Iklan
Highlight:

Mega Mendung di Langit Ternate

Tugu di tengah Kota Ternate

Tugu di tengah-tengah sebuah perempatan Kota Ternate, tepatnya di dekat Kadato Kesultanan. FOTO: Eko Nurhuda

Di ujung jalan, mobil berbelok ke kanan melintasi sebuah tugu yang terletak tepat di perempatan. Saya tak begitu jelas melihat tugu tersebut. Perhatian saya justru tertarik pada sebuah bangunan di sebelah lain. Berada di tanah lapang yang lebih tinggi dari permukaan jalan. Pagar besi nan tinggi membatasi halaman luas di sekelilingnya.

Bangunan tersebut berlantai tingkat. Dua tangga di sebelah depan mengapit bagian tengah bangunan yang menjorok ke depan. Teras di lantai atas yang menyerupai balkon beratap seng berbentuk mirip kerucut. Sedangkan atap bangunan di belakangnya menyerupai limas. Seluruh dinding bangunan berwarna krem, atapnya kuning kehijauan.

Suram. Itu kesan pertama yang saya tangkap. Namun sekaligus ada pancaran keagungan. Tak sedikit pun ada tanda-tanda kehidupan di sana. Halamannya yang begitu luas tampak lengang. Semua pintu dan jendela tertutup.

Tiga tiang tinggi terpancang di halaman depan bangunan. Bendera Merah Putih berkibar di puncak tiang tengah, diapit bendera hitam dan kuning pada dua tiang lain. Samar-samar saya melihat aksara arab di bagian tengah bendera kuning.

“Itu keraton ya, Bang?” tanya saya pada sopir taksi. Saya sebut “keraton” karena demikianlah orang Jawa menyebut tempat tinggal sultan atau raja.

Tanpa menoleh si sopir menjawab, “Iya, kadaton kesultanan.”

Ah, sayang sekali saya tidak sempat merekam bangunan agung tersebut. Mobil sudah melewati Kadaton. Saya setengah menyesali diri yang tadi sibuk menge-zoom tugu karena menganggap itu monumen ikonik. Ternyata justru ada yang lebih ikonik di seberangnya.

Kadaton Kesultanan Ternate

Kadaton Kesultanan Ternate tampak dari samping, dari arah tugu di tengah-tengah perempatan. FOTO: Wikipedia Commons

Tiba-tiba saja saya teringat berita-berita mengenai perebutan tahta di Kesultanan Ternate. Sepeninggal alm. Sultan Mudaffar Syah pada 2015, belum ada yang ditunjuk sebagai penggantinya akibat kisruh ini. Untuk sementara roda pemerintahan dipimpin oleh seorang Jogugu, pejabat kesultanan setara perdana menteri.

“Berarti sekarang posisi sultan kosong ya, Bang?” saya bertanya lagi.

Sesungguhnya ini pertanyaan basa-basi karena saya sudah tahu jawabannya. Saya ajukan pertanyaan tersebut untuk mengetahui respon si Abang Sopir. Jika responnya sesuai harapan, saya sudah menyiapkan beberapa pertanyaan lanjutan untuknya.

“Ya, begitulah,” jawabnya sembari tersenyum kecil. Masih tanpa mengalihkan pandangan.

Saya tak mengerti apa maksud senyum tersebut. Yang jelas ia seperti enggan membicarakan soal suksesi kesultanan. Jadi, saya harus tahu diri. Belakangan baru saya tahu jika di Ternate, juga Tidore, tak sembarang orang boleh berbicara mengenai hal-hal yang tergolong isu sensitif begitu. Terlebih saya orang asing.

Mobil kemudian menyusuri Jl. Sultan Khairun. Jalan ini membentang dari kantor RRI Ternate yang terletak tak jauh dari Kadaton, hingga ke perempatan dekat Fort Oranje alias Benteng Oranye. Selepas lampu merah, ruas jalannya bernama Jl. Merdeka.

Benteng Oranye merupakan bangunan bersejarah yang saya tunggu-tunggu sejak tadi. Namanya sudah saya kenal sejak SMP, dari buku pelajaran sejarah tentu saja. Sayang, Jl. Merdeka melintasi bagian belakang benteng. Saya harus puas hanya bisa melihat sebagian reruntuhan benteng yang tertutup pohon dan semak, serta beberapa kios di pinggir jalan.

Didirikan VOC antara tahun 1607-1608, Benteng Oranye berlokasi di atas tanah pemberian Sultan Ternate. Lokasi yang sama sebelumnya pernah diberikan sultan pada bangsa Portugis. Setelah kepergian Portugis pada 1575, benteng itu runtuh tak terurus.

Fort Oranje Ternate, 1880

Suasana di halaman depan Fort Oranje pada sekitar 1880. FOTO: Collectie Moluks Historisch Museum

Di atas puing-puing benteng Portugis itulah VOC membangun Fort Oranje. Awalnya dinamai Benteng Melayu alias Fort Malay karena berada di perkampungan orang-orang melayu asal Malaka. Perubahan nama dilakukan pada 1609 oleh Paul van Carden, pejabat resmi Belanda pertama di Ternate.

Kata “Oranje” ini merujuk pada Huis van Oranje-Nassau alias House of Orange-Nassau, dinasti yang memimpin bangsa Belanda waktu itu. Dinasti Oranye melepaskan diri dari cengkeraman Imperium Spanyol dan mendirikan Kerajaan Belanda. Raja Willem-Alexander yang sekarang bertahta masih keturunan Huis van Oranje-Nassau.

VOC kemudian menjadikan Benteng Oranye sebagai pusat operasionalnya di Nusantara. Beberapa gubernur jenderal sempat tinggal dan berkantor di sini. Peran tersebut berlangsung selama setidaknya 10 tahun, sampai VOC memilih Batavia di Pulau Jawa sebagai “ibukota” baru pada 1619.

Mau rasanya saat itu saya turun di Fort Oranje. Lalu berjalan kaki hingga ke Kadaton Kesultanan. Dua tempat ini wajib dieksplorasi. Akan ada banyak cerita yang didapat dari dua bangunan bersejarah ini.

Tapi saya harus mengikuti rangkaian acara di Tidore terlebih dahulu. Untuk sementara keinginan itu saya redam. Toh, kami bertujuh (lima blogger plus dua juri) sudah sepakat extend dua hari di Ternate begitu keperluan di Tidore selesai.

Tunggu aku, Ternate. Demikian bisik saya dalam hati.

Baca lanjutannya di sini…

Iklan
About Eko Nurhuda (348 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

10 Comments on Mega Mendung di Langit Ternate

  1. Vlognya keren, keindahan Ternate tersaji dalam video dan kata-kata.

    Ternyata, rahasia perjalaman nyaman itu diawali dengan membenarkan celana untuk duduk pertama kali diangkutan pertama hehehe.

    Suka

  2. perjalanan yang panjang, semoga saja bisa terulang lagi buat jalan-jalan bareng.

    Suka

  3. Buahahaha, aku gak inget pakai kata, “sewenang-wenang” itu mas hahahaha, tapi emang, aku sendiri gak nyangka kalo di Ternate ada emol. “Ade alpa aja aye udah girang banget, bang!” *lol *ikut gaya mpok Tati kalo ngomong.

    Ngebenerin celana sebelum naik mobil travel itu epik muahaha, aku sampe ngakak ketawa. Dan, I really enjoy liatnya. Jadi tahu perjalanan mas Eko dari Pemalang sampe ke Yogya. Melewati berbagai macam kota, termasuk kota Benartujuh itu LOL. Cuma jujur aku agak terganggu dengan video itu pas ada yang ngomong, “aku paling cantik sendiri.” *dilempar mutton biryani sama belio.

    Ditunggu sambungannya mas. Aku suka tulisan panjang kayak gini, detil banget! πŸ™‚

    Suka

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. To Ado Re, Tidore… – bungeko.com
  2. Tari Kapita di Rum Balibunga – bungeko.com

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: