Iklan
Highlight:

Perjalanan Panjang Menuju Tidore

Pulau Tidore dilihat dari Pulau Failonga

Pulau Tidore dengan Kie Marijang nan menjulang dilihat dari Pulau Failonga. FOTO: Eko Nurhuda

SATU sentuhan kecil terasa di lengan kiri saya. Setengah kaget saya buka mata. Suara bising mesin pesawat langsung menembus telinga. Saya duduk tepat di samping sayap. Kantuk masih bergelayut, mata masih pedas karena kurang tidur, tapi penumpang di sebelah menyodorkan boks styrofoam yang mau tak mau harus saya terima.

Ternyata sudah waktunya sarapan. Boks styrofoam yang diangsurkan ke saya tadi menu makan pagi dari pramugari Sriwijaya Air. Sedikit canggung saya beri senyuman ke penumpang di sebelah, berusaha memberi isyarat terima kasih karena sudah “mewakili” saya menerima kotak ransum dari pramugari.

Saya rogoh handphone di dalam tas untuk melihat jam. Pukul enam kurang. Itu artinya pesawat sebentar lagi mendarat. Kurang-lebih seperempat jam lagi jika sesuai jadwal. Kami terbang pukul 04:25 WITA dari Bandara Sultan Hasanuddin di Maros. Lama penerbangan ke Ternate satu jam 45 menit.

Handphone saya kembalikan ke dalam tas. Botol air mineral ganti saya keluarkan. Saya teguk isinya sedikit untuk membasahi mulut. Sambil mengangsurkan badan lebih maju saya melirik ke bangku depan. Mbak Zulfa “Emak Mbolang” dan Mas Rifqy Faiza Rahman duduk tepat di hadapan saya, sedang asyik menikmati sarapan.

Botol plastik transparan saya letakkan di sudut meja lipat, lalu boks styrofoam saya raih. Dengan berhati-hati kemasan lunak berwarna putih tersebut saya buka. Aroma bumbu segera menguar di udara.

Menu sarapan pagi itu nasi putih dengan ayam goreng sambal. Secuil acar dan sebuah kerupuk mini jadi pelengkap. Sebagai pencuci mulut terdapat puding dalam sebuah wadah yang tak bisa dibilang kecil, tapi juga tidak terlalu besar.

Tadi sebelum pramugari berlalu saya minta tolong dibuatkan kopi panas. Saya seruput pelan-pelan kopi dari gelas karton untuk menyegarkan mata, lalu mulai makan. Sekejap saja seluruh isi dalam boks styrofoam sudah berpindah ke dalam perut.

Pemandangan dari atas pesawat Makassar-Ternate

Pulau-pulau di tengah lautan nun jauh di bawah hanya terlihat sebagai bayangan kelam. FOTO: Eko Nurhuda

Entah sedang berada di mana pesawat saat itu. Pemandangan dari kaca lonjong di jendela menyajikan arak-arakan awan putih aneka bentuk. Bertumpuk-tumpuk dari yang melayang di atas pesawat, hingga yang jauh di bawah. Matahari belum tampak, hanya semburatnya yang mengintip dari kejauhan. Jingga di arah ke mana pesawat menuju.

Beberapa saat kemudian pesawat menurunkan ketinggian. Awan-awan menghilang dari pandangan. Suara pilot memberitahukan Bandara Sultan Babullah sudah dekat. Pramugari berkeliling mengingatkan penumpang agar memasang sabuk pengaman.

Barulah terlihat jelas kami tengah berada di atas lautan. Perairan Laut Maluku. Di kejauhan tampak gugusan pulau-pulau kecil yang hanya terlihat biru kelam. Saya tak bisa menebak pulau apa saja itu. Bahkan ketika pesawat terbang semakin rendah pun saya masih sulit mengenali tiap-tiap pulau.

Maklum, ini kali pertama saya ke Maluku. Kalau bukan karena event garapan Ngofa Tidore Tour & Travel, kalau bukan karena kemurahan hati Kakak Anita Gathmir sekeluarga, tak akan kaki saya melangkah sejauh ini hingga ke Tidore.

*****

PERJALANAN panjang ini berawal dari sebuah tag di Facebook, pertengahan Februari 2017. Adalah Mbak Katerina S. si travel blogger kondang itu yang menge-tag saya dalam sebuah statusnya. Saya dan Mbak Rien saling kenal setelah sama-sama jadi pemenang di lomba blog Musi Triboatton 2016.

Baca juga:
Jadi Turis di Kota Kelahiran Sendiri
Menyeberang Sungai Musi Menuju Pulau Kemaro

Bukan tanpa alasan Mbak Rien nge-tag saya. Status itu berisi info lomba blog yang diadakan oleh Ngofa Tidore Tour & Travel. Nama asing? Ya, tapi melihat daftar sponsor yang turut mendukung lomba tersebut saya jadi paham ini bukan event sembarangan. Terlebih hadiahnya sangat menggiurkan: trip ke Tidore pada 8-13 April. Wow!

Nama Tidore sendiri tidak asing bagi saya. Tapi juga tak banyak yang saya ketahui dari nama ini, kecuali Kesultanan Tidore dan Sultan Nuku. Keduanya tercatat dalam buku pelajaran sejarah. Dan sejarah adalah mata pelajaran favorit saya semasa SMP-SMA.

Sultan Nuku

Sultan Nuku.

Faktor inilah yang kemudian membuat saya mengambil sisi sejarah Tidore untuk diikut-sertakan dalam lomba. Alasan berikutnya, setelah “mengintip” tulisan peserta-peserta lain hanya dua-tiga yang mengangkat tema sejarah. Dari yang sedikit itu tulisan Mas Rifqy terlihat menonjol, judulnya To Ado Re, Sultan. Dalam pos tersebut Mas Rifqy mengilas-balik perjuangan Sultan Nuku mengusir VOC dari Maluku.

Oke, jadi saya sudah tidak bisa menulis tentang Sultan Nuku. Kalaupun memaksa menulis tema ini, sudah jelas ada satu pesaing berat. Amat berat. Saya jadi semakin ngeper setelah mengetahui Mas Rifqy seorang travel blogger favorit. Kalau ingin dapat peluang ke Tidore saya musti cari sudut pandang lain.

Awalnya saya memilih tema kuliner. Jadilah tulisan berjudul 5 Kuliner Khas Tidore yang Bikin Ngiler. Tapi karena tak punya experience apapun dengan makanan khas Tidore, bahkan baru tahu nama-namanya saat mulai menulis, harus saya akui hasilnya tidak maksimal. Saya tidak puas. Tulisan begitu tidak akan mengantar saya ke Tidore.

Saya pun kembali melirik tema sejarah. Saya bulat memutuskan mengangkat sejarah Tidore sejak 1000 tahun lampau. Ide besarnya adalah menggambarkan keagungan Kesultanan Tidore di masa lalu, kebesaran hati almarhum Sultan Zainal Abidin Syah yang rela menyerahkan wilayah kesultanan pada Republik Indonesia, lalu ditutup sentilan akan minimnya perhatian pemerintah pusat selepas integrasi.

Dalam hemat saya, narasi seperti ini cocok dengan tema yang ditetapkan penyelenggara: Tidore untuk Indonesia. Tapi kemudian saya sadari sejarah Tidore dalam 1000 tahun ke belakang begitu panjang. Kalau saya nekat menuliskannya, akan lebih sesuai dalam bentuk buku ketimbang satu blogpost 1500-2000 kata. Saya harus menentukan timeline.

Setelah kembali membaca-baca berbagai rujukan, saya tetapkan pendaratan Juan Sebastian de Elcano pada 8 November 1521 sebagai titik awal. Jadilah saya menuangkan perjalanan Tidore selama 500 tahun terakhir dalam tulisan berjudul Visit Tidore Island – Menelusuri Jejak Sejarah Pulau Rempah.

cengkeh

Cengkeh, rempah-rempah unggulan Kesultanan Tidore yang membuat bangsa Eropa berbondong-bondong datang ke Maluku Kie Raha.

Saya angkat tentang perang dingin Tidore-Ternate, penaklukkan oleh Portugis pada Desember 1536, masuknya VOC pada Maret 1667, perlawanan Sultan Nuku yang berujung hengkangnya VOC dari seluruh wilayah Maluku Kie Raha di pergantian abad ke-19, vacuum of power selama 40 tahun (1906-1946), integrasi dengan NKRI, hingga terbentuknya Kota Tidore Kepulauan pada 2003.

Dalam tulisan tersebut saya juga membandingkan apa yang didapat Kesultanan Tidore dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat setelah bergabung dengan RI. Jika Yogyakarta tetap berkuasa atas wilayah-wilayahnya dahulu–hanya berubah bentuk menjadi provinsi di dalam bingkai NKRI, dan belakangan sultan bertahta secara otomatis menjadi gubernur, hal sebaliknya dialami Tidore.

Mengingat apa yang pernah diberikan pada negara ini, dalam hemat saya Tidore layak mendapat perhatian lebih dari pemerintah pusat. Andai Sultan Zainal Abidin Syah menyetujui usulan Hubertus Johannes van Mook untuk membentuk negara terpisah dari RI, bisa jadi Tidore-lah yang paling menikmati hasil melimpah dari gunung-gunung emas di Papua.

Leganya saya bukan alang kepalang begitu pos tersebut tayang. Butuh waktu tiga hari untuk merampungkannya. Ditambah entah berapa puluh situs, sebagian besar berbahasa asing (Inggris, Spanyol, Belanda), yang harus saya lacak karena minimnya referensi berbahasa Indonesia.

Saya sempat ingin menyerah. Kepala terasa begitu penat. Tapi bayangan Tidore dengan kemegahan sejarah plus keindahan alamnya terus terbayang-bayang di benak. Terlebih, jika terpilih sebagai pemenang, trip ke Tidore bakal jadi perjalanan terjauh saya sepanjang hidup.

Demi mewujudkan perjalanan sejauh 2.177 kilometer inilah saya kembali bersemangat. Dan semuanya terbayar lunas. Pada hari pengumuman nama saya nyempil di antara empat travel blogger beken: Mbak Zulfa, Koh Deddy Huang, Haryadi “Yayan” Yansyah, dan Mas Rifqy.

Alhamdulillah

*****

Baca lanjutannya di sini…

Iklan
About Eko Nurhuda (355 Articles)
A happy father of two. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

16 Comments on Perjalanan Panjang Menuju Tidore

  1. waaaa saya kangen sama cengkeh
    Ranum sekali aromanya
    Inget jaman kecil sering manjat2 bantuin kakek metik cengkeh
    Foto mas Eko menghadirkan kenangan itu

    Suka

  2. Saya ngakak di bagian mas Eko salah konter, hahaha. Mungkin masih belum ngumpul nyawanya hahaha.

    Saya itu sehabis beli roti, niatnya mau coba tidur tapi susah tidur, hahaha. Padahal ngantuk dan mata pedas. Di pesawat ke Ternate pun cuma tidur beberapa menit. Sempat tidur pula sebentar saat di mobil mau ke Seroja. Tapi pas nyampe, ngantuknya ilang! Hahaha

    Ceritanya lengkap! Jadi ikut bernostalgia dan menyemangati saya buat menulis Tidore lagi. Maturnuwun buat semangatnya mas! 🙂

    Suka

  3. Lengkap banget mas Eko. Baca ini, aku seolah diajak berpetualangan dari saat mas Eko berangkat dari rumah hingga kita jumpa. Gak nyangka, sampe salah konter gitu ya hahaha. Ditunggu kisah selanjutnya mas 🙂

    Suka

  4. Ahhhh Jadi ingat ketemuan di Bandara. trus sampeyan ngomong sendiri di belakang. ngomong sama kamera maksudnya.

    permisi, hebat apa berat? setahuku emak mbolang itu berat …. badannya.hahaha

    Suka

  5. Mbacanya jadi ikut merasakan puluhan jam perjalanan. Luar biasa. Kalo aq sudah remuk itu badan hihihi

    Suka

  6. Wah, I feel you, Mas! Perjalanan ke Ternate memang jauuh sekali.
    Dulu saya pernah kerja di Halmahera, rumah saya di Pekalongan. Saat schedule on duty tiba, saya mesti naik kereta dari Pekalongan ke Jakarta. Lanjut pesawat Jakarta ke Manado, lalu lanjut ke Ternate. Tepar rasanya! Jaman dulu penerbangan ke Ternate belum banyak pilihan flight ataupun rutenya.
    Tapi Ternate memang indah, Tidore juga. Jadi kangen kota itu…

    Suka

    • Wah, dulu harus ke Manado dulu ya? Sekarang lebih enak berarti, sudah ada flight langsung kalo dari Jakarta. Cuma pilihan jam penerbangannya nggak bersahabat. Agustus lalu saya berangkat dari Jakarta jam 03.00. Nggak tidur deh begitu masuk Bandara Soetta, takut ketinggalan pesawat 😀

      Suka

3 Trackbacks / Pingbacks

  1. Mega Mendung di Langit Ternate – bungeko.com
  2. To Ado Re, Tidore… – bungeko.com
  3. Tari Kapita di Rum Balibunga – bungeko.com

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: