Iklan
Highlight:

Cari Hosting Blog? Perhatikan Dulu 5 Hal Penting Ini

server at Google datacenter, Mayes County-Oklahoma

Jejeran rak server di pusat data Google yang terletak di Mayes County, Oklahoma, Amerika Serikat. FOTO: google.com/about/datacenter

PUNYA rencana membuat blog baru di tahun baru? Saya sih iya. Nama domain dan hosting-nya sudah dapat, tinggal pelan-pelan diisi konten sembari melakukan perbaikan sana-sini. Yang pasti, saya mendapatkan hosting keren dengan harga bersahabat.

Wah, kedengarannya menarik nih. Hosting keren dengan harga bersahabat, apa dan bagaimana itu? Seberapa keren? Seberapa bersahabat harganya?

Oke, saya jawab. Hosting yang saya pakai ini brand internasional yang telah dipakai oleh lebih dari 29 juta pengguna di seluruh dunia. Jika di dunia gadget ada istilah price to performance, maka harga yang ditetapkan penyedia web hosting satu ini sungguh murah dibanding fitur dan layanan yang diberikan.

Saya tidak akan membahas tentang penyedia web hosting itu di sini. Mungkin di posting selanjutnya, tapi saya tidak janji. Alih-alih, saya lebih tertarik berbagi tentang hal-hal yang penting diperhatikan sebelum memilih hosting.

Kalau kamu sedang mencari penyedia web hosting untuk blog, setidaknya ada 5 hal yang musti diperhatikan baik-baik sebelum menjatuhkan pilihan. Apa saja?

1. Server

Menyewa web hosting pada dasarnya kita menitipkan dokumen-dokumen blog ke komputer raksasa yang disebut server. Dengan dititipkan di server inilah blog dapat diakses kapanpun dan dari manapun pengunjung berada. Ketika pengunjung melihat blog kita, sejatinya ia sedang mengakses data-data (teks, foto/gambar, audio, video) yang kita simpan di server tersebut.

Sama halnya komputer atau laptop yang kita gunakan sehari-hari, kualitas server beraneka ragam dan itu menentukan kinerjanya. Server yang bagus menjamin blog dapat terus diakses pengunjung. Jadi, server adalah hal pertama yang musti kita perhatikan ketika memilih web hosting.

Google datacenter, The Dalles-Oregon

Salah satu sudut di pusat data Google di The Dalles, Oregon, Amerika Serikat. FOTO: google.com/about/datacenter

Spesifikasi Server

Persis saat memilih komputer atau laptop, perhatikan betul-betul spesifikasi server yang digunakan penyedia web hosting. Ini mencakup teknologi server, jenis prosesor maupun berapa core yang digunakan karena sangat berhubungan dengan kecepatan prosesor, kapasitas RAM, jenis harddisk (SSD atau bukan), juga network speed-nya.

Perusahaan hosting yang baik akan mencantumkan informasi ini di web mereka. Jika tidak, hubungi layanan customer service untuk menanyakan. Ini sekaligus untuk mengetahui seberapa cepat respon mereka terhadap pelanggan kelak.

Lokasi Server

Lokasi server berpengaruh terhadap kecepatan akses website kita. Penjelasan mudahnya, server yang berlokasi lebih jauh membutuhkan waktu lebih lama untuk mengantar data. Jadi, sesuaikan lokasi server dengan calon pengunjung yang ditarget.

Pilihan terbaik adalah memilih server yang berlokasi di negara tempat calon pengunjung berada. Kalau blog yang dibangun berbahasa Indonesia dan menyasar pembaca di Indonesia, maka server di dalam negeri adalah pilihan terbaik. Atau boleh juga menggunakan server Singapura untuk kualitas sedikit lebih baik.

Hosting Uptime

Poin satu ini sangat penting diperhatikan kalau tidak ingin blog kita sering down. Hosting uptime yang skornya berupa satuan persen menunjukkan seberapa lama sebuah server dapat berjalan tanpa gangguan. Ingat kata kuncinya, server adalah komputer. Kita tentu tidak dapat mengakses file di dalam komputer kalau komputernya mati.

Semakin tinggi persentase uptime, semakin baik kualitas server sebuah penyedia web hosting. Skor uptime tertinggi adalah 100%, yang berarti server tak pernah mengalami gangguan sedetik pun. Ini artinya blog kita dapat diakses selama 24 jam sehari dalam 365 hari setahun. Luar biasa!

Denise Harwood at Google datacenter, The Dalles-Oregon

Teknisi Google, Denise Harwood, mengecek server di pusat data The Dalles, Oregon, Amerika Serikat. FOTO: google.com/about/datacenter

Sayangnya, tak satupun penyedia hosting di dunia ini yang memiliki uptime 100% dalam waktu lama. Katakanlah dalam setahun sama sekali tak ada gangguan. Bahkan sekelas Facebook, Twitter, Blogspot, atau Gmail sekalipun server-nya pernah down meski hanya beberapa menit dari 525.600 menit setahun.

Nilai uptime tertinggi yang dapat kita harapkan adalah 99,9%. Jika sebuah penyedia hosting bisa memberi jaminan uptime 99,9% sebulan, ini berarti server hanya akan mengalami down selama 43,2 detik dalam 30 hari. Tidak ada semenit!

Dalam setahun, server tersebut down selama 518,4 detik atau 8,64 menit saja. Ini sudah sangat luar biasa. Kalau kamu menemukan penyedia hosting begini, langsung bookmark situsnya. 😀

2. Space dan Bandwidth

Sebagai tempat penyimpanan data, harddisk pada server memiliki kapasitas penyimpanan tertentu. Secara umum dikenal sebagai space. Sama seperti harddisk di komputer atau laptop kita. Ada yang kapasitasnya 500MB, ada 1 TB, bahkan sekarang sudah jamak dijumpai laptop dengan harddisk di atas 2 TB.

Kebanyakan penyedia web hosting masih memberlakukan sistem kuota berdasarkan paket-paket. Kalau bayar sekian sebulan, maka kita akan mendapat sekian ratus megabyte (MB). Misal butuh ruang lebih ya harus upgrade yang berarti iuran bulanan bertambah.

Di awal-awal ngeblog, di mana posting belum banyak, mungkin kita tak memerlukan terlalu banyak ruang penyimpanan data. Tapi seiring berjalannya waktu, apalagi kalau sering update artikel ditambah foto-foto dan video, keperluan akan ruang penyimpanan tentu meningkat. Peningkatan space berarti peningkatan biaya.

Sekarang sudah banyak penyedia web hosting memberi layanan unlimited space. Dengan harga menarik pula. Ini adalah solusi bagi blogger yang tidak mau pusing dengan kenaikan biaya hosting.

Selain kapasitas penyimpanan, perhatikan juga bandwidth yang diberikan. Bandwidth terbatas membuat blog kita tidak bisa menangguk banyak pengunjung. Begitu kuota bandwidth habis, blog tidak dapat diakses. Kita tentu tidak menginginkan ini terjadi.

Karenanya lebih disarankan mencari hosting dengan unmetered bandwidth atau unlimited bandwidth. Dan ini juga sudah banyak yang menawarkan. Tinggal pilah-pilih saja mana yang sesuai anggaran.

Google datacenter building, Mayes County-Oklahoma

Bangunan pusat data Google di Mayes County, Oklahoma, Amerika Serikat. FOTO: google.com/about/datacenter

3. Profil Perusahaan

Kaya mau ngelamar pekerjaan aja, Mas. Hahaha, tapi belum banyak lho yang tahu kalau ada penyedia web hosting level rumahan. Biasanya yang seperti ini dikelola oleh mahasiswa dari kamar kos. Hanya bermodal seperangkat komputer dan koneksi internet.

Tak sedikit penyedia web hosting besar memnyediakan program reseller. Kita cukup membayar sejumlah uang sebagai deposit, lalu membeli nama domain, membuat website, dan voila! Kita sudah jadi penyedia web hosting dan bisa menjual paket-paket hosting ke siapa saja di mana saja.

Oke, tidak masalah kok membeli hosting dari reseller seperti ini. Hanya saja kita musti tahu betul konsekuensinya. Pada banyak kasus, reseller tidak dapat membantu permintaan-permintaan teknis karena tidak memiliki akses ke server. Demikian juga ketika server down, reseller tidak dapat berbuat apa-apa.

Yang umum terjadi adalah keluhan kita lama sekali tertangani karena reseller harus mengontak pemilik server, tempat di mana ia mengambil paket reseller. Karena melalui banyak tangan, penanganan satu masalah jadi lamban.

Tapi ini bukan jaminan membeli di penyedia web hosting bonafid bakal tidak ada masalah. Karenanya penting sekali untuk mencari tahu profil perusahaan tersebut. Bagaimana track record-nya, sudah berapa lama mereka di bisnis ini, seberapa banyak customer-nya, juga siapa saja yang memakai jasanya.

Khusus poin terakhir, penyedia web hosting biasanya akan dengan bangga mencantumkan nama-nama besar yang menjadi klien. Katakanlah perusahaan besar, merek ternama, atau public figure. Cari tahu semua ini sebelum mengambil keputusan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

4. Review & Testimoni

Klaim-klaim di situs penyedia web hosting bisa jadi hanya gimmick, strategi marketing belaka. Tapi tidak dengan review dan testimoni dari pelanggan maupun bekas pengguna. Yang saya maksud bukan review atau testimoni di situs penyedia web hosting itu, tapi di berbagai forum atau web-web review.

Untuk web hosting, ada banyak web review yang dapat menjadi rujukan. Di antaranya TrustPilot.com atau HostAdvice.com yang berisi testimoni pelanggan sehingga lebih terjamin tidak bias. Ada testimoni positif berisi pujian, tapi ada pula berisi keluhan dan kekecewaan.

HostingAdvice.com juga bisa jadi referensi karena berisi review komplit dari seorang ahli. Mulai dari hal-hal teknis sampai pelayanan, semuanya dibahas tuntas. Review komprehensif tapi dalam gaya berbeda dapat dibaca di HostingFacts.com.

Satu lagi yang harus disebut adalah portal teknologi terkemuka TechRadar.com. Di sini bahkan membahas tentang hal yang sepertinya sepele, misalnya mudah atau tidaknya mendaftar sebagai member. Atau seberapa cepat atau lama waktu yang dibutuhkan untuk menginstal WordPress.

Saya belum menemukan situs review seperti ini versi lokal. Tapi di forum-forum seperti Kaskus biasanya ada yang membahas tentang web hosting. Baik sekedar meminta pendapat atau malah berbagi pengalaman. Baca-baca saja semuanya, atau ikut nimbrung sekalian dalam percakapan.

5. Harga vs Spek

Harga tampaknya masih jadi fokus utama pasar Indonesia. Tak heran bila banyak tawaran atau promosi selalu mengandung kata “murah” untuk menarik perhatian. Apalagi ditambah prinsip, “Kalau ada yang murah, kenapa beli yang mahal?”

Kebanyakan kita juga masih salah kaprah soal murah-mahal. Biasanya kita enak saja melabeli sebuah produk dengan kata “mahal” kalau harganya tinggi. Demikian sebaliknya. Jadi, harga tinggi = mahal, harga rendah = murah. Hanya itu saja patokannya.

Well, leluhur kita sudah lama mengajarkan soal ini. Orang jawa, misalnya, kenal betul dengan ujar-ujar lama yang berbunyi “ana rega ana rupa.” Maksudnya, apa yang kita dapat sesuai dengan harga yang kita bayar.

Kita ambil contoh handphone. Orang mudah saja melabeli iPhone sebagai hape mahal karena harganya memang luar biasa. Tapi apa yang didapat pembeli iPhone sepadan dengan yang ia bayar. Misalnya saja kualitas kamera. Sama-sama 8MP, tapi hasil jepretan iPhone 5s jauh lebih bagus dari Asus Zenfone C.

Bandingkan juga performanya. Sama-sama RAM 1GB, tapi Asus Zenfone C yang berbasis Android lebih sering hang dibanding iPhone 5s yang memakai iOS. Demikian pula ketahanan baterainya. Zenfone C jauh lebih boros ketimbang iPhone 5s. Padahal baterainya berkapasitas 2160mAh, nyaris dua kali lipat dibanding baterai iPhone 5s yang hanya 1560mAh.

Dalam dunia gadget ada istilah price to performance. Membandingkan harga dengan spesifikasi, di mana spek mempengaruhi kinerja gadget tersebut. Sebuah gadget disebut murah jika banderolnya di bawah kompetitor dengan memiliki spek sama.

Perbandingan seperti ini bisa diterapkan saat memilih hosting. Jangan mudah tergiur harga murah. Perhatikan baik-baik spek yang ditawarkan dan pilihlah sesuai kebutuhan. Tak masalah membayar lebih tinggi untuk fitur dan layanan lebih oke. Ketimbang pilih yang murah tapi kemudian menggerutu.

Hostinger pricing

Oya, kebanyakan penyedia web hosting memakai gimmick dalam penentuan harga. Misalnya yang dipromosikan biaya Rp10.000 sebulan, tapi ketika kita ke situsnya biaya paling rendah Rp20.000/bulan. Rupanya tarif Rp10.000/bulan itu kita dapat kalau langsung membayar 24 bulan atau malah 48 bulan.

Ini praktik lumrah dalam bisnis hosting. Semakin lama berlangganan, harga bulanan yang kita dapat lebih rendah. Karenanya jangan langsung tergiur pada tawaran harga murah. Cari tahu dulu itu jadi murah karena apa. Speknya di bawah standar, atau ada syarat dan ketentuan khusus?

*****

Sebenarnya masih ada hal-hal lain yang musti jadi perhatian setelah lima di atas. Misalnya seberapa responsif dan solutif customer service-nya, apakah diberi fitur tambahan secara gratis, apakah ada fitur backup data dan jika tersedia perlu diketahui juga itu backup harian, mingguan, atau bulanan.

Faktor keamanan server patut jadi perhatian. Tanyakan apakah penyedia hosting memberi jaminan keamanan, serta sistem keamanan apa yang mereka gunakan untuk menangkal serangan botnet, malware, ataupun hacker.

Garansi dan jaminan uang kembali dalam periode tertentu boleh dijadikan pertimbangan. Saya menemui satu penyedia web hosting yang berani memberi jaminan refund selama 30 hari. Jadi kalau setelah memakai kita merasa tidak puas, tinggal minta dikembalikan saja uang yang sudah dibayar.

Itu saja. Semoga bermanfaat!

Iklan
About Eko Nurhuda (357 Articles)
A happy father of two. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: