Highlight:

Tari Kapita di Rum Balibunga

Pulau Maitara

Pulau Maitara tampak hijau dengan latar belakang langit biru, juga hamparan laut membiru di sekelilingnya. FOTO: Eko Nurhuda

Disambut Tari Kapita

Seperti halnya dari Bandara Sultan Baabulah ke Pelabuhan Perikanan Nusantara di Ternate, rombongan kami kembali dibagi dalam dua mobil. Rombongan blogger dan ibu-ibu juri di mobil hitam, lainnya di mobil putih. Dan lagi-lagi saya mendapat kehormatan duduk di depan, samping pengemudi.

Mobil hitam yang kami tumpangi awalnya hendak menuju ke selatan, ke arah Mareku. Namun rupanya mobil yang berisi rombongan Ci Ita mengambil jalan ke utara, ke arah Tanjung Konde. Sopir kami sigap memutar kemudi.

“Lewat jalan belakang saja,” seru sopir mobil putih pada sopir mobil kami ketika kedua kendaraan berjajar.

Sopir kami mengangguk. Entah apa maksud “jalan belakang” itu, tapi sepertinya istilah tersebut sudah sangat familiar bagi mereka. Mobil putih melaju lebih dulu meninggalkan Pelabuhan Rum. Kami membuntuti di belakang.

Saya menurunkan kaca pintu lebih rendah lagi. Pemandangan di sisi kiri terlalu sayang jika hanya disaksikan dari balik kaca mobil. Keindahan alam ini harus dilihat langsung dengan mata kepala, tanpa pembatas apapun.

Pelabuhan Rum menjauh. Pulau Maitara seolah bergerak mengikuti kami. Sementara Ternate di kejauhan tertutup rumah-rumah dan pepohonan di sepanjang tepi jalan. Angin sepoi-sepoi bertiup dari arah laut, membawa aroma garam nan khas.

Setelah berkelok dua kali, tepat selepas kawasan PLTU Tidore jalanan mulai menanjak. Sopir kami memindah persneling, bersiap menaiki tanjakan terjal berkelok di depan sana. Tapi rupanya mobil di depan menepi dan berhenti. Kami ikut berhenti. Semua penumpang turun.

Sekelompok penari Tari Kapita bersiap

Di kejauhan, di bawah rindang pohon, tampak tiga orang berpakaian putih-putih membawa golok dan tameng berdiri. Mereka penari Tari Kapita, tarian khas Tidore. FOTO: Eko Nurhuda

Dipenuhi keheranan saya mendekati Yuk Annie.

Kok brenti ngapo, Yuk?” tanya saya dalam bahasa Palembang. Maksud saya, kenapa baru berjalan sebentar saja kami sudah berhenti lagi?

Ado penyambutan,” jawab Yuk Annie singkat.

“Penyambutan?” Saya bertambah heran. Penyambutan tamu, maksudnya? Saya tak lihat ada tanda-tanda penyambutan sama sekali, selain beberapa orang lelaki berdiri di kejauhan.

Iyo, ado Tari Kapita. Tarian khusus untuk tamu terhormat,” Yuk Annie menjelaskan dengan wajah menyungging senyumnya yang khas.

Wajah saya berbinar. Tamu terhormat, katanya? Sejak kapan saya jadi orang terhormat?

“Wah, spesial dong?” saya tak bisa menyembunyikan rasa bangga dalam nada pertanyaan tersebut.

Yuk Annie tersenyum lebar. “Spesiaaaal…” jawabnya panjang.

Saya memandang ke depan sekali lagi, ke arah sudut bangunan kayu tempat kami berhenti. Barulah mata saya dapat melihat tiga pemuda berpakaian putih-putih, satu berikat kepala merah dan dua lainnya berikat kepala putih. Ketiganya menghunus golok di tangan kanan.

Lalu tampak satu pemuda lain berpakaian kasual. Ia memakai kemeja kotak-kotak dan celana jins, duduk di beton saluran air. Pada sela-sela kakinya terdapat tetabuhan serupa kendang. Seingat saya alat musik tradisional begitu disebut tifa.

Seorang lelaki gagah berkacamata hitam menghampiri kami. Ia juga berpakaian kasual: kaos biru dongker dengan lengan panjang berwarna merah, dipadu celana jins biru gelap. Kacamatanya terlihat semarak dengan bingkai dan tangkai berwarna-warni.

Tari Kapita Tidore

Tari Kapita, sebuah tarian perang khas Tidore. Menceritakan seorang panglima perang beserta pasukannya menyambut kedatangan Sultan Tidore sebelum berangkat menuju medan pertempuran. FOTO: Eko Nurhuda

“Yang blogger-blogger di depan,” katanya pada kami. “Nanti terima kalung dari…” ia mengucapkan kalimat terpenggal itu sembari memperagakan orang tengah memberi kalungan bunga.

Oke, jadi ini dia penyambutan yang dimaksud Yuk Annie tadi. Pertunjukan Tari Kapita yang kemudian diikuti kalungan bunga selamat datang untuk kami. Ah, mimpi apa saya semalam? Tapi rasanya saya semalam tidak bisa tidur nyenyak, mana mungkin bermimpi.

Kami pun berbaris memenuhi separuh badan jalan. Berturut-turut dari kiri ke kanan adalah Mas Rifqy, Mbak Zulfa, Yayan, Koh Deddy, dan saya. Tak lama berselang tifa ditabuh. Iramanya rancak menggelora. Terdengar jeritan “Uhuuu!” lalu tiga pemuda berpakaian putih setengah berlari menuju ke arah kami.

Ketiganya berhenti sekitar dua meter di hadapan kami, membentuk formasi segitiga: satu di depan, dua di belakang. Diiringi tabuhan tifa nan ritmis ketiganya bergerak menghentak-hentakkan kaki, bergerak berputar ke kanan dan ke kiri, golok di tangan kanan di acung-acungkan ke depan. Sesekali pemuda berikat kepala merah berseru “Uhuuu!” Seolah komando bagi dua penari lain di belakangnya.

Tari Kapita bercerita tentang perlawanan rakyat Tidore melawan penjajah. Kapita berarti panglima, dan keseluruhan gerakan dalam tarian ini melambangkan panglima dan pasukannya menyambut Sultan Tidore yang akan memimpin mereka menuju medan pertempuran. Karena merupakan tari bertema perang, ketiga penari selalu menampilkan wajah garang.

Kami berlima menikmati Tari Kapita dengan sungguh-sungguh. Tapi tentu saja sembari mengabadikan tarian ini dengan perangkat masing-masing. Kira-kira semenit berselang tepukan tangan seorang lelaki berkacamata lain menjadi pertanda berakhirnya pertunjukan tari.

Dua penari berikat kepala putih berlari ke belakang, ke tempat mereka tadi datang. Ketika tepuk tangan semakin riuh, penari berikat kepala merah turut meninggalkan arena. Suara tifa menghilang.

Kalungan bunga dari Bapak Yakub Husain

Sebuah kalungan bunga tanda kehormatan dari Bapak Yakub Husain, Kepala Dinas Pariwisata Kota Tidore Kepulauan. FOTO: Katerina S.

Lelaki berkacamata yang mengawali bertepuk tangan rupanya Kepala Dinas Pariwisata Kota Tidore Kepulauan, Bapak Yakub Husain. Sembari terus bertepuk tangan beliau melangkah menghampiri kami. Kami ikut bertepuk tangan, dan baru berhenti setelah Pak Yakub bersiap mengalungkan bunga.

“Siapa dulu ini?” tanya beliau. Kedua tangannya terangkat memegang kalung bunga.

Ladies first, ladies first,” kami para laki-laki kompak mempersilakan Mbak Zulfa mendahului menerima kalungan bunga. Sambil tersenyum serba salah blogger asal Gresik tersebut maju satu langkah dan membungkukkan badan. Kalung bunga dari tangan Pak Yakub mendarat mulus di lehernya.

Setelah menyalami Mbak Zulfa, Pak Yakub kembali mengambil kalung bunga. Berturut-turut kemudian Mas Rifqy, Yayan, saya, dan Koh Deddy menerima kalungan bunga. Kami salami Pak Yakub dengan jabat tangan erat. Senyum lebar merekah di wajahnya saat kami bertatap pandang.

Masih ada dua kalung bunga tersisa. Sempat timbul pertanyaan mengenai siapa yang layak mendapatkannya selain kelima blogger. Setelah menimbang sejenak, Pak Yakub memberikannya pada Yuk Annie dan Bu Woro.

Matahari semakin tinggi. Bayang-bayang kami di aspal jalan terlihat kian pendek.

BERSAMBUNG…

Tulisan ini merupakan seri keempat dari rangkaian reportase trip Blogger Goes to Tidore selama Festival Hari Jadi Tidore ke-909 pada 8-13 April 2017. Terima kasih banyak pada Ngofa Tidore Tour & Travel beserta segenap sponsor yang telah memfasilitasi perjalanan ini.

Catatan: Seluruh foto dipakai dengan seijin pemilik masing-masing. Foto-foto dengan watermark bungeko.com adalah hasil jepretan saya sendiri, selain itu dicantumkan nama fotografer & pemilik hak ciptanya di dalam caption.

About Eko Nurhuda (348 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

4 Comments on Tari Kapita di Rum Balibunga

  1. Lengkap kap kap… Pengen banget ke Indonesia Timur tapi belum kesampaian, baca ini jadi semakin kuat keinginannya, hihi mupeng… Keren banget sampe disambut begitu… Baru tahu kalau buah pala bisa dijadikan manisan…

    Suka

    • Ini baru tulisan keempat dari entah berapa seri tulisan, Mbak. Hehehe. Saking banyaknya yang pengen diceritain dari perjalanan berkesan awal tahun lalu.

      Manisan pala seger-seger asem gimana gitu. Sayangnya yang buat masih angin-anginan, jadi nggak setiap hari ada dan kalaupun dia buat jumlahnya nggak terlalu banyak. Mungkin bagi orang sana manisan pala cuma jajanan bocah, sedangkan bagi orang asing seperti kami ini jajanan luar biasa. Ada cerita berusia setengah abad pula di balik buah tersebut, jadi semakin tertarik.

      Insya Allah nanti kesampaian keinginannya ke Indonesia Timur πŸ™‚

      Suka

  2. detil sekali mas eko runut cerita, aku ada yang terlupa jadi inget pas baca.

    Suka

    • Hehehe, aku kebantu rekaman video. Untuk beberapa detil terkadang lupa-lupa ingat, biasanya kukonfirmasi dulu sama orangnya. Jadi, siap-siap ya bisa jadi nanti aku japri Koh Deddy buat nanya sesuatu yang aku lupa-lupa ingat. Hehehe

      Suka

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: