Iklan
Highlight:

To ado re, Tidore…

cengkih

Cengkih, rempah-rempah unggulan Kesultanan Tidore yang membuat bangsa Eropa berbondong-bondong datang ke Maluku. FOTO: ScentIndonesia.com

Berawal dari Cengkih

Setengah abad lalu, Pulau Maitara penuh dengan pohon cengkih. Akademisi asal Republik Venesia yang mendokumentasikan Ekspedisi Magellan (1519-1522), Antonio Pigafetta, menuliskan bahwa hanya ada lima tempat di dunia di mana cengkih tumbuh. Salah satunya Maitara.

“Ketika cengkih mulai tumbuh, warnanya putih. Lalu saat siap dipanen, warnanya merah. Setelah dikeringkan, warnanya hitam. Tidak ada tempat lain di dunia ini di mana pohon cengkih dapat tumbuh dengan subur kecuali di lima pulau tersebut,” tulis Pigafetta dalam catatannya.

Selain Maitara, empat pulau lain yang dimaksud Pigafetta adalah Ternate, Tidore, Makian, dan Bacan. Lima pulau inilah yang oleh orang-orang Eropa dijuluki sebagai Kepulauan Rempah-rempah, The Spice Islands. Orang Arab menyebut kawasan ini sebagai Jazirah al-Mulk yang, konon, menjadi asal usul nama Maluku.

Menurut catatan arkeologis, cengkih Maluku sudah diperdagangkan hingga ke Persia sejak 3000 tahun lalu. Pada masa Dinasti Han (206 SM – 220 M) di Tiongkok, orang yang hendak menghadap kaisar harus mengunyah cengkih terlebih dahulu agar nafasnya lebih segar.

Royal Museums Greenwich menyebut cengkih mulai diperdagangkan di Eropa sejak Abad Pertengahan. Bersama rempah-rempah lain asal Maluku, cengkih menjadi komoditas penting di pelabuhan-pelabuhan Venesia yang mempertemukan saudagar Barat dengan pedagang-pedagang dari Timur.

Karena berasal dari tempat yang begitu jauh, harga cengkih sangat mahal di Eropa. Perpindahan distribusi dari satu pedagang ke pedagang lain membuat komoditas ini bisa bernilai hingga 1000 kali lipat dari harga awal. Artinya, misalkan harga segram cengkih di Maluku Rp1.000, di Eropa orang harus menebusnya seharga Rp 1 juta. Wow!

“Orang (sakit) tidak akan mati kalau ia mampu membeli cengkih.” Demikian ujar-ujar yang popular di Eropa pada abad ke-15. Masa itu cengkih juga digunakan sebagai obat, selain sebagai bumbu masakan dan bahan utama pembuatan ramuan seks.

Peta Maluku

Peta Kepulauan Rempah-rempah Maluku yang dibuat oleh Pieter van der Aa (1707). GAMBAR: libweb5.princeton.edu

Mahalnya harga cengkih inilah yang kemudian menjadi motivasi pelaut-pelaut Eropa mencari jalan menuju Maluku. Mereka ingin turut menikmati sedapnya laba dari penjualan rempah-rempah. Afonso de Albuquerque selaku penguasa Portugal di Goa mengirim satu ekspedisi dengan misi tunggal: menemukan Kepulauan Rempah-rempah.

Ekspedisi tersebut dipimpin oleh António de Abreu dan terdiri atas tiga kapal. Bertindak sebagai wakil kapten adalah Francisco Serrão didampingi Simão Afonso Bisigudo. Melalui Selat Malaka, Laut Jawa, dan terus ke timur, ekspedisi ini sukses mencapai Banda di awal 1512.

Setelah mendapatkan rempah-rempah yang dicari, tiga kapal dalam ekspedisi ini pisah jalan. De Abreu bertolak ke Malaka, sedangkan Serrão menuju ke utara. Belum setengah jalan berlayar, kapal Serrão karam di Laut Seram. Ia lalu mencari pertolongan ke Hitu dan disambut dengan baik oleh penguasa setempat.

Keberadaan Serrão di Hitu sampai ke telinga Sultan Ternate dan Tidore. Kedua penguasa merasa perlu mendekati orang asing tersebut demi memperkuat kedudukan. Dalam persaingan diam-diam itu Sultan Bayanullah dari Ternate yang kemudian berhasil membawa Serrão dari Hitu.

Sultan Bayanullah mengangkat Serrão sebagai penasihat pribadi, terutama untuk urusan militer. Posisi ini membuat Serrão betah dan memutuskan menetap di Ternate. Ia kemudian menulis sepucuk surat pada sepupunya yang sesama pelaut di Portugal, menceritakan tentang Kepulauan Rempah-rempah.

Surat ini jadi modal penting sepupu Serrão ketika membujuk Raja Carlos I dari Spanyol untuk membiayai perjalanannya menuju Maluku. Perjalanan laut yang kelak diabadikan sejarah sebagai kali pertama manusia mengelilingi bumi.

Ya, sepupu Francisco Serrão tersebut adalah Fernão de Magalhães. Dunia lebih mengenal nama versi Inggris-nya, Ferdinand Magellan.

Juan Sebastiab Elcano

Juan Sebastian Elcano, deputi Ferdinand Magellan yang menuntaskan ekspedisi ke Maluku. Elcano singgah di Tidore pada November 1521, sebelum kembali ke Spanyol pada 1522. FOTO: agenciasinc.es

Permintaan Magellan dengan senang hati dipenuhi Raja Carlos I. Maka berangkatlah satu ekspedisi terdiri atas lima kapal. Magellan menjadi pemimpin ekspedisi, dengan pelaut Spanyol bernama Juan Sebastian Elcano sebagai wakil. Ikut serta dalam rombongan seorang navigator ulung bernama João Rodrigues Serrão. Meski belum ada referensi jelas, João Serrão diduga kuat merupakan saudara Francisco Serrão.

Angkat jangkar dari Pelabuhan Sevilla pada 10 Agustus 1519, Ekspedisi Magellan menempuh rute ke barat. Tidak ada pilihan lain bagi mereka. Sejak Kota Konstantinopel direbut Mehmed II (Muhammad al-Fatih, Mehmed the Conqueror), jalur pelayaran ke timur ditutup oleh Kesultanan Utsmani di Turki. Magellan, seperti halnya pelaut-pelaut Eropa sebelumnya, harus mencari jalan sendiri menuju Kepulauan Rempah-rempah.

Magellan membawa timnya menyeberang Samudera Atlantik menuju Patagonia, menyusuri pesisir timur Amerika Selatan, menembus selat yang kini dinamai Selat Magellan–ia yang pertama kali berlayar dari ujung ke ujung selat ini, mengarungi Samudera Pasifik, dan mencapai kepulauan Filipina pada 1521.

Sayang, Magellan dan João Serrão tak pernah sampai ke Ternate. Keduanya terbunuh ketika memerangi Datu Lapu-Lapu, seorang penguasa lokal di Mactan. Menariknya, di waktu hampir bersamaan Francisco Serrão pun wafat.

Ekspedisi Magellan kemudian dilanjutkan oleh Elcano. Rombongan tinggal tersisa dua kapal dan sampai di Pelabuhan Rum, Tidore, pada 8 November 1521. Sultan Al Mansyur yang tengah memerintah Kesultanan Tidore menyambut baik kedatangan Elcano. Pelaut Spanyol tersebut diperbolehkan membeli cengkih sebanyak yang mereka bisa bawa.

Kehadiran bangsa Spanyol di Tidore inilah pangkal persaingan bangsa-bangsa Eropa di Maluku. Awalnya hanya perseteruan antara aliansi Tidore-Spanyol dengan aliansi Ternate-Portugal. Lalu datanglah Prancis, Inggris, dan belakangan Belanda yang berhasil mendominasi perdagangan rempah.


Baca juga: Visit Tidore Island – Menelusuri Jejak Sejarah Pulau Rempah

Pertempuran demi pertempuran silih berganti pecah. Ternate dan Tidore atas provokasi Portugal dan Spanyol bergantian saling serang, saling berusaha merebut ibu kota kesultanan. Darah banyak tertumpah. Bumi Maluku pun basah.

Kesultanan Ternate kehilangan putera-putera terbaiknya: Sultan Hidayatullah yang dibunuh pada usia belia, Sultan Abu Hayat II yang dibuang ke Malaka, Sultan Tabariji yang diasingkan ke Goa dan dimurtadkan, juga Sultan Khairun yang ditikam dari belakang oleh Antonio Pimental atas suruhan Diego Lopez de Mesquita di dalam Benteng Kastela.

Demikian halnya Tidore yang sempat diacak-acak kewibawaannya dan sengaja dibangkrutkan oleh VOC. Kelancangan VOC semakin menjadi sampai-sampai berani menangkap Sultan Muhammad Mashud Jamaluddin dan mengasingkannya ke Batavia. Tindakan tidak terpuji ini ditempuh karena Sultan Jamaluddin dinilai menyulitkan perdagangan VOC.

Penangkapan Sultan Jamaluddin, disusul penunjukkan sultan baru oleh VOC, jadi awal perseteruan rakyat Tidore melawan bangsa Belanda. Dipimpin Sultan Nuku, rakyat di wilayah Kesultanan Tidore memerangi VOC. Pertempuran demi pertempuran pun pecah, sampai lahirlah Revolusi Tidore pada 12 April 1779.

Semua kejadian itu berawal dari cengkih.

Baca terus lanjutannya di sini…

Iklan
About Eko Nurhuda (349 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

9 Comments on To ado re, Tidore…

  1. Ya Allah, kapan ya aku bisa nyebrang keluar Pulau Jawa kayak begini…apalagi sampai ke Tidore kok kayaknya belum terbayangkan yaa. Apalagi baca2 tulisan Mas Eko tentang Tidore rasanya jadi semakin pingin ke sana juga

    Suka

  2. serunya jalan-jalan ke Ternate-Tidore, laut oh laut….

    Suka

  3. momen2 seperti ini pasti bakalan bikin kangen apalagi bareng blogger2 lain, persis pas aku berkesempatan ke belitong, nggak hanya terpukau dengan destinasinya tapi membekas juga bersenda gurau dengan blogger lain hmmm ngangenin. btw bung Eko mukanya kebakar ya? panas banget ya?

    Suka

  4. Bersyukur banget bisa menginjakkan kaki di tanah Tidore bisa bertemu Sultan dan teman-teman kereem terutama Mas Eko gak kebayang gimana repotnya merekam video. Semangattt terus mas

    Suka

  5. Komplet banget mas Eko. Info soal cengkihnya ketjeh! Sampe ada videonya segala.

    Btw, walau tinggal di Palembang, aku juga jarang naik spit/speedboat kayak gitu. Paling banter naik getek/ketek. Lebih suka yang lambat biar bisa nikmati suasana hehehe

    Suka

1 Trackback / Pingback

  1. Tari Kapita di Rum Balibunga – bungeko.com

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: