Iklan
Highlight:

Terpikat Sarang Penyamun di Petungkriyono

Saya ulang tahun 10 Desember ini. Mau kasih kado? Boleh banget! Klik aja Ulang Tahun Bung Eko untuk SON Institute. Terima kasih ya.

air terjun Curug Bajing Petungkriyono

MATAHARI sudah tinggi. Sinar teriknya menerobos turun melalui sela-sela daun pepohonan. Jalanan terus menanjak naik, sebab tujuan masih berada jauh di atas. Toh, mobil bak terbuka dengan aksen hijau muda di bagian depan dan samping yang saya naiki tetap berjalan gagah.

Mobil tersebut aslinya sebuah pick up dengan bak terbuka. Biasa digunakan mengangkut sayur-mayur, buah-buahan, serta hasil bumi lainnya. Sesekali dipakai mengangkut hewan ternak, lebih-lebih di musim kurban. Penduduk lokal menyebutnya doplak.

Belakangan, mobil bak terbuka itu dimodifikasi sedemikian rupa untuk mengangkut orang. Dengan dua tempat duduk memanjang, pembatas besi di sekeliling bak, ditambah atap dari terpal, doplak pun menjelma sebagai angkutan manusia.

Nama beken kemudian disematkan pada doplak versi modifikasi ini. Anggun Paris namanya. Singkatan dari “angkutan gunung pariwisata.” Dengan kendaraan inilah saya dan rombongan peserta Amazing Petung National Explore 2017 diangkut naik ke dataran tinggi Pegunungan Serayu Utara, Sabtu (5/8/2017) lalu.

Kecamatan Petungkriyono terletak sekitar 41 km di tenggara Kajen, ibukota Kabupaten Pekalongan. Dari Kota Pekalongan yang lebih mudah diakses, Petungkriyono dapat diakses melalui perjalanan darat sejauh 44 km. Jarak yang tidak jauh sebenarnya. Namun sulitnya medan menuju kecamatan yang wilayahnya didominasi hutan hujan ini membuat waktu tempuh bisa jadi dua-tiga kali lipat dari yang seharusnya.

Berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjarnegara, dataran tinggi Petungkriyono masih satu rangkaian dengan Dieng Plateau. Kedua tempat ini disatukan oleh Pegunungan Serayu Utara yang berada di tengah-tengah Pulau Jawa. Karenanya jangan heran bila jalan menuju ke Petungkriyono menanjak dan berkelok-kelok.

Saya dan rombongan terhitung beruntung mendatangi Petungkriyono di tahun 2017. Dulu, sebelum tahun 1980-an, akses menuju ke sana masih berupa jalan tanah. Barulah setelah tahun 1980 jalan tersebut diaspal halus, meski sekarang banyak yang rusak.

Anggun Paris Petungkriyono

Anggun Paris, angkutan khusus menuju kawasan ekowisata Petungkriyono.

Jalanan sunyi. Anggun Paris dengan bebas melenggang di tengah-tengah. Namun aspal yang mengelupas di beberapa bagian membuat sopir harus pintar-pintar berkompromi. Bergantian gas dan rem diinjak tergantung kondisi jalan. Saya dan penumpang lain terantuk-antuk di belakang.

Di kiri-kanan berjajar pepohonan rapat berseling semak belukar. Beberapa saya kenal. Pohon karet, pinus, kopi, lalu terselip pohon aren dengan tandan-tandan buahnya yang menjulur ke bawah. Pikiran saya otomatis membayangkan kolang-kaling.

Suara nyanyian satwa hutan terdengar, sahut-menyahut dengan deru mesin mobil yang dipacu dengan persneling 1-2.

“Kalau mau ke Petungkriyono cuma bisa naik Anggun Paris,” kata Mas Hayat, salah seorang pegiat Pokdarwis Petungkriyono yang memandu kami.

“Sewanya Rp500.000 bolak-balik,” sambungnya ketika saya dan Mas Halim Santoso dari Solo menanyakan tarif. “Satu Anggun Paris bisa dinaiki 10 penumpang. Paling banyak 12 orang. Jadi, idealnya rombongan.”

Lantas, bagaimana dengan pengunjung yang datang sendiri atau berdua? Masa iya harus sewa satu Anggun Paris dengan tarif Rp500.000? Untungnya tidak. Di Terminal Doro berjajar doplak jurusan Petungkriyono. Tinggal naik saja mana yang siap berangkat.

Disambut Hangat Kopi Owa

Di satu tikungan jalan menanjak tapi segera menurun. Di depan tampak percabangan, satu ke kiri satunya lagi lurus. Ke jalan yang lurus itulah kami nanti menuju. Tapi kami harus berhenti dulu. Panitia sudah menyiapkan tarian tradisional sebagai penyambutan.

Tepat di sisi persimpangan terdapat semacam monumen dengan tulisan “PETUNGKRIYONO” besar-besar. Di bawahnya tertera tulisan “National Nature Heritage” sebagai identitas Petungkriyono. Hutan hujan di kecamatan paling selatan Kabupaten Pekalongan ini merupakan satu-satunya hutan alami di Pulau Jawa yang masih terjaga kelestariannya sejak dulu.

Tarian Pesona Petungkriyono

Tarian Pesona Petungkriyono menyambut kedatangan rombongan peserta Amazing Petung National Explore 2017, Sabtu (5/8/2017).

Dua gadis penari bersiap. Begitu alunan gamelan terdengar dari tape portabel, keduanya bergerak melenggak-lenggok dengan manja. Seluruh peserta Amazing Petung National Explore 2017 mengambil posisi masing-masing untuk mengabadikan tarian.

Saya hendak berpindah posisi mencari angle lain ketika Mas Jaoed Khaeruddin menghampiri dengan nampan berisi gelas-gelas plastik. Dari hitamnya warna cairan di dalam gelas-gelas tersebut, saya langsung menebak itu kopi. Kopi Owa atau Kopi Petungkriyono tepatnya.

“Kopi Petung,” Mas Jaoed membenarkan dugaan saya. Segera saja saya ambil segelas. Masih hangat.

Dusun Sokokembang di Desa Kayupuring merupakan penghasil kopi terbesar di Petungkriyono. Dari sini orang sering pula menyebut kopi asal Petungkriyono sebagai Kopi Sokokembang. Sedangkan warga sekitar mengenalnya kopi bestak. Nama terakhir, konon, telah melekat sejak jaman Belanda.

Kini Kopi Petungkriyono lebih dikenal dengan nama Kopi Owa. Bukan karena kopi tersebut dibuat dari biji hasil fermentasi Owa Jawa, seperti halnya kopi luwak. Sebutan Kopi Owa mengacu pada seringnya penduduk melihat owa-owa di dahan-dahan kopi.

Owa Jawa (Hylobates moloch) sendiri merupakan jenis kera kecil yang hanya ada di Pulau Jawa. Hutan Sokokembang adalah rumah terbesar kedua bagi satwa ini setelah Taman Nasional Gunung Halimun Salak di Jawa Barat.

Persebarannya yang terbatas akibat degradasi hutan dan perburuan liar membuat Owa Jawa tergolong satwa langka. Jumlahnya terus berkurang. Ini sebabnya pengunjung Petungkriyono semakin jarang melihat Owa Jawa.

International Union for Conservation of Nature (IUCN, Lembaga Konservasi Dunia) menetapkan Owa Jawa dalam kategori hewan yang terancam punah. Untuk menyelamatkannya telah dilakukan serangkaian upaya lewat program Rehabilitasi Hutan Lahan (RHL) demi menjaga habitatnya.

Curug Sibedug Petungkriyono

Curug Sibedug di Desa Kayupuring, salah satu destinasi wisata alam andalan Petungkriyono.

Hawa Mistis Curug Sibedug

Sedikit gangguan teknis membuat Tarian Pesona Petungkriyono tak sampai selesai dibawakan. Sementara kopi di gelas plastik yang saya bawa sudah tandas. Puas berfoto-foto, perjalanan kami lanjutkan kembali.

Anggun Paris melaju melewati sebuah gapura. Pada bagian atasnya yang melengkung terdapat tulisan “SELAMAT DATANG DI EKOWISATA PETUNGKRIYONO.”

Petualangan yang sebenarnya baru dimulai!

Gapura tadi menjadi pintu masuk menuju hutan belantara berusia lebih dari seribu tahun. Konon, kawasan rimba raya seluas 6.000 hektar tersebut dulunya merupakan pusat pemerintahan Sima Pekalongan, sebuah wilayah administratif setaraf kabupaten di masa Kerajaan Mataram Kuno.

Menurut beberapa sumber sejarah, nama Petungkriyono secara etimologi terdiri dari kata “petung” dan “kriyono”. Kata “petung” dari kata “betung” yang dalam bahasa Melayu Kuno berarti rumpun bambu. Sedangkan kata “kriyono” berasal dari kata “rakryan” atau “karayan”, sebutan bagi pejabat pemimpin sima.

Curug Sibedug Petungkriyono

Salah satu air terjun di Curug Sibedug, Petungkriyono.

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa Petungkriyono dulunya merupakan tempat tinggal Rakai Petung atau Rakryan Petung, pemimpin sima yang wilayahnya kini masuk Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, serta sebagian Kabupaten Banjarnergara. Pendapat ini didukung dengan temuan beberapa fragmen candi, arca, serta lingga-yoni di Desa Tlogopakis.

Tak jauh meninggalkan gapura, jalanan mulai tak bersahabat. Tak cuma kepala terantuk-antuk, badan pun ikut bergoyang-goyang akibat guncangan saat roda menghantam batu-batu kecil dan lubang di jalan. Untungnya ketidak-nyamanan itu tergantikan oleh pemandangan hijau di kiri-kanan nan memanjakan mata.

Di satu tikungan terdengar suara gemericik. Saya menoleh ke arah asal suara. Tepat di pinggir jalan tampak sebuah batu besar, dari atasnya mengucur air bening sekali. Air terjun kecil! Lidah lokal menyebut air terjun dengan nama curug.

Curug-curug kecil seperti itu bukan yang terakhir dalam perjalanan ini. Mas Hayat menjelaskan, Kecamatan Petungkriyono yang berada di ketinggian 600-1.200 mdpl dianugerahi begitu banyak curug. Besar maupun kecil. Saking banyaknya, bolehlah jika Petungkriyono dibilang Bumi 1000 Curug.

Melihat topografi dan ekologinya, kawasan Petungkriyono merupakan bioregion yang memiliki peran sebagai cathment area (daerah tangkapan air). Air sangat berlimpah ruah di sini. Aliran Sungai Kupang dan Sengkarang yang berhulu di Petungkriyono menjadi sumber kehidupan bagi daerah-daerah di bawahnya.

Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Kabupaten Batang, juga Kabupaten Banjarnegara yang dilalui aliran kedua sungai – dan anak-anak sungainya – boleh dibilang berhutang besar pada Petungkriyono yang telah mengaliri wilayah mereka.

Curug Sibedug Petungkriyono

Dua model berpose di depan salah satu air terjun Curug Sibedug, Petungkriyono.

Karena kontur wilayahnya yang berbatu-batu dan curam, seringkali aliran sungai terpotong oleh jurang. Akibatnya, laju air menuju ke bawah harus “terjun” sehingga terbentuklah curug atau air terjun.

6,4 km kemudian kami sampai di curug besar pertama dalam perjalanan ini. Curug Sibedug namanya. Curug ini terbentuk dari aliran sungai yang terhalang lereng batu besar. Kontur lereng batu membuat aliran air terbelah dua, membentuk dua air terjun kembar.

Air terjun yang satu mengalir langsung ke sungai yang berlintangan dengan jalan. Sedangkan satunya lagi berbelok menjauhi aliran sungai, membentuk kolam alami kecil yang dimanfaatkan penduduk sekitar sebagai sumber air.

Melihat bentuknya, air terjun ini lebih pantas dinamakan Curug Kembar. Namun rupanya ada alasan kenapa penduduk sekitar menamainya Curug Sibedug.

Konon, menurut cerita Mas Hayat, warga di desa terdekat sering mendengar suara tetabuhan. Semacam gamelan dalam pertunjukan. Ketika dicari-cari asal suaranya, ternyata mengarah dan berhenti di curug ini. Dari situlah warga menamai air terjun kembar ini sebagai Curug Sibedug.

Di dekat curug berjejer warung-warung tenda. Kopi Owa menjadi suguhan utama. Menyeruput kopi panas sembari memandangi air terjun dan mendengar debur air menimpa batu, amboi! Kerongkongan saya jadi naik-turun membayangkannya.

Apalagi di salah satu warung tertulis menyediakan aneka macam gorengan. Kopi panas jodohnya pisang goreng, atau ketela goreng. Ditemani kacang rebus pun tak kalah asyik.

“Ayo, kita lanjut lagi,” seruan Mas Hayat membuyarkan angan-angan saya. Kami segera menaiki Anggun Paris.

Wisata Sungai Welo Asri Petungkriyono

Wisata sungai Welo Asri di Petungkriyono.

Air Mancur Alami di Welo Asri

Anggun Paris kembali menderu, membelah sunyinya jalanan Petungkriyono. Suara cenggeret di kerapatan hutan bersahut-sahutan dengan kicau burung di langit. Saat melewati rimbunan bambu, desir angin menerpa dedaunan bambu menerbitkan suara khas.

Jalan berkelok-kelok. Beberapa kali kami melewati jembatan dan menanjak, semakin naik. Dan masih tidak rata sehingga tubuh kami terus bergoyang-goyang sepanjang jalan. Kalau sopir tak sempat mengelak dari lubang besar, kami sama-sama terpental dari tempat duduk. Lalu tertawa.

Destinasi berikutnya adalah Welo Asri. Sebuah tempat wisata yang aslinya diperuntukkan bagi penyuka petualangan sungai. Pengelola menyediakan berbagai layanan jelajah air di Sungai Welo. Kita bisa river tubing, river tracking, atau rafting.

Bagi yang hanya ingin foto-foto, pengelola Welo Asri menyediakan banyak sekali spot selfie kekinian. Begitu melewati gerbang masuk sekaligus loketnya yang terbuat dari bambu, pengunjung langsung dapat melihat deretan spot untuk berswafoto.

Bagian paling mencolok adalah tulisan “Welo Asri” besar-besar tak jauh dari pintu masuk. Lalu di dekatnya terdapat jembatan kecil terbuat dari bambu, dengan bentuk hati sebagai latar belakang foto. Di atas bentuk hati ada tulisan “Taman Sungai” yang juga dibuat dari potongan-potongan bambu.

Agak masuk ke tengah, di dekat area parkir, pengunjung bisa naik ke pohon selfie melalui tangga kayu. Berfoto dari sini pengunjung akan mendapat latar belakang pepohonan hijau di seberang sungai.

air mancur Welo Asri Petungkriyono

Air mancur di taman wisata Welo Asri Petungkriyono ini tidak menggunakan tenaga listrik.

rumah pohon Welo Asri Petungkriyono

Tiga peserta Amazing Petung National Explore 2017 sedang berswafoto di rumah pohon Welo Asri, Petungkriyono.

Bergeser lagi ke pintu masuk, pengelola membuat undak-undakan tanah berpenahan bambu untuk turun ke sungai. Sungai Welo atau Sungai Wola namanya. Salah satu dari tiga sungai terbesar yang berhulu di Petungkriyono dan mengalir jauh ke utara.

Di ujung undak-undakan tanah, sebuah air mancur menarik perhatian saya. Bukan karena tinggi pancuran airnya yang mencapai hingga 10 meter. Saya penasaran bagaimana air mancur tersebut dibuat.

“Ini air mancur alami, tidak pakai listrik,” jelas seorang panitia berkaos oranye dan bertopi hitam yang berdiri di dekat saya. Sayangnya, saya tidak menanyakan namanya.

Saya mengernyitkan kening. Bagaimana bisa?

“Mata airnya itu ada di atas sana, di sebelah jalan,” jelasnya lagi sembari menunjuk jalan aspal yang berposisi lebih tinggi. “Jadi airnya dialirkan ke sini pakai pipa peralon, dan secara alamiah mancur.”

Mas Panitia menambahkan, air mancur serupa juga ada di Banjarnegara. Bahkan pancuran airnya lebih tinggi lagi, mencapai puluhan meter. Saya hanya bisa ternganga.

Curug Bajing Petungkriyono

Seorang pengunjung tengah membaca informasi mengenai Owa Jawa di kawasan Curug Bajing, Petungkriyono.

Menuju “Sarang Penyamun”

Hari semakin sore. Kabut perlahan merambat turun. Hawa dingin menyergap. Perjalanan dilanjutkan ke destinasi terjauh dalam eksplorasi kali ini, Curug Bajing. Jaraknya tidak kurang dari 15 km dari Welo Asri. Mengingat kondisi jalan berliku dan tidak halus, ini bakal jadi perjalanan panjang.

Suara cenggeret, kicau burung, dan desiran angin menghembus dedaunan menjadi teman sepanjang perjalanan. Sesekali diseling suara gemericik air jika Anggun Paris melewati jembatan.

Kurang-lebih setengah jam berselang, kami pun tiba di Curug Bajing. Deretan warung-warung tenda menawarkan Kopi Petung, mi instan, hingga bakso, menyambut kami. Sebuah musala kecil tapi manis terletak di sudut area parkir.

Rupanya Curug Bajing terletak di dataran lebih tinggi. Elevasinya 1.300 mdpl. Datang ke sana di sore hari bukan waktu yang tepat kecuali kita membawa jaket tebal untuk menghalau dingin. Tak heran sejumlah peserta langsung memesan kopi di warung begitu turun dari Anggun Paris.

Cara lain untuk mengusir dingin adalah dengan berjalan kaki mendekati air terjun. Saya memperkirakan jarak aera parkir ke air terjun sekitar 300-an meter. Kira-kira 10-15 menit berjalan santai.

Lagi, tak jauh dari pintu masuk pengunjung dimanjakan oleh beragam tempat selfie. Mulai dari rumah pohon, “dermaga” kayu, gambar kupu-kupu raksasa, hingga jembatan kayu panjang yang membentang di atas jalan menuju ke air terjun.

Jalan dari lokasi parkir ke air terjun berupa jalan setapak, dengan tatanan batu-batu aneka bantuk sebagai penguat. Agak ke bawah terdapat sebuah dataran yang difungsikan, lagi-lagi, sebagai lokasi selfie. Ada pula beberapa gazebo di mana pengunjung dapat bersantai memandangi keindahan curug.

Curug Bajing, Petungkriyono

Curug Bajing, Petungkriyono.

Air terjunnya sendiri baru terlihat setelah kita berjalan kira-kira 5-7 menit. Sebuah air terjun besar, tinggi, dan bertingkat-tingkat. Sejak awal masuk saya cuma ingin tahu kenapa dinamakan Curug Bajing. Apakah di sekitar air terjun banyak tupai (bajing, jw.)?

“Dulu di sini itu jadi tempat persembunyian penjahat. Orang sini menyebutnya bajing, bajingan,” jelas Abdullah, Ketua Pokdarwis Lumbung Lestari pengelola kawasan wisata Curug Bajing, kepada rombongan peserta Amazing Petung National Explore 2017.

“Jadi, bajingan-bajingan itu setelah melakukan kejahatan mereka bersembunyi di sini. Makanya bukit ini dinamakan Bukit Bajing, dan air terjunnya dikenal sebagai Curug Bajing,” tambah Abdullah.

Well, bekas sarang penyamun yang sangat mempesona. Berbeda dengan Curug Sibedug yang berada tepat di tepi jalan, sehingga membatasi ruang gerak pengunjung dalam mengambil foto. Curug Bajing berada di tengah keluasan alam bebas. Pengunjung mempunyai banyak opsi tempat dan sudut pandang untuk mengabadikan keindahannya.

Sekalipun trek menuju ke air terjun terbilang jauh dari pintu masuk, hawa sejuk dan pemandangan menghijau di kanan-kiri dijamin menghapus segala lelah. Kalau butuh istirahat, terdapat sejumlah gazebo di beberapa titik. Gazebonya terhitung luas, cocok sekali untuk pengunjung keluarga atau rombongan kecil.

Berhenti sebentar untuk berswafoto juga boleh. Pengelola menyediakan sejumlah spot foto dengan latar belakang Curug Bajing di kejauhan. Tempat dan view-nya instagrammable banget!

Hari tambah sore. Kabut semakin mengendap turun. Dingin kian menusuk. Matahari benar-benar tidak tampak sekalipun masih terang. Pengunjung berangsur meninggalkan Curug Bajing. Sunyi. Suara deru air menimpa bebatuan yang ditimbulkan air terjun lebih jelas terdengar.

Dengan sangat berat hati saya harus meninggalkan Curug Bajing dan semua pesonanya. Rombongan peserta Amazing Petung National Explore 2017 sudah ditunggu di Wana Wisata Curug Lawe untuk seremoni penutupan bersama Wakil Bupati Pekalongan.

Anggun Paris kembali membelah jalanan sunyi.

Abdullah Pokdarwis Curug Bajing, Petungkriyono

Pengurus Pokdarwis pengelola Curug Bajing tengah melayani pertanyaan peserta Amazing Petung National Explore 2017.

*****

Malam merajai Pekalongan ketika bus pariwisata yang kami tumpangi sampai di Hotel Sahid Mandarin. Dengan keletihan yang sangat saya masuk ke kamar. Mandi air hangat membantu otot-otot dan pikiran lebih rileks.

Sembari melemaskan otot, saya buka file foto dan video dari memory card kamera. Memandangi tempat-tempat yang baru saja dikunjungi, agak tak rela rasanya harus menyudahi petualangan secepat ini. Petungkriyono tak cukup hanya dieksplorasi sehari. Masih banyak yang belum saya lihat dan tahu.

Saya belum sempat melihat Curug Lawe karena saat tiba di sana sudah jelang Maghrib. Juga belum mengunjungi Curug Bulu dan Curug Kedungpitu yang menurut cerita terlalu sayang dilewatkan jika ke Petungkriyono.

Oya, saya sempat tercebur di Kali Yana saat rombongan peserta Amazing Petung National Explore 2017 berhenti di Jembatan Sipingit. Air sungainya segar sekali. Kalau tak ingat acara masih panjang, saya lebih pilih berendam di sungai tersebut sepuasnya. Jadi, andai nanti ke Petungkriyono, saya akan sempatkan diri berendam di Kali Yana.

Sebagai penyuka sejarah, saya sangat penasaran dengan situs-situs purbakala yang terdapat di Desa Tlogopakis. Dan, saya kok yakin, pemerintah kolonial Hindia Belanda pasti meninggalkan jejak di sana. Entah dalam bentuk apa yang mungkin saja belum ditemukan hingga saat ini.

Saya juga ingin ikut Pak Tasuri memanen kopi di Sokokembang. Syukur-syukur bila mujur bisa melihat owa jawa di antara pepohonan kopi. Saya mau tahu lebih dalam bagaimana Pak Tasuri mengolah biji-biji kopi menjadi hidangan Kopi Owa nan segar diseruput.

Saat kesempatan itu tiba, saya berharap akses jalan menuju Petungkriyono sudah jauh lebih baik. Seperti dijanjikan Wakil Bupati Pekalongan, Ibu Ir. Hj. Arini Harimurti, dalam seremoni penutupan event Amazing Petung National Explore 2017 hari itu. Janji yang juga dilontarkan Bapak Bupati Asip Kholbihi, SH, MSi. dalam ramah tamah di Pendopo Batik Pesisir Haji Failasuf keesokan harinya.

Jalan merupakan nadi utama mobilisasi barang dan penduduk dari kota ke desa. Begitu pun sebaliknya. Kondisi jalan yang mulus, ditambah penerangan jalan memadai, bakal memudahkan warga Petungkriyono mengakses kota untuk menjual hasil panen dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Sebaliknya, pengunjung dari luar kota seperti saya dan peserta APNE 2017 tidak perlu lagi “tersiksa” di jalan untuk menikmati keindahan alam Petungkriyono. Jangan sampai belum lagi tiba di tujuan, perut sudah mual dan kepala pusing akibat terguncang-guncang di dalam Anggun Paris. Nggak asyik banget, kan?

Saya jadi ingat ucapan Abdullah, Ketua Pokdarwis Lumbung Lestari, yang menemui kami di Curug Bajing hari itu. Ucapan bernada harapan agar akses jalan menuju Petungkriyono diperbaiki demi memudahkan pengunjung datang.

“Harapannya pada Pak Bupati untuk meningkatkan akses ekonomi kami di sini hanyalah perbaikan akses jalan, supaya lebih mudah menuju kesini. Itu saja,” demikian ujar Abdullah saat itu.

Semoga saja keinginan sederhana itu segera terwujud. Amin.

Artikel ini merupakan catatan perjalanan saya mengikuti Amazing Petung National Explore 2017 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Pekalongan dan Kajen Unique, dengan dukungan penuh dari Bank Jateng, Hotel Sahid Mandarin, PD BPR BKK Kab. Pekalongan, Batik Pesisir by Haji Failasuf, dan International Batik Center.

Referensi:
– id.wikipedia.org/wiki/Petungkriono,_Pekalongan
– radarpekalongan.com/52607/lagi-ditemukan-batu-purbakala/
– jpnn.com/news/misteri-kepala-kerbau-untuk-ular-berkepala-manusia
– minumkopi.com/kopi-untuk-kelestarian-owa-jawa-di-petungkriyono/
– radarpekalongan.com/49208/petungkriyono-hasilkan-kopi-hutan-30-tontahun/
– thearoengbinangproject.com/situs-lingga-yoni-petungkriyono-pekalongan/
– thearoengbinangproject.com/situs-gedong-tlogopakis-petungkriyono-pekalongan/
– kabar24.bisnis.com/read/20170416/79/645443/tasuri-selamatkan-owa-sokokembang-dengan-kopi-hutan

Iklan

About Eko Nurhuda (363 Articles)
A happy father of two. Blogging and making video for fun. Love food, music, and sometime football #YNWA

20 Comments on Terpikat Sarang Penyamun di Petungkriyono

  1. Wihhhh banyak banget curugnya sampai dijuluki Bumi 1000 Curug… Seger dan asri ngelithanya.

  2. Semoga akses jalannya semakin bagus. tapi kalau sudah bagus, wisatawan akan semakin banyak. Nanti kalau sudah semakin banyak semoga keasriannya tetap terjaga

  3. Powerfull abis Mas tulisanya, tapi sayang waktunya itu bikin kelenger, sumpah, aseli ^_^

  4. Latihan lari dulu Mas, buat ikutan marathon di Petung nanti, sekalian explore lagi ahahaha

  5. Menarik sekali reportasenya, Mas. Apalagi ada jejak sarang penyamun hahaha. Memang sih, desa wisata yang mengandalkan wisata alam harus kreatif, karena alam itu tidak bisa ditebak. Harus ada kemasan-kemasan yang tak hanya menjaga stabilitas kunjungan wisatawan, tapi juga menjaga ekosistemnya.

  6. Baca ini dr sudut pandang Mas Eko, bikin aku ngga bisa move on. Bakal balik lagi ke sini buat hiking dan rafting di Welo. Trus aku juga penasaran sama situs2 peninggalan zaman mataramnya. Aku juga berpikiran sama soal jejak masa kolonial di Petung, pasti ada cuma blm tereksplor kali yaa. Dan tanamannya…bbrp kali aku berhenti2 cuma buat merhatiin keanekaragaman floranya

  7. Ulasan wisata Petung ala Bang Eko gurih banget sih.
    Aku banyak belajar dari tulisan bang Eko wkwk.
    Btw yang lomba batik belum diposting nih kang ?
    Akumah masih masih bingung da mau bahas apaan wkwk

    Dan hey, itu foto di rumah pohon ada akunya, izin comot ah .

    • Gurih berarti garemnya pas ya? Hahahaha.
      Belum sempet garap videonya nih. Video Tidore yang dari bulan April aja masih belum kegarap semua. Duh! Dan vlogmu keren beut. Yakin! πŸ™‚

  8. Kopi Petung atau Kopi Owa-nya bikin nggak bisa move on nih. Kemarin sampai beli sebungkus kopi Owa usai dari Curug Bajing, beli yang bijian biar lebih tahan lama hehehe.

  9. eh itu si Khoerul sama Amir hahaha, eh apakah bahasanya masih ngapak? kan ga jauh dari Dieng…

  10. yeyy balik lagi ya, datengnya dari pagi…trus nginep.

  11. Ternyata Pekalongan memiliki destinasi wisata yang memukau ya Mas. Lokasinya pun tak terlalu jauh dari Jakarta. Harus dikunjungi ini.

  12. Nice sharing mas ekoo, ulasan yg mengalir serasa mengikuti perjalanan mas eko. .
    sayang banget aku gabisaa gabungg. Padahaal pengeeen, apalagi bsa melepas penat dgn menikmati kesejukan curug ditengah rimbunan pohon yg menyejukkan. Satu lagi, kopdar sama blogger” super kecee. . Someday semoga bsa ikut acara asik kaya ini. . Aamiin. .

    • Tenang, bakal ada event lagi di Petungkriyono pada masa-masa mendatang. Nanti kalo dapet info aku kabarin yah, dan musti ikutan biar bisa menikmati keindahan alam Petungkriyono yang udah berusia lebih dari seribu tahun πŸ™‚

  13. Wah cepet aja nih Bungeko…. πŸ™‚

1 Trackback / Pingback

  1. Persembahan Bumi Legenda Batik Nusantara untuk Petungkriyono – bungeko.com

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: