Highlight:

Mega Mendung di Langit Ternate

Pulau Tidore dilihat dari Taman Kota Ternate

Pulau Tidore dilihat dari Taman Kota Ternate. Tampak puncak Kie Marijang tersaput awan putih. FOTO: Eko Nurhuda

Bukan Bastiong

Mobil terus melaju perlahan membelah jalanan Ternate yang ramai lancar. Ketika mobil di depan berbelok, sopir taksi yang kami tumpangi ikut membelokkan kendaraannya. Jalan sedikit menurun. Terlihat laut membiru di kejauhan.

Beberapa ratus meter kemudian kami berbelok lagi ke kanan. Kali ini menyusuri jalan yang tepat berada di pinggir laut. Tanpa dikomando kami kompak memalingkan kepala ke sebelah kiri, ke arah laut.

Tampak jajaran pohon-pohon tinggi menjulang, lalu sebuah tempat terbuka semacam taman kota. Ada pula tulisan besar-besar berbunyi “KOTA TERNATE” terbuat dari logam bercat kuning, kemudian pantai memanjang.

Sebuah pulau dengan gunung menjulang tampak membiru di lautan. Letaknya tak jauh dari tempat kami, tak jauh dari Ternate. Tidore-kah itu?

Melihat bentuk dan ukurannya sepertinya pulau di seberang itu memang Tidore. Sejak diumumkan sebagai salah satu pemenang saya rajin sekali melihat-lihat foto Tidore, juga menelusurinya secara virtual melalui Google Maps. Dan, saya yakin sekali itu tentulah Tidore, tujuan perjalanan kami.

Tak seperti Ternate yang pulaunya berbentuk nyaris melingkar sempurna, Pulau Tidore lebih memanjang. Lonjong membujur ke utara-selatan. Dari Google Maps saya tahu ada dua puncak di Tidore, yakni Kie Matubu dan satu lagi gunung mati yang entah apa namanya.

Laju mobil melambat.

Rupanya kami sudah hampir sampai di tujuan, tapi rupanya bukan Pelabuhan Bastiong. Setelah membanting stir dua kali, iring-iringan mobil kami memasuki gapura beton melengkung berwarna biru-kuning. Di puncak gapura, tepat di tengah-tengah, terdapat logo Kementerian Kelautan dan Perikanan terbuat dari besi.

Gapura Pelabuhan Perikanan Nusantara Ternate

Ini dia gapura Pelabuhan Perikanan Nusantara Ternate, tempat kami menyeberang menuju Tidore. FOTO: Eko Nurhuda

Saya menoleh ke sebelah kiri gapura. Agak jauh di sana terdapat papan nama terbuat dari beton berwarna biru, beratap genting cokelat. Tertulis “Pelabuhan Perikanan Nusantara Ternate” dalam huruf kapital. Kami memang tidak ke Bastiong rupanya.

Mobil melintasi portal gapura yang terangkat ke atas. Dua petugas berjaga di dalam loket. Kami melewatinya begitu saja. Ci Ita tentu sudah membayar tiket masuk.

Angin laut semakin kencang terasa, tetapi sejuk. Aroma garam nan khas tercium hidung, bercampur amis. Mobil melaju perlahan di atas jalan kecil beraspal, di tengah-tengah sebuah tanah lapang dipenuhi rerumputan meranggas. Setelah berbelok dua kali, kami pun tiba di dermaga.

Kejadian serupa tapi tak sama di bandara terulang. Jika di bandara kami “diserbu” sopir-sopir taksi, di sini pengemudi speed boat yang mendekat. Ci Ita terlihat bernegosiasi dengan mereka. Lalu beberapa lelaki mengangkuti tas-tas dari mobil depan.

Itu artinya kami harus turun dari mobil. Setelah mengambil tas di bagasi dan menyampaikan terima kasih pada si Abang Sopir, saya bergegas mendekat ke dermaga. Suara debur air laut menghantam dermaga. Berpadu deru lamat-lamat mesin tempel di buritan kapal yang tengah melaju di kejauhan.

Bentuk dermaga mirip huruf “T”, dengan satu bagian menjorok ke laut dan bagian lainnya melintang di ujung bagian pertama. Beberapa speed boat berjejer di tepi bagian dermaga yang menjorok ke laut. Di ujung dermaga terlihat sebuah kapal berukuran agak besar. Bukan kapal kayu, bentuknya lebih mirip kapal ferry namun lebih kecil.

Ketika saya mendekati kapal tersebut untuk mengambil foto Pulau Maitara, beberapa orang berseragam biru tampak sedang ngobrol di buritan kapal yang terbuka. Salah satu di antaranya mengenakan baret yang juga berwarna biru.

Dermaga Pelabuhan Perikanan Nusantara Ternate

Begini suasana di dermaga Pelabuhan Perikanan Nusantara Ternate ketika kami sampai, 8 April 2017. FOTO: Eko Nurhuda

“Ini pelabuhan perikanan. Kalau Bastiong di sebelah sana,” kata Ci Ita saat kami semua berkumpul di dermaga. Ia seolah bisa membaca wajah-wajah penuh keheranan kami.

Berbeda dengan Pelabuhan Bastiong yang terlihat begitu ramai, Pelabuhan Perikanan Nusantara sangat sepi sekali. Cuma kami berempat belas calon penumpang di pelabuhan ini. Mungkin faktor jumlah personel inilah, ditambah banyaknya barang bawaan, yang jadi pertimbangan Ci Ita sehingga lebih memilih menyeberang dari sini. Lebih praktis.

Sembari menunggu awak speed boat menata tas-tas dan barang bawaan lain, kami berpencar mengambil foto dan video. Saya tak bisa melepaskan pandangan dari Pulau Maitara dan tentu saja Tidore di sebelahnya, sehingga berlama-lama di ujung dermaga sebelah selatan. Beberapa kali saya coba mengambil foto Maitara, tapi selalu tak puas dengan hasilnya.

Di sebelah lain tampak seorang bapak tengah memancing. Saya mendekat. Agak heran juga karena si bapak tidak membawa batang pancing. Di tangannya hanya ada seutas tali yang diulur ke dalam air. Sebuah ember hitam ukuran sedang teronggok di sebelahnya. Di dasar ember, beberapa ekor ikan tergeletak tak bergerak.

“Dapat banyak, Pak?” Maksud saya berbasa-basi malah meluncurkan pertanyaan bodoh. Padahal sebelum bertanya saya terlebih dahulu melongok ke dalam ember si bapak.

Bapak tersebut menjawab lirih sambil tersenyum. Saya tak begitu jelas mendengarkan jawabannya. Tak lama berselang ia menarik tali di tangannya. Seekor ikan keluar dari laut, menggelepar-gelepar berusaha melepaskan diri dari kaitan pancing di ujung tali.

Fia terlihat antusias dengan apa yang dilakukan si bapak. Gadis kecil ini ikut mendekat, disusul Kak Gathmir. Mereka melongok ke dalam ember hitam ketika Si Bapak Pemancing meletakkan hasil pancingannya.

Baca lanjutannya di sini…

About Eko Nurhuda (348 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

10 Comments on Mega Mendung di Langit Ternate

  1. Vlognya keren, keindahan Ternate tersaji dalam video dan kata-kata.

    Ternyata, rahasia perjalaman nyaman itu diawali dengan membenarkan celana untuk duduk pertama kali diangkutan pertama hehehe.

    Suka

  2. perjalanan yang panjang, semoga saja bisa terulang lagi buat jalan-jalan bareng.

    Suka

  3. Buahahaha, aku gak inget pakai kata, “sewenang-wenang” itu mas hahahaha, tapi emang, aku sendiri gak nyangka kalo di Ternate ada emol. “Ade alpa aja aye udah girang banget, bang!” *lol *ikut gaya mpok Tati kalo ngomong.

    Ngebenerin celana sebelum naik mobil travel itu epik muahaha, aku sampe ngakak ketawa. Dan, I really enjoy liatnya. Jadi tahu perjalanan mas Eko dari Pemalang sampe ke Yogya. Melewati berbagai macam kota, termasuk kota Benartujuh itu LOL. Cuma jujur aku agak terganggu dengan video itu pas ada yang ngomong, “aku paling cantik sendiri.” *dilempar mutton biryani sama belio.

    Ditunggu sambungannya mas. Aku suka tulisan panjang kayak gini, detil banget! πŸ™‚

    Suka

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. To Ado Re, Tidore… – bungeko.com
  2. Tari Kapita di Rum Balibunga – bungeko.com

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: