Highlight:

Amina Sabtu, wanita pemberani yang tak tercatat sejarah

Nenek Amina Sabtu

Nenek Amina Sabtu saat saya kunjungi di rumahnya, 17 Agustus 2017. Susah payah saya mencari cara agar dapat menjepretnya sedang tersenyum begini. FOTO: bungeko.com/Eko Nurhuda

SAYA paham Desember bukan bulan yang tepat untuk membahas segala macam tema kepahlawanan ataupun sosok pahlawan. Tapi, mumpung November belum jauh dan bila mengingat bahwa “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya,” saya rasa sah-sah saja.

Perjalanan saya ke Pulau Tidore, pertengahan April 2017 lalu, memperkenalkan saya pada satu sosok yang tak tercatat dalam sejarah bangsa. Padahal, menilik apa yang pernah beliau lakukan di masa awal-awal kemerdekaan, anugerah pahlawan atau setidak-tidaknya veteran layak disandang.

Beliau adalah Amina Sabtu, nenek berusia 91 tahun asal Kelurahan Mareku, Kec. Tidore Utara, Kota Tidore Kepulauan. Ibu dari tiga anak dengan puluhan orang cucu.

Saya tidak akan heran jikalau banyak yang mengernyitkan kening. Harus diakui tak banyak generasi sekarang yang mengenal sosok Nenek Na, demikian beliau biasa dipanggil.

Saya sendiri baru mengetahui sosok beliau serta peran apa yang pernah dilakukannya di masa awal kemerdekaan juga pada saat ke Tidore, April 2017 lalu itu. Adalah Anita Gathmir, seorang Tidore-Jawa keturunan jauh Sultan Nuku, yang membawa saya bersama sejumlah rekan blogger lain ke kediaman Nenek Amina.

10 April 2017, sekitar pukul sembilan malam WIT, kami serombongan singgah di rumah beliau sebelum menyaksikan prosesi Paji Nyili Nyili di Kelurahan Rum Balibunga. Malam itulah saya mendengar tentang jasa Nenek Na bagi Republik Indonesia yang dilakukannya puluhan tahun lalu.

Eko Nurhuda cium tangan Nenek Amina Sabtu

Saya mencium tangan Nenek Amina Sabtu, disaksikan oleh Ci Anita Gathmir yang memperkenalkan kami pada sosok bersahaja ini. Dengan kedua tangan yang saya cium itulah bendera Merah Putih pertama di Maluku Kie Raha dibuat. FOTO: Rifqy Faiza Rahman, digunakan dengan izin.

Fatmawati-nya Tidore

Tak perlu berkecil hati jika kamu juga belum mengenal Amina Sabtu. Jangankan kita yang di Pulau Jawa, warga Tidore pun ada yang tak mengenal nama ini.

Bagi saya ini sebuah ironi. Sebab, beliau merupakan salah satu pelaku sejarah berdirinya Republik Indonesia. Saksi hidup sekaligus figur penting dalam terbentangnya wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Kalau kita mengenal Ibu Fatmawati sebagai penjahit bendera Merah Putih yang dikibarkan usai pembacaan Proklamasi 17 Agustus 1945, Nenek Na bolehlah kita sebut “Fatmawati-nya Tidore” atau “Fatmawati dari Indonesia Timur”.

Sebutan tersebut pertama kali saya baca dari laman Malut Post (24/08/2015). Adalah budayawan sekaligus aktivis sosial Maluku Utara, Sofyan Daud, yang menggunakan sebutan tersebut untuk judul opininya: Aminah Sabtu, Fatmawati-nya Tidore.

Bila menilik apa yang pernah dilakukan Nenek Na, sebutan tersebut sama sekali tidak salah. Beliau adalah penjahit bendera Merah Putih yang kemudian dikibarkan sekelompok pemuda pejuang di Tanjung Mareku, Pulau Tidore, pada 18 Agustus 1946.

Meskipun Republik Indonesia sudah diproklamasikan, namun penjajah asing masih bercokol di kawasan Indonesia Timur pada masa itu. Termasuk di Ternate dan Tidore. Mengibarkan bendera Merah Putih butuh keberanian luar biasa dan perjuangan besar kala itu.

Amina muda sendiri, seperti dilaporkan laman Jawa Pos (18/08/2015), harus sembunyi-sembunyi ketika membuat bendera Merah Putih. Ia menunggu kedua orang tuanya pergi ke kebun terlebih dahulu sebelum mulai menjahit.


Saat saya kunjungi untuk kali kedua pada 17 Agustus 2017 lalu, Nenek Na bercerita dirinya sebenarnya takut saat diminta menjahit bendera tersebut. Tapi ia memberanikan diri meski untuk itu harus sembunyi-sembunyi, bahkan dari orang tuanya sendiri.

“Kenapa Nenek berani (menjahit bendera Merah Putih)?” tanya saya ketika itu.

“Karena tidak ada lagi yang mau melakukannya,” jawab Nenek Na melalui perantara Olan, salah satu cucu jauh, sebagai penerjemah. Nenek Na hanya bisa berbicara dalam bahasa Tidore.

Tak Tercatat Sejarah

Bendera hasil jahitan Amina muda kemudian diserahkan pada Abdullah Kadir alias Dullah, sepupunya. Tentu saja secara sembunyi-sembunyi. Bersama beberapa kawannya almarhum Kakek Dullah membawa bendera tersebut menyeberang ke Ternate.

Rencana awal, bendera Merah Putih akan dikibarkan di Jembatan Residen. Ini tempat paling strategis di Ternate. Namun, ketatnya penjagaan tentara asing membuat Dullah cs. memutar kora-kora kembali ke Tidore.

Setelah berunding singkat, akhirnya diambil keputusan bendera dikibarkan di Tanjung Mafutabe. Ini sebuah tanjung kecil yang terletak tepat di tepi jalan raya penghubung Pelabuhan Rum dengan Kota Soasio.

Selain itu, Tanjung Mafutabe menghadap ke Ternate. Bendera yang dikibarkan pada tiang bambu tinggi bakal terlihat jelas dari pulau di seberang. Dan, begitulah, bendera Merah Putih pun berkibar di tanjung tersebut pada 18 Agustus 1946.

Monumen pengibaran bendera Tanjung Mafutabe, Mareku

Di sinilah lokasi Abdullah Kadir, dkk. mengibarkan bendera Merah Putih buatan Amina Sabtu pada 18 Agustus 1946. Monumen ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat sebagai bentuk penghormatan pada putera-puteri terbaik Mareku. FOTO: bungeko.com/Eko Nurhuda

Pengibaran bendera ini membuat tentara asing murka. Patroli dilakukan, sepasukan serdadu menyerbu Mareku untuk menangkap Kakek Dullah. Nenek Amina juga sempat ditangkap, namun akhirnya dilepas kembali. Menurut pengakuannya, ia sempat kena pukul salah satu serdadu. Peristiwa ini kelak membuatnya mengalami trauma selama bertahun-tahun.

Semua ini sama sekali tak tercatat dalam sejarah. Minimnya bukti dan catatan mungkin jadi penyebab. Yang paling disayangkan, bendera hasil jahitan Nenek Na pun entah kemana rimbanya. Padahal benda ini bisa jadi pusaka sangat bersejarah tak hanya bagi Tidore atau Maluku, tapi juga Republik Indonesia.

Boleh jadi inilah bendera Merah Putih pertama yang berkibar di kawasan timur Indonesia. Memang tak ada rujukan yang menguatkan asumsi ini. Namun mengingat Konferensi Malino yang digagas Hubertus Johannes “Huib” van Mook berlangsung pada 15 Juli – 25 Juli 1946, dan maksud dari konferensi ini adalah membentuk negara-negara baru di luar Republik Indonesia, bisa dipastikan pengibaran bendera Merah Putih di Mareku ini merupakan yang pertama.

Menurut penuturan warga setempat yang saya temui, bendera karya Nenek Na ketika itu dibawa oleh Sultan Zainal Abidin Syah untuk disimpan di Kadaton. Namun, kekosongan posisi sultan di Kesultanan Tidore selama puluhan tahun setelah Sultan Zainal Abidin Syah mangkat pada 1967 membuat keberadaan bendera tak jelas.

Saya sempat menanyakan perihal bendera ini pada Sultan Husain Syah yang bertahta sekarang, dalam satu kesempatan tatap muka di Kadato Kie pada 16 Agustus 2017. Namun, beliau tak bisa memberi jawaban.

“Pusaka kadaton juga banyak yang hilang kan?” jawab beliau dengan nada setengah tanya.

makan malam bersama Sultan Tidore

Saya dijamu makan malam oleh Sultan Tidore dan Bunda Permaisuri di Kadato Kie, kraton Kesultanan Tidore di Soasio. Dalam kesempatan tersebut saya meminta ijin dan restu sebelum menyampaikan donasi yang terkumpul di Kitabisa untuk Nenek Na. FOTO: Alex Toduho

Menulis Ulang

Dengan nihilnya catatan di masa lalu, serta hilangnya bendera Merah Putih bersejarah tersebut, tak heran bila Peristiwa Tanjung Mafutabe semakin dilupakan. Ceritanya hanya beredar dari mulut ke mulut, yang dalam perpindahannya sangat boleh jadi ditambah-tambahi atau malah ada yang berkurang.

Untuk menyelamatkan ingatan bangsa ini pada peristiwa bersejarah tersebut, hal pertama yang harus dilakukan adalah menuliskan ulang. Masih banyak saksi-saksi yang bisa ditanyai di Tidore. Nenek Amina sendiri masih bisa mengingat peristiwa tersebut dengan jelas.

Awalnya mungkin hanya semacam petite histoire, sejarah kecil yang lebih mirip cerita rakyat. Tapi, penelusuran lebih serius tentu saja bisa dilakukan. Rasanya tak mungkin peristiwa ini tak masuk dalam laporan militer asing kala itu. Masalahnya adalah, di mana kita dapat memperoleh arsip tersebut?

Saya pribadi dengan segala keterbatasan yang dipunyai, hanya sebatas inilah yang bisa saya lakukan. Menuliskan kisah ini sesering mungkin di sebanyak mungkin tempat. Termasuk menggunakan platform penggalangan dana masyarakat Kitabisa.com untuk mengamplifikasi sosok dan kisah heroik ini ke level nasional. (Baca juga: Kado Kecil untuk Nenek Amina)

Alhamdulillah, sejak itu semakin banyak media nasional yang mengangkat peristiwa pengibaran bendera di Tanjung Mafutabe pada 18 Agustus 1946. Menurut penuturan Olan jelang upacara pada 2017 ini kepada saya, perhelatan tahun ini diliput lebih banyak media.

Itulah satu-satunya harapan saya saat membuat laman donasi di Kitabisa. Nenek Na tidak butuh uang, tapi kita generasi terkini dan mendatang yang akan selalu berhutang besar pada keberanian beliau di masa lampau. Karenanya, jangan sampai peristiwa heroik di Tanjung Mareku ini hilang dari ingatan kita semua.

Pemalang, 1 Desember 2017

UPDATE:
Nenek Amina Sabtu telah wafat pada 18 Juli 2018, sore hari. Saya mendapatkan kabar ini pertama kali dari Olan, salah satu cucu jauh alamarhumah, melalui pesan WhatsApp. Jenazah almarhumah dimakamkan di pemakaman umum Kelurahan Mareku, Kecamatan Tidore Utara, Kota Tidore Kepulauan.

Beri tip untuk blog ini
About Eko Nurhuda (372 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: