Alhamdulillah, posting ini menjadi salah satu dari 10 Pemenang Blogdetik Writing Contest “Inspiring Woman” (21 April 2010 – 15 Mei 2010, pengumuman pemenang 20 Mei 2010), dengan hadiah sebuah hape Nokia Flexi Chatting. Terima kasih kepada para pembaca bungeko.com yang telah memberikan komentar dan apresiasi.

Eni Kusuma
Foto: bonarine.blogspot.com
//go.padstm.com/?id=80509&t=iframeRASANYA tidak ada tenaga kerja wanita (TKW) yang pernah bercita-cita menjadi TKW. Membayangkannya pun mungkin tidak. Siapa sih yang mau bekerja jauh dari kampung halaman dan keluarga dengan resiko yang tak jarang berujung pada kematian? Tidak ada.

Begitu pula dengan Eni Kusumawati, seorang wanita asal Banyuwangi yang memutuskan menjadi TKW di Hong Kong selepas SMA. Hebatnya, meskipun berangkat ke Hong Kong dengan terpaksa, Eni pulang membawa sejuta kebanggaan yang tak hanya patut ditiru oleh para TKW sepertinya, tapi juga wanita-wanita Indonesia lainnya.

Eni, kelahiran 27 Agustus 1977, tumbuh dan besar di lingkungan keluarga miskin di kawasan Kampung Arab, Banyuwangi. Kedua orangtuanya hanya mengandalkan penghasilan dari berjualan kerupuk di pasar. Rumahnya terletak dekat tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Hari-hari di masa kecilnya banyak ia habiskan untuk menjadi pemulung, mengumpulkan apa saja yang bisa ditukar dengan uang demi menambah biaya hidup keluarganya yang memang pas-pasan.

Lingkungan seperti ini membuat Eni kecil “akrab” dengan berbagai penyakit kulit. Ia juga menderita gagap bicara, minder, tertutup, dan ujung-ujungnya membuatnya menjelma sebagai sosok remaja yang cuek.

Menjadi TKW
Beruntung, dengan kondisi keuangan keluarga yang serba pas-pasan itu Eni dapat menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat SMA. Sayang, tak banyak yang dapat ia lakukan dengan ijasah SMA di kota sekecil Banyuwangi.

Setelah sempat bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah perusahaan, ia segera menjadi pengangguran karena tempat kerjanya bangkrut. Mau merantau ke Bali atau Surabaya tanggung. Kenapa tidak merantau ke luar negeri sekalian? Demikian pikir Eni kala itu.

Setengah nekat, iapun mendaftarkan diri ke sebuah PJTKI untuk menjadi TKW. Guratan nasib kemudian membawanya ke Hong Kong pada tahun 2001.

Di Hong Kong, Eni bekerja serabutan pada sebuah keluarga. Dibilang serabutan karena ia bertugas mengerjakan apa saja, mulai dari menyapu dan mengepel rumah, memasak, mencuci dan menyetrika pakaian, memandikan anak sang majikan, mengantarkannya ke sekolah atau les, mengajaknya bermain, berbelanja, dan tugas-tugas rumahan lainnya. Dari pagi hingga malam ia tak berhenti bekerja. Ia baru bisa istirahat setelah semua penghuni rumah sudah terlelap di alam tidur.

Tampaknya kisah hidup Eni Kusuma bakal sama dengan para TKW pada umumnya. Namun, Eni ternyata bukan TKW biasa. Di balik sifat lugunya tersimpan satu impian besar yang terus menghantui alam bawah sadarnya. Masa kecil hingga remaja yang serba berkekurangan dan selalu diremehkan orang lain membuatnya bertekad untuk menjadi orang terpandang yang dihormati semua orang.

Bagaimana caranya? Ia memilih jalur sebagai penulis karena profesi itulah yang paling mungkin dilakukannya saat itu.

Merintis Karir Kepenulisan
Sejak saat itu, di sela-sela kesibukannya mengurus rumah sang majikan Eni menyempatkan diri menulis. Apa saja ia tulis, mulai dari puisi, cerpen, maupun novel. Ia mulai merambah dunia kepenulisan dengan bergabung di milis khusus untuk para TKW di Hongkong yang suka menulis. Nama milis tersebut Cafe de Kossta atau biasa disebut dengan Kossta saja. Di sanalah Eni mempublikasikan karya-karyanya yang kemudian mendapat sambutan luas dari anggota lainnya.

“Saya ingin membuktikan bahwa hambatan apapun bisa ditaklukkan. Asalkan kita sadar akan keluarbiasaan potensi diri kita dalam mewujudkan dream kita. Yang membedakan manusia dari makhluk lainnya kan dream? Dan, dream milik semua orang, dari segala macam profesi dan latar belakang. Saya berani bermimpi, bagaimana dengan Anda?
-Eni Kusuma-
Karena jam kerjanya yang sedemikian ketat, Eni harus pintar-pintar memanfaatkan waktu luang yang dimilikinya untuk menulis. Sering ia merelakan waktu istirahatnya terpotong karena memaksakan diri menulis sebelum tidur. Tulisannya hanya berupa coret-coretan pena di atas lembaran-lembaran kertas. Begitu ada kesempatan keluar rumah–saat mengantar anak majikannya ke sekolah, les, atau pergi berbelanja, ia memanfaatkan waktu untuk mengetik naskah-naskah tulisan tangannya tersebut di perpustakaan atau kantor pos.

Setelah beberapa kali mem-posting karya-karyanya, Eni mengamati kalau menjadi komentator ternyata jauh lebih keren ketimbang menjadi penulis yang dikomentari. Maka, iapun berubah haluan. Dari yang awalnya rajin mempublikasikan karya menjadi seorang komentator yang rajin mengomentari karya-karya anggota lain. Tentu saja perubahan peran ini membawa dampak negatif, salah satunya banyak anggota milis lain yang ia komentari meragukan kredibilitasnya. Siapa sih Eni kok berani-beraninya mengomentari karya orang? Begitu mungkin ungkapan sinis anggota yang tidak terima dengan komentar yang diberikan Eni.

Pembelajar.com, Pembuka Jalan Kesuksesan
Suatu hari, seorang pengurus milis Kossta yang dianggap sebagai guru dan senior oleh Eni mengiriminya buku bestseller berjudul Resep Cespleng Menulis karya Edy Zaqeus. Dari buku itu ia berkenalan dengan Pembelajar.com, situs motivasi yang didirikan oleh penulis sekaligus motivator top Andrias Harefa. Edy Zaqeus sendiri kala itu berposisi sebagai moderator situs tersebut. Kebetulan sekali, Eni langsung merasa kalau Pembelajar.com adalah wadah yang tepat baginya untuk mengembangkan bakat kepenulisannya.

Jangan bayangkan Eni memulai kiprahnya di Pembelajar.com dengan menulis artikel. Sama seperti yang ia lakukan di milis Kossta, hal pertama yang dilakukannya adalah mengomentari artikel-artikel para kolomnis tetap Pembelajar.com. “Korban” pertamanya Jennie S. Bev. Ini ia lakukan sebagai strategi agar dapat segera menyeruah dari kerumunan dan menarik perhatian pengunjung lain. Strategi ini berhasil. Dengan “mendompleng” nama besar Jennie S. Bev, Eni langsung mendapat perhatian sampai kemudian artikel pertamanya dimuat di situs motivasi terfavorit itu.

Eni Liar Biasa!!!
Foto: langitperempuan.com
Keseriusan Eni dalam menulis rupanya mendapat perhatian khusus dari Edy Zaques yang kemudian membimbingnya secara langsung untuk mengembangkan skill kepenulisan TKW visioner tersebut. Eni lantas tumbuh sebagai seorang penulis produktif sehingga belakangan mendapat posisi sebagai kolomnis tetap, sejajar dengan penulis dan motivator top semisal Andrie Wongso, Andrias Harefa, Jennie S. Bev, Bonari Nabonenar, Adi W. Gunawan, Andrew Ho, dan mentornya Edy Zaqeus.

Kurang-lebih 6 bulan sejak pertama kali mengenal Pembelajar.com, buku pertamanya yang berjudul Anda Luar Biasa!!! diterbitkan. Buku itu merupakan kumpulan artikel-artikelnya di Pembelajar.com dan menjadi buku motivasi pertama yang ditulis oleh seorang TKW. Hebatnya lagi, Anda Luar Biasa!!! mendapat endorsement dari sekitar 27 tokoh-tokoh ternama mulai dari penulis, motivator, pengusaha, dan aktivis. Buku yang awalnya hanya dicetak standar sebanyak 3000 eksemplar tersebut laku keras sehingga harus dicetak ulang lagi, dan lagi.

Eni tentu saja senang. Impiannya untuk menjadi orang terpandang dan dihormati sudah di depan mata. Ia telah berhasil menunjukkan pada semua orang bahwa, walaupun hanya berpendidikan SMA dan berprofesi sebagai TKW dengan segala keterbatasannya, ia mampu mengatasi segala rintangan demi mewujudkan impiannya. Karena itulah, Februari 2007 ia memutuskan pulang ke Banyuwangi untuk semakin mendekatkan dirinya pada impian-impian yang telah ia rangkai sejak sebelum berangkat ke Hong Kong.

Kini, Eni banyak mengisi undangan sebagai public speaker di berbagai tempat. Ia juga masih menulis buku. Dan, ia tetap menjadi inspirasi bagi banyak wanita Indonesia yang tengah mengejar impian-impiannya. [e]