Highlight:

Sedapnya Jadi Food Enthusiast

Nuno Orange

ICIP-ICIP makanan enak di restoran, seringnya ditraktir, sudah itu dibayar pula. Siapa yang tidak mau pekerjaan macam begini? Saya sih mau pake banget. Itu sebabnya saya bela-belain datang jauh-jauh dari Pemalang untuk mengikuti event Ngobrol Bareng Blogger Semarang yang diadakan Bank BCA bekerja sama dengan BBlog, akhir Agustus lalu.

Bertempat di Nestcology, sebuah restoran berkonsep open kitchen di kawasan Candi Baru, Rabu (31/8/2016) malam, puluhan blogger dari Kota Semarang dan sekitarnya berkumpul untuk menyimak paparan Mas Nuno Orange.

“Orange” pada nama belakangnya ini saya yakin bukan nama asli. Entah siapa nama belakang sebenarnya, saya kok lupa bertanya saat kemarin ketemu. Yang jelas, Mas Nuno yang juga penyiar radio Gajah Mada FM ini merupakan seorang food enthusiast.

Maaf, food apa tadi?

Kalau ada yang bertanya begitu sembari mengernyitkan kening, food enthusiast adalah seseorang yang tertarik pada makanan. Bahasa gampangnya suka mencicipi makanan. Urban Dictionary mendefinisikan food enthusiast dengan kalimat “Someone who loves trying newly discovered foods.” Seseorang yang suka mencobai makanan-makanan atau menu baru.

Mas Nuno sendiri dalam penjelasannya mengatakan, food enthusiast adalah sebutan bagi orang yang suka mencoba makanan-makanan baru, mendatangi tempat makan seru, dan senang mengunggah hasil “buruannya” ke media sosial (biasanya Instagram) atau lewat posting blog pribadi.

Sudah mulai tergambar kan bagaimana sih seorang food enthusiast itu.

Berawal dari hobi, yaitu hobi makan tentu saja, Mas Nuno senang sekali mencicipi makanan-makanan baru atau yang sedang tren di kalangan anak muda. Tiap kali ada makanan baru di seputaran Kota Semarang, ia selalu sempatkan diri untuk merasainya. Begitu pula kalau ada restoran atau tempat hang out yang baru buka, Mas Nuno tak mau ketinggalan meramaikan.

Kehadiran media sosial membuat Mas Nuno rajin mengunggah makanan-makanan yang pernah ia cicipi, juga restoran-restoran yang pernah ia datangi. Kebanyakan ia bagikan di Instagram berupa foto-foto, lalu uraian lebih lengkap dipublikasikan di blog.

Nuno Orange

Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah follower dan pembaca blog, sharing iseng-iseng yang dilakukan Mas Nuno jadi semacam promosi bagi restoran yang ia datangi. Dari sinilah peluang hadir. Ia kerap diundang restoran untuk mencicipi menu-menu baru. Tentu saja makan gratis, dan tak jarang malah mendapat fee. Sedapnya…

Kerja sama ini menguntungkan kedua belah pihak. Mas Nuno dapat mencicipi makanan baru sebagai bahan update akun media sosial dan blognya, restoran pengundang mendapatkan promosi gratis plus engagement dari calon konsumen. Simbiosis mutualisme. Belakangan, sejumlah food enthusiast bahkan bisa hidup mapan mengandalkan fee sebagai corong promosi restoran-restoran.

Modal Food Enthusiast

No pain no gain, demikian bunyi satu kata bijak. Sebelum bisa “menghasilkan” dan hidup cukup, seorang food enthusiast harus berkorban dulu di awal-awal merintis karier. Mas Nuno menerangkan, undangan dari restoran tidak ujug-ujug datang begitu saja. Kita harus terlebih dahulu menunjukkan siapa kita sebelum dilirik untuk kerja sama.

Di fase-fase “memperkenalkan diri” inilah si food enthusiast butuh modal tidak sedikit. Untuk apa? Untuk membeli makanan-makanan yang akan ia cicipi dan foto-fotonya dibagikan di media sosial. Biaya yang harus dikeluarkan bukan cuma harga makanan saja, tapi juga ongkos menuju ke restorannya.

Apalagi demi menjaga konsistensi update, kita harus rutin mencicipi makanan-makanan baru dan mendatangi tempat-tempat baru. Artinya, dibutuhkan anggaran rutin setiap bulan. Sementara pemasukan maupun undangan makan gratis dari restoran belum kunjung datang. Di sinilah ujian terberatnya.

Tapi sebenarnya modal tersebut juga tak bisa dibilang banyak sih. Tinggal pandai-pandai menyiasatinya saja. Strategi termudah sekaligus murah meriah adalah mencicipi jajanan jalanan (street food). Jenis makanan begini mudah didapatkan di pinggir-pinggir jalan, tak perlu masuk ke restoran atau kafe, dan yang terpenting harganya terjangkau kantong.

Di Semarang, ada banyak sekali street food yang menarik diangkat. Sekedar contoh, sebut saja Nasi Ayam Ibu Sami di kawasan Simpang Lima, Es Puter Cong Lik di Jl. Krese, tahu gimbal di sekitaran Taman KB, atau Lekker Paimo di Jl. Karang Anyar depan SMA Kolose Loyola. Kue lekker di tempat ini harganya malah dimulai dari seribuan saja lho.

Atau kalau memang harus ke restoran, satu yang disarankan Mas Nuno adalah pergi bersama teman. Semakin banyak semakin bagus. Selain dapat menghemat ongkos, dengan makan bersama banyak orang kita bisa mencicipi banyak makanan sekaligus tanpa harus membayar semuanya. Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui, begitu kata pepatah.

Ngobrol Bareng Blogger Semarang

Misalnya saya pergi ke Restoran Enak Tenan bersama Amir, Bambang, Cindy, dan Diana. Katakanlah sampai di sana saya memesan sate belut, Amir memesan nasi goreng kambing, Bambang memesan sambal goreng mercon, Cindy memesan mie goreng udang, dan Diana memesan bubur jumbo. Lihat, sudah ada lima jenis makanan di meja yang siap difoto-foto.

Khusus untuk saran ini, pastikan teman-teman kita tidak keberatan makanan pesanannya difoto-foto dulu sebelum disantap. Akan lebih baik lagi kalau si teman bersedia memberi barang satu-dua suap untuk kita cicipi. Sekedar tahu rasanya supaya ulasan yang ditulis lebih akurat.

Split Bill

Cara lain yang juga bisa dipraktikkan adalah dengan memanfaatkan layanan berbagi pembayaran atau split bill. Jadi, dari total pesanan berapa rupiah lantas dibagi jumlah rombongan dengan nominal yang telah disepakati. Apakah langsung dibagi lima sama rata, atau berbeda-beda nilainya untuk masing-masing teman.

Sekarang ada banyak sekali layanan pembayaran yang menyediakan fitur split bill. Satu yang masih hangat adalah Sakuku, sebuah dompet elektronik milik BCA yang pertama kali diluncurkan pada 28 September 2015, kemudian di-relaunch pada 29 Februari 2016.

Sakuku dapat digunakan untuk pembayaran belanja – termasuk tagihan makanan di restoran, isi pulsa, dan transaksi perbankan lainnya. Berita baiknya, Sakuku dapat digunakan secara gratis 100%. Tidak ada biaya apapun yang dikenakan pada pengguna.

Untuk dapat menggunakan Sakuku kita cukup menginstal aplikasinya yang dapat diunduh secara gratis di Apps Store (bagi pengguna iPhone) atau Google PlayStore (bagi pengguna Android). Oya, pastikan smartphone yang digunakan sudah memakai sistem operasi Android 4.0 atau iOS 7.1 ke atas.

Setelah aplikasi Sakuku terpasang di hape, selanjutnya tinggal daftarkan diri menggunakan nomor hape, lakukan verifikasi, dan Sakuku siap digunakan. Siap dipakai split bill waktu makan bareng teman-teman di restoran favorit.

Karena berupa dompet elektronik, kita harus mengisi saldo Sakuku terlebih dahulu sebelum dapat digunakan. Top up saldo dapat dilakukan melalui transfer di ATM, lewat klikBCA, maupun layanan mobile banking m-BCA. Saldo maksimum untuk setiap akun Sakuku adalah Rp1.000.000.

aplikasi BCA Sakuku

Kurang banyak? Tingkatkan akun menjadi Sakuku Plus! Dengan upgrade layanan ke Sakuku Plus, saldo maksimal bertambah menjadi Rp5.000.000. Lebih penting lagi, fitur split bill yang tadi kita bahas hanya bisa digunakan oleh pemilik akun Sakuku Plus.

Keuntungan lainnya, dengan Sakuku Plus kita dapat melakukan transfer dana ke sesama pengguna Sakuku. Atau sebaliknya, kita bisa minta dikirimi uang dari pengguna lain.

Satu fitur Sakuku Plus yang paling membuat saya tertarik adalah tarik tunai di mesin ATM tanpa kartu. Jadi, kita bisa menarik uang dalam saldo Sakuku Plus melalui mesin ATM. Caranya juga simpel, hanya dengan memasukkan kode penarikan yang diberikan oleh aplikasi sesaat setelah kita mengajukan permohonan tarik tunai via ATM.

Bagi saya fitur tarik tunai di ATM ini merupakan highlight Sakuku Plus. Fungsinya sebagai dompet benar-benar terasa, karena saat membutuhkan dana tunai kita bisa mengambilnya kapan saja di mana saja. Mau dompet ketinggalan juga tidak perlu bingung asalkan hape di mana aplikasi Sakuku Plus terinstal ada di kantong.

Nah, buat kamu yang tertarik menggeluti profesi food enthusiast, Sakuku tengah mengadakan Food and Beverage Festival yang sudah berlangsung sejak 29 Juli lalu. Sepanjang periode festival ini kita bakal mendapat diskon 50% atau tawaran buy one get one free bila memakai Sakuku sebagai metode pembayaran di 13 merchant yang berpartisipasi.

Kok cuma 13 merchant? Tenang, yang 13 itu hanya jumlah merchant yang ikut dalam Food and Beverage Festival. Daftar merchant Sakuku sendiri ada banyak sekali. Dan kebanyakan merupakan restoran atau cafe. Lebih lengkapnya dapat dilihat di halaman ini (klik saja).

Well, tertarik jadi food enthusiast seperti Mas Nuno? Jangan lupa unduh dan pakai aplikasi Sakuku agar hang out berburu makanan jadi lebih all out.

Semoga bermanfaat!

Iklan

About Eko Nurhuda (354 Articles)
A happy father of two. Blogging and making video for fun. Love food, music, and sometime football #YNWA

6 Comments on Sedapnya Jadi Food Enthusiast

  1. Apalagi klo tempatnya baru dan anti mainstream, pasti lebih woww…

  2. kalau food enthusiast harus berani coba menu baru yang belum tentu sesuai dengan selera ya, kata temen makanan yang aneh sekalipun harus nyoba

  3. betul.. bayar dulu baru boleh makan :p

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: