Highlight:

Mengabadikan Kelezatan Pempek Pak Raden dengan ASUS ZenFone C

LAHIR dan tumbuh besar di Palembang, saya memiliki ikatan emosional kuat dengan kota satu ini. Selalu ada harapan untuk bisa kembali lagi ke sana. Bukan cuma perkara nostalgia nan sentimentil, namun juga karena kangen berat dengan makanan-makanan khasnya yang menggugah selera, terutama pempek.

Sewaktu kecil saya sangat terbiasa dengan teriakan, “Piyoo, piyooo, pempek…” Yang berteriak seorang anak seusia saya, berjalan dengan wadah besar di atas kepala yang dipegang dengan satu tangan. Sepanjang jalan ia berteriak begitu, dan cuma berhenti kalau sedang melayani pembeli.

Eh, ternyata kemudian saya juga jadi penjual pempek seperti itu lho. Ceritanya kondisi ekonomi keluarga Bapak-Ibu morat-marit. Bapak merantau jauh ke Jambi mencari penghidupan baru, sedangkan Ibu berusaha bertahan di Palembang dengan berbagai cara. Salah satunya mengajak kami berjualan pempek!

Yang terlibat dalam proyek jualan pempek ini Ibu, saya, dan adik perempuan. Saya kelas IV SD, adik saya kelas I. Adik satu lagi tidak dilibatkan karena masih terlalu kecil. Kami berbagi tugas. Ibu yang membuat pempek, cuka, dan menyiapkan dagangan beserta seluruh peralatannya; saya dan adik perempuan bertugas menjaga dagangan.

Namanya saja anak-anak, karena iseng sembari berjaga saya sering mencemil pempek yang dijual. Apalagi pempek buatan Ibu enak sekali. Sayang kan kalau tidak dinikmati sendiri? Hehehe. Saat Ibu tahu, dengan sabar beliau menasehati, “Kalau dagangannya dimakan sendiri, nanti kita nggak dapat uang buat sangu sekolah.”

Itu pengalaman pertama saya berjualan. Pengalaman yang tak akan pernah terlupakan. Karenanya jangan heran kalau ada bonding kuat sekali antara saya dan pempek, juga tentu saja Palembang. Setiap kali melihat orang berjualan pempek, ingatan saya langsung terlempar ke masa-masa itu.

Kota Pempek
Pempek memang identik dengan Palembang. Kalau kota ini disebut, pasti orang langsung membayangkan pempek. Bersama-sama Jembatan Ampera dan Sungai Musi, pempek boleh dibilang merupakan ikon Palembang.

Sekalipun makanan khas Palembang bukan cuma pempek, tapi oleh-oleh yang dibawa pulang pelancong biasanya ya pempek. Contohnya sewaktu saya “mudik” ke Palembang, Mei tahun lalu. Sepulang dari tur dua hari dua malam atas sponsor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan itu saya diberi satu dus oleh-oleh. Ya, isinya pempek!

Baca juga: Jadi Turis di Kota Kelahiran Sendiri

Padahal selama di sana saya sudah puas sekali disuguhi pempek. Selain pempek jamuan Disparbud, saya juga sempat mencomot beberapa potong pempek di stand makanan daerah dalam acara penutupan International Musi Triboatton 2016. Entah berapa potong, yang jelas saya sampai merasa harus tersenyum sopan pada ayuk-ayuk penjaga stand setiap kali mengambil pempek lagi. πŸ™‚

Selepas acara saya tidak langsung pulang ke Jawa. Saya extend beberapa hari untuk mengunjungi kerabat di Perum Bank Sumsel-Babel, Kenten Laut, dan ziarah ke makam nenek di Lebong Siareng. Di kesempatan ini saya mencicipi beberapa pempek pinggir jalan, termasuk pempek di gang dekat bekas rumah kelahiran saya.

Di sini pempek murah-murah sekali, cuma Rp1.000 sebuah. Walaupun pempek pinggir jalan tapi rasanya tak kalah dengan pempek bermerek. Pokoknya rasa ikan semua. Kemudian cuko-nya asam-pedasnya super. Pertama kali dicecap lidah rasanya segar, tapi begitu masuk ke kerongkongan pedasnya menyengat.

Di Pemalang, dengan harga yang sama saya cuma bisa dapat pempek rasa tepung dan garam. Cuko-nya pun hambar. Wajar kalau sewaktu di sana saya kalap bukan main sama pempek.

Pempek Pak Raden
Ada banyak pempek ternama di Palembang. Sebut saja Pempek Candy yang paling sering dibawa sebagai oleh-oleh pelancong. Masih ada Pempek EK yang harganya wow, Pempek Beringin yang tercantum di web resmi Pemkot Palembang, Pempek Nony, Pempek Vico, Pempek Saga Sudi Mampir, Pempek Lince, Pempek Leni, Pempek Wawa, dan beberapa nama lainnya.

Saya dan teman-teman blogger yang menghadiri Musi Triboatton 2016 dioleh-olehi Pempek Tince. Namun kalau bicara legenda pempek, hanya satu yang layak disebut: Pempek Pak Raden. Dan beruntung sekali saya sempat diajak mampir ke warung pempek legendaris ini saat berada di Palembang.

Berlokasi di Jl. Radial No. 80A, Pempek Pak Raden dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari Palembang Sport and Convention Center (PSCC) atau Palembang Icon. Tetamu yang menginap di Hotel Arista, Hotel Sanjaya, atau Hotel Azza (Aziza Inn) bisa mencapainya dalam waktu 5-10 menit saja berjalan kaki.

Pempek Pak Raden dikenal sebagai pempek milik orang Palembang asli, yakni Bapak Ahmad Rivai Husein. Menurut cerita dari mulut ke mulut, Pak Ahmad Rivai mulai berjualan pempek dengan menjajakan keliling kampung-kampung. Lalu beliau mencoba membuka warung pempek di daerah Bukit Kecil, kawasan 24 Ilir.

Saya tak tahu kenapa Pak Ahmad menamai warungnya Pempek Pak Raden, bukannya Pempek Pak Ahmad atau Pempek Pak Rivai. Bisa jadi karena di masa beliau merintis usaha, serial Si Unyil tengah booming di TVRI. Seperti kita ketahui bersama, salah satu tokoh penting dalam serial tersebut adalah Pak Raden.

Rupanya usaha Pak Ahmad maju pesat. Bekerja sama dengan kerabat-kerabatnya, beliau kemudian membuka beberapa cabang di seantero Kota Palembang. Kemudian merambah ke kota-kota tetangga – Jambi dan Lampung, sampai eskpansi ke luar pulau. Pulau Jawa.

Kini, kita bisa dengan mudah menemui gerai Pempek Pak Raden di Bandung atau Jakarta. Dengan konsep mirip franchise, rasa pempek dan cuko di gerai-gerai Pak Raden manapun dijamin sama seperti yang ada di Jl. Radial. Untuk menjaga keseragaman rasa, tiap-tiap gerai memakai resep yang sama persis dengan yang di Palembang.

Ikan yang jadi bahan baku pembuatan pempek juga didatangkan langsung dari Palembang dalam bentuk daging giling beku. Demikian pula dengan kerupuk ikan dan gula merah untuk campuran cuko. Malah di sejumlah gerai kebanyakan karyawan berasal dari Palembang. Wong kito galo biar lemak komunikasinyo. Iyo dak? πŸ˜€

Semua itu dilakukan agar cita rasa pempek dan cuko di gerai-gerai Pempek Pak Raden seragam, tak berbeda sedikit pun. Jadi, mau makan di manapun rasanya ya sama saja. Sama-sama serasa menikmatinya langsung di Palembang.

Mengabadikan Pempek dengan ZenFone
Saya dan teman-teman blogger Musi Triboatton 2016 diajak ke Pempek Pak Raden saat jam makan siang. What? Makan siang pake pempek? Payo woy, mada’i makan siang be nak pempek nian. Katek yang lain apo? Batin saya waktu itu.

Rupanya saya salah. Sekalipun restoran pempek, Pak Raden menyediakan banyak sekali menu lain. Lalu pelayan pun datang membawa nasi, pindang ikan yang disajikan dengan kompor kecil agar tetap panas, cah kangkung, ikan goreng, lalapan plus sambal tiga macam, bertusuk-tusuk sate, dan aneka macam jus buah segar.

Selesai? Belum. Setelah makanan kami habis, pelayan datang lagi dengan dua piring besar berisi pempek aneka macam. Oke, ini yang ditunggu-tunggu! Tak menunggu lama saya langsung mengambil dua potong pempek, meletakkannya ke dalam mangkok kecil yang telah disiapkan, dan terakhir menyiram cuko.

Yang pertama saya cicipi adalah pempek adaan, pempek kecil-kecil berbentuk bulat tanpa isi. Rasanya? Yummy! Sudah lama sekali saya tidak mencecap pempek yang rasa ikannya semenggigit ini. Juga asam pedas cuko-nya yang tak bisa ditandingi oleh penjual-penjual pempek di Pemalang.

Pempek adaan habis, saya lanjutkan dengan pempek telur. Ini pempek favorit saya sejak kecil. Dulu sewaktu berjualan pempek, pempek inilah yang dibuat Ibu. Untuk menekan harga, Ibu mengakali isian telur dengan menambahkan air. Jadi, 1-2 butir telur dicampur air dan sedikit tepung, lalu dikocok rata.

Tentu saja pempek telur buatan Pak Raden tidak pakai trik begitu. Rasa telurnya sangat otentik, pertanda tanpa campuran apapun. Tak cuma dicocolkan, saya meminum cuko di mangkok. Ngirup cuko, kata orang Palembang. Beginilah cara menikmati pempek ala orang Palembang.

Diselingi mengobrol dengan Ibu Kadisbudpar Sumsel dan asistennya, satu demi satu pempek di piring tandas kami lahap. Dan sepertinya saya yang paling banyak memakannya. Mbak Katerina dan Mbak Relinda hanya mencicipi 1-2 buah lalu kekenyangan.

Melihat ini Mbak Ira, pendamping kami selama di Palembang, mengambil pempek di meja sebelah yang tidak dihabiskan dan diletakkan di meja kami. Oke, kita lanjuuut!

Tentu saja saya tak lupa mengabadikan pempek legendaris ini. Apalagi piring, mangkok, wadah cuko, dan bahkan tempat tusuk giginya bertuliskan “Pempek Pak Raden” semua. Jadi ada bukti kan kalau saya benar-benar makan pempek di Pempek Pak Raden? Hehehe.

Saya pakai kamera handphone ASUS ZenFone C untuk urusan jepret-menjepret selama di Palembang. Ponsel ini saya beli tepat di hari keberangkatan menuju Kota Pempek. Dengan ponsel yang sama pula saya foto bareng pramugari berhijab saat pulang dengan pesawat Nam Air.

PixelMaster Camera untuk Foto Berkualitas
Awalnya, karena baru beli saya tidak begitu paham dengan fitur kamera pada smartphone murah meriah ini. Begitu pengen memotret, saya langsung saja arahkan kamera ke obyek dan “cekrek!” Begitu dicek kok hasilnya tidak jernih. Cenderung gelap. Apa yang salah?

Naga-naganya saya yang belum adaptasi. Asus ZenFone C memakai teknologi PixelMaster Camera yang menjamin hasil foto selalu jernih, bahkan di saat pencahayaan minim sekalipun. Ini karena PixelMaster membuat foto lebih terang 400% alias empat kali lipat.

PixelMaster adalah teknologi yang dikembangkan oleh ASUS pada kamera-kamera ZenFone. Teknologi ini menggabungkan hardware, software, dan desain optical untuk menghasilkan gambar-gambar dengan kualitas lebih baik dalam segala kondisi. Pendek kata, mau menjepret kapanpun PixelMaster membantu kita mendapatkan foto terbaik.

Saat pertama kali membuka fitur kamera pada Asus Zenfone C saya memang tampilannya terlihat gelap. Tapi coba arahkan kamera pada obyek, lalu diamkan beberapa detik. Secara otomatis kamera akan menyesuaikan pencahayaan untuk membuat foto terlihat lebih terang. Nah, kalau sudah begini baru deh tekan tombol untuk menjepret.

Masih kurang terang? Gunakan mode cahaya redup (low light mode). Yang keren, kamera dapat mendeteksi pencahayaan dan memberi saran kapan kita harus menggunakan low light mode. Kalau muncul gambar kepala burung hantu di layar, itu tandanya pencahayaan minim. Sentuh gambar kepala burung hantu tadi, dan lihat bagaimana tampilan foto jadi semakin jernih.

Sebagai penyempurna, PixelMaster Camera juga menyediakan mode HDR ( High Dinamic Range) untuk mengatasi kontras yang berlebihan. Jadi, hasil foto tetap terlihat keren sekalipun dalam kondisi minim cahaya.

Berikut video penjelasan mengenai PixelMaster di channel YouTube resmi Asus.

Ini dia 4 fitur unggulan PixelMaster yang perlu diketahui:

1. Perangkat Kamera Terbaik
Asus membenamkan hardware terbaik untuk kamera-kamera ZenFone. Contohnya ZenFone 5 yang memakai sensor Sony BSI CMOS, atau ZenFone 6 dengan sensor Panasonic BSI CMOS. Kedua sensor ini memiliki ukuran piksel 1.12Β΅m, sama dengan milik smartphone lain yang berharga lebih mahal. Sayang tidak boleh menyebut merek hape lain di sini sebagai contoh. πŸ™‚

Kemudian untuk lensanya, ZenFone 5 dan 6 memakai lensa Largan yang juga dipakai oleh satu merek high-class yang sangat diagung-agungkan hasil fotonya. Lensa lima lapis tersebut dapat menghasilkan foto lebih tajam dan lebih bersih, dengan akurasi warna lebih akurat.

Tambahan lagi, lensa dengan aperture f/2.0 tersebut membuat kamera ZenFone memiliki sensitivitas lebih dalam kondisi minim cahaya. Asus ZenFone C saya memakai lensa seperti itu.

2. Low Light Mode
Fitur Low Light Mode membantu kita mendapatkan foto-foto lebih jernih dan tajam dalam kondisi minim cahaya. Cara kerjanya tak terbayangkan, di mana teknologi PixelMaster mengombinasi berbagai piksel dan menggunakan algoritma tertentu untuk memproses gambar.

Pempek Pak Raden, Palembang. With @travelerien @relindapuspita

A post shared by Eko Nurhuda (@bungeko_) on May 15, 2016 at 12:54am PDT

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js
Untuk menghasilkan foto kualitas terbaik, PixelMaster menggabungkan empat piksel yang mirip menjadi satu. Kemudian sistem algoritmanya meningkatkan sensitivitas kamera akan cahaya hingga empat kali lipat, dan menaikkan kontras warna hingga dua kali lipat. Itu sebabnya ZenFone tetap dapat menghasilkan foto-foto jernih dan tajam sekalipun dalam kondisi minim cahaya.

3. Depth of Field Mode
Fitur satu ini membuat hasil jepretan kamera ZenFone terlihat bagai foto yang dihasilkan kamera profesional. Sesuai namanya, Depth of Field memungkinkan kita untuk mengambil foto yang fokusnya ke satu obyek tertentu dan bagian lain di belakangnya terlihat kabur (blurred). Kita dapat memilih apakah ingin fokus pada foreground atau background.

4. Time Rewind
Ini fitur yang paling bikin saya kagum. Pasalnya, Time Rewind dapat mengambil beberapa gambar sebelum dan sesudah kita menekan tombol shutter. Tepatnya dua detik sebelum dan sesudah tombol ditekan. Dengan demikian peluang untuk mendapatkan bidikan atau momen terbaik jadi lebih tinggi.

Oya, ini video sewaktu saya meng-unboxing hape Asus ZenFone C.

Andalan Berburu Kuliner
Bagi yang suka berburu kuliner dan tidak mau direpotkan dengan kamera gede, Asus ZenFone sangat cocok dijadikan andalan. Bentuknya yang kecil memudahkan kita menggenggam dan membawa smartphone ini. Bobotnya yang ringan membuat tangan steady, tidak goyang karena keberatan saat membidik foto dengan satu tangan.

Untuk urusan daya tahan, hape-hape keluaran terbaru Asus dibekali dengan baterai kapasitas super besar. Misalnya Asus Zenfone 3 Max yang memiliki kapasitas baterai 4100 mAh, bisa standby selama 38 jam alias lebih dari 1,5 hari. Membekal smartphone dengan baterai sebesar ini, kita tidak perlu repot lagi membawa-bawa powerbank.

Buat yang suka ngevlog, baterai kapasitas besar dan kamera jernih dalam satu gadget adalah perpaduan ideal. Kita bisa sepuasnya merekam restoran yang disinggahi, makanan yang tengah dicicipi, minuman yang disesap habis, tanpa khawatir kehabisan daya di tengah jalan. Plus, hasil rekamannya TOP BGT.

Saya sendiri ingin sekali upgrade dari Asus ZenFone C yang kamera belakangnya hanya 5MP ini. Ya, untuk apa lagi kalau bukan supaya foto-foto makanan hasil jepretan saya lebih oke. Kalau fotonya ciamik, yang lihat dijamin bakalan ikut ngiler. Hehehe…

Selamat berburu foto kuliner dengan ZenFone!

Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel.

Referensi:
http://www.palembang.go.id/v1/gis/detail/216/pempek-pak-raden
http://www.hardwarezone.com.sg/feature-five-things-you-need-know-about-asuss-pixelmaster-camera-technology
http://gadgets.ndtv.com/mobiles/news/asus-zenfone-c-zc451cg-with-45-inch-display-launched-at-rs-5999-659475
http://www.tribunnews.com/travel/2015/10/21/banyak-yang-jualan-pempek-di-palembang-tapi-bingung-cari-yang-enak-coba-datangi-lokasi-ini

Kredit Foto:
Foto Pempek: Tribunnews.com (alamat lengkap tercantum di bagian referensi)
Foto Pak Raden: Palembang.go.id (alamat lengkap tercantum di bagian referensi)
Foto lainnya dokumentasi pribadi.

Iklan

About Eko Nurhuda (359 Articles)
A happy father of two. Blogging and making video for fun. Love food, music, and sometime football #YNWA

38 Comments on Mengabadikan Kelezatan Pempek Pak Raden dengan ASUS ZenFone C

  1. Pempek Ny. Kamto emang ratunya pempek di Jawa, Mbak. Dulu pas di Jogja aku pernah liat juga ada cabangnya. Cuma kalau di Palembang namanya kurang terkenal karena akarnya memang di Jawa.

  2. Kalo di Semarang yang enak Pempek Ny. Kamto mas. Lumayan sering jajan pempek di sana. Enak

  3. Wah, ngidame pempek ki lho. Sangar bayine πŸ˜€

  4. Harus coba kalo gitu πŸ™‚

  5. Yaaah, ternyato pernah tinggal di Palembang jugo.
    Aidah, sempit nianlah dunio ni πŸ™‚

  6. Akuuu sukaaaa empek2 xD
    Pas wingi hamil makan empek2 keterusan xD

  7. Belum pernah nyoba pempek pak raden

  8. Aku juga penggemar pempek bang, setelah tinggal disano 4 thn, semoga bisa diundang jugo ke Plembang, nak ngirup cukooo..

  9. Hehehe, masa lalu. Yang jelas kalo liat orang jualan pempek jadi inget masa-masa itu. Ayo, Mbak, wisata ke Palembang. Nanti aku jadi guide-nya deh πŸ™‚

  10. Hahaha, dibaca kapan aja ya tetap pengen makan pempek, Kang πŸ™‚

  11. Wah, pantes ya mas kalo misal ada ikatan yg kuat saat makan pempek, saya bayangin kl ada di posisi mas Eko πŸ™‚ Saya jd penasaran gmn ya rasa pempek di kotanya sendiri? Biasanya pempek di kota lain yg sy tau πŸ™‚

  12. Aduh kliru waktu ini mas bacanya.. Pagi2 belum sarapan karena tergesa2 berangkat kerja, jadi tambah lapar bertubi2…

  13. Hahaha, kalo pempeknya menguras apa?

  14. Iya, banyak yang suka pempek.

  15. Wah, kok yang makin kece blognya sih? Orangnya doooong πŸ˜€
    Eh, di Jayapura juga ada yang jualan pempek ya? Berapa sebiji di sana?

  16. Pempek enak, hapenya oke oce πŸ˜€

  17. Hehehe, aku lahir dan sampe kelas naik kelas V SD tinggal di Palembang, Mas πŸ™‚

  18. Di sana seribuan pun udah ueeeenak πŸ™‚

  19. Murah sangat, Bro πŸ™‚

  20. Nah, pas itu pempek keriting lagi kosong. Yang ado cuma pempek tahu be. Mudah-mudahan ado rejeki ke sano lagi. Amin.

  21. Kalo yg punya saya masih belum seberapa sih, Mbak πŸ™‚

  22. Samolah, aku be nulis ini sambel nak ngeces-ngeces nian rasonyo. Di sini adolah yang jual pempek, tapi rasonyo mak itulah. Biaso bae, cuma tepung samo garem πŸ˜€

  23. Pempek Candy andalan kalo nyari oleh-oleh. Murmer sih hihihi.

  24. Iya bener banget. Di Palembang pempek emperan atau yg ider keliling aja enaknya nggak ketulungan, apalagi yang “bermerek” dan dijual d warung-warung mewah πŸ™‚

  25. duuh menguras hati kisahmu yo …

  26. mpek-mpek….hhmmmm….favoritku banget….#edisingences…

  27. Sayang ya komentar blog belum bisa nyisipkan foto, kalau ngga saya upload foto pas ini saya lagi makan pempek, tapi di jayapura bung πŸ˜€
    Sukses untuk projectnya, makin kece ini blog yuhuuu!

  28. Rancak bana tuh orang Minang, hihihi. Kalo orang Palembang bilangnya bagus nian. πŸ™‚ Aku pengen upgrade nih, pengen ngerasain Zenfone mahal. Semoga terkabul ya.

  29. pempek dan hp nya kece lah ini : )

  30. Wah Mas Eko pernah jualan pempek juga di Palembang. Dan pernah hidup Palembang kalau gitu. Baca ceritanya jadi ikut ngerasain jaman dulu itu kayak gimana

  31. Murah bgt pempek cm 1000 😱😱😱😱
    D sini ada si yg 1rb an tp gag enak,ikan g krasa, kuahnyapun yaaa sewajarnya

  32. Eh, murah berarti ya. Kalo cuma seribu per biji?
    Jadi mupeng pagi-pagi nih. 😁

    Salam hangat dari Bondowoso..

  33. Kalau di pempek pak raden, enaknya pempek tahu ama keritingnya. Dimakan pas anget lebih sedap. Cuma kadang suka disajiin dingin.

  34. Duh, HPnya emang yahud ya

  35. Ah, lamo dak ngirup cuko.
    Tanggubgjawab kak, duh jadi pengin empek2 nian πŸ˜‚πŸ˜‚.
    Rasonya terkenang-kenang di lidah. Paling sering makan pempek Candi, noni samo Pak Raden. Yang lain belum pernah coba.
    Motret pake asus gak pernah bikin kecewa.

  36. OO ternyata pempek Candy memang terkenal juga disana yaa, pernah nyicip saat dibawakan oleh-oleh sama PNS yang kunker ke kantorku dan rasanya enak, beda ama mpek-mpek sini, btw, guud luck mas Eko.

  37. Baca tulisan ini jadi kangen sama pempek palembang yg asli. Aku pernah tinggal di palembang pas kelas 2 sd, cuma setahun disana. Dan sampai sekarang belum nemu pempek yg rasa pempek sama cukonya kayak pempek yg sering lewat depan rumah dulu

  38. Wahhhh…rancak banar…eh..bener ga sih.
    Yang pasti pengen banget bisa ngerasain pempek2 dikampung asalnya.
    Huhu..pingin ke palembang .blom pnh neh…:(

    Memang Asus zenfone kece bgt buat jepret2 makanan dan selpih juga…

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: