Highlight:

Tur Cokelat Bali Hari 4: Mengejar Lumba-Lumba di Lovina

AH, tak terasa Tur Cokelat Bali bersama Frisian Flag Indonesia sudah berlalu tepat sebulan lalu. Dan saya belum selesai juga menuliskan pengalaman berkesan ini!

Oke, jadi inilah perjalanan kami di hari keempat. Mulai dari mengejar lumba-lumba di Lovina, kehujanan di Pura Ulun Danu Bratan, sampai belajar membuat cokelat di Pod Chocolate Cafe and Factory. Yuk, ah!

Sebelum lanjut cerita, just info, pada malam keempat kami diinapkan di Hotel The Lovina Bali. Nanti saya buatkan review-nya di blog ini, juga video room tour di channel YouTube saya. Untuk sementara, kalau penasaran dengan hotel ini sila cek http://www.thelovinabali.com.

BACA JUGA:
Asyiknya Tur Cokelat Bali bersama Frisian Flag
Tur Cokelat Bali Hari 1: Mengejar Sunset di Jimbaran, dan… Tertutup Awan!
Tur Cokelat Bali Hari 2: Hujan-Hujanan di Taman Ujung Soekasada
Tur Cokelat Bali Hari 3: Massage Cokelat di Sedona Spa Ubud

Agenda pertama di hari keempat, 9 Oktober 2016, adalah melihat lumba-lumba. Yeay! Malam hari sebelum masuk kamar masing-masing kami sudah diberitahu kalau bakal ada morning call jam 05.45 WITA. Ternyata jauh sebelum telepon morning call berbunyi istri sudah membangunkan saya. Toilet mengeluarkan suara berisik yang ternyata dikarenakan tombol penyiram nyangkut, tidak mau naik lagi setelah dipencet.

Meski demikian, anak-anak baru kami bangunkan begitu dapat morning call dari resepsionis. Kami diminta berkumpul di pantai, makan snack dan teh atau kopi hangat, lalu naik ke kapal untuk ke tengah laut. Sayangnya, anak-anak susah sekali dibangunkan. Jadilah Pak Rahmat sampai harus mendatangi kamar kami karena yang lain sudah berlayar.

Akhirnya, setelah berkali-kali membangunkan Damar dan Diandra mau bangun juga. Bukannya siap-siap ke laut, mereka malah sibuk mau berenang. Maklum, kami diinapkan di kamar model villa dengan private pool. Setelah diingatkan kalau kami mau melihat lumba-lumba, barulah mereka mau beranjak dari samping kolam renang.

Benar saja. Kami keluarga pemenang satu-satunya yang belum berangkat. Di pantai hanya ada Pak Rahmat, Mbak Ade, serta 2-3 orang orang lagi dari pihak penyelenggara tur. Bergegas kami ke kapal yang sudah diisiapkan, ditemani Mas Adit untuk mendokumentasikan pengalaman kami pagi itu untuk keperluan promosi Frisian Flag.

naik perahu di Lovina

Satu-satu anak dan istri saya naik, disusul saya, dan terakhir Mas Adit. Mesin perahu dihidupkan, kemudian perahu bergerak menjauhi pantai. Tiba-tiba saya sadar kami belum mengenakan jaket pelampung. Berbarengan dengan itu Mbak Ade berlari-lari ke arah kami, berteriak, “Pelampungnya dipake! Kalau nggak pakai pelampung tar nggak boleh masuk video!”

Spontan saya menoleh ke buritan, ke arah bapak pengemudi kapal.

“Pelampungnya di mana, Pak?” tanya saya.

Si Bapak menjawab pelampung ada di depan, di bagian yang ada tepat di hadapan Mas Adit. Pelampung pun dibagikan satu-satu secara estafet kepada semua penumpang. Saya memakai pelampung jatah saya dulu baru memakaikan milik anak-anak.

Lucunya, Diandra malah menangis waktu disuruh pakai pelampung. “Nggak mau, nanti kalau pakai pelampung berarti perahunya mau tenggelam,” katanya sambil memeluk ibunya. Hihihi, dasar anak-anak.

Kira-kira 10-15 menit berlayar, sampailah kami di spot tempat banyak perahu lain sudah menunggu kemunculan lumba-lumba. Kami juga melihat keluarga Mas Jimmy, salah satu pemenang lain, yang menaiki perahu bernama Goujou bersama Mas Marlen sebagai tim dokumentasi.

Tak sampai lama menunggu, lumba-lumba pertama terlihat di sisi kiri perahu kami. Sendirian. Damar berteriak memberi tahu saya yang sedang asyik merekam perahu-perahu lain di depan. Lalu diikuti lumba-lumba berikutnya yang juga muncul sendiri-sendiri di permukaan tak jauh dari perahu yang kami naiki.

Kalau Damar senang dan berteriak-teriak antusias melihat lumba-lumba yang muncul dan meloncat, Diandra malah tambah ketakutan. Susah payah ibunya membujuk dengan mengatakan kalau lumba-lumba itu tidak mungkin naik ke atas perahu dan menggigitnya. Ya, waktu saya tanyai sekembali ke kamar hotel, Diandra bilang takut digigit lumba-lumba. Ada-ada saja…

Setelah lumba-lumba yang muncul sendirian, berikutnya kami melihat rombongan lumba-lumba. Mulai dari rombongan berisi 4-5 ekor, sampai yang jumlahnya banyak sekali. Salah satu dari rombongan tersebut berenang kira-kira 1-2 meter di samping kanan perahu kami. Saya kira jumlahnya lebih dari 10 ekor. Kami pun dibuat mengucap kata “Wow! Wow!” berulang kali.

Sepotong keseruan melihat lumba-lumba di Lovina hari itu saya abadikan dalam video di bawah ini.

Sarapan Bareng Indro Warkop

Matahari beranjak lebih tinggi. Bapak pengemudi perahu mengatakan kalau mau terus melihat lumba-lumba kita musti berlayar lebih jauh ke tengah, seperti dilakukan beberapa kapal lain. Saya, istri, dan Mas Adit sepakat untuk kembali ke hotel saja. Kami harus sudah berangkat ke destinasi selanjutnya pada jam 09.00 WITA. Sedangkan kami belum mandi dan sarapan.

Sampai di pantai, dengan pertimbangan biar tidak bolak-balik ke kamar saya ajak anak-anak dan istri untuk sarapan dulu saja. Dari pantai ke kamar melewati area yang sudah dekat sekali dari restoran, jadi mending sarapan dulu baru mandi.

Tamu The Lovina Bali sedang ramai tampaknya. Lantai dasar restoran sudah penuh oleh tamu yang tengah sarapan, jadi kami naik ke lantai atas. Di sini juga hanya tersisa beberapa kursi kosong. Kami meletakkan tas dan sepatu di meja dekat tangga, lalu mengambil makanan dari deretan menu di sisi lain ruangan.

Sama seperti sarapan di Candidasa kemarin, hari itu Damar dibuat sumringah karena menu favoritnya tersedia: ayam kecap. Diandra juga dibuat senang sekali karena buah-buahannya beraneka rupa. Selain semangka dan pepaya yang sudah diiris-iris di piring, buah-buahan lain tersusun rapi di keranjang. Jeruk, salak, pisang, entah apalagi saya tidak ingat.

Belum lama kami duduk dan menyantap sarapan pilihan masing-masing, istri berbisik ke saya sembari melirik ke arah tangga. “Ada Om Indro,” katanya.

Saya awalnya nggak ngeh Om Indro siapa yang dimaksud. Begitu saya mengangkat kepala mencari-cari, sosok yang amat familiar sejak saya kecil tersebut menarik kursi di meja tepat di sebelah kami. Posisi Om Indro duduk persis di belakang istri.

Saya langsung kepikiran minta foto bareng. Tapi, tunggu dulu. Om Indro mau sarapan. Ia bahkan belum mengambil makanannya. Jadi saya tahan keinginan untuk mendekat dan mengajak foto bareng. Akhirnya saya hanya merekamnya secara candid dari tempat saya duduk, juga memfoto istri dengan latar belakang Om Indro. Dan begini hasilnya.

Ummi foto dengan Indro Warkop

Lumayan, satu frame berarti foto bareng kan? Hehehe…

Selesai sarapan, dan Om Indro saya lihat juga sudah menghabiskan makanannya, barulah saya mendekat. Tapi tidak jadi berfoto bareng. Alih-alih, saya mendekat dan menjabat tangannya sembari mengucapkan selamat. “Selamat ya, Om, film Warkop DKI Reborn mencetak rekor baru,” kata saya. Om Indro tersenyum lebar dan membalas dengan ucapan terima kasih.

Begitu masuk kamar, saya langsung membuka kaos dan menceburkan diri ke kolam renang. Waktu itu sudah jam setengah sembilan, dan sebelum kami ke kamar Pak Rahmat berpesan sudah harus ada di lobi jam 09.00 WITA. “Paling telat 09.15-lah,” imbuh tour leader kami itu. Jadi saya punya waktu 45 menit untuk berenang, berkemas, dan berjalan menuju lobi.<

Sebenarnya itu waktu yang sempit sekali untuk berenang, apalagi buat anak-anak yang sangat suka bermain air. Tapi masa iya kami diinapkan di villa dengan kolam renang privat dan tidak berenang di dalamnya? Rugi dong.

Jadi, walaupun setiap beberapa menit berteriak menanyakan jam pada istri, saya dan anak-anak berenang. Ini juga sekligus untuk memberi kesempatan bagi istri saya untuk mandi dan membereskan bawaan kami.

Setengah jam kemudian istri mengingatkan kami, “Sudah jam sembilan.” Oke, waktunya mentas dari kolam. Anak-anak terlihat malas-malasan dan harus diajak berulang kali sampai akhirnya mau beranjak dari dalam kolam renang. Saya juga sebenarnya masih mau berenang, tapi mau bagaimana lagi? Mudah-mudahan lain kali ada rejeki dan kesempatan ke Hotel The Lovina Bali lagi.

Kehujanan di Pura Ulun Danu

Well, seolah ingin menegaskan kalau Bali itu masih Indonesia dan anggota rombongan Tur Cokelat Bali adalah orang Indonesia tulen, pendek kata: molor! Bus seharusnya meninggalkan hotel paling telat jam 09.30 WITA, tapi sampai setengah jam kemudian kami masih harus menunggu anggota rombongan yang entah tengah berada di mana.

Eh, ndilalah, di satu tempat yang entah saya tidak tahu di mana terjadi kemacetan panjang. Bus terhenti selama sekitar setengah jam. Untunglah dua kejadian tersebut tak membuat urut-urutan perjalanan jadi kacau. Hanya saja jatah kami mengelilingi Pura Ulun Danu dipotong sebagai kompensasi. Dari seharusnya dua jam, menjadi hanya satu jam saja.

Sampai di Pura Ulun Danu Bratan, anak-anak tak bisa menahan diri untuk tidak berlari-larian. Dari pintu masuk kawasan pura sampai ke gerbang pura mereka berlari-lari. Begitu juga begitu sampai di komplek pura. Mereka baru mau berhenti sewaktu saya mengeluarkan uang Rp50.000 dan menunjukkan kalau pura yang gambarnya ada di uang tersebut adalah pura yang saat itu ada di hadapan mereka.

Seperti biasa, kami pun berfoto-foto. Untuk kali pertama selama di Bali, Damar meminta difoto. Biasanya dia malah lari atau beraksi aneh-aneh kalau saya mengarahkan kamera kepadanya. Tapi hari itu dia malah bilang, “Mau difoto di sana.” Sembari menunjuk patung dua ular memakai mahkota tak jauh dari tempat kami duduk.

Puas berfoto-foto, kami diminta berkumpul ke lapangan rumput di dekat dermaga danau. Hari itu akan diadakan pengambilan gambar Joget Cokelat untuk keperluan iklan Frisian Flag. Pertama-tama kami direkam bersama-sama, seluruh pemenang bersama host dan anggota rombongan Tur Cokelat Bali. Setelah itu keluarga pemenang direkam satu-satu.

Tepat begitu pengambilan gambar selesai dan tim dokumentasi memberesi perlengkapan mereka, hujan turun. Mbak Ade membagi-bagikan jas hujan plastik pada kami. Tapi anak-anak tidak enjoy memakainya karena terlalu besar, bukan ukuran anak-anak. Melihat hujan hanya rintik-rintik mereka minta jas hujan dilepas.

Keputusan salah. Hujan memang hanya rintik-rintik, tapi itu tak berlangsung lama. Ketika saya dan Damar sedang asyik melihat-lihat rusa, hujan deras seperti ditumpahkan dari langit. Kalang kabut saya mengajaknya berlari sekencang mungkin ke gedung terdekat. Istri saya entah di mana, kami memisahkan diri karena Diandra minta naik ayunan di tempat lain.

Masalahnya, jas hujan dibawa istri semua! Jadilah saya dan Damar basah-basahan. Kami beruntung bisa mencapai gedung loket sebelum benar-benar basah. Tapi kami tak bisa ke bus. Untunglah kemudian saya melihat istri tengah berjalan menggendong Diandra di kejauhan, memakai jas hujan dan membawa payung.

Saya ajak Damar mendekati istri. Agar tak terkena air hujan kami berjalan menempelkan badan di tembok gedung. Tapi di satu tempat kami tak bisa melanjutkan langkah. Ada pagar yang memisahkan, sehingga kami hanya bisa berdiri diam menempel tembok. Apa akal?

Ah, ada ibu-ibu sendirian bawa payung di sebelah. Saya memanggil si ibu. Maksud saya mau menitipkan Damar agar dibawanya menyeberang ke gedung sebelah. Si ibu tidak menoleh. Saya kuatkan suara saya, sekali-dua kali lagi memanggil, tetap saja tidak menoleh. Pada percobaan berikutnya saya panggil sembari mendekat. Eh, si ibu hanya melirik ke arah saya lalu bergegas pergi ke gedung sebelah. Pfiuuuh…

Oke, mau tak mau kami harus menerjang hujan kalau mau mendekat ke istri saya yang saya lihat ada di toilet. Saya beri tahu Damar kalau kami harus menyeberang dan agar tidak basah saya memintanya berlari sekencang mungkin. Saya ingatkan juga begitu sampai di gedung sebelah ia musti hentikan larinya karena ubinnya yang halus terlihat basah. Ia bisa terpeleset karena licin.

Alhamdulillah, kami sukses mencapai gedung sebelah. Lalu lagi-lagi dengan berjalan mepet tembok kami sampai di toilet di mana istri saya tengah bersiap ke bus. Rupanya anggota rombongan tur yang lain ada di sana. Mas Dicky Fredixon dari Leo Burnett, agency perwakilan Frisian Flag Indonesia yang mengurusi event Tantangan Joget Cokelat, menawarkan tumpangan payung. Saya minta ia membawa Damar saja, saya cukup memakai jas hujan.

Belajar Membuat Cokelat

Singkat cerita, kami masuk ke bus dalam kondisi basah meski tak sampai kuyup. Untungnya anak-anak membawa baju ganti. Hujan baru berhenti total setelah kami makan siang di De Danau Resto tak jauh dari pura. Perjalanan kami lanjutkan ke Pod Chocolate Cafe and Factory di daerah Petang, Kabupaten Badung. Kira-kira dua jam perjalanan dari Pura Ulun Danu Bratan.

Perjalanan berlangsung lancar. Kami sampai di Pod Chocolate disambut oleh teriakan beruang madu dan suara terompet gajah. Ya, tempat ini awalnya semacam penangkaran hewan-hewan buas, terutama gajah, untuk tujuan rekreasi. Pemilik Pod Chocolate Cafe and Factory sendiri merupakan putra pengelola Bali Elephant Camp atau Bali Elephant Ride.

Kafe dan pabrik cokelat di tempat ini terletak bersebelahan dengan kandang gajah milik Bali Elephant Camp. Gajah-gajah di kandang tersebut dapat disewa dengan tarif mulai dari USD 70 untuk dewasa dan USD 51 untuk anak-anak. Penyewa akan diajak berkeliling areal perkebunan dan Sungai Ayung.

Mau tahu apa saja yang kami lakukan di Pod Chocolate? Yuk, tonton video di channel YouTube anak saya berikut ini. Hehehe…

Setelah belajar membuat cokelat dan mencicipi es cokelat yang disediakan, kami kemudian dijelaskan mengenai proses pembuatan cokelat. Mulai dari budidaya pohon kakao, bagaimana ciri-ciri buah kakao yang siap dipanen, cara mengolah biji kakao sampai menjadi cokelat bubuk, dan kemudian dikreasikan menjadi berbagai macam dan bentuk cokelat batang.

Kegiatan lain yang dilakukan di sini adalah pengambilan gambar untuk iklan Frisian Flag. Keluarga saya dapat giliran direkam. Saya dan istri diminta menceritakan pengalaman selama mengikuti Tur Cokelat Bali. Sayangnya, saya kok grogi ya. Blank betul entah apa yang diceritakan. Take sampai harus diulang karena Mas Adit terlihat belum puas dengan hasil shooting pertama.

Wah, jadi bintang iklan dong? Hahahaha, saya dan keluarga hanya nongol beberapa detik saja dalam video kedua Tur Cokelat Bali yang dirilis Frisian Flag. Tapi tak apa. Kalau mau melihat wajah saya sepuasnya silakan mampir saja ke channel YouTube saya. Hehehe.

Oke, singkat kata singkat cerita aku dan dia jatuh cinta. Eh, maksudnya selesai dari Pod Chocolate kami bergerak menuju Kuta. Kami akan kembali menginap di Hotel Grand Ixora Kuta Resort yang kami tempati di malam pertama. Perjalanan sejauh 40 km tersebut kami tempuh selama sekitar dua jam. Maklum, jalanan macet.

Sebelum ke hotel kami mampir ke sebuah restoran yang saya lupa namanya Jasmine atau apa. Anak-anak sudah mengantuk berat, jadi acara makan diisi dengan kerewelan mereka. Mau tak mau saya dan istri makan cepat-cepat sembari sebisa mungkin menyuapi keduanya. Tak sampai 15 menit di meja makan kami sudah keluar lagi untuk menenangkan anak-anak.

Di bagian depan restoran ada akuarium berbagai bentuk berisi berbagai jenis ikan dan hewan laut lain. Anak-anak senang sekali di sana. Kami melihat-lihat akuarium tersebut sampai anggota rombongan lain menyelesaikan makan malam mereka. Lepas itu kami beranjak ke hotel.

BERSAMBUNG…

Iklan

About Eko Nurhuda (355 Articles)
A happy father of two. Blogging and making video for fun. Love food, music, and sometime football #YNWA

6 Comments on Tur Cokelat Bali Hari 4: Mengejar Lumba-Lumba di Lovina

  1. Iya, Mas, pas sarapan di hotel The Lovina Bali jejeran sama Indro Warkop. Cuma aku nggak minta foto bareng, kuatir ganggu sarapannya dia.

  2. Waow asik banget, tapi kok kayak ada Indro warkop ya, itu yang botak. Dan anak lanange Njnengan mirip Diko di handikoo.com ^_^

  3. Wuih, Mbak Vety sering jalan-jalan ke Bali ya?
    Anak-anak baru juga pulang dari sana sudah ngajak ke Bali lagi. Hahaha, saya jawab aja ya nanti tahun depan ya.

  4. Hehehe, itu sih iseng aja dan pas kebetulan inget. Jadinya ya difoto. Anak-anakku paling seneng pas lihat lumba-lumba, apalagi sempat deket banget lumba-lumbanya. Jadi mereka bisa lihat dengan jelas.

  5. Serunya mas perjalanannya…aku malah belum pernah ajak anak2 ngelihat pura pas di bali…kapan hari pengen liat lumba-lumba juga ga ada persiapan jadi batal deh karna salah jadwal…hehehe

  6. Mas Eko, kok samaan sih kita … suka pamer duit saat ada tempat atau ikon yang ada di duit .. xixi.

    Aku jadi pengen ngajak anak2 liat lumba lumba. Pasti mereka exciting ..

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: