Alhamdulillah, posting ini menjadi salah satu dari 20 Finalis Beat Blog Writing Contest 2011 (5 Jamuari – 20 Februari 2011, pengumuman pemenang 17 Maret 2011), dengan hadiah uang tunai Rp 500 ribu. Posting ini bersama posting 20 finalis lain dibukukan oleh Gagas Media dengan judul Blogger Bicara Lingkungan. Terima kasih kepada para pembaca bungeko.com yang telah memberikan komentar dan apresiasi.

//go.padstm.com/?id=80509&t=iframe

AJAKAN gila! Mungkin itu yang bakal Bung semburkan ke saya sewaktu membaca judul di atas. Ini bisa jadi ajakan yang paling tidak menarik bagi siapapun yang membacanya. Tapi, “don’t judge a book by its cover”, kata sebuah pepatah asing. Untuk posting ini, rasanya saya bisa memodifikasinya menjadi, “Don’t judge a blog post by its title.” Jadi, silakan baca terus dan Bung akan tahu apa yang saya maksud. Hehehe…

Bagi sebagian besar orang, pemulung adalah pekerjaan yang hina, memalukan. Sebagian lagi malah tidak menggolongkan pemulung sebagai sebuah pekerjaan, apalagi profesi. Ya, interaksi seorang pemulung dengan tumpukan sampah menjadikan banyak orang jijik dengan pekerjaan ini. Menjadi pemulung? Saya yakin kebanyakan orang membayangkannya saja tidak pernah. Padahal, pemulung tidaklah sejelek yang tampak atau yang dipikirkan mayoritas orang.

Pemulung = Pahlawan Lingkungan
Satu fakta yang sering diabaikan adalah fakta bahwa pemulung merupakan pahlawan lingkungan. Oke, saya tahu ada yang protes dengan kata ‘pahlawan’ itu. Tapi, diakui atau tidak, pemulung sangat berjasa dalam upaya pengelolaan sampah.

Contoh kecil. Ketika kebanyakan orang hanya tahu membuang sampah di tempat sampah, pemulung dengan mahir memilah-milah sampah yang ia kumpulkan berdasarkan jenisnya: sampah plastik, kertas, atau logam. Bung tahu siapa yang pertama kali membersihkan Stadion Gelora Bung Karno dari sampah plastik berupa botol-botol minuman setiap kali pertandingan Persija Jakarta usai? Ya, 100 buat Bung. Jawabannya adalah pemulung.

Kalau Bung pernah naik kereta api kelas ekonomi, maka Bung akan tahu betapa pentingnya peran pemulung di dalam gerbong. Berbekal sapu patah dan karung besar, pemulung yang kebanyakan masih remaja dengan semangat akan menyapu habis semua sampah yang ada di bawah kolong bangku dan sepanjang lorong gerbong. Mungkin selama ini Bung merasa terganggu dengan ulah mereka, tapi mulai sekarang berterima kasihlah pada mereka karena telah membersihkan tempat duduk Bung.

Pemulung: Dibenci, tapi sekaligus dibutuhkan perannya.Penduduk sekitar TPAS Bantargebang, TPAS Kayu Manis, dan tempat-tempat pembuangan sampah lainnya juga patut berterima kasih pada pemulung. Penduduk kota begitu malas memilah-milah sampahnya sendiri sebelum dibuang, sedangkan petugas dinas kebersihan tidak punya cukup waktu untuk melakukannya. Beruntung Tuhan menciptakan pemulung, karena sosok inilah yang mau mengorek-korek gunungan sampah di tengah bau busuk yang menyengat plus sepasukan besar lalat beterbangan di sekitar mereka, untuk memilihi sampah-sampah plastik, kertas, dan logam.

Kita sama-sama tahu, plastik adalah jenis sampah yang tidak bisa terurai secepat kertas apalagi sampah organik. Hal ini membuat sampah terus menggunung hari demi hari. Berkat usaha pemulung, sampah-sampah plastik berpindah tempat, membuat TPAS hanya berisi sampah-sampah yang mudah terurai.

Pemulung = Peluang Penghasilan
Baiklah, saya tahu tidak semua orang mau dengan sukarela menjadi pahlawan lingkungan. Mendorong-dorong orang menjadi pemulung dengan iming-iming sebutan pahlawan lingkungan adalah sesuatu yang utopis. Tapi, mengintip penghasilan yang diperoleh seorang pemulung mungkin bisa menimbulkan motivasi untuk ikut-ikutan menekuni pekerjaan ini. Praktiknya tentu saja tidak zakelijk sama. Bung tidak harus memakai baju compang-camping, membawa karung di pundak, tongkat pengait di tangan, mengorek-korek tong sampah, atau berkeliaran di TPAS. Pekerjaannya boleh sama, yakni mengumpulkan sampah, tapi cara Bung mengerjakannya tidak harus sama dengan pemulung.

Ngomong-ngomong, seberapa besar sih penghasilan seorang pemulung?

Salah seorang saudara jauh saya yang tinggal di Jakarta pernah bercerita, tetangganya yang bekerja sebagai pemulung dapat memperoleh penghasilan rata-rata Rp50.000/hari hanya dari mengumpulkan gelas plastik bekas kemasan air mineral. Padahal, selain gelas plastik si pemulung juga mengumpulkan botol plastik, kertas, dan logam. Kalau semua sampah yang ia kumpulkan itu dijual semua, penghasilannya tentu bakal lebih dari Rp50.000/hari.

Bung bilang penghasilan itu kecil? Ya, kalau Bung menjadikannya sebagai penghasilan utama memang kecil. Apalah artinya uang Rp50.000/hari bagi penduduk Jakarta? Tapi bayangkan kalau penghasilan sebesar itu Bung peroleh dari pekerjaan iseng alias sambil lalu. Sambil berangkat ke kampus atau ke kantor, misalnya. Atau, kalau Bung rajin menonton pertandingan sepakbola di stadion, sambil menonton tim favorit bertanding. Kalau begini, rasa-rasanya Rp50.000/hari adalah uang yang sangat lumayan.

Pemulung Eksekutif
Pernahkah Bung menyadari betapa banyak sampah yang Bung hasilkan setiap bulan. Mulai dari kertas, daun, atau plastik bungkus makanan, botol-botol plastik bekas kemasan air mineral, kertas tisu, kertas print-out yang salah, sampai bekas bungkus sabun, kotak pasta gigi, atau plastik bungkus deterjen. Kalau masih kurang banyak juga, coba hitung juga sampah-sampah yang dihasilkan orang-orang seisi rumah Bung.

Wow!!! Saya tahu, itu yang akan Bung ucapkan begitu menyadari betapa banyaknya sampah yang selama ini dihasilkan. Nah, sekarang bayangkan kalau sampah sebanyak itu bisa menghasilkan tambahan pendapatan yang lumayan untuk Bung sekeluarga. Sebagai pemulung? Pekerjaannya sama, mengumpulkan sampah dan menjualnya. Tapi, Bung melakukannya dengan cara elegan. Kita sebut saja ini dengan istilah pemulung eksekutif.

Kalau pemulung mengumpulkan sampah dari tong-tong sampah, stadion, selokan jalan, atau TPAS, maka Bung cukup mengumpulkan sampah milik sendiri. Sampah-sampahnya pun jauh dari kata menjijikkan. Apanya yang menjijikkan dari kotak pasta gigi atau bungkus sabun yang baru dibeli dari supermarket? Saya yakin Bung juga tidak merasa jijik mengumpulkan plastik bekas bungkus camilan anak-anak Bung, iya kan?

Jadi, Bung saya ajak menjadi pemulung untuk sampah di rumah sendiri. Kalau Bung bisa mengatasi rasa malu, areanya bisa diperluas menjadi rumah dan kantor. Alih-alih membuang begitu saja sampah-sampah yang Bung hasilkan ke kotak sampah, mulai sekarang pilah-pilahlah sampah-sampah tersebut dan simpan di satu tempat khusus. Kemudian jadwalkan agenda baru untuk menjual sampah-sampah tersebut setiap sepekan sekali. Ke mana?

Inilah bagian paling menariknya. Kalau pemulung biasa menjual sampah-sampah yang mereka pungut ke pengepul, Bung bisa memanfaatkan layanan bank sampah. Di sini Bung bisa membuka tabungan dengan setoran berupa sampah, namun kelak tabungan tersebut dapat ditarik dalam bentuk uang. Asyik, bukan?

Bank sampah sudah banyak tersebar di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di wilayah Jakarta, Bandung, Bogor, dan Yogyakarta. Bank Sampah Gemah Ripah yang digagas Bambang Suwerda di Bantul, Yogyakarta, dan Bank Sampah Karya Mandiri yang dipelopori Nanang Suwandi di Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara, adalah 2 contoh bank sampah yang kerap diangkat media massa. Bank Sampah Karya Mandiri malah menjadi contoh untuk pengembangan program bank sampah di Jakarta yang masih memerlukan banyak sekali bank sampah.

Kalau Bung tidak dapat menjumpai bank sampah di sekitar tempat tinggal Bung, jadikan ini sebagai peluang. Ya, kenapa tidak menggagas sebuah bank sampah sendiri? Jadilah Bambang Suwerda atau Nanang Suwandi bagi lingkungan sekitar rumah Bung. Jadi, Bung tidak usah menjadi pemulung eksekutif, tapi mengambil peran lebih bergengsi lagi sebagai investor bank sampah. Kata ‘investor’ terdengar lebih keren dibanding ‘pemulung’, jadi Bung bisa membanggakannya kepada para kenalan. Percayalah, tak akan ada yang berani menanyakan bank apa yang Bung modali saat Bung menyebutkan pekerjaan sebagai ‘investor bank’. (^_^)

Ide yang sangat menarik, bukan? Bagaimana pendapat Anda, Bung?