//go.padstm.com/?id=80509&t=iframeKONON, nenek moyang bangsa Indonesia adalah orang Yunan, sebuah wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Republik Rakyat Cina. Dirunut lebih dekat lagi, sejarah mencatat orang Tionghoa sudah tinggal di kepulauan Nusantara sejak sekitar abad ke-4.

Melihat fakta ini, tak heran jika peran orang Tionghoa sangat kental mewarnai perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Peran tersebut juga tampak nyata di dunia sepak bola. Bahkan, mengutip Srie Agustina Palupi dalam buku Politik dan Sepak Bola di Jawa 1920-1942, dari orang-orang Tionghoa-lah penduduk pribumi mengenal sepak bola.

Sebelum PSSI lahir, orang-orang Tionghoa mendirikan Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB). Organisasi sepak bola ini dibentuk untuk ‘menyaingi’ Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) yang Belanda-sentris. Klub-klub anggota HNVB pun sudah ada sebelum kaum bumiputra ramai bermain sepak bola. Sebutlah klub Union Makes Strength (UMS), Tionghoa (kini Suryanaga), dan Tjung Hwa (kini PS Tunas Jaya).

Foto: Wikipedia
Endang Witarsa: Mantan pemain dan pelatih timnas Indonesia. Ia lahir dengan nama Liem Soen Joe.
Yang bikin bangga, ketika PSSI didirikan klub-klub milik orang Tionghoa memilih bergabung dengan klub-klub perserikatan di bawah naungan PSSI. Klub UMS bergabung dengan Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ, kini Persija), sedangkan klub Tionghoa bergabung dengan Soerabajasche Indonesische Voetbalbond (SIVB, kini Persebaya).

Hal ini membuat kekuatan PSSI berlipat ganda. NIVB yang kemudian berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) dibuat gentar karenanya. Apalagi dalam berbagai kesempatan tim PSSI selalu dapat mengungguli tim NIVU. Dalam kompetisi PSSI ke III tahun 1933 di Surabaya, SIVB yang diperkuat bintang-bintang andalan NIVU kalah 1-2 melawan VIJ. Kemudian dalam satu kesempatan uji coba dengan tim Nan Hwa dari Cina di Semarang tahun 1937, tim PSSI menang 2-0. Padahal sebelumnya tim NIVU dibekuk 0-4 oleh Nan Hwa.

Ketangguhan Indonesia mulai menjadi buah bibir, membuat FIFA mengundang Indonesia untuk mewakili Asia dalam Piala Dunia 1938. Sayang, kesempatan tersebut ‘direbut’ NIVU sehingga yang tampil adalah tim bentukan NIVU, bukan PSSI. Meski begitu, NIVU membawa banyak pemain Tionghoa ke Prancis. Sebutlah Tan Mo Heng, kiper andalan SIVB, bersama Tan Siong Houw, dan Pan Hong Tjien.

Di awal-awal kompetisi perserikatan yang diadakan PSSI, pemain Tionghoa mendominasi posisi penting di berbagai tim elit. Persija (VIJ) sempat punya gelandang jempolan seperti Tan Liong Houw (Latief Haris Tanoto) dan Thio Him Tjiang. Berikutnya ada bek tangguh Fan Tek Fong (Hadi Mulyadi) di lini belakang Macan Kemayoran. Jangan lupakan pemain bintang yang lantas menjadi pelatih Persija, drg. Endang Witarsa (Liem Soen Joe).

Union Makes Strength (UMS)Persebaya setali tiga uang. Pada era 1940-an dan 1950-an, Bajul Ijo punya trio penyerang maut berdarah Tionghoa: Tee San Liong, Bhe Ing Hien, dan Liem Tiong Hoo (dr. Hendro Hoediono). Selain ketiganya masih ada Kho Thiam Gwan, Liem Thay Hie, dan Phoa Sian Liong yang jadi langganan timnas.

Masih ingat saat Indonesia menahan imbang Uni Sovyet 0-0 di perempatfinal Olimpiade Melbourne 1956? Saat itu setidaknya ada lima pemain Tionghoa di atas lapangan. Mereka adalah Endang Witarsa, Kwee Kiat Sek, Tan Liong Houw, Phwa Sian Liong, dan Thio Him Tjiang. Medali perunggu Asian Games 1958 juga diraih Indonesia bersama pemain-pemain keturunan Tionghoa.

Jauh sebelum Kurniawan Dwi Yulianto membuat Indonesia bangga saat direkrut FC Lucern, Swiss, pada 1994-1995, Liem Soei Liang alias Surya Lesmana menjadi salah satu pelopor eksodus pemain Indonesia ke luar negeri. Tahun 1974, Surya dikontrak salah satu klub Hong Kong dengan gaji HKD 2.000/bulan. Sebuah jumlah yang sangat tinggi untuk ukuran saat itu.

Kini, tak banyak pemain keturunan Tionghoa di pentas sepak bola nasional. Di Liga Super Indonesia hanya ada Nova Arianto (Persib) dan Juan Revi (Arema). Sedangkan di Liga Primer Indonesia ada Irvin Museng dan Febryanto Wijaya (Medan Chiefs), serta Kim Jeffrey Kurniawan (Persema). Dari kelimanya, belum satu pun yang menjadi andalan timnas.

Di tengah gencarnya program naturalisasi pemain asing keturunan Indonesia, ada baiknya PSSI melalui BTN juga menjaring bakat-bakat pesepak bola pribumi keturunan Tionghoa. Untuk urusan loyalitas dan totalitas, saya kira pemain keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Indonesia lebih unggul dibanding pemain keturunan Indonesia yang lahir dan besar di luar negeri. Jika dulu timnas menjadi Macan Asia saat diperkuat pemain-pemain keturunan Tionghoa, siapa tahu prestasi serupa bisa diulangi lagi kini.

Bagaimana pendapat Bung?

Catatan: Posting ini merupakan naskah asli artikel berjudul Kilas Aksi Keturunan Tionghoa di rubrik ‘Oposan’ tabloid BOLA edisi 2.186, Kamis-Jumat 21-22 April 2011.

About these ads