuk pergi-pulang ke Singapura atau Kuala Lumpur.

Lima keunggulan Skyscanner

Untungnya saya hidup pada masa di mana teknologi begitu canggih. Apapun persoalan kita seolah ada saja solusinya berkat kemajuan teknologi. Termasuk untuk urusan mencari tiket murah. Ya, tiket menuju Ternate memang pada dasarnya tidak murah. Tapi setidaknya saya bisa mencari yang termurah untuk menghemat anggaran.

Sejak mengenal layanan ini beberapa tahun lalu, saya sudah biasa memakai Skyscanner untuk mencari tiket murah ke tujuan tertentu. Biasanya lewat web, tapi tak jarang pula melalui aplikasi di smartphone yang jauh lebih praktis dan mobile.

Aplikasi Skyscanner bisa diunduh secara gratis di Google Playstore maupun Apps Store bagi pemakai iOS. Ukurannya tidak besar, terlebih bila dibandingkan dengan manfaat yang diberikan. Untuk mulai menggunakan kita cukup mendaftarkan diri setelah aplikasi terpasang di smartphone.

Cara download aplikasi Skyscanner

Sebagai catatan, Skyscanner bukanlah online agent travel (OTA) di mana kita bisa memesan tiket, melainkan mesin pencarian. Sama seperti Google, hanya saja Skyscanner mengkhususkan diri pada pencarian tiket pesawat. Hasil pencariannya lantas diurutkan berdasarkan filter termurah, tersingkat, atau direct flight.

Cara menggunakan layanan Skyscanner sangat mudah. Kita cukup memasukkan nama kota atau nama bandara asal, nama kota/bandara tujuan, dan tanggal keberangkatan. Selanjutnya biarkan mesin Skyscanner bekerja.

Misalnya saya ingin mencari tiket Jakarta-Ternate untuk 23 April nanti. Maka saya masukkan CGK sebagai kode Bandara Soekarno-Hatta di kolom kota asal, dan kode TTE sebagai kode Bandara Sultan Babullah sebagai kota tujuan. Tunggu beberapa saat, Skyscanner pun mengurutkan penerbangan-penerbangan yang tersedia.

Selanjutnya tinggal kita pilih mau memakai penerbangan yang mana. Saya sih kalau selisih harganya tidak terlalu banyak bakal pilih Tiket Pesawat Garuda. Bukan apa-apa, penerbangannya sangat panjang jadi harus diimbangi dengan kenyamanan.

Cara cari tiket murah di aplikasi Skyscanner

Saya pernah beberapa kali mencicipi penerbangan Garuda Indonesia. Kesemuanya lebih pendek dari jarak Jakarta-Ternate. Paling singkat rute Jakarta-Bandarlampung yang hanya beberapa puluh menit. Sedangkan penerbangan terjauh dengan Garuda Indonesia sejauh ini rute Jakarta-Denpasar.

Dari pengalaman yang sudah-sudah, harus diakui Garuda Indonesia is the best. Baru masuk pesawat kita sudah ditawari permen. Lalu beberapa saat setelah lepas landas pramugari berkeliling menawarkan kopi, teh, dan aneka jus. Untuk penerbangan satu jam lebih disediakan makanan.

Selain jus buah, anak-anak saya suka sekali naik Garuda Indonesia karena mereka selalu mendapat hadiah boneka hewan. Itu sebabnya setiap kali merencanakan mudik Lebaran ke Jambi mereka request Tiket Pesawat Garuda Indonesia yang, sayangnya, tidak selalu bisa saya penuhi.

Lebaran tahun ini saja ya, Nak ๐Ÿ™‚


Saya masih punya rencana ke Ternate lagi. Tujuan utama adalah mendokumentasi orang-orang seperti Nenek Salma, Nenek Bujuna, dan Kakek Is. Saya ingin sekali mengabadikan kisah beliau-beliau ini dalam bentuk video dokumenter dan juga buku. Video dapat diunggah di YouTube, sedangkan buku bisa dipasarkan melalui toko-toko buku agar lebih banyak yang mengetahui kisah-kisah mereka.

Karenanya, dalam tahun-tahun mendatang saya masih akan terus kembali ke Ternate, Tidore, Weda, juga daerah-daerah lain di Maluku Utara untuk menuntaskan proyek pribadi ini. Toh, saya bisa memanfaatkan Skyscanner untuk mencari tiket murah.

Ke Ternate yang penerbangannya berdurasi 3 jam 50 menit, jika suatu saat nanti berkesempatan kembali ke Maluku Utara, saya rasa terbang dengan Garuda Indonesia menjadi keharusan. Ya, agar saya nyaman dan kenyang setibanya di Ternate, sehingga begitu mendarat bisa langsung explore lagi menelusuri sejarah-sejarah yang tercecer.

Semoga saja! Amin.

DISCLAIMER: Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner.

Referensi daring:
– pikiran-rakyat.com/nasional/2016/06/22/soekarno-dan-pidatonya-yang-tak-terlupakan-372577
– rosodaras.wordpress.com/2009/05/31/pidato-terakhir-bung-karno/
– factsanddetails.com/world/cat54/sub345/item1610.html
– persee.fr/doc/arch_0044-8613_1992_num_43_1_2804
– britannica.com/place/Moluccas

Iklan

About Eko Nurhuda (355 Articles)
A happy father of two. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

20 Comments on Serunya Jelajah Sejarah di Maluku Utara

  1. Sntimainstream ya mas, berwisata bersama lansia hehee just kidding

    Suka

  2. Senang ya bisa bertemu dengan orang-orang yang luar biasa di Tidore

    Suka

  3. Benar-benar salah jurusan waktu kuliah dulu, harusnya Mas Eko ambil jurusan sejarah. Passion benar terlihat jadi travelingnya berbobot. Aku pribadi juga suka sih yang berbau sejarah walau minus pelesiran hehe. Baca buku aja. Traveling bagian Mas Eko aja, aku yang baca. Gini aja udah anteng depan laptop je.

    Suka

  4. Iyanih naek garuda pertama kali ketagihan banget ๐Ÿ˜€

    Suka

  5. Suatu saat emg harus ke Ternate nih sepertinya

    Suka

  6. Kalo ada rencana ke Ternate atau Tidore, kabar2i ya mas Eko, siapa tahu bisa ikutan. Kan jadi bisa nabung dulu buat beli tiket pesawat Garuda..hehe
    Aku suka banget kalo mas Eko udah nulis cerita yg berkaitan deg sejarah gini, serasa diceritain langsung sama orangnya

    Suka

    • Insya Allah, Mbak. Memang selalu ada niatan ke Maluku Utara lagi, soalnya semakin dikulik kok malah semakin banyak ceritanya. Jadi kaya orang minum air garam gitu, semakin diminum semakin haus. Nanti ta kabari kalau ada rencana ke Ternate lagi, mana tahu bisa bareng ๐Ÿ™‚

      Suka

  7. Tulisan ini mas Eko bingits! detail dan menyentuh.

    Suka

  8. keren bang, wisata sekalian belajar sejarah

    Suka

  9. Beruntungnya Mas Eko bisa ketemu dengan para saksi sejarah.. ๐Ÿ™‚ Aku waktu sekolah dulu juga suka pelajaran sejarah. Sampai pernah baper gara-gara pas ulangan cuma salah satu, itu pun gara-gara ejaan nama orang yg salah.. haha.. Masih inget sampe sekarang.. ๐Ÿ˜€ Semoga bisa mudik ke Jambi juga pakai Garuda ya biar anak-anak pada seneng.. ๐Ÿ™‚

    Suka

  10. Angkat tangan deh kalo mas Eko sudah bawa tema kayak gini.

    Suka

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: