Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Proklamator NII

//go.padstm.com/?id=80509&t=iframeDALAM sejarah Republik Indonesia, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo alias SM Kartosoewirjo (atau ada juga yang menyingkatnya sebagai SMK) dikenal sebagai pemberontak negara karena memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) pada 7 Agustus 1949.

Akhir hidupnya juga tragis, mati di hadapan regu tembak. Oleh karena itu, sampai saat ini orang lebih mengenalnya sebagai pemberontak. Padahal pada masa perjuangan kemerdekaan Kartosoewirjo adalah seorang aktivis, jurnalis, sekaligus ulama kharismatik. Ia juga merupakan anak didik sekaligus sekretaris Haji Oemar Said Tjokroaminoto, pentolan Sjarikat Islam.

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo
Kartosoewirjo lahir di Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada 7 Januari 1907. Ayahnya, Kartosoewirjo, berkedudukan sebagai Mantri candu di Pamotan, sebuah kota kecil di Rembang. Sebuah kedudukan penting bagi seorang pribumi di masa itu.

Jabatan ayahnya ini membuat Kartosoewirjo kecil berkesempatan mengenyam pendidikan di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) dan kemudian melanjutkan ke ELS (Europeesche Lagere School), dua sekolah elit khusus bagi anak Eropa dan indo-Eropa. Setamat dari ELS pada tahun 1923, Kartosoewirjo melanjutkan pendidikannya di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), sekolah kedokteran Belanda untuk pribumi di Surabaya.

Semasa kuliah di Surabaya inilah Kartosoewirjo banyak terlibat dalam organisasi pergerakan nasional seperti Jong Java dan Jong Islamieten Bond (JIB), dua organisasi pemuda yang berperan penting dalam Sumpah Pemuda 1928. Selain itu ia juga masuk Sjarikat Islam (SI) dan banyak dipengaruhi oleh pemikiran politik HOS Tjokroaminoto yang sangat mengangan-angankan berdirinya sebuah baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur (negeri yang makmur dan diridhoi Allah SWT).

Ketika Sjarikat Islam berubah menjadi Partai Sjarikat Islam Hindia Timur (PSIHT), Kartosoewirjo dipercaya memegang jabatan sekretaris jenderal. Saat itu usianya masih sangat muda, baru 22 tahun.

Kartosoewirjo amat kritis. Ia banyak menulis kritikan baik bagi penguasa pribumi maupun pemerintah kolonial di Harian Fadjar Asia, surat kabar tempatnya bekerja sebagai wartawan dan beberapa saat kemudian diangkat sebagai redaktur.

Ketika Jepang menguasai Hindia Timur, seluruh organisasi pergerakan dibubarkan. Jepang hanya memperbolehkan beberapa organisasi yang dianggap tidak membahayakan kedudukan Jepang. Oleh karena itu PSIHT dibubarkan dan berganti menjadi Madjlis Islam ‘Alaa Indonesia (MIAI) pimpinan Wondoamiseno. Kala itu Kartosoewirjo menjabat sebagai sektretaris Majelis Baitul-Mal, organisasi di bawah MIAI.

Ketika Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, sebuah sumber menyatakan bahwa sebenarnya Kartosoewirjo sudah terlebih dahulu memproklamirkan kemerdekaan sebuah negara Islam. Namun atas pertimbangan kebangsaan dan kesatuan ia mencabut kembali proklamasi tersebut dan bersedia turut menegakkan Republik Indonesia dengan syarat umat Islam Indonesia diberi kesempatan untuk menjalankan syariat Islam. Hal ini sebagaimana tercantum dalam sila pertama Piagam Jakarta yang kemudian dihapus sehingga hanya menyisakan kalimat “Ketuhanan yang Maha Esa” saja.

Naskah proklamasi NIIPenghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta tersebut merupakan awal retaknya hubungan Kartosoewirjo dan Soekarno, teman seperguruannya semasa masih dididik oleh HOS Tjokroaminoto.

Keduanya memang menunjukkan sikap dan prinsip politik berbeda. Kartosoewirjo adalah seorang muslim taat yang mencita-citakan berdirinya negara berdasarkan syariat Islam, sedangkan Soekarno nasionalis sekuler yang lebih mementingkan persatuan dan kesatuan Indonesia dengan Pancasila-nya.

Hal ini membuat Kartosoewirjo selalu berseberangan dengan pemerintah RI. Ia bahkan menolak jabatan menteri yang ditawarkan Perdana Menteri Amir Sjarifuddin.

Ketika wilayah Republik Indonesia hanya tinggal Yogyakarta dan beberapa karesidenan di Jawa Tengah sebagai hasil kesepakatan dalam Perjanjian Renville, Kartosoewirjo melihat peluang untuk mendirikan negara Islam yang dicita-citakannya.

Maka iapun memprokamasikan Negara Islam Indonesia (NII) di Malangbong, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 7 Agustus 1949. Jawa Barat waktu itu merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Belanda, sehingga klaim sejarah yang menyatakan bahwa Kartosoewirjo merupakan pemberontak Republik Indonesia seharusnya dipelajari kembali.

27 Desember 1949 pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS) dibentuk sebagai hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Dalam negara federasi yang diakui kedaulatannya oleh Kerajaan Belanda itu, Republik Indonesia di Yogyakarta merupakan salah satu dari 16 negara federal anggota RIS.

Soekarno terpilih sebagai presiden RIS, sedangkan jabatan presiden RI diserahkan pada Mr. Asa’at. Terbentuknya RIS secara otomatis membenturkan NII dengan RIS karena Negara Pasundan bentukan Belanda yang menguasai wilayah Jawa Barat merupakan anggota federasi RIS.

Konfrontasi memperebutkan Jawa Barat pun meletus. RIS merasa berhak atas Jawa Barat berdasarkan hasil KMB, sedangkan NII bersikeras mereka lebih berhak karena telah lebih dulu memproklamasikan diri sebelum dibentuknya Negara Pasundan dan RIS.

Perang NII-RIS berlangsung selama 13 tahun. Dalam masa 13 tahun itu RIS berubah bentuk menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Negara Pasundan menjadi provinsi Jawa Barat. Hal ini membuat NII semakin terpojok karena dengan bentuk baru RIS tersebut NII seperti negara dalam negara.

Pada akhirnya tentara NKRI berhasil menghabisi perlawanan NII, ditandai dengan tertangkapnya SM Kartosoewirjo selaku Imam Besar (presiden) NII di wilayah Gunung Geber pada 4 Juni 1962. Mahkamah militer menyatakan Kartosoewirjo bersalah dan menjatuhkan hukuman mati.

Mantan aktivis, jurnalis, sekaligus ulama kharismatik itupun menghembuskan napas terakhirnya di depan regu tembak NKRI pada September 1962.

Matinya Kartosoewirjo tidak membuat pemikiran politiknya ikut mati. Sampai saat ini masih banyak pengikut ideologi Kartosoewirjo yang bercita-cita kembali mewujudkan NII menggantikan RI, serta menegakkan syariat Islam di bumi Indonesia.

Sumber-sumber:
Profil Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Wikipedia Indonesia
Kartosoewirjo; Pejuang Kemerdekaan yang Mati Sebagai Pemberontak
Fakta Unik: Indonesia Memiliki 8 Presiden??
Dataphone.se

About these ads

12 pemikiran pada “Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Proklamator NII

  1. Hmm..yang namanya pemberontak atau pahlawan adalah relatif, layaknya para pejuang kemerdekaan Indonesia dulu. Bagi para kolonial, mereka adalah pemberontak yang mengancam pemerintah, tetapi bagi para rakyat kecil, mereka adalah pahlawan bagi mereka. Buku sejarah Indonesia dan Belanda pun belum tentu isinya sama, masing-masing berusaha mencoba membela negaranya.

    Suka

  2. Bismillah,
    Setahu saya, pemberontakan di dalam Islam tidak boleh Mas, selama negara masih muslim.

    Zaman Shahabat Rasulullah juga nyaris terjadi pertumpahan darah antara kelompok pengikut Hasan dan pengikut Muawiyah.

    Trus apa yang terjadi? Hasan mengalah menyerahkan tampuk pimpinan kepada Muawiyah demi tidak terjadinya pertumpahan darah. Dan ini sudah diisyaratkan Rasulullah, bahwa Husain akan mendamaikan 2 kelompok besar kaum Muslimin ketika setelah Rasulullah wafat.

    Kaum Pemberontak pada zaman Rasulullah dan zaman sekarang digelari Golongan Khowarij.

    Dan Rasulullah mengatakan, mereka adalah “kilabun naar” yang artinya “anjing-anjing neraka”

    Adapun cara menasehati pemerintah yang betul adalah dengan menasehati secara 4 mata atau dengan surat, dan tidak membuka aib2 pemerintah di depan umum. Karena yang demikian adalah mudharat (kerusakan) nya akan lebih besar lagi.

    Lihat ! apakah negara kita lebih baik setelah Reformasi (baca : kerusuhan) 1998 ?

    Suka

  3. SMK ini kalo tak salah ingat cerita simbah di Klaten, punya istri dan anak-anak yang dulunya tetangga rumah. Entah sekarang di mana keberadaannya.

    Mas Eko ada referensi sejarah tentang keluarga SMK ini?

    Suka

  4. Seingat saya dari dulu (SD- SMA) belajar sejarah memang SM Kartosoewirjo di masukan dalam Bab Pemberontakan. Mulai dari yang berbau komunis sampe NII ini. Baru tau juga ternyata beliau adalah salah satu murid HOS Cokroaminoto, Mungkin memang fakta sejarah yang masih rancu di negara ini. Banyak permainan politik kotor disana.

    Tapi saya tetap tidak setuju kalau NII mau memproklamirkan lagi negaranya. Walaupun saya sendiri umat Muslim. Banyak cara untuk menciptakan NKRI ini menjadi negara muslim seperti yang di cita – cita kan HOS Cokroaminoto. Tidak mesti memecah belah persatuan yang sudah ada. Itu hanya akan memperburuk citra NII sendiri.

    Suka

  5. Betul Bung, sama dengan di Makassar, nama Kahar Muzakkar selalu dikenang sebagai pejuang, walaupun ia dikatakan sebagai pemberontak oleh Pemerintah. Bahkan anak beliau, Abdul Azis Kahar Muzakkar, terpilih menjadi anggota DPD Sulawesi Selatan, juga sebagai Ketua Komite Penegakan Syariat Islam

    Suka

  6. ya… sejarah memang telah memberikan cap merah kepadanya sebagai pemberontak. namun kebenaran yang hakiki kita tidak pernah tahu karena kita juga hanya melihat sejarah yang sama sekali tidak ada jaminan bahwa sejarah itu pasti benar. wallaahu a'lam

    Suka

  7. salam
    sampai hari ini NII memang masih eksis di nusantara ini, meski dengan berbagai bentuk pergerakan. pernah ada temuan bahwa pesantren az-Zaytun di Indramayu adalah salah satu basis NII modern. meski harus ditelusuri lagi kebenarannya.

    Suka

Mau kasih komentar? Silakan...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s