Highlight:

Jadi Blogger Super dengan Laptop Intel 2in1

Jadi blogger super dengan laptop 2in1 Intel

PETER Benjamin Parker awalnya cuma seorang mahasiswa culun bin lugu. Berkaca mata, potongan rambut belah pinggir, dandanan biasa banget, ditambah mudah grogi terlebih bila berhadapan dengan gadis pujaannya — Mary Jane Watson, Peter bukanlah tipe cowok idaman. Tapi semuanya berubah gara-gara satu insiden kecil: Peter digigit laba-laba!

Sejak itu Peter menjelma jadi seorang pemuda dengan kekuatan lebih, kekuatan super. Tangannya dapat mengeluarkan jejaring halus namun liat seperti laba-laba. Ia bisa memanjat dinding semudah cicak, juga melompat tinggi sekali seolah-olah tubuhnya hanyalah segumpal kapas.

With great power there must also come great responsibility,” demikian pesan Paman Ben sebelum meninggal. Pesan yang menyadarkan Peter bahwa kekuatan super yang ia miliki bukan untuk dirinya sendiri.

Super power tersebut memberinya peran lebih. Ia bukan lagi sekedar mahasiswa biasa yang tinggal bersama Bibi May nan renta. Ia dapat berubah menjadi pahlawan super berpakaian laba-laba, menangkap penjahat kota, sampai mengalahkan musuh-musuh tangguh.

Karena Peter menyembunyikan identitasnya sebagai si Manusia Laba-Laba, tak ada yang menyangka jika mahasiswa culun itulah sang super hero kebanggaan warga kota New York. Ia bisa saja tertinggal bus jemputan kampus di pagi hari, lalu dalam sekejap berubah menjadi Spiderman yang melenting lincah dari satu gedung ke gedung lain mengejar penjahat.

Peter Parker Spiderman

Peter Parker, mahasiswa lugu yang dapat anugerah besar menjadi superhero manusia laba-laba, Spiderman. FOTO: theredlist.com

Peran Peter bertambah karena ia masih harus bekerja mencari uang. Ia pernah jadi pengantar pizza, sebelum akhirnya diterima sebagai fotografer lepas di harian Daily Bugle. Lucunya, Peter berhasil memikat perhatian J. Jonah Jameson sang bos besar Daily Bugle dengan menyodorkan foto-foto Spiderman hasil bidikannya.

Bayangkan betapa sibuknya seorang Peter Parker. Ia adalah Spiderman yang sehari-harinya berstatus mahasiswa, pengantar pizza yang diupah berdasarkan jumlah hantaran, serta bekerja sambilan sebagai fotografer lepas. Mary Jane harusnya dapat memaklumi ketika Peter terlambat menyaksikan pementasan teater malam itu.

Blogger + Video Maker + Ayah & Fan Sepakbola

Rasanya bakal banyak yang bilang “maksa banget sih,” tapi saya kok merasa mirip dengan Peter Parker. Okelah, saya memang tidak bisa berubah jadi Manusia Laba-Laba ataupun Manusia Harimau. Kadar ketampanan saya dengan Toby Maguire juga bagaikan langit dan bumi.

Lantas, samanya di mana? Beragam peran yang harus dijalankan sekaligus dalam kehidupan sehari-hari, disitulah kesamaan saya dengan Peter. Kalau saja saya masih suka memanjangkan rambut, bakal ada satu lagi kesamaannya: rambut belah pinggir. 😀

Bicara profesi, saya adalah seorang penulis lepas dengan media blog sebagai senjata utama. Karenanya predikat blogger pun tersemat. Dari awalnya hanya menulis hal-hal bersifat remeh-temeh, blog saya kemudian menampung posting berbayar. Sponsored post istilah kerennya. Dari sinilah saya mendapatkan penghasilan.

Selain ngeblog saya juga menulis di sejumlah situs sebagai content writer, dengan target sekian tulisan sehari, dibayar sekian rupiah sebulan. Lalu terkadang mengirim artikel di media dengan honor beberapa ratus ribu rupiah.

Lumayan.

Seiring dengan perubahan kebiasan audiens dunia maya, saya coba belajar membuat video. Orang lebih suka menyaksikan gambar bergerak ketimbang membaca teks. Video bakal menggeser artikel. The Guardian melaporkan, konten video diprediksi mencapai 69% dari semua lalu lintas internet di tahun 2017.

Eko Nurhuda with Acer Aspire E1-442

Meski dengan peralatan yang masih terbatas, saya tetap berupaya maksimal menjalankan berbagai peran. Utamanya sebagai blogger dan video maker. FOTO: dokumentasi pribadi

Saya tentu tak mau ketinggalan kereta. Saya harus bisa mengikuti perkembangan, dan ikut beralih ke konten video. Sebagai ajang praktek, saya mengelola channel YouTube dan secara reguler mengunggah 2-3 video sepekan. Embel-embel saya pun bertambah: video maker, sekalipun musti saya tambahi kata “amateur” di depannya karena memang masih tahap belajar.

Membuat video ini boleh dibilang hobi baru tapi lama. Sejak memegang handphone berkamera pada medio 2007, saya jadi gandrung merekam tiap kejadian unik yang ditemui. Sayangnya masa itu saya belum bisa beli komputer yang bisa untuk video editing, jadi kumpulan footage tersebut tak pernah diolah.

Sekalipun masih berlabel hobi, membuat video memberi pemasukan tambahan bagi saya. Channel YouTube saya sudah menjadi partner Google. Video-video yang diunggah di sana menghasilkan sejumlah uang dari penayangan iklan Google AdSense. Belum banyak sih, tapi sudah membuat saya beberapa kali ke kantor pos untuk mencairkan Western Union.

Nah, yang murni hobi adalah menonton sepakbola. Saya pendukung klub Liverpool FC yang bertanding di Liga Inggris. Setiap akhir pekan saya menyempatkan diri nonton bareng (nobar) dengan teman-teman sesama penggemar LFC di Pemalang. Kalau tidak ada nobar saya nonton secara live streaming di rumah pakai laptop kesayangan.

Kecintaan saya pada Liverpool FC jangan ditanya. Saya berangkat ke Jakarta sewaktu klub asal Kota Liverpool ini bertanding melawan tim Indonesia XI di Stadion Gelora Bung Karno, Juni 2013 lalu. Saya nyaris berangkat ke Kuala Lumpur (2015) dan Hong Kong (2017) untuk menonton Liverpool secara langsung, tapi batal karena satu dan lain hal.

Eko Nurhuda dan Damar

Kecintaan pada Liverpool FC saya tularkan kepada anak lelaki saya, Damar. Foto ini diambil 19 Mei 2013, saat Damar ulang tahun, dan pernah dimuat di Tabloid BOLA.

Impian terbesar saya, seperti halnya impian semua penggemar Liverpool FC di seluruh dunia, adalah terbang ke Inggris dan menyaksikan Si Merah bertanding di Stadion Anfield.

Saya sama sekali tak menghasilkan apa-apa dari aktivitas satu ini, kecuali kesenangan batin. Terlebih kalau Liverpool menang. Justru sebenarnya menghabiskan uang, baik untuk membayar tiket nobar maupun membeli beragam merchandise klub. Tapi namanya hobi ya mau bagaimana lagi. Iya, kan?

Jangan lupakan juga peran saya sebagai seorang ayah dari dua anak. Ini tanggung jawab yang bakal terus melekat sepanjang hayat. Sebuah tugas mulia yang tidak mudah, namun musti dijalani serta disikapi dengan senang hati.

Sebagai ayah, saya sudah terbiasa membantu istri mengurus anak. Sejak mereka masih bayi saya sudah turut memandikan, menina-bobokan, mengajak bermain, sekaligus menjadi guru yang mengajarkan hal-hal baru. Tempat mereka bertanya banyak hal, terutama setelah masuk usia sekolah seperti saat ini.

Sampai kapanpun, bahkan hingga anak saya punya anak, saya tetaplah ayah mereka. Kewajiban saya pada mereka akan terus dan tetap melekat sepanjang hayat. Sebuah tugas seumur hidup.

Blogger, content writer, menulis artikel untuk media, video maker atau sebutlah YouTuber, seorang ayah sekaligus suami, dan suporter Liverpool FC. Sudah sama kan dengan Peter Parker yang punya peran macam-macam?

Saling Melengkapi

Dari seabrek kegiatan tadi, ngeblog dan membuat video paling dominan dalam keseharian saya. Sekaligus yang selalu saya prioritaskan dengan urutan 1) blog, 2) video. Tapi bisa juga 1) video, 2) blog. Tergantung mana yang harus diprioritaskan.

Saya melihat keduanya saling melengkapi. Dengan menguasai skill pembuatan video, level saya sebagai blogger bakal meningkat. Konten di blog saya jadi lebih kaya. Selain teks dengan ilustrasi visual berupa gambar dan foto, juga ditambahi video yang melibatkan lebih banyak indera.

Misalnya ketika menceritakan betapa serunya mengikuti perayaan Hari Jadi Tidore ke-909 pada April lalu, saya tambahkan video dalam posting sehingga pembaca dapat ikut menyaksikan kemeriahan acara tersebut. Pembaca juga dapat melihat keindahan tempat-tempat yang saya kunjungi selama di Tidore, kuliner khas Tidore yang saya makan, dan lainnya.

Misalnya video di bawah ini. Di mana saya mengabadikan momen saat bersama teman-teman blogger lain disambut oleh Tari Kapita, tarian khusus menyambut tamu kehormatan, begitu mendarat di Pulau Tidore.

Menambahkan video pada posting membuat pembaca lebih lama berada di blog. Ini menguntungkan secara teknis, sebab artikel bersangkutan mendapat nilai lebih dari Google berkat durasi membaca yang lebih lama. Efeknya, artikel itu ditempatkan di posisi lebih baik dalam halaman hasil pencarian (SERP).

Namun demikian, sejatinya ini adalah dua kegiatan yang sama sekali berbeda lho. Menulis posting di blog dan membuat video sulit dijalankan beriringan. Keduanya sama-sama membutuhkan waktu dan effort luar biasa dalam penggarapannya. Kalau antrian penulisan posting panjang, saya tidak bisa menggarap video hari itu.

Demikian sebaliknya, kalau sudah asyik menggarap video saya tidak akan melongok blog. Bahkan sepulang dari Tidore saya sempat berhari-hari tidak online karena antrian pembuatan video sangat panjang. Setelah punya stok video, barulah saya beralih ke blog.

Karena sama-sama butuh waktu dan effort besar, saya dituntut pandai mengatur ritme agar tetap dapat meng-update blog sembari rutin membuat video untuk YouTube. Selain itu, saya juga musti didukung oleh perangkat hebat yang mampu membantu mengerjakan semua pekerjaan tersebut.

Acer Switch Alpha 12

Ini dia wujud laptop 2in1 berprosesor Intel keluaran Acer, Switch Alpha 12. Dapat digunakan sebagai laptop maupun tablet. Laptop idaman saya nih! 🙂 FOTO: denicapress.info

Dua dalam Satu

Selama ini saya mengandalkan laptop Acer Aspire E1-422 untuk menulis dan mengedit video. Laptop ini sebenarnya sudah sangat powerful kalau hanya untuk menulis dan ngeblog. Dengan laptop ini saya telah menghasilkan beberapa naskah buku, sebagian diterbitkan penerbit nasional, juga artikel yang tersebar di berbagai media.

Garap video? Masih bisa sih, tapi sebenarnya saya agak memaksa.

Baca juga: Tiga Tahun bersama Acer Aspire E1-422

RAM 2 GB dan prosesor dual-core di Acer Aspire saya hanya memenuhi spesifikasi minimum Magix Movie Edit Pro 2016, software yang saya pakai untuk mengedit video. Sudah beberapa bulan terakhir saya membayangkan punya laptop lebih oke. Laptop dengan kemampuan super sehingga membantu saya menjadi Blogger super.

Karena sudah kadung nyaman dengan Acer, yang saya lihat-lihat pun produk-produk pabrikan asal Taiwan tersebut. Makanya saya jadi mupeng berat sewaktu Acer meluncurkan laptop 2in1, Switch Alpha 12. Sesuai namanya, perangkat ini dapat digunakan dalam dua fungsi: laptop atau tablet. Bagian monitor dan bodinya dapat dipisah. Kalau tidak dipakai untuk mengetik, lepas saja monitornya dan Acer Switch Alpha 12 akan berubah jadi tablet.

Coba lihat sendiri fotonya di atas. Keren, kan? Cek juga spefisikasi dan ulasan lengkap Switch Alpha 12 di Blibli.com ini. Kalau harganya cocok, langsung klik tombol “BELI SEKARANG”. Tapi sebelumnya simak dulu uraian saya di bawah ini supaya lebih yakin.

prosesor Intel Core i7

Acer Switch Alpha 12 diotaki oleh prosesor Intel Core i5 dan Intel Core i7, tergantung seri dan harga. Pilih mana? FOTO: Diolah dari Acer.com

Prosesor jempolan, RAM besar

Melongok ke spesifikasinya, Switch Alpha 12 seolah menjawab keinginan saya. Pilihan prosesor ada dua: Intel® Core™ i5-6200U dan Intel® Core™ i7-6500U, tinggal pilih mana yang sesuai budget kamu.

Kalau kantong saya sih Intel Core i5 saja sudah melebihi ekspektasi saya yang hanya mengidam-idamkan seri i3. Saya sudah bisa membayangkan betapa mulusnya mengedit video dengan dukungan prosesor i5. Jika dengan prosesor alakadar seperti sekarang saya bisa menghasilkan setidaknya tiga video sepekan, bagaimana kalau pakai Intel?

Intel® Core™ i5 dan i7 generasi ke-6 pada Switch Alpha 12 menjamin perangkat ini memberikan performa tinggi. Dukungan teknologi Hyper-Threading memungkinkan kedua buah intinya bekerja dua kali lebih banyak dibanding prosesor dual-core standar. Dual-core rasa quad-core

Coba simak video berikut untuk mengetahui bagaimana teknologi Hyper-Threading bekerja.

Teknologi Hyper-Threading membuat Switch Alpha 12 dapat menjalankan banyak aplikasi sekaligus dalam waktu bersamaan, tapi dengan konsumsi listrik lebih sedikit. Dan dijamin nggak bakal nge-lag lagi!

Benar-benar laptop Intel 2in1 idaman! 🙂

Untuk urusan RAM juga ada dua pilihan. Yang terkecil 4GB, dan pilihan kedua 8GB. Bagi saya, ambil yang 4GB pun sudah lebih dari cukup untuk menjalankan aplikasi olah video yang rakus memori. RAM selega ini bakal membuat preview video pada Magix Movie Edit Pro tampil tanpa putus-putus. Tambahan graphic card Intel® HD Graphics 520 membuat saya makin mupeng.

Nabung, nabung…

Monitor Acer Switch Alpha 12

Monitor laptop Acer Switch Alpha 12 dapat dilepas dan berubah fungsi jadi tablet. Juga ada stand yang dapat membuat monitor ditegakkan seperti ini. FOTO: Diolah dari Acer.com

Monitor jernih dan nyaman di mata

Mengedit video itu nggak sebentar lho. Untuk video berdurasi 5 menit saja setidaknya saya butuh waktu antara 2-3 jam. Belum termasuk rendering. Semakin panjang durasi video, terlebih bila footage-nya banyak, tambah lama pulalah waktu yang dibutuhkan.

Terlalu lama menatap monitor membuat mata tidak nyaman. Selain dapat membuat mata kering dan perih, ada ancaman radiasi yang mengintai. Akibatnya tidak main-main lho.

Tapi itu tidak akan saya alami kalau memakai Acer Switch Alpha 12. Monitornya dilengkapi fitur Acer BlueLight Shield untuk melindungi mata dari emisi cahaya biru yang dipancarkan monitor. Cahaya inilah penyebab mata cepat lelah dan kering.

Dengan lebar 12″, monitor Switch Alpha memiliki resolusi tinggi, yakni QHD (2160 x 1440). Teknologi IPS yang digunakan membuat monitor memiliki area pandang lebih luas, tetap jernih dipandang dari sudut manapun, cocok sekali untuk menggarap video. Ketika digunakan sebagai tablet, monitornya sangat responsif pada sentuhan tangan dan dilengkapi fitur Multi Touch.

Port USB Acer Switch Alpha 12

Acer Switch Alpha 12 dibekali port USB jenis terbaru yang menjamin transfer data lebih cepat. FOTO: Diolah dari Acer.com

Transfer data secepat kilat

Bahan pembuatan video adalah footage yang direkam menggunakan kamera. Saya selalu membawa setidaknya tiga jenis kamera saat bepergian: kamera saku, action cam, dan handycam. Ini masih ditambah kamera smartphone sebagai perangkat cadangan. Kalau butuh voice over, saya merekamnya pakai mikrofon yang dihubungkan dengan digital voice recorder.

Agar dapat diedit dan disatukan jadi video yang enak ditonton, pertama-tama tentu saya harus memindahkan seluruh data tersebut ke laptop. Ukuran file-nya jangan ditanya. Besar-besar semua, Masbro dan Mbaksis. Soalnya saya selalu set kamera untuk merekam di resolusi high-definition (1920×720 piksel).

Namun itu tak jadi masalah bila menggunakan Switch Alpha 12. Laptop ini dibekali USB 3.1 Type-C. Ini USB versi terbaru yang dapat mentransfer data dengan kecepatan 5 Gbps. Artinya, saya dapat memindahkan satu folder berisi video berukuran 5 GB hanya dalam waktu sedetik.

Wow!

Kelebihan lain USB 3.1 Type-C adalah port-nya bolak-balik sehingga memudahkan kita saat mencolokkannya ke laptop. Praktis, no ribet.

Acer Switch Alpha 122 SSD

Laptop Acer Switch Alpha 122 memakai harddisk jenis SSD alias solid state drive, menjamin laptop berjalan kencang. FOTO: Diolah dari Acer.com

Harddisk terbaik

Masih urusan cepat-cepatan, Acer Switch Alpha 12 memakai harddisk tipe Solid State Drive (SSD). Memakai ini laptop lebih cepat menyala karena proses booting menggunakan SSD lebih cepat. Demikian pula loading program-program yang hendak dipakai, termasuk program video editing.

Tipe yang lebih murah dibekali SSD berkapasitas 256GB, sedangkan yang lebih mahal SSD-nya 512GB. Ini sebenarnya termasuk kecil, apalagi kalau laptop dipakai untuk menampung file-file video. Tapi saya yakin kita bisa menggantinya dengan harddisk berkapasitas lebih besar. Kalaupun tidak, pakai saja harddisk eksternal.

Beres!

Acer LiquidLoop

Acer memakai teknologi LiquidLoop yang membuat suhu laptop hybrid Switch Alpha 12 tetap dingin sekalipun tanpa kipas. Cool! FOTO: Diolah dari Acer.com

Tanpa kipas, tidak berisik

Semakin lama dipakai, laptop biasanya menjadi semakin panas. Kalau panasnya terlalu tinggi (overheat), laptop bisa hang lalu error dan seringkali mati sendiri. Karenanya saya selalu memakai kipas pendingin yang diletakkan di bawah laptop. Berisik? Jangan ditanya.

Mengatasi hal tersebut, Acer Switch Alpha 12 memakai teknologi pendingin yang dinamai Acer LiquidLoop. Tak ada kipas yang dipakai. Sebagai gantinya dipasang pipa-pipa kecil berisi cairan pendingin untuk menstabilkan suhu prosesor secara optimal.

Berkat teknologi ini, Switch Alpha 12 jadi notebook berprosesor Intel Core pertama yang tak memakai kipas. Karena tanpa kipas, laptop ini tidak mengeluarkan suara berisik saat digunakan. Ketiadaan kipas juga membuat konsumsi baterai lebih hemat, yang berarti laptop bisa hidup lebih lama.

Acer Switch Alpha tablet

Sebagai laptop hybrid, Acer Switch Alpha 12 dapat berubah bentuk menjadi tablet ketika monitor dipisah dari badan keyboard. Keren! FOTO: Diolah dari Acer.com

Multifungsi

Bukan tanpa alasan Acer menamai Switch Alpha 12 sebagai laptop hybrid. Perangkat ini memang dirancang untuk memenuhi dua fungsi sekaligus, laptop dan tablet. Tergantung kebutuhan, kita dapat melepas monitor dari bagian bodi.

Saya sendiri kalau tidak sedang menggarap video atau menulis blog biasa menghabiskan waktu untuk browsing dan menonton YouTube. Kalau punya Switch Alpha 12, menonton video bakal puas sekali karena monitornya 12″. Tablet yang selama ini saya pakai monitornya hanya 7″.

Dengan resolusi QHD (2160 x 1440) dan teknologi IPS, mata saya bakal sangat dimanjakan oleh tampilan di layar. Alamat betah nonton YouTube nih. Hihihi.

Spesifikasi Acer Switch Alpha 12

Processor

● Intel® Core™ i5-6200U processor (3 MB L3 cache, up to 2.8 GHz)

● Intel® Core™ i7-6500U processor (4 MB L3 cache, up to 3.1 GHz)

OS Windows 10 Home 64-bit
Storage

● 256GB SSD

● 512GB SSD

Memory

● 4GB DDR3

● 8GB DDR3

Graphic Intel® HD Graphics 520
Connection

● Wifi 802.11a/b/g/n/ac

● Bluetooth® 4.0

Battery Capacity 4,870 mAh / up to 8 hours
Display 12″ IPS QHD (2160 x 1440) Multi Touch
Dimension 292.1 (W) x 201.4 (D) x 15.85 (H) mm – pad and dock
Weight 1.25 kg
Camera 5 MP Camera
Port

● 1x USB 3.0

● 1x USB 3.1 Type C

● 1x Micro SD card slot

Color Options Silver

Jadi Blogger Super dengan Laptop Intel 2in1

Dulu di awal-awal saya ngeblog, blogger itu hanya menulis posting di blognya. Yang penting update secara rutin, kemudian sempatkan mengunjungi blog lain. Selesai.

Jaman sudah berbeda. Kini blogger juga dituntut menguasai sosial media. Biasanya job datang dalam bentuk paket, posting blog dan update sosmed. Nah, YouTube dengan konten videonya termasuk sosial media. Dan seperti diberitakan The Guardian, tahun depan konten video bakal lebih dominan di internet.

Di sini blogger lagi-lagi dituntut menguasai skill baru: video editing atau malah video producing. Ini skill yang tidak mudah, tapi sebenarnya tidak sulit jika mau serius belajar. Jika sudah menguasainya, maka semakin komplitlah kemampuan kita sebagai seorang blogger.

Menulis adalah kemampuan dasar seorang blogger. Tidak ada nilai lebih yang dapat kita tawarkan kalau hanya mengandalkan kemampuan menulis. Karenanya kita harus mengembangkan diri, menambah kemampuan dengan mempelajari skill baru. Saya sendiri sangat menyarankan agar teman-teman mulai mempelajari video editing.

Bayangkan ada blogger yang jago menulis, piawai buzzing memanfaatkan sosial media (setidaknya Facebook, Twitter, dan Instagram), serta mahir membuat video. Wah, saya tak akan segan-segan menyebutnya sebagai Blogger Super.

Dan saya mau jadi seperti itu.

Dengan usaha yang tekun, doa yang khusyuk, serta dukungan perangkat keren berupa laptop 2in1 berprosesor Intel seperti Acer Switch Alpha 12, saya yakin suatu saat dapat mencapai level tersebut.

Allahumma amin…

Iklan

About Eko Nurhuda (359 Articles)
A happy father of two. Blogging and making video for fun. Love food, music, and sometime football #YNWA

8 Comments on Jadi Blogger Super dengan Laptop Intel 2in1

  1. Huaaaa..laptop 2 in 1 memang pilihan banget ya Bung Eko! Saya penggemar Asus, hybridnya senang banget buat nonton YouTube gak pegal karena bisa dicopot keyboardnya.

  2. Saya tetap ngeblog & lampirkan foto saja nih Mas. Belum kepikiran ah bermain dgn video mah. Gak tahu nih Mas, saya biarkan diri left behind saja walaupun arahnya ke konten video.

    Laptopnya keren ya. Di rumah sih beragam nih, kalo anak yg kuliah sosial pake acer, kalo yg kuliah TI pakenya asus. Saya gak tahu mereka masing2 punya pilihan. Katanya sih melihat mayoritas yg dipakai teman-temannya. Pilihan merk laptop itu berlanjut juga sampe sekarang mereka sudah pada bekerja.

    Salam dari saya di Sukabumi,

    • Sama, Pak. Saya adik-beradik juga beda-beda merek laptopnya. Tapi kalau untuk saya pribadi, selama 3,5 tahun terakhir pakenya Acer. Dan, ini udah masuk wishlist beberapa laptop Acer lain dengan kemampuan lebih baik. Semoga segera ada dana buat nebus laptop idaman tsb 🙂

  3. aku pernah punya laptop acer..dan smpe skg masih bisa dipake..udah sejak 2006..tp skg pake yg mini lenovo lebih fleksible di pake dimana2..salam kenal ya pak eko 🙂

  4. Core i5, wow, aku belum pernah punya segahar itu, Mas. Kalau RAM buat video making memang minimal 4 GB, wah mupeng nih sama acer swift. Kece badai….

    • Hehehe, aku aja sudah bakal seneng banget kalo bisa dapet yang i3. Soalnya buat Magix Movie Edit yang biasa kupakai edit video, Intel i3 udah sangat memadai. Tinggal RAM-nya aja cari yang 4GB biar lebih wus-wus kinerjanya 🙂

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: