Iklan
Highlight:

To Ado Re, Tidore…

Pulau Maitara dilihat dari Pelabuhan Rum, Tidore

Pulau Maitara nan anggun, di bawah naungan langit biru cerah, seperti terlihat dari Pelabuhan Rum Balibunga, Tidore. FOTO: Eko Nurhuda

To Ado Re

Setelah berhenti beberapa menit untuk mengabadikan Pulau Maitara, speed boat kembali melaju. Pengemudi mencemplungkan mesin tempel Yamaha 40 paar de kraft ke laut, kemudian memutar batang gas. Suara meraung-raung kembali terdengar memekakkan telinga.

Riak putih tercipta, dan segera berubah menjadi sejalur gelombang panjang ketika pengemudi speed boat menambah kecepatan. Pulau Maitara di sisi kanan kami terlihat semakin membesar. Bentuknya mirip piramida, namun puncaknya tidak lancip. Warna hijau mendominasi pulau kecil tersebut.

Di sisi kiri, sebuah tanjung dengan batu-batu hitam besar pada bagian bawahnya berdiri menjulang. Menariknya, di atas bebatuan tersebut tumbuh subur aneka tumbuhan hijau. Mulai semak-semak dan tanaman perdu hingga pepohonan berukuran agak besar.

Tanjung yang menjorok ke arah Ternate tersebut bernama Tanjung Konde. Jika kita lihat di peta, tanjung itu merupakan tempat di Tidore yang paling dekat dengan Pulau Ternate. Ini menjelaskan kenapa speed boat kami mengambil jalur lurus menuju ke tanjung ini, baru kemudian menyusuri tepian menuju Pelabuhan Rum.

Tidore kian dekat. Keramaian Pelabuhan Rum sudah terlihat jelas dari tempat speed boat kami berada. Kapal-kapal tampak bersandar di bagian muka dan sisi kiri dermaga, sisi yang menghadap ke Pulau Maitara. Sementara jajaran speed boat berada di sisi lainnya.

Di kejauhan saya melihat sebuah kapal kayu bermotor menuju pelabuhan. Lajunya perlahan, tapi pasti. Belasan sepeda motor tampak berbaris rapi di atap, bercampur beberapa karung ukuran besar. Sejumlah penumpang berdiri dan duduk di atap kapal, ada juga yang duduk di atas sepeda motor. Semuanya menatap lurus ke Pelabuhan Rum.

Di belakang kapal kayu tersebut Pulau Maitara menjulang gagah sebagai latar. Jika dari Ternate terlihat membiru, dari jarak dekat pulau mungil tersebut sangat hijau oleh pepohonan. Meski samar saya dapat melihat rumah-rumah penduduk di pesisir yang menghadap utara.

Motor kayu merapat di Pelabuhan Rum Balibunga, Tidore

Sebuah motor kayu merapat ke Pelabuhan Rum Balibunga, Tidore. Di belakang tampak Pulau Maitara nan cantik. FOTO: Eko Nurhuda

Kembali ke sisi kiri speed boat, pemandangan sudah berganti. Tanjung Konde tak lagi terlihat. Sebagai gantinya terdapat hamparan tanah lapang. Di atasnya berdiri sebuah bangunan kecil beratap seng yang kesemuanya berwarna biru. Tulisan “PLTU TIDORE” berwarna putih tertera besar-besar pada dinding bangunan.

Selepas itu terdapat dua pelabuhan berjajar. Yang pertama sebuah pelabuhan kecil dengan dermaga kayu, beberapa speed boat bersandar rapi di bawahnya. Yang satu lagi pelabuhan besar dengan bangunan-bangunan permanen. Kelak saya ketahui itu pelabuhan khusus kapal feri.

Lalu Pelabuhan Rum kian dekat, dekat, dan kami pun merapat di dermaga. Pengemudi memutar kenop entah di bagian mana, tiba-tiba saja suara mesin tempel bertambah lirih dan kemudian mati sama sekali. Penuh hati-hati para pengemudi memposisikan kendaraan mereka di bagian terluar jajaran speed boat.

Seutas tambang dilempar ke dermaga. Seorang yang berdiri di dekat tiang dermaga menyambut dengan sigap. Speed boat diikat agar tak berpindah tempat. Setelah mendapat aba-aba dari pengemudi, bergantian kami keluar. Berjalan hati-hati meniti buritan jajaran speed boat, sebelum akhirnya mencapai tangga dermaga.

Ah, akhirnya sampai juga saya di Tidore. Pulau yang semasa sekolah hanya bisa saya baca namanya di buku pelajaran. Pulau yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di atlas dan Google Maps. Sebuah pulau bersejarah yang menjadi rebutan bangsa-bangsa asing lebih dari setengah abad lalu.

Sontak saya teringat tulisan Mas Rifqy yang berjudul To Ado Re, Sultan. Menceritakan keinginannya berziarah ke makam Sultan Nuku nan agung begitu menginjakkan kaki di Tidore.

Saya sendiri memendam angan menapak-tilasi kedatangan bangsa-bangsa Eropa di awal abad ke-16. Masa di mana Kesultanan Tidore mencapai puncak keemasannya berkat kebun cengkih nan subur. Ingin melihat langsung pala dan cengkih Maluku yang ratusan tahun lalu menyebabkan perang tak berkesudahan.

Foto bareng di Pelabuhan Rum, Tidore

Satu… dua… tiga. Cekrek! Kami pun berfoto bersama di Pelabuhan Rum, Tidore, dengan latar belakang Pulau Maitara. FOTO: Ngofa Tidore

Dan kini, di pagi hari tanggal 8 April 2017 nan cerah, saya sampai di Tidore. Jika ditarik garis lurus dari desa saya di Pemalang ke Pelabuhan Rum, terbentang jarak sejauh 2.332,98 km. Dua kali lipat jarak Pemalang-Muaro Jambi, tempat saya mengajak anak dan istri mudik Lebaran.

Saya harus menempuh jarak 2.332,98 km tersebut dengan aneka moda transportasi. Dimulai dari tujuh jam naik travel Pemalang-Jogja, 30 menit lebih naik bus TransJogja, 1 jam 45 menit penerbangan Jogja-Makassar, disambung 1 jam 45 menit lagi penerbangan Makassar-Ternate, beberapa menit bermobil dari Bandara Sultan Babullah ke Pelabuhan Perikanan Nusantara, dan dipungkasi menyeberangi Laut Maluku dengan speed boat selama sekitar 10-15 menit.

Ditambah waktu tunggu dan lain-lain, keseluruhan perjalanan ini memakan waktu tidak kurang dari 22 jam. Ini perjalanan terjauh sepanjang hidup saya. Alhamdulillah, akhirnya saya sampai kemari dengan selamat.

To ado re, Tidore…


Tulisan ini merupakan seri ketiga dari rangkaian reportase trip Blogger Goes to Tidore selama Festival Hari Jadi Tidore ke-909 pada 8-13 April 2017. Terima kasih banyak pada Ngofa Tidore Tour & Travel beserta segenap sponsor yang telah memfasilitasi perjalanan ini.

Catatan: Seluruh foto dipakai dengan seijin pemilik masing-masing. Foto-foto dengan watermark bungeko.com adalah hasil jepretan saya sendiri, selain itu dicantumkan nama fotografer & pemilik hak ciptanya di dalam caption.

Iklan
About Eko Nurhuda (357 Articles)
A happy father of two. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

9 Comments on To Ado Re, Tidore…

  1. Ya Allah, kapan ya aku bisa nyebrang keluar Pulau Jawa kayak begini…apalagi sampai ke Tidore kok kayaknya belum terbayangkan yaa. Apalagi baca2 tulisan Mas Eko tentang Tidore rasanya jadi semakin pingin ke sana juga

    Suka

  2. serunya jalan-jalan ke Ternate-Tidore, laut oh laut….

    Suka

  3. momen2 seperti ini pasti bakalan bikin kangen apalagi bareng blogger2 lain, persis pas aku berkesempatan ke belitong, nggak hanya terpukau dengan destinasinya tapi membekas juga bersenda gurau dengan blogger lain hmmm ngangenin. btw bung Eko mukanya kebakar ya? panas banget ya?

    Suka

  4. Bersyukur banget bisa menginjakkan kaki di tanah Tidore bisa bertemu Sultan dan teman-teman kereem terutama Mas Eko gak kebayang gimana repotnya merekam video. Semangattt terus mas

    Suka

  5. Komplet banget mas Eko. Info soal cengkihnya ketjeh! Sampe ada videonya segala.

    Btw, walau tinggal di Palembang, aku juga jarang naik spit/speedboat kayak gitu. Paling banter naik getek/ketek. Lebih suka yang lambat biar bisa nikmati suasana hehehe

    Suka

1 Trackback / Pingback

  1. Tari Kapita di Rum Balibunga – bungeko.com

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: