//go.padstm.com/?id=80509&t=iframe“DARIPADA nggak dapet-dapet kerja, mending nggak dapet-dapet gelar.” Kalimat ini sempat mewarnai televisi beberapa tahun lalu. Ini sebenarnya iklan rokok, tapi muatannya sangat menyentil sekali buat para pemuja gelar. Dalam iklan itu digambarkan bahwa kebanyakan orang lebih suka mengejar gelar. Hanya segelintir saja yang berani menyimpang dari kelaziman dan merasa dapat hidup (layak) tanpa gelar.

Sungguh satu gambaran yang pas sekali dengan realita di sekeliling kita sekarang. Saya jadi ingat sewaktu mengantar istri tes CPNS di Slawi, Kab. Tegal. Posisi guru bahasa Inggris SMP yang diincar istri saya cuma membutuhkan 2 tenaga, tapi pendaftarnya sekitar 500 orang! Dan, ke-500 orang itu adalah sarjana karena syarat yang diminta memang harus seorang sarjana.

Saya juga jadi ingat komentar salah seorang pengunjung blog lama saya, ekonurhuda.com, saat saya menyatakan ingin menjadi fulltime blogger selepas kuliah. Komentarnya pedas, dan tanpa meninggalkan identitas sama sekali alias anonym. Katanya, “Ngapain kuliah kalau lulus cuma mau jadi blogger?” Saya hanya tertawa saja waktu itu, sambil menjawab dalam hati, “Yah, paling tidak blogger lebih berduit daripada job hunter alias pencari kerja.” Hehehe…

Kini, ketika saya bertekad bulat untuk menjadi fulltime writer alias menggantungkan hidup sepenuhnya dari menulis, lingkungan yang mayoritas para pemuja gelar dan pekerjaan tetap menentang. Beruntung istri dan orang tua saya mendukung penuh pilihan saya ini, sedangkan mertua masih belum sepenuhnya menerima meskipun tidak protes. Maklum, penulis semenjana seperti saya penghasilannya tidak tetap, dan (lebih parahnya lagi) tidak besar.

Mental Kuli

Mungkin sudah sejak jaman penjajahan Belanda dulu dalam otak bangsa Indonesia tertanam pemikiran bahwa orang harus menjadi pekerja untuk dapat hidup. Entah itu bekerja di sektor swasta (menjadi karyawan) atau di lembaga milik negara (PNS). Dan, sejak jaman penjajahan dulu masyarakat memandang PNS sebagai satu profesi terhormat. Menjadi PNS adalah suatu kebanggaan karena selain memperoleh jaminan pensiun, seorang PNS juga memiliki strata sosial lebih tinggi di masyarakat. Maka tak heran jika banyak orang tua mendambakan anaknya menjadi PNS, atau setidaknya memiliki menantu.

Demikian juga dengan si anak yang selalu mendambakan diangkat jadi PNS, meskipun harus menunggu puluhan tahun lamanya. Istri saya sudah ikut tes CPNS sebanyak 4 kali. Ketika saya tanya, hanya tes pertama saja yang ia jalani karena keninginan sendiri, sedangkan yang 3 lagi karena tidak enak dengan orang tua.

Kalau tidak bisa menjadi PNS, pilihan selanjutnya adalah bekerja di perusahaan bonafid. Kalau ini juga tidak terkabul, bekerja di mana saja tidak jadi masalah. Yang penting bekerja dan dapat gaji tetap untuk hidup. Agar memperoleh pekerjaan bagus orang harus berbekal ijasah dan gelar. Semakin tinggi ijasah dan gelar yang dimiliki, semakin bagus posisi yang mungkin didapat sekaligus semakin besar pula gaji yang akan dikantongi.

Inilah pola pikir umum masyarakat kita. Jadi, jangan heran kalau begitu lulus kuliah kebanyakan sarjana di Indonesia kerjanya hanya memelototi iklan lowongan kerja di koran setiap hari. Jangan heran juga kalau setiap kali ada job fair atau tes CPNS, pesertanya bisa jauh lebih banyak dari audisi Indonesian Idol.

Antara Penghasilan dan Pekerjaan
Bekerja untuk hidup, salahkah pola pikir ini? Tidak salah memang, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Kalau yang dimaksudkan adalah bahwa kita harus “melakukan sesuatu” untuk memperoleh uang, maka pendapat ini benar. Tapi kalau maksudnya kita harus jadi karyawan/pegawai untuk mendapat penghasilan, ini jelas-jelas tidak benar. Catat baik-baik, kita tidak harus jadi karyawan/pegawai untuk mempunyai penghasilan!

Menjadi fulltime blogger atau fulltime writer adalah salah 2 pilihan untuk memperoleh penghasilan. Bukan sekedar penghasilan standar upah minimum (UMP) yang hanya pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan hidup, seorang fulltime blogger atau fulltime writer bahkan bisa berpenghasilan sebesar gaji menteri. Coba tengok penghasilan bulanan Cosa Aranda (fulltime blogger) atau Habiburahman El Shirazy (fulltime writer).

Menjadi fulltime blogger atau fulltime writer rasanya jauh lebih baik daripada terus bermimpi menjadi PNS atau memperoleh posisi bagus di perusahaan multinasional terkemuka. Menariknya lagi, Anda tidak membutuhkan ijasah apapun untuk menjadi seorang fulltime blogger atau fulltime writer. Yang Anda butuhkan hanyalah keyakinan dan tekad yang kuat untuk maju.

So, mana yang Anda cari, duit atau kerja? Kalau Anda memilih duit, maka saya katakan pada Anda bahwa banyak jalan dapat ditempuh untuk memperoleh duit (baca: penghasilan). Tapi kalau Anda keras kepala ingin bekerja untuk memperoleh duit, saya hanya bisa mendoakan semoga Anda senantiasa diberikan kesehatan dan kesabaran. Saya pernah bekerja di banyak tempat, mulai dari warung sate kambing sampai hotel bintang 4. Semuanya saya tinggalkan karena saya tidak rela sudah kuliah mahal-mahal hanya jadi “pesuruh”. Mana penghasilannya dibatasi lagi. Huh!

Bagaimana pendapat Anda, Bung?