Highlight:

Mau cari duit apa cari kerja?

mengetik

DARIPADA nggak dapet-dapet kerja, mending nggak dapet-dapet gelar.” Kalimat ini sempat mewarnai televisi beberapa tahun lalu. Ini sebenarnya iklan rokok, tapi muatannya sangat menyentil sekali buat para pemuja gelar.

Dalam iklan itu digambarkan bahwa kebanyakan orang lebih suka mengejar gelar. Hanya segelintir saja yang berani menyimpang dari kelaziman dan merasa dapat hidup (layak) tanpa gelar. Sungguh satu gambaran yang pas sekali dengan realita di sekeliling kita sekarang.

Saya jadi ingat sewaktu mengantar istri tes CPNS di Slawi, Kab. Tegal, akhir 2010. Posisi guru bahasa Inggris SMP yang diincar istri cuma membutuhkan 2 tenaga, tapi pendaftarnya sekitar 500 orang! Dan, ke-500 orang itu adalah sarjana karena syarat yang diminta memang harus seorang sarjana.

Saya juga jadi ingat komentar salah seorang pengunjung blog lama saya, ekonurhuda.com, saat saya menyatakan ingin menjadi fulltime blogger selepas kuliah. Komentarnya pedas, dan tanpa meninggalkan identitas sama sekali alias anonim. Katanya, “Ngapain kuliah kalau lulus cuma mau jadi blogger?”

Saya hanya tertawa saja waktu itu, sambil menjawab dalam hati, “Yah, paling tidak blogger lebih berduit daripada job hunter alias pencari kerja.” Hehehe.

Kini, ketika saya bertekad bulat untuk menjadi fulltime writer alias menggantungkan hidup sepenuhnya dari menulis (di blog pribadi, koran, portal online, menulis buku, dll), lingkungan yang mayoritas para pemuja gelar dan pekerjaan tetap saja menentang. Cara menentangnya, mereka selalu memberi tahu setiap kali ada info lowongan pekerjaan.

Beruntung istri mendukung penuh pilihan saya, sedangkan mertua masih belum sepenuhnya menerima meskipun tidak protes. Maklum, penulis semenjana seperti saya penghasilannya tidak tetap, dan (lebih parahnya lagi) tidak terlalu besar.

Mental Kuli

working hardMungkin sudah sejak jaman penjajahan Belanda dulu dalam otak bangsa Indonesia tertanam pemikiran bahwa orang harus menjadi pekerja untuk dapat hidup. Entah itu bekerja di sektor swasta (menjadi karyawan) atau di lembaga milik negara.

Dulu bekerja di suikerfabriek atau pabrik gula, sekarang bekerja kantoran; entah di kantor apa saja yang penting ngantor. Dulu jadi ambtenaar, sekarang jadi PNS atau ASN.

Sejak jaman penjajahan juga masyarakat memandang pegawai pemerintah alias ambtenaar sebagai satu profesi terhormat. Kini, menjadi PNS/ASN adalah suatu kebanggaan karena selain memperoleh jaminan pensiun, seorang pegawai negeri juga memiliki strata sosial lebih tinggi di masyarakat. Maka tak heran jika banyak orang tua mendambakan anaknya menjadi PNS/ASN, atau setidaknya memiliki menantu dari kalangan itu.

Demikian juga dengan si anak yang selalu mendambakan diangkat jadi pegawai negeri. Meskipun harus menunggu belasan hingga puluhan tahun lamanya, mereka memilih sabar. Istri saya sudah ikut tes CPNS sebanyak empat kali. Ketika saya tanya, hanya tes pertama saja yang ia jalani karena keinginan sendiri, selebihnya karena tidak enak dengan orang tua.

Kalau tidak bisa menjadi PNS/ASN, pilihan selanjutnya adalah bekerja di perusahaan bonafid. Kalau ini juga tidak terkabul, bekerja di mana saja tidak jadi masalah. Yang penting bekerja dan dapat gaji tetap untuk hidup. Berangkat pagi hari pakai seragam dan bersepatu, kemudian pulang sore hari. Lalu tiap awal bulan terima gaji.

Agar memperoleh pekerjaan bagus, orang harus berbekal ijasah dan gelar. Semakin tinggi ijasah dan gelar yang dimiliki, semakin bagus posisi yang mungkin didapat sekaligus semakin besar pula gaji yang akan dikantongi. Inilah pola pikir umum masyarakat kita.

Jadi, jangan heran kalau begitu lulus kuliah kebanyakan sarjana di Indonesia kerjanya hanya memelototi iklan lowongan pekerjaan di koran setiap hari. Jangan heran juga kalau setiap kali ada job fair atau tes CPNS, pesertanya bisa jauh lebih banyak dari audisi Indonesian Idol.

Penghasilan vs Pekerjaan

Bekerja untuk hidup, salahkah pola pikir ini? Tidak salah memang, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Kalau yang dimaksudkan adalah bahwa kita harus “melakukan sesuatu” untuk memperoleh uang, maka pendapat ini benar. Tapi kalau maksudnya kita harus jadi pekerja alias karyawan/pegawai untuk mendapat penghasilan, ini jelas-jelas tidak benar.

Catat baik-baik, kita tidak harus jadi karyawan/pegawai untuk mempunyai penghasilan.

Ada banyak hal lain yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan penghasilan. Bahkan tak jarang hasilnya jauh lebih bagus dari gaji pegawai. Yang diperlukan hanya keberanian memulai dan kesiapan mental untuk menghadapi komentar miring dari kanan-kiri, termasuk keluarga sendiri.

Menjadi fulltime blogger atau fulltime writer adalah contoh pilihan untuk memperoleh penghasilan. Bukan sekedar penghasilan standar upah minimum (UMP) yang hanya pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan hidup, ada banyak fulltime blogger atau fulltime writer yang berpenghasilan sebesar gaji menteri. Ada banyak contohnya, kamu bisa tanya ke Mbah Google kalau mau tahu.

Bagi saya pribadi, menjadi fulltime blogger atau fulltime writer rasanya jauh lebih baik daripada terus bermimpi menjadi pegawai negeri atau memperoleh posisi bagus di perusahaan multinasional terkemuka.

Saya tidak bilang menjadi PNS/ASN atau karyawan perusahaan multinasional itu jelek ya, sama sekali tidak. Tulisan ini lebih ditujukan pada para pencari kerja yang mati-matian dan terkadang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pekerjaan idamannya.

Sudah jadi rahasia umum, ada bayak kawan kita yang rela membayar belasan hingga puluhan juta untuk dapat diterima di instansi tertentu. Dari seorang staf administrasi kampus dulu saya pernah dapat cerita, saudaranya di Jawa Barat musti menyetor sekian ratus juta agar lolos tes di satu dinas. Ini konyol!

Menurut hemat saya, ketimbang menghabiskan waktu berburu pekerjaan ke sana-sini apalagi sampai menyuap, lebih baik kembangkan potensi yang kamu punya. Berdagang, menulis, membuat video, atau apapun itu. Percayalah, kalau kita serius dan fokus, hasilnya bakal bikin kaget.

Yang menarik dari profesi alternatif begini adalah, kita tidak membutuhkan ijasah apapun untuk melakukannya. Contohnya menjadi fulltime blogger atau fulltime writer, tidak akan ada yang menanyai kamu lulusan mana apalagi sampai bertanya nilai IPK. Yang kamu butuhkan hanyalah keyakinan dan tekad yang kuat untuk maju.

So, mana yang kamu cari, duit atau kerja? Kalau kamu memilih duit, maka saya katakan ada banyak jalan yang dapat kamu tempuh untuk memperoleh duit, memperoleh penghasilan. Tapi kalau kamu keras kepala ingin bekerja kantoran sebagai karyawan swasta atau pegawai negeri agar memperoleh duit, ya itu pilihanmu.

Saya pernah bekerja di banyak tempat, sejak tahun pertama kuliah. Mulai dari jadi pelayan warung sate kambing sampai bekerja di hotel bintang 4. Semua itu akhirnya saya tinggal karena lebih memilih mengembangkan potensi yang saya punya, yakni menulis.

Alhamdulillah, kalau cuma buat makan, beli baju, biaya sekolah anak, jajan di luar atau jalan-jalan sih masih cukup. Ke depan sih pengennya bisa sampai panen uang seperti Mas Duto, owner omkicau.com. Tapi, berapapun rejeki yang diberi Allah SWT. tentu harus saya syukuri.

Semoga bermanfaat!

Beri tip untuk blog ini
About Eko Nurhuda (373 Articles)
A happy father of three. Blogging and making video for fun. Love food, book, music, and sometime football #YNWA

2 Comments on Mau cari duit apa cari kerja?

  1. Kalo gak jadi PNS gak disebut orang makanya banyak orang tua yg pengen anaknya jadi PNS biar bisa dibangga banggakan walaupun harus masin sogok menyogok.

    Kalo wirausaha beresiko mas.. resiko terbesarnya adalah sukses.

    Suka

  2. Semangat entrepreneurship di Indonesia masih sangat kurang, ditambah mindset bahwa lulus kuliah ingin dapet kerja dengan gaji besar. Kalo saya justru pengen jadi orang yang bisa menggaji mereka-mereka itu.

    Suka

Beri komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: