Iklan
Highlight:

Tari Kapita di Rum Balibunga

Buah pala

Buah pala tampak merekah di pohon, memperlihatkan bijinya yang masih disalut selaput merah. FOTO: Wikipedia

Manisan Pala

“Yuk, kita jalan,” suara Ci Ita memecah lamunan saya. Teman-teman sudah selesai mengambil foto rupanya.

Kami semua bergerak menuju pintu keluar. Begitu melewati tumpukan bagasi, saya berhenti untuk mengambil bawaan yang dari tadi tergeletak di sebelah tiang. Sebuah tas punggung hitam berukuran sedang.

Teman-teman lain melakukan hal sama, meraih tas masing-masing untuk dibawa keluar. Seorang nenek renta yang duduk setengah berjongkok tepat di samping tumpukan bagasi kami memandangi dalam diam. Di hadapannya terdapat meja kecil berisi berbagai penganan dan buah. Satu yang langsung saya kenali adalah kacang rebus.

Lalu ekor mata saya melihat Bu Woro mendekati si nenek, memegangi bungkusan-bungkusan plastik kecil berisi manisan. Jumlahnya hanya beberapa bungkus, diletakkan begitu saja di atas tutup biru sebuah kaleng plastik besar. Entah buah apa yang dibuat sebagai manisan saya belum tahu.

Ci Ita ikut mendekat, disusul Mas Dwi yang juga turut mengambil bungkusan manisan. Saya jadi tertarik dan bergabung bersama mereka. Bu Woro sudah mengulurkan beberapa ribu rupiah dari kantongnya kepada si nenek.

Matur nuwun nggih, Mbok,” ujar Bu Woro sembari menerima beberapa bungkusan manisan dalam plastik kecil.

Si nenek hanya tersenyum, memperlihatkan gigi-giginya yang jarang.

Njenengan tiang jawi to?” Bu Woro berkata lagi pada si nenek penjual.

Simbah penjual manisan pala di Pelabuhan Rum, Tidore

Nenek penjual manisan pala di Pelabuhan Rum, Tidore, tengah melayani Bu Woro yang membeli beberapa bungkus. FOTO: Rifqy Faiza Rahman

Saya tak begitu memperhatikan percakapan berikutya. Namun saya sepakat dengan dugaan Bu Woro. Dilihat sekilas si nenek penjual manisan memiliki garis-garis jawa di wajahnya. Garis-garis wajah yang, sebagai orang jawa yang kini tinggal di Pulau Jawa, sangat saya kenali.

Baru beberapa hari setelahnya kami dapat cerita kalau orang jawa banyak tersebar di Pulau Tidore. Mereka sudah datang sejak ratusan tahun lalu, berdagang dan berdakwah. Bahkan dua dari tiga imam Kesultanan Tidore selalu berasal dari keturunan jawa.

Di jajaran bobato adat Kesultanan juga terdapat jabatan khusus yang mengurusi orang-orang jawa, Fanyira Jawa. Pejabatnya disebut Fomanyira Jawa, tinggal di Soa Jawa yang merupakan bagian dari Soasio. Fomanyira Jawa diangkat dari kalangan keturunan-keturunan jawa di Tidore.

Meski tak terkonfirmasi apakah si nenek keturunan jawa atau bukan, yang jelas dagangannya laris manis hari itu. Mas Dwi ternyata ikut membeli manisan tersebut. Saya jadi tertarik makanan apa itu sebenarnya.

“Apa itu, Mas?” tanya saya ke Mas Dwi sembari melangkah ke pintu keluar.

Mas Dwi yang tengah mengunyah potongan-potongan manisan tersebut menoleh.

“Manisan pala,” sahutnya. “Mau?” Ia sorongkan bungkusan manisan pala yang sudah terbuka ke saya.

Terdorong rasa penasaran saya menerima angsuran tangan Mas Dwi. Bungkusan manisan pala berpindah. Saya mengambil sepotong dan memasukkannya ke mulut. Rasa asam, sepat, dan pahit bercampur jadi satu dalam mulut saya. Ditambah sedikit rasa pedas dari air manisan.

Saya meringis.

Manisan pala di Pelabuhan Rum, Tidore

Manisan pala yang dijajakan seorang nenek di Pelabuhan Rum, Tidore. FOTO: Dwi Setijo Widodo

“Enak, kan?” Mas Dwi bertanya. Buru-buru saya mengangguk. Antara meringis dan mencoba tersenyum, rasanya Mas Dwi melihat seringai di wajah saya.

Ini bukan kali pertama saya makan manisan pala. Semasa SMA saya pernah mencicipi kreasi rempah satu ini. Tapi yang pernah saya makan sebelumnya tidak begini bentuknya. Saya masih ingat betul manisannya diiris membentuk seperti kelopak bunga, kering, dan bertabur butiran-butiran gula pasir.

Sedangkan manisan milik si nenek di Pelabuhan Rum ini berupa irisan-irisan berukuran sedang, agak tipis, dan direndam dalam air manis-pedas. Membandingkan penampilan keduanya, manisan pala yang saya cicipi semasa remaja lebih menarik. Cuma soal rasa ya 11-12.

“Murah, cuma seribuan sebungkus,” kata Mas Dwi lagi.

Saya tak menanggapi. Mulut ini rasanya jadi lebih tebal dan kaku. Tapi demi memegang teguh prinsip pantang menyia-nyiakan makanan, saya telan manisan pala tersebut sembari menahan rasa tak karuan yang menjalari tenggorokan.

Masih ada beberapa iris lagi di dalam bungkusan yang saya pegang. Sembari menuju mobil carteran yang dipesan Ci Ita, satu demi satu irisan-irisan manisan pala itu saya lumat pelan-pelan. Sedikit demi sedikit seluruh isi bungkusan berpindah ke dalam usus saya.

Baca lanjutannya di sini…

Iklan
About Eko Nurhuda (352 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

6 Comments on Tari Kapita di Rum Balibunga

  1. Aku jadi pengen maem nasi kuning jumbonya lho.
    Galfok deh. Hahahha

    Suka

  2. Lengkap kap kap… Pengen banget ke Indonesia Timur tapi belum kesampaian, baca ini jadi semakin kuat keinginannya, hihi mupeng… Keren banget sampe disambut begitu… Baru tahu kalau buah pala bisa dijadikan manisan…

    Suka

    • Ini baru tulisan keempat dari entah berapa seri tulisan, Mbak. Hehehe. Saking banyaknya yang pengen diceritain dari perjalanan berkesan awal tahun lalu.

      Manisan pala seger-seger asem gimana gitu. Sayangnya yang buat masih angin-anginan, jadi nggak setiap hari ada dan kalaupun dia buat jumlahnya nggak terlalu banyak. Mungkin bagi orang sana manisan pala cuma jajanan bocah, sedangkan bagi orang asing seperti kami ini jajanan luar biasa. Ada cerita berusia setengah abad pula di balik buah tersebut, jadi semakin tertarik.

      Insya Allah nanti kesampaian keinginannya ke Indonesia Timur πŸ™‚

      Suka

  3. detil sekali mas eko runut cerita, aku ada yang terlupa jadi inget pas baca.

    Suka

    • Hehehe, aku kebantu rekaman video. Untuk beberapa detil terkadang lupa-lupa ingat, biasanya kukonfirmasi dulu sama orangnya. Jadi, siap-siap ya bisa jadi nanti aku japri Koh Deddy buat nanya sesuatu yang aku lupa-lupa ingat. Hehehe

      Suka

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: