Highlight:

Tari Kapita di Rum Balibunga

Pelabuhan Rum, Tidore

Tampak depan Pelabuhan Rum, Tidore, dilihat dari arah terminal angkot yang berada persis di seberang jalan. FOTO: Eko Nurhuda

Pelabuhan Bersejarah

Pelabuhan Rum bertambah ramai. Pengendara sepeda motor kian banyak memenuhi dermaga, antri dimuat ke atas motor kayu. Di sebelah lain terdengar suara mesin tempel speed boat meraung-raung. Di sela-sela kesibukan itu kami asyik menghabiskan sarapan nasi kuning porsi jumbo.

Selepas makan kami berpencar. Beberapa memilih berfoto di atas motor kayu demi mendapat latar belakang Pulau Maitara. Sebagian lain mengarahkan kameranya ke tengah laut, membidik speed boat atau motor kayu yang tengah menyeberang. Ada juga yang mengabadikan aktivitas orang-orang.

Saya sendiri lebih memilih merekam kesibukan satu motor kayu yang bersiap ke Ternate. Tak banyak penumpang yang dibawa kapal tersebut. Di atapnya juga hanya ada beberapa sepeda motor. Namun beberapa karung terlihat memenuhi bagian buritan.

Di sebelah lain seorang lelaki paruh baya duduk memegang tali nilon, pandangan matanya tertuju ke bawah. Orang-orang lalu lalang di sekelilingnya sama sekali tak ia hiraukan. Saya bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan bapak muda ini. Setelah mengintip ke balik celah-celah lantai dermaga barulah saya tahu.

“Mancing ya, Pak?” tanya saya sembari mendekat.

Si bapak menjawab tanpa mengangkat kepalanya. Jawaban yang hanya terdengar sebagai sebuah gumam. Tak terlalu jelas di telinga saya apa yang ia ucapkan. Saya bersiap membidiknya dengan Canon Powershot SX610 HS di tangan. Namun ia lebih dulu berpindah tempat.

Ci Ita kemudian mengajak kami berfoto bersama di atas sebuah motor kayu yang masih kosong. Kami ingin mengambil latar belakang Pulau Maitara. Banner besar dibentangkan, kami berjajar rapi memanjang di belakangnya. Koh Deddy dan Mbak Rien memilih di depan, berbaring di atap motor kayu agar tak menghalangi banner.

Foto bareng di Pelabuhan Rum, Tidore

Satu… dua… tiga. Cekrek! Kami pun berfoto bersama di Pelabuhan Rum, Tidore, dengan latar belakang Pulau Maitara. FOTO: Ngofa Tidore

Selesai sesi foto bersama, saatnya foto sendiri-sendiri. Diawali Mbak Rien yang minta difoto di ujung depan motor kayu. Lalu diikuti Yayan, Kak Gathmir, Ci Ita, dan Koh Deddy. Berganti-gantian mereka berpose dengan gaya masing-masing.

Sekalipun mulai menggandrungi vlog, tapi saya bukan tipe pelancong yang senang berfoto-foto. Karenanya saya memilih melipir ke sudut dermaga, berdiri mengamati kesibukan orang-orang. Lalu memori saya memutar satu cerita tentang Pelabuhan Rum.

Rum Balibunga adalah ibukota Kesultanan Tidore ketika Sultan Al Mansur naik tahta pada 1512. Posisinya yang sangat strategis dan dekat dengan Ternate jadi alasan pemilihan Rum sebagai ibukota. Wilayah yang awalnya jadi tempat perburuan rusa disulap menjadi perkampungan.

Sebuah dermaga juga dibangun untuk mendukung mobilitas sultan. Dermaga kesultanan tersebut diberi nama Doro Hate Kananga. Dalam waktu sebentar Rum segera berkembang menjadi daerah ramai. Pelabuhan Rum tak pernah sepi dari bongkar-muat.

Di saat-saat itulah kapal Victoria dan Trinidad dari Spanyol berlabuh di Rum, 8 November 1521. Dua kapal di bawah kepimpinan Juan Sebastian Elcano tersebut merupakan sisa-sisa lima kapal rombongan ekspedisi Ferdinand Magellan. Ekspedisi yang disponsori Raja Carlos I dari Spanyol, bertolak dari Pelabuhan Sevilla pada 20 September 1519.

Magellan sendiri terbunuh di tangan Datu Lapu Lapu ketika mereka mendarat di Pulau Mactan, Filipina sekarang. Tongkat kepemimpinan dilanjutkan Elcano. Pelayaran diteruskan ke barat, singgah sebentar di Borneo, lalu ke selatan menuju Kepulauan Rempah-Rempah.

Elcano menjalin hubungan baik dengan Sultan Al Mansyur. Pelaut Spanyol tersebut diijinkan membawa rempah-rempah sebanyak yang bisa mereka bawa. Kapal Victoria kembali berlayar setelah sebulan lepas jangkar di Tidore. Elcano membawanya ke barat, melintasi Samudera Hindia hingga ke Tanjung Harapan di Afrika Selatan, sebelum kembali ke Sevilla pada 6 September 1522.

Juan Sebastian Elcano kembali ke Spanyol

Juan Sebastian Elcano, deputi Ferdinand Magellan yang menuntaskan ekspedisi ke Maluku. Elcano singgah di Tidore pada November 1521, sebelum kembali ke Spanyol pada 1522.

Meruncingnya hubungan Tidore dengan Ternate memaksa Sultan Alauddin Syah (Sultan Mole Majimo) memindahkan ibukota kesultanan lebih ke selatan, ke Toloa, di tahun 1600. Tujuannya agar ibukota tidak mudah diserang musuh. Letak Toloa lebih jauh dari pelabuhan, juga sukar dicapai langsung dari laut.

Masa itu persaingan dagang antara Spanyol dan Portugis tengah sengit-sengitnya. Hubungan antara Tidore yang beraliansi dengan Spanyol dan Ternate yang beraliansi dengan Portugis ikut memanas. Perpindahan ibukota dirasa perlu sebagai langkah antisipasi serangan dari seberang.

Meski tak lagi berstatus ibukota, Rum tetap menjadi wilayah penting di Tidore. Pelabuhan Rum terus ramai oleh pedagang-pedagang asing yang mencari rempah-rempah, terutama cengkih dari Maitara, sekaligus pintu masuk utama kesultanan.

Kini, memang tak ada lagi penjelajah Eropa yang berlabuh. Tapi Rum masih menjadi pintu gerbang Tidore.

Baca lanjutannya di sini…

About Eko Nurhuda (348 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

4 Comments on Tari Kapita di Rum Balibunga

  1. Lengkap kap kap… Pengen banget ke Indonesia Timur tapi belum kesampaian, baca ini jadi semakin kuat keinginannya, hihi mupeng… Keren banget sampe disambut begitu… Baru tahu kalau buah pala bisa dijadikan manisan…

    Suka

    • Ini baru tulisan keempat dari entah berapa seri tulisan, Mbak. Hehehe. Saking banyaknya yang pengen diceritain dari perjalanan berkesan awal tahun lalu.

      Manisan pala seger-seger asem gimana gitu. Sayangnya yang buat masih angin-anginan, jadi nggak setiap hari ada dan kalaupun dia buat jumlahnya nggak terlalu banyak. Mungkin bagi orang sana manisan pala cuma jajanan bocah, sedangkan bagi orang asing seperti kami ini jajanan luar biasa. Ada cerita berusia setengah abad pula di balik buah tersebut, jadi semakin tertarik.

      Insya Allah nanti kesampaian keinginannya ke Indonesia Timur πŸ™‚

      Suka

  2. detil sekali mas eko runut cerita, aku ada yang terlupa jadi inget pas baca.

    Suka

    • Hehehe, aku kebantu rekaman video. Untuk beberapa detil terkadang lupa-lupa ingat, biasanya kukonfirmasi dulu sama orangnya. Jadi, siap-siap ya bisa jadi nanti aku japri Koh Deddy buat nanya sesuatu yang aku lupa-lupa ingat. Hehehe

      Suka

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: