Iklan
Highlight:

Mega Mendung di Langit Ternate

Blogger Goes to Tidore 2017

Ini dia rombongan lengkap trip bertajuk Blogger Goes to Tidore, 8-13 April 2017. FOTO: Ngofa Tidore

Kota Penuh Sejarah

Setelah semua mendapatkan bagasi masing-masing, Ci Ita memimpin kami keluar menuju lobi bandara. Beberapa pria menyongsong kami, menawarkan jasa angkutan dengan mobil pribadi. Orang setempat menyebutnya taksi bandara.

Satu-dua sopir taksi mendekat, berulang kali berkata “Bastiong… Bastiong…” yang tentu saja saya tolak secara halus. Mereka ganti mengerubungi Ci Ita begitu mengetahui wanita ini penentu keputusan dalam rombongan kami.

Tapi agaknya Ci Ita masih menunggu sesuatu. Ia meminta kami duduk dulu di kursi-kursi yang berjejer di depan kios-kios makanan. Saya memilih ke toilet. Selain ingin buang air kecil, kaos merah ini sudah nyaris basah kuyup oleh keringat.

Agak lama saya di kamar kecil. Kembali ke lobi bandara, rombongan tengah bersiap mengambil foto bersama di antara pilar-pilar biru pick up area. Saya langsung menggabungkan diri, menyempil di antara Mas Rifqy dan Mbak Rien. Sebuah banner besar bergambar pantai Pulau Failonga dengan tulisan “TRAVEL BLOGGER GOES TO TIDORE” dibentangkan di depan kami.

Jepret! Jepret! Jepret!

Bergantian Mas Dwi, Mbak Rien, dan Yuk Annie jadi fotografer. Saya dan empat blogger lain difoto. Lalu dengan bantuan seseorang kami berfoto full team. Kalau saya tak silap, orang tersebut salah satu sopir taksi yang disewa Ci Ita untuk mengantar kami ke pelabuhan.

Rombongan berjumlah 13 orang dewasa dengan seorang anak, Fia. Kami pun dibagi dalam dua mobil. Ci Ita sekeluarga satu mobil dengan Bu Woro, Mbak Ayu, Mpok Tati, dan Mas Dwi. Sedangkan kami para blogger semobil dengan ibu-ibu juri.

Saya dapat kehormatan duduk di depan. Ukuran tubuh yang tergolong jumbo bukan satu-satunya alasan. Postur Koh Deddy dan Yayan sesungguhnya lebih besar dari saya. Tapi agaknya mereka tidak enak hati membiarkan saya yang lebih tua ini berhimpit-himpitan di belakang. Hehehe.

Jalan rindang menuju bandara Ternate

Boulevard rindang ini jadi kesejukan pertama yang saya jumpai di Kota Ternate begitu meninggalkan Bandara Sultan Babullah. FOTO: Eko Nurhuda

Komposisi pun diatur. Saya di depan duduk sendiri, bangku tengah diisi trio Yuk Annie-Mbak Rien-Mbak Zulfa, lalu paling belakang ada tiga blogger bujangan: Mas Rifqy, Koh Deddy, dan Yayan.

Begitu mobil yang ditumpangi rombongan Ci Ita berjalan, sopir kami ikut melajukan kendaraannya perlahan meninggalkan pelataran parkir Bandara Sultan Babullah. Mula-mula jalanan menanjak sedikit, berbelok ke kiri, ke kanan, lalu landai selepas melewati gerbang pemeriksaan.

Kami melalui sebuah boulevard yang rindang oleh deretan pohon besar-besar di kanan-kiri. Pada median jalan juga terdapat jejeran tanaman hias dalam pot-pot beton, diseling palma. Jalan ini sejajar dengan landasan pacu bandara yang terletak di sebelah kiri. Di sisi lain tampak bangunan-bangunan dalam kompleks Universitas Khairun.

Tak banyak kendaraan melintas di sepanjang boulevard pendek ini. Lengang. Hanya satu-dua sepeda motor mendahului mobil yang kami tumpangi. Agaknya hanya kendaraan dari bandara atau kampus yang melewati rute asri ini.

Di satu belokan jalan berganti menjadi dua arah. Sebuah signboard besar bertuliskan ucapan selamat datang di Kota Ternate tampak terpancang tinggi. Lalu keramaian kota menyambut. Warung, toko, masjid, sekolah, dan kantor pemerintahan menghiasi sepanjang tepian jalan.

Lalu lintas Kota Ternate didominasi angkot berwarna biru. Suara musiknya yang berdentam-dentum kencang sampai ke dalam mobil kami. Di satu perempatan kami berhenti. Traffic light menyala merah. Ini lampu merah pertama yang kami lewati pagi itu.

Plang penunjuk jalan di Kota Ternate

Plang penunjuk jalan ini sukses memancing tawa kami semobil. Kenapa? FOTO: Eko Nurhuda

Sebuah plang penunjuk jalan memecah tawa kami pagi itu. Gara-garanya celetukan kaget Mas Rifqy ketika membaca tulisan “Mall Jatiland” yang tertera di plang hijau.

“Oh, ada mal di sini to?” seru Mas Rifqy dari belakang.

Saya spontan tertawa mendengarnya. Entah bagian mana yang lucu, tapi saya merasa geli dengan seruan bernada keheranan tersebut. Sayangnya saya tak bisa melihat ekspresi wajahnya ketika berucap begitu.

“Ada, mal di sini ada,” sopir taksi menyahut.

Masih dikuasai tawa saya bertanya ke Mas Rifqy, “Kamu kok kaget ada mal di sini?” Sebuah pertanyaan yang tak butuh jawaban. Niat saya cuma bercanda.

Koh Deddy dan Yayan ikut menimpali sembari sama tertawa pelan.

“Kamu tuh sewenang-wenang…” kata Yayan mengulum senyum.

“Kamu kira Ternate itu orang primitif?” sambung Koh Deddy. “Di sini tuh ada J.CO…” lanjutan kalimatnya saya tak tahu. Rekaman video yang memuat ucapan Koh Deddy terpotong sampai di situ.

Tapi memang harus diakui saya pun agak tidak menyangka ternyata Kota Ternate ramai juga. Hanya saja bukan keramaian ini yang saya cari jauh-jauh kemari. Sepanjang jalan mata saya bergantian menatap kiri dan kanan jalan, berharap menemukan bangunan bersejarah. Dari apa yang pernah saya baca, di Ternate bertebaran benteng-benteng peninggalan Portugis, Spanyol, dan Belanda.

Saya berharap dapat melihat setidaknya satu saja dari bangunan-bangunan bersejarah itu dalam perjalanan menuju pelabuhan. Saya tak bisa membuka Google Maps karena baterai handphone habis. Jadi kedua mata ini harus awas mengamati sekeliling.

Baca lanjutannya di sini…

Iklan
About Eko Nurhuda (347 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

10 Comments on Mega Mendung di Langit Ternate

  1. Vlognya keren, keindahan Ternate tersaji dalam video dan kata-kata.

    Ternyata, rahasia perjalaman nyaman itu diawali dengan membenarkan celana untuk duduk pertama kali diangkutan pertama hehehe.

    Suka

  2. perjalanan yang panjang, semoga saja bisa terulang lagi buat jalan-jalan bareng.

    Suka

  3. Buahahaha, aku gak inget pakai kata, “sewenang-wenang” itu mas hahahaha, tapi emang, aku sendiri gak nyangka kalo di Ternate ada emol. “Ade alpa aja aye udah girang banget, bang!” *lol *ikut gaya mpok Tati kalo ngomong.

    Ngebenerin celana sebelum naik mobil travel itu epik muahaha, aku sampe ngakak ketawa. Dan, I really enjoy liatnya. Jadi tahu perjalanan mas Eko dari Pemalang sampe ke Yogya. Melewati berbagai macam kota, termasuk kota Benartujuh itu LOL. Cuma jujur aku agak terganggu dengan video itu pas ada yang ngomong, “aku paling cantik sendiri.” *dilempar mutton biryani sama belio.

    Ditunggu sambungannya mas. Aku suka tulisan panjang kayak gini, detil banget! 🙂

    Suka

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. To Ado Re, Tidore… – bungeko.com
  2. Tari Kapita di Rum Balibunga – bungeko.com

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: